
Setelah pergi mengantarkan sang kakak ke Bandara layaknya berpamitan pada kakaknya. Aditya ternyata menemui sang kakek di rumahnya.
Di mana dalam situasi tegang di rumah itu di mana Damar yang heboh menyuruh anak buahnya untuk mencari siapa yang menyusup kedalam ruang kerjanya yang mengambil hal penting yang di milikinya yang membuatnya benar-benar sangat frustasi.
Damar heboh sendiri berteriak-teriak di ruang tamu dan Rebecca juga ada di sana. Yang juga tampak cemas dengan apa yang sudah hilang dari Damar.
" Kalian cepat cari orang itu dengan cepat. Aku mau tau kalian harus mendapatkannya!" perintah Damar dengan berteriak-teriak. Para bodyguard di depannya hanya menundukkan kepala mereka.
Tiba-tiba Aditya datang kerumah itu dengan langkahnya yang cepat dan Damar melihat Aditya datang langsung menghampiri Aditya.
" Kau yang menyusup kekamarku?" tanya Damar yang langsung menghentikan langkah Aditya dengan menahan dada Aditya dengan lengannya. Aditya langsung menepis tangan Damar.
" Aku tidak perlu menyusup kekamarmu. Jika aku mau aku bisa masuk sendiri," sahut Aditya dengan santai dan Aditya langsung pergi. Membuat Damar geram.
" Jika aku menemukannya aku akan membawa kepalanya kehadapan mu!" teriak Damar yang penuh amarah. Rebecca langsung menghampirinya.
" Damar, jangan berteriak-teriak. Nanti kakek bisa bangun," ucap Rebecca memberi peringatan.
" Mama lihat apa yang terjadi. Semuanya berantakan dan aku yakin. Itu pasti karena kesalahan dia. Dia yang sudah mencuri dokument itu," ucap Damar dengan yakin.
" Damar, kamu tenang dulu. Kalau dia mencurinya. Tidak mungkin dia ada di sini. Dia juga tadi terus berada di pesta. Jadi mana mungkin dia melakukannya," sahut Rebecca yang tampaknya tidak percaya. Jika Aditya yang mencuri dokumen itu.
" Lalu jika bukan dia siapa. Siapa yang mencurinya?" tanya Damar.
" Kamu tenang dulu. Kamu juga tidak tau dokumen apa yang di ambil oleh penyusup itu. Jadi kita juga tidak bisa menyimpulkan siapa-siapa yang sudah mengambilnya," ucap Rebecca.
Karena emosi dan tidak bisa berpikir jernih. Damar memang tidak tau apa yang di curi dari ruang kerjanya. Karena mungkin banyak hal-hal rahasia yang di simpannya.
Rebecca hanya berpikiran. Jika dokumen yang hilang tidak di ketahui apa. Jadi bagaimana mungkin Damar bisa memastikan apakah berhubungan dengan Aditya. atau tidak.
Siapa tau tidak berhubungan dengan Aditya dan malah dengan orang lain yang mungkin juga saingan bisnis Damar. Sepertinya Damar mempunyai banyak rahasia makanya kebingungan sendiri. Sampai tidak tau apa yang hilang.
**********
__ADS_1
Aditya memasuki kamar sang kakek. Di mana kakeknya sudah tertidur. Aditya melangkah dengan pelan lalu duduk di samping kakeknya. Aditya menarik selimut sampai ke dada kakeknya.
Aditya mendengus tersenyum tipis melihat nyenyaknya kakeknya yang tidur. Tanpa menyadari kehadirannya.
" Selamat ulang tahu," ucap Aditya. " Kakek sudah tua, seharusnya tidak merayakan ulang tahun yang hanya membuat kakek mengingat umur kakek yang semakin tua," ucap Aditya dengan nada bercandaan.
Dia saat kakeknya sedang tidur dia masih sempat-sempatnya julid kepada kakeknya. Aditya meraih tangan kakeknya dan menggengamnya dengan erat.
" Kakek harus jaga kesehatan, jangan melakukan hal yang aneh-aneh," ucap Aditya memberikan pesan pada kakeknya.
Dia selalu bertengkar dengan Pria tua itu. Tapi mata Aditya tidak bisa bohong. Jika Aditya sangat menyayangi kakeknya. Selalu mengkhawatirkan sang kakek.
Di tengah genggaman itu tiba-tiba Harison terbangun dan dengan cepat membuka matanya dan Aditya langsung pasang badan juteknya. Dan dengan cepat melepas tangannya dari kakeknya.
" Apa yang kau lakukan di kamarku. Apa kau ingin membunuhku?" tanya Harison dengan menaikkan 1 alisnya yang langsung menuduh Aditya.
" Hmmm, aku tidak perlu membunuh kakek. Ajal kakek juga akan tiba secepatnya. Jadi aku tidak perlu melakukan pembunuhan itu," sahut Aditya yang bicara sembarangan.
" Bukannya kau sangat serakah. Jadi aku jelas sangat takut kau masuk ke kamarku dan membunuhku tiba-tiba," sahut Harison.
" Aku tidak mendapat keuntungan dari membunuh kakek," sahut Aditya.
" Siapa tau kau membutuhkan hartaku," sahut Harison. Aditya mandengus kasar mendengarnya. Lalu Aditya langsung berdiri dan merapikan jasnya.
" Aku pergi dulu, aku hanya melihat kakek apa masih bernyawa atau tidak. Biasanya orang sudah tua akan cepat mati ketika merayakan ulang tahunnya," ucap Aditya dengan santainya.
" Kau!" geram Harison.
" Aku pergi. Jaga diri kakek baik-baik," sahut Aditya yang tersenyum langsung keluar dari kamar itu. Harison melihatnya dengan tatapan aneh.
" Ada apa dengan anak itu. Kenapa dia bicara seperti itu. Tumben sekali wajahnya itu tidak pelit senyum. Seakan dia ingin mati saja. Harus berpamitan," batin Harison merasakan hal janggal pada Aditya.
" Ahhhh," Harison menarik napasnya panjang dan membuangnya perlahan kedepan, " Dia Pria yang tangguh. Tidak ada yang perlu di Khawatirkan darinya. Karena dia bisa melakukannya dengan sendirinya," batin Harison meski mempunyai perasaan buruk. Dia percaya cucunya adalah Pria yang hebat.
__ADS_1
************
Seakan berpamitan. Karena tau misi yang di kerjakannya sangat berbahaya. Bukan hanya pada kakak dan kakeknya yang di temuinya dengan kode berpamitan.
Mobil Aditya juga berhenti di depan rumah Felly. Felly sudah menjadi bagian dari hidupnya. Walau hubungan itu tidak bisa di selesaikannya.
Terbiasa datang kerumah itu. Mama Felly tidak bertanya lagi dan bahkan membiarkan Aditya memasuki kamar putrinya itu. Aditya berdiri di depan pintu dan melihat Felly yang tertidur dengan gaun yang masih di pakainya saat pesta tadi. Mungkin karena lelah Felly tidak sempat mengganti pakaiannya.
Perlahan kaki Aditya melangkah mendekati ranjang itu dan duduk di samping Felly. Felly tertidur dengan lelap. Aditya memegang erat tangan Felly.
Aditya menatap dalam-dalam wajah wanita itu dengan matanya yang berkaca-kaca. Banyak yang ingin di ungkapkan nya kembali tetapi seperti tidak bisa di bicarakannya. Karena takut wanita itu akan terbangun dan mungkin akan membuat Felly banyak bertanya dan rasa penasaran Felly akan membahayakan Felly.
" Jika sudah waktunya untuk kamu terbebas, maka kamu akan terbebas, maafkan aku Felly, aku sudah masuk kedalam hidupmu dan benar-benar sudah menghancurkanmu. Aku sudah merebut kebahagian mu. Aku akan menebusnya dengan semua yang kamu inginkan," batin Aditya.
" Kamu beberapa kali ingin membunuhku dan mungkin melihatku mati akan membuat kepuasan untukmu. Jika itu bisa membuatmu merasa lega. Maka aku akan melakukannya," batin Aditya lagi yang terus melihat Felly.
" Izinkan aku mendapat keadilan untuk kakakku dan setelah itu kamu juga akan mendapatkan keadilan dengan melihat pria brengsek seperti ku tidak ada lagi," batin Aditya meneteskan air matanya.
" Felly, aku tidak ada bedanya dengan mereka ber-3 dan kematian yang tragis yang bisa membuatmu merasa adil," batinnya lagi.
Aditya tersenyum tipis dan perlahan mendekati Felly dan mengangkat tubuh Felly kepelukannya, di mana Felly yang tertidur berada di pelukannya. Aditya memeluk wanita itu dengan erat.
" Aku adalah laki-laki brengsek yang sudah merusak hidupmu. Aku akan pergi dari hidupmu. Aku tidak akan pernah muncul lagi di hadapanmu. Aku akan pergi untuk selama-lamanya. Kamu berhak untuk melanjutkan hidupmu. Terima kasih kamu pernah hadir di dalam hidupku. Aku harus mengakui dunia ku terasa hidup saat ada kamu bersamaku," ucapnya yang terus memeluk Felly. Aditya melepas pelukan itu dan melihat wajah Felly masih tertidur.
Aditya mencium kening Felly lembut dan juga mengecup bibirnya.
" Aku jatuh cinta padamu Felly," ucapnya tepat di wajah Felly yang masih tertidur. Aditya sudah memerlukannya. Tetapi tubuhnya tetap lentik dan sama sekali tidak terbangun.
" Aku akan pergi dari hidupmu," ucapnya lagi yang memberikan tubuh itu perlahan dan kembali mencium kening Felly. Menatap Felly dengan lama-lama dan akhirnya perlahan Aditya pergi dari sisi wanita itu.
Pergi dengan terus melihat ke arah Felly. Langkahnya yang begitu berat untuk pergi dari wanita itu.
Bersambung.
__ADS_1