
Elia tidak bisa tertidur karena terus memikirkan papanya yang sekarang pasti polisi sedang mencari papanya. Elia yang berada di tempat tidur terus gelisah dengan tubuhnya yang terkadang kekiri dan terkadang kekanan. Elia memang dengan penuh kebingungan.
" Ahhhh, papa," lirihnya yang akhirnya duduk. Ela menyibak rambutnya kebelakang dan mengambil ponselnya yang ada di atas nakas. Elia melihat jam di ponsel itu yang sudah menunjukkan pukul 11 malam.
" Bagaimana papa sekarang apa yang terjadi kepadanya. Di papa tidur. Di mana papa makan. Apa dia sudah makan. Apa papa bisa tidur," batin Elia yang begitu khawatir pada Baskoro.
" Papa melakukan semua ini hanya untukku. Dia begitu merasa bersalah. Karena aku. Apa yang harus aku lakukan. Aku tidak tau harus berbuat apa. Aku takut papa sampai kenapa. Aku takut," batin Elia dengan wajahnya yang sangat cemas.
Elia pun bangkit dari tempat tidur menuju dapur kecil yang ada di ruangan itu. Ruangan itu memang kecil yang hanya ada tempat tidur kecil, yang berhubungan dengan dapur mini dan ada sofa memanjang. Ya benar-benar hanya sepetak seperti Villa-villa sederhana.
Elia ternyata menuang air ke gelas dan meneguknya sampai separuh habis. Mata Elia tertuju pada jendela yang ternyata sedang hujan di luar.
" Jika hujan papa bagaimana. Iya kalau papa berada di hotel atau di mobil dia bisa berteduh. Kalau tidak dia mau berteduh di mana. Kasihan papa," batin Elia yang kembali kepikiran dengan papanya.
Tiba-tiba Elia melihat kearah pintu seakan tiba-tiba Elia kepikiran sesuatu. Elia meletakkan gelas itu di atas meja dan langsung kedepan pintu. Elia membuka sedikit pintu. Elia ternyata memastikan kondisi Bion yang mana Bion tertidur di depan pintu di atas lantai.
" Apa dia tidak kedinginan tidur di tempat seperti ini, padahal sedang hujan deras dan anginnya juga kencang aku saja kedinginan," batin Elia yang tetap berada di depan pintu.
Walau hanya membuka pintu sedikit. Tetapi memang tampak Elia begitu kedinginan.
" Bion!" tegur Elia dengan pelan yang mencoba membangunkan Bion.
" Bion!" Elia membangunkan lagi. Karena tidak cukup sekali membangunkan Bion.
Mungkin karena suara Elia yang pelan dan di tambah suara hujan yang deras. Makanya Bion tidak terbangun sama sekali dan untunglah Bion akhirnya terbangun dan begitu melihat Elia. Bion langsung duduk dengan cepat. Walau nyawanya belum terkumpul.
" Non Elia, ada apa?" tanya Bion heran. Bion juga langsung berdiri di depan Elia.
" Aku mau makan, aku tidak tau mau makan apa," ucap Elia.
" Ya, sudah saya akan cari makan dulu," sahut Bion dengan cepat dan langsung ingin pergi. Namun Elia menahan tangannya.
" Kamu mau kemana?" tanya Elia heran.
" Mau cari makan?" jawab Bion.
" Sekarang?" tanya Elia memastikan. Bion mengangguk.
" Kan hujan," sahut Elia yang melihat-lihat hujan deras.
" Ya mau gimana lagi, non Elia pasti sudah kelaparan," sahut Bion.
" Sudah, tidak perlu kamu keluar untuk cari makan malam-malam begini dan hujan deras. Di dalam ada mie, kamu masakkan saja saya," ucap Elia yang membuat Bion heran
" Ada apa, kamu tidak mau?" tanya Elia yang memastikan Bion.
" Hmm, baiklah non," sahut Bion yang mau tidak mau menurut dan Elia masuk terlebih dahulu dan di susul oleh Bion.
***********
__ADS_1
Elia duduk di sofa dan hanya memperhatikan Bion yang memasakkan mie di depannya. Elia mungkin kesal dengan Bion. Ya Bion membuatnya bete saat di pantai.
Lalu Elia tidak sengaja bertemu dengan Bion saat Bion bersama wanita lain yang sampai detik ini membuat Elia sangat penasaran dan yang paling utama adalah Bion membuatnya pingsan dan hal itu tidak satupun Bion meminta maaf padanya.
" Mana mungkin aku menanyakan siapa wanita itu," batin Elia yang kelihatan gelisah.
Bukan karena papanya dia gelisah sekarang. Tetapi karena Bion. Pria yang diam-diam di sukainya. Bion yang membuat mie instan dengan serius tiba-tiba melihat ke arah Elia dan Elia jadi salah tingkah yang ketahuan sedang mengawasi Bion.
" Sudah selesai?" tanya Elia mengalihkan situasi.
" Sudah," jawab Bion.
" Ya bawa kemari dong kalau sudah selesai," sahut Elia dengan ketus. Bion mengangguk dan akhirnya membawa 1 mangkok mie instan itu ke tempat Elia dan memberinya langsung pada Elia dan Elia dengan cepat mengambilnya.
" Kamu mau kemana?" tanya Elia ketika melihat Bion pergi dari hadapannya.
" Mau ambil minum?" jawab Bion.
" Ohhh," sahut Elia dan Bion pergi mengambilkan majikannya itu air putih. Tidak lama akhirnya Bion kembali dan meletakkan air putih di meja di depan Elia, sementara Elia meniup-niupnya mie instan yang ingin di nikmatinya.
" Kamu mau kemana lagi?" tanya Elia lagi saat Bion mau pergi.
" Mau keluar," jawab Bion.
" Hmm, kamu di sini saja. Di luar hujan," sahut Elia sambil memakan mie instannya itu.
" Sudahlah, kamu menurut saja. Kamu itu di suruh untuk menjagaku. Bagaimana jika aku kabur dari jendela. Mau kamu di marahi sama Aditya," ucap Elia dengan sinis memberikan ancaman pada Bion.
" Tidak nona," sahut Bion.
" Ya sudah kalau tidak mau, makanya menurut nggak usah aneh-aneh," ucap Elia menegaskan.
" Baiklah nona," sahut Bion yang menundukkan kepalanya yang tidak bisa membantah apa kata Elia lagi. Karena memang Elia yang benar dan dia yang salah.
" Kamu tidak mau?" tanya Elia menawarkan mie instan tersebut, soalnya sedari tadi dia makan dan Bion hanya berdiri saja. Bion hanya menjawab dengan menggelengkan kepalanya.
" Ohhhh," sahut Elia.
" Hmmm, kalau kamu menjagaku. Itu artinya kamu tidak akan punya waktu pribadi apa pacarmu tidak akan marah?" tanya Elia tiba-tiba membuat Bion yang bingung mendengarkan pernyataan Elia.
" Pacar," sahut Bion.
" Ya, iya. Wanita itu kan sangat butuh kejelasan. Ya kamu berdua-duaan dengan wanita lain. Apa iya dia tidak cemburu," sahut Elia lagi yang tampaknya hanya ingin mengorek-ngorek sesuatu dari Bion.
Tetapi terlihat Bion hanya diam. Mungkin tidak mengerti dan tidak ingin menanggapi apa yang di katakan Elia.
" Ahhhh, sudahlah lupakan, itu nggak penting," sahut Elia tiba-tiba, " aku mau tidur," ucap Elia yang menghentikan makannya dan meneguk segelas air putih yang tadi sudah di ambilkan Bion untuknya.
Elia yang sudah minum langsung menaiki ranjangnya dan Bion langsung membersihkan tempat makan Elia. Setelah mencucinya Bion pun menuju pintu dan membukanya.
__ADS_1
" Kamu mau kemana?" tanya Elia saat tangan Bion memegang kenopi pintu.
" Mau keluar, non Elia bukannya harusnya tidur," sahut Bion.
" Kamu tidur di sofa saja. Di luar hujan dan juga dingin. Jadi tidur di situ saja," ucap Elia yang menawarkan Bion untuk tidur di sofa.
" Tapi non Elia!" tolak Bion.
" Jangan menolak lagi. Aku tidak mau kamu kenapa-kenapa dan terakhirnya aku yang susah. Jadi tidurlah dengan tenang di situ," ucap Elia penuh penekanan dan penegasan.
" Hmmm, baiklah non," sahut Bion yang lagi-lagi memang tidak bisa menolak apa yang di katakan Elia.
Elia pun menarik selimut dan perlahan memejamkan matanya dan Bion pun akhirnya merebahkan dirinya di sofa dengan memeluk tubuhnya untuk mengurangi rasa dingin di tubuhnya dan perlahan-lahan Bion juga memejamkan matanya.
***********
Bukan hanya Elia yang tidak bisa tidur ternya Felly juga sama. Felly yang akhirnya pulang ke rumahnya yang menjaga kakek ada banyak orang dan Felly memilih pulang dan besok pagi akan kembali lagi Kerumah sakit.
Felly berdiri di depan jendela dengan tangannya yang memegang perut rampingnya dengan wajahnya yang penuh kecemasan yang pasti banyak yang di pikirkannya.
" Ya Allah, di mana Aditya sekarang. Dia belum mengabariku. Apa dia baik-baik saja. Seharusnya memang Aditya baik-baik saja. Aku sangat berharap Aditya bisa menemukan papa secepatnya," batin Felly yang terus kepikiran dengan suaminya yang juga tidak kembali.
Tok-tok-tok-tok.
Pintu kamar Felly di ketuk. Belum juga Felly menyuruh masuk dan pintu sudah terbuka yang ternyata mamanya yang mengetuk pintu.
" Ada apa ma?" tanya Felly.
" Kamu melupakan susu untuk janin kamu," ucap Sabila mengingatkan putrinya yang harus meminum rutin susunya itu.
" Iya ma, makasih," sahut Felly yang langsung meneguknya.
" Hmmm, kak Andre sudah pulang?" tanya Felly yang sudah selesai minum.
" Belum, bukannya dia pergi sama Aditya ya?" tanya Sabila.
" Iya mama benar, kak Andre memang pergi sama Aditya," sahut Felly.
" Mereka belum pulang. Kamu jangan khawatir dan jangan banyak berpikir. Kamu istirahat saja dan percayalah masalah akan secepatnya selesai," ucap mamanya memberikan ketengan pada putrinya.
" Iya ma," sahut Felly.
" Ya sudah, kamu istirahat ya. Mama keluar dulu ingat jangan banyak pikiran," tegas Sabila.
" Iya ma," sahut Felly dan Sabila pun langsung keluar dari kamar membiarkan putrinya untuk beristirahat.
" Ya Allah, semoga Aditya dan kak Andre memang tidak apa-apa. Semoga mereka baik-baik saja," batin Felly yang terus berdoa untuk 2 orang itu.
Bersambung
__ADS_1