
" Lalu Damar mendapatkan apa. Apa yang akan di dapatkan Damar?" tanya Rebecca menguatkan Volume suaranya.
" Dia harus menyelesaikan masalahnya dan jika Damar membawa orang yang ada di balik semuanya. Maka aku akan mengampuninya dan akan memberikannya apa yang menjadi miliknya," sahut Harison.
Damar langsung menoleh kearah mamanya dan Rebecca langsung panik dengan kata-kata papanya.
" Baiklah!" sahut Damar membuat Rebecca menoleh ke arah Damar.
" Kakek benar, aku pasti tidak sendirian dalam masalah ini. Aku juga ingin ke adilan dengan hal yang menjerumuskan ku yang pada akhirnya aku yang menanggungnya. Aku akan membawa orang yang ada di belakangku kepada kakek," ucap Damar membuat Rebecca melotot.
" Apa maksud Damar, apa yang ingin di lakukannya," batin Rebecca panik.
Aditya mendengus mendengarnya. Seakan rencananya berjalan dengan lancar.
" Baguslah, kalian memang harus saling menyerang, karena itu yang aku inginkan, karena aku tidak perlu ribut-ribut lagi. Aku tidak perlu melakukan banyak hal lagi, biarkan mereka yang saling menyerang," batin Aditya tersenyum penuh kemenangan.
" Semoga saja, Damar mau membongkar kebusukan mamanya sendiri. Aku yakin Damar ketika sudah terpojok pasti tidak akan menerima semua ini," batin Felly yang penuh dengan harapan.
" Mama sudah membuat masalah ini tambah besar. Jadi aku harus bertindak, aku tidak ingin hancur di tangan mama," batin Damar yang mengepal tangannya yang ingin menyeret mamanya.
" Bagus kalau begitu. Lanjutkan proses hukumnya. Dan bawalah orang-orang yang ada di belakangmu, agar kamu mendapat ke adilan juga," sahut Harison.
" Wiraguna," ucap Harison menegur pengacaranya.
" Iya tuan," jawab Wiraguna.
" Kamu urus semua pengalihannya secepatnya. Dan siapkan konferensi pers untuk pengalihan Perusahaan utama!" perintah Harison.
" Baik tuan," sahut Wiraguna.
" Sial, aku tidak menyangka jika Perusahaanmu itu menjadi milik Aditya, papa benar-benar keterlaluan. Aditya menjadi pemenangnya. Aku tidak percaya kasus Anderson terbongkar kembali malah membuat banyak kesialan kepadaku. Kenapa aku lengah dalam.hal ini," " batin Rebecca panik.
__ADS_1
" Dan mana kuncinya," sahut Harison lagi membuat Rebecca bingung.
" Kunci apa maksud papa?" tanya Rebecca heran dan melihat Wiraguna memberikan kunci pada Harison.
" Bukannya itu kunci kepemilikan rumah, kenapa papa memintanya, untuk apa kunci itu?" batin Rebecca mengenali benda itu.
" Ambilah Elia ," ucap Harison memberikan pada Elia dan Elia mengambilnya ragu yang tidak tau apa maksudnya.
Rebecca kaget saat Harison memberikan kunci itu pada Elia. Sementara dia tidak pernah sekalipun memegang kunci itu.
" Elia, mulai sekarang rumah ini kamu yang menangani," ucap Harison membuat semua orang yang ada di sana kaget termasuk Rebecca sampai-sampai matanya melotot dengan apa yang di berikan Harison pada Rebecca.
Aditya juga kaget mendengarnya pasti tidak percaya dengan apa yang di berikan kakeknya pada kakaknya.
" Kenapa kakek memberikan kunci itu pada kak Elia?" batin Damar bingung.
" Kamu punya kuasa atas rumah ini. Jika siapa yang memegang kunci ini. Dia lah penguasanya. Kamu punya hak dengan rumah ini dan orang-orang yang ada di dalamnya, dan pasti dengan peraturan yang kamu buat sendiri," ucap Harison membuat Elia kaget.
Aditya dan Felly saling melihat dengan tersenyum tipis.
" Apa yang aku katakan sudah jelas. Aku tidak akan mengulangi perkataan ku lagi. Aku memberikan hak rumah ini kepada Elia," tegas Harison.
" Pah, apa yang papa bicarakan. Kenapa harus Elia," sahut Rebecca memprotes dengan cepat.
" Semuanya sudah jelas Rebecca. Bukannya kamu yang mengatakan. Jika aku harus adil. Elia juga cucuku dan dia punya hak atas hartaku, bukan hanya Aditya atau pun Damar," tegas Harison.
" Pah, kenapa papa memberikan kepada Elia dan Aditya saja. Sementara Damar papa tidak memberikan apa-apa bahkan papa mengambil miliknya. Dia juga anak mas Baskoro," teriak Rebecca.
" Cukup Rebecca!" bentak Harison. Membuat Rebecca kaget.
" Kamu jangan terus banyak protes aku melakukan ini untuk keadilan dan aku sudah mengatakan kepadamu. Damar akan mendapat haknya. Kalau masalahnya selesai. Lalu kenapa kamu tidak mengerti- mengerti juga, lagian selama ini Damar sudah menikmati semuanya aku sudah memberikannya Perusahaan usaha dan yang lainnya. Tapi dia sendiri yang sudah menghancurkan kepercayaan ku," tegas Harison.
__ADS_1
" Tap aku masih ada di rumah ini. Selama aku menikah dengan mas Baskoro. Papa tidak pernah memberikan kunci itu kepadaku. Bahkan setelah Mbak Ratna sudah meninggal di mana seharusnya kekuasaan rumah jatuh kepadaku. Tapi aku tidak pernah menerimanya sama sekali dan sekarang papa malah memberikan pada Elia yang aku masih ada," ucap Rebecca benar-benar tidak terima.
" Cukup!" bentak Elia membuat Rebecca kaget, " Jangan berani-beraninya kau menyebut nama ibuku dengan mulut motormu itu," ucap Elia menekankan. Membuat Rebecca rasanya ingin berdiri dan memukul Elia.
" Astaga, aku baru menyadari kak Elia ternyata sangat garang," batin Felly yang salut dengan kakak iparnya itu.
" Elia kau jangan ikut campur!" geram Rebecca.
" Memangnya kau tidak melihat kunci ini ada di tanganku. Yang kau juga tidak tuli apa yang di katakan kakek barusan. Kalau rumah ini aku yang menguasai dan juga orang-orang di dalamnya. Jika kau tidak mau aku untuk ikut campur. Kau bisa angkat kaki dari rumah ini," ucap Elia penuh ancaman membuat Rebecca naik pitam.
" Jaga bicara kamu Elia. Dia adalah orang tua kamu juga," sahut Baskoro yang masih membela.
" Peraturan ku mutlak tidak ketercuali untuk orang membelanya. Jadi tidak suka angkat kaki, siapapun itu, jangan membantah kata-kata ku," sahut Elia menegaskan membuat Baskoro kaget.
Secara tidak langsung perkataan Elia adalah untuk mengusirnya juga. Baskoro tidak bisa berkata apa-apa lagi dan Aditya hanya menukangi tontonan yang menarik itu.
" Semuanya sudah jelas, dan tidak ada yang bisa mengganggu gugat lagi," sahut Harison menegaskan dan langsung berdiri. Yang di ikuti oleh pengacaranya.
" Ayo kita juga pergi, suasana sangat panas," ucap Aditya dengan tersenyum melihat kearah Rebecca yang sudah seperti monster.
Elia, Felly dan Aditya juga meninggalkan tempat itu.
" Kenapa mas diam saja dengan keputusan papa?" tanya Rebecca dengan kesal yang suaminya tidak menanggapi apa-apa.
" Kamu bilang diam. Kamu nggak liat, aku berusaha untuk memprotesnya," sahut Baskoro.
" Protes dari mana kamu hanya diam. Bahkan Elia bicara seperti kepadaku. Kamu juga diam dan tidak membela ku," ucap Rebecca.
" Terserah kamu Rebecca. Aku sudah pusing dengan semuanya," sahut Baskoro terlihat frustasi dan langsung pergi meninggalkan Rebecca.
" Mas," panggil Rebecca yang tidak di pedulikan Baskoro damar juga menyusul untuk pergi. Dia muak dengan mamanya yang terus mengoceh.
__ADS_1
" Kenapa semuanya harus seperti ini, kenapa," teriak Rebecca yang gila seperti orang kesetanan.
Bersambung