
Felly kembali duduk di pinggir ranjang dan matanya melihat kearah pintu. Sepertinya Felly sangat menunggu-nunggu. Seseorang akan tiba di depan pintu itu. Yang mungkin Felly ingin Aditya yang muncul di pintu itu dan masuk kedalam kamarnya.
" Ahhh," Felly menggoyang kepalanya dengan cepat.
" Apa yang kau pikirkan Felly. Kenapa kau menunggunya. Tidak aku tidak menunggunya. Justru aku senang akhirnya dia tidak di dekatku. Dengan begitu dia tidak menggangguku dan aku tidak perlu waspada lagi dengannya," Felly terus merocos panjang lebar.
" Ini memang seharusnya dari dulu dia melakukannya, aku tidak perlu 1 kamar dengannya. Karena pernikahan ini hanya kontrak sana. Jadi aku merasa bebas. Sekarang tidak sekamar dengannya," ucapnya lagi yang seakan lega.
Tetapi wajahnya tidak bisa di bohongi jika dia sebenarnya ada rasa keberatan dalam dirinya. Dia seakan tidak mau berpisah kamar dengan Aditya.
Felly yang tidak ambil pusing pun akhirnya merebahkan dirinya di atas tempat tidur. Dia berbaring lurus dan menatap ke langit kamarnya.
" Kenapa mas Damar tega menuduhku seperti itu. Dia bahkan bersifat kurang ajar kepadaku dan bahkan ingin melecehkan ku. Aku harus membuktikan pada Aditya. Jika aku memang tidak bersalah. Dan mas Damar dia benar-benar laki-laki jagat, aku tidak percaya jika dia mempunyai hati seperti itu," batin Felly yang masih memikirkan tentang kejadian malam itu.
" Syukurlah jika aku pindah dari rumah itu. Aku tidak perlu bertemu Tante Rebecca dan juga Damar yang pasti dia akan terus menggangguku. Jika itu terjadi Aditya akan mengamuk lagi kepadaku," batin Felly yang merasa lega sedikit.
Felly yang tidak bisa tidur di kamarnya dan terus memikirkan kejadian itu. Sementara Aditya juga yang berbaring di atas tempat tidur. Yang kamarnya berada di samping kamar Felly.
Aditya berbaring lurus dengan satu tangannya di letakkan di bawah kepalanya. Matanya menatap fokus langit kamarnya. Seperti ada sesuatu di sana. Sampai dia tidak mengedip sama sekali matanya.
" Kau tidak akan pernah merasakan hal itu. Karena kau menjaga kakak mu dengan baik. Jadi kau tidak akan tau apa yang aku rasakan. Kau tidak akan tau Aditya," lintasan perkataan Felly di rumah sakit masih terbayang di pikirannya.
Di mana dia melihat wanita yang berbicara menangis itu tampak lelah dengan kehidupannya. Apa lagi Felly mengatakan jika dia tidak sekuat itu.
" Huhhhhhh, Aditya membuang napasnya panjang kedepan, bangkit dari berbaringnya dan mengambil ponselnya dari saku celananya. Menyandarkan punggungnya di kepala ranjang.
Aditya membuka kontak nama di ponselnya yang bertuliskan kak Elia. Tidak berpikir lama. Aditya langsung menekan memanggil dan langsung menghubungi kakaknya.
"'Hallo kak!" sapa Aditya dengan suara beratnya. Ketika telpon itu sudah menyambung.
" Hallo Aditya, tumben sekali kamu menelpon kakak malam-malam begini," sahut Elia yang jauh di tempatnya.
__ADS_1
" Aditya merindukan kakak," ucap Aditya yang memang jika perasaannya sedang bercampur aduk.
Sang kakak bisa menenangkannya. Walau tidak menceritakan pada kakaknya apa yang terjadi. Tetapi mendengar suara sang kakak yang terdengar di telinganya mampu memberinya ketenangan.
" Kakak juga merindukan kamu," jawab Elia. " Katakan kepada kakak apa yang membuat suara kamu menjadi berat seperti itu. Apa yang terjadi pada kamu?" tanya Elia yang seakan tau. Jika adiknya tidak baik-baik saja.
" Aku tidak apa-apa," jawab Aditya bohong.
" Tidak mungkin tidak apa-apa. Kamu pasti kenapa-kenapa sampai menelpon kakak," ucap Elia yang tidak percaya kepada Aditya. Aditya diam saja.
" Di mana Felly?" tanya Elia tiba-tiba. Aditya mendengar nama Felly langsung membuang napasnya yang berat.
" Kamu bertengkar dengannya?" tanya Elia yang seakan tau.
" Tidak," jawab Aditya datar.
" Apa yang kamu lakukan kepadanya. Sampai dia tidak ada di sampingmu," ucap Elia yang seakan tau Felly memang tidak ada di samping sang adik. " Kalian bertengkar hebat?" tanya Elia lagi.
Kevin hanya diam. Karena apa yang di katakan kakaknya adalah benar, bukan bertengkar bahkan dia melakukan hal yang kejam kepada Felly sampai Felly masuk rumah sakit.
" Aditya. Jika kamu salah maka minta maaf lah pada istrimu, jangan diam-diam karena tidak ada gunanya. Dan jika memang Felly salah, kamu menegur dengan baik, jangan membentaknya. Aditya wanita itu hatinya sangat lemah jadi kasar-kasar bicara kepadanya. Kakak tidak mau pernikahan kalian dibumbui dengan ribut-ribut yang tidak beralasan. Jadi mengalahkan. Minta maaf padanya dan bujuk dia agar kembali ke sisimu," ucap Elia yang memberi saran sang adik.
Aditya hanya diam dan menyimak saja apa yang di katakan sang kakak.
" Kamu mendengarkan kakak?" tanya Elia.
" Iya kak, aku mendengarnya," jawab Aditya.
" Ya sudah jika begitu maka minta maaflah padanya. Kakak ingin kamu menelpon kakak saat ada di samping kamu," ucap Elia.
" Iya Kaka, nanti aku akan menelpon kakak lagi," ucap Aditya.
__ADS_1
" Ya sudah kalau begitu. Kakak tutup telponnya dulu, ingat pesan kakak jangan bertengkar dengan Felly dan minta maaf. Kamu tidak boleh gengsi dengan hal itu," ucap Elia yang kembali mengingatkan sang adik.
" Iya kak," jawab Aditya.
" Ya sudah selama malam," ucap Elia menutup telponnya.
" Selamat malam," jawab Aditya menurunkan ponselnya dari telinganya. Aditya terlihat kembali menarik napasnya panjang dan membuangnya perlahan kedepan.
Ternyata dia menelpon kakaknya salah sasaran. Kakaknya seakan tau apa yang terjadi dan langsung menyuruhnya meminta maaf pada Felly.
Aditya pun bangkit dari ranjangnya dan keluar dari kamarnya. Saat membuka pintu kamar Aditya bertemu dengan pelayan.
" Apa Felly sudah makan?" tanya Aditya.
" Belum tuan, tadi saya sudah menawarkan. Tetapi non Felly masih mengatakan belum lapar. Saat saya mengecek kekamarnya. Non Felly sudah tidur," jawab pelayan itu.
" Begitu rupanya," ucap Aditya.
" Iya tuan," sahut pelayan.
" Ya sudah tuan. Saya permisi untuk melanjutkan pekerjaan dulu," ucap pelayan itu. Aditya mengangguk. Pelayan itu pun pergi dan Aditya langsung melangkahkan kakinya kekamar Felly.
Pintu kamar Felly yang terbuka setengah dan memperlihatkan Felly yang sudah tertidur dengan berbaring miring tepat mengarah pintu dan Aditya jelas melihat wajah Felly yang terlihat lelah.
" Mungkin lebih baik seperti ini. Aku tidak ingin anak itu kenapa-napa. Dan memang lebih baik kau seperti ini. Aku capek jika harus memperalatmu. Aku tidak akan mengganggumu Felly. Tapi aku tidak bisa melepasmu sekarang. Tunggulah sampai kontrak itu habis dan aku benar-benar akan membebaskan mu, kau akan kembali kedalam kehidupanmu dan selama kontrak itu belum berakhir. Kau akan tetap di sini tanpa aku menunggu mu," batin Aditya yang menatap Felly dari kejauhan.
Aditya menyadari. Jika apa yang di lakuaknnnya selama ini. Hanya membuat Felly yang tidak tau apa-apa. Selama ini di kasar dan suka-suka dengan Felly yang dia pikir Felly wanita kuat yang seperti Felly katakan sebelumnya.
Tetapi melihat kemarin yang dia lakukan. Melihat Felly tidak sadarkan diri dan ada darah di pahanya membuatnya menyadari jika tidak seharunya Felly menanggung semua itu. Sadarnya kembali ketika mengingat kata-kata Dokter yang jika itu terjadi lagi.
Felly mungkin bisa berakhir dan secara tidak langsung dia telah membunuh wanita yang tidak tau apa-apa. Aditya memutuskan untuk tidak mengganggu Felly lagi.
__ADS_1
Setelah menatap dalam wanita itu dari kejauhan. Aditya langsung menarik pintu dan menutup pintu. Saat pintu tertutup mata Felly terbuka.
" Kenapa dia tidak masuk," batin Felly yang ternyata menyadari jika ada Aditya di depan pintu dan diam tanpa tidak masuk kedalam.