Pria Kejam Yang Merampas Kehormatan Ku.

Pria Kejam Yang Merampas Kehormatan Ku.
Eps 75 Panik


__ADS_3

Aditya duduk di samping Felly dan melihat wanita itu yang masih tidak sadarkan diri. Wajahnya juga masih pucat dan terdapat noda darah di ujung bibir itu dan pasti noda darah akibat luka dari pukulan pria yang sudah mati di tangannya itu.


" Dia benar-benar melewati batasnya," geram Aditya. Dia benar-benar sangat murka dengan tindakan Rebecca yang berani Menyinggirkan Felly.


Aditya memang akan secepat kilat mengetahui dalang di balik penculikan Felly Dan memang untung saja dia bergerak cepat dan bisa menyelamatkan Felly.


Dan Bion memang sangat bekerja dengan baik yang benar-benar mengawasi Felly. Sehingga dia dan Felly masih bisa bersama malam ini. Dan semua karena Bion yang bekerja tidak pernah mengecewakan.


Aditya bangkit dari tempat tidur itu lalu menuju lemari. Dia menoleh kembali kearah Felly yang masih tidak sadarkan diri. Aditya mengeluarkan Bathrobe dari dalam lemarinya dan kembali menghampiri Felly.


Aditya melihat pakaian Felly yang tampak kucel dan kotor pasti tidak nyaman di kenakan untuk beristirahat. Membuat Aditya berinisiatif untuk menggantinya.


Aditya membawa tubuh Felly kedalam pelukannya. Sehingga Felly terduduk dalam pelukannya. Tangannya yang lihai mulai menarik ikatan piyama Felly dan dengan cepat membuka pakaian itu dari tubuh Felly.


Tangan Aditya bergerak sangat lincah jika masalah melucuti pakaian. Dalam hitung detik Istrinya yang masih berada di dalam pelukannya itu sudah polos.


Lihai melucuti Aditya juga lihai memakaikan kembali pakaian yang baru. Agar Felly nyaman untuk beristirahat. Dia memang tidak perlu memanggilkan Dokter.


Aditya tau Felly hanya schok dan pasti besok juga sudah bangun. Makanya dia tidak perlu khawatir kenapa wanita itu tidak bangun-bangun.


Tidak berapa lama. Tubuh Felly sudah terlapisi bathrobe putih milik Aditya. Dengan perlahan. Aditya kembali membaringkan Felly. Aditya merapikan rambut Felly. Mengeluarkan dari dalam baju.


Aditya mengambil satu lagi bantal dan melapiskan pada bantal Felly agar lebih tinggi. Yang mungkin bagi Aditya akan jauh lebih nyaman.


Aditya berdiri menuju laci di dekat meja rias. Mengambil kotak obat dari dalam laci tersebut dan kembali duduk di samping Felly. Aditya langsung dengan cepat mengobati luka Felly dengan lembut.


" Seharusnya aku memotong tangannya sebelum menembaknya. Karena sudah berani membuatmu terluka," gerutu Aditya yang terus mengobati luka Felly.


Pasti dia sangat murka dengan apa yang di lakukan pria itu kepada Felly. Tetapi membalaskan sudah tidak ada gunanya lagi. Karena toh Pria itu sudah mati di tangannya.


Setelah mengobati luka itu. Aditya menatap wajah Felly lama. Tetapi matanya turun pada perut ramping Felly. Tangannya Reflek memegang perut itu. Seakan ada naluri hati yang menunjukkan rasa khawatirnya pada darah dagingnya yang berada di rahim wanita itu.


" Aku rasa dia akan baik-baik saja," ucap Aditya. Tidak lama setelah itu. Aditya berdiri dan menarik selimut sampai dada Felly. Lalu dia beranjak dari kamar itu. Membiarkan Felly istirahat.


************


Mentari pagi kembali tiba. Di kamar Aditya ternyata Felly masih berada di atas ranjang dengan posisi yang sama. Tetapi Aditya sama sekali tidak terlihat berada di kamar itu.

__ADS_1


Sinar mata hari yang cerah mampu membuat Felly mengerjapkan matanya. Aditya memang sudah membuka tirai jendala agar pancaran matahari itu langsung mengarah ke mata Felly dan membuat mata Felly terusik.


Aditya sepertinya memang sengaja melakukan itu. Sengaja mengganggu tidur Felly. Felly membuka matanya perlahan. Tangannya langsung memijat kepalanya yang mulai terasa berat.


" Dimana aku?" gumamnya melihat keberadaannya dengan kepalanya berkeliling. Sama sekali Felly tidak bisa mengetahui keberadaannya.


Karena tempat itu sangat asing. Kamar yang luas dengan nuansa elegan yang memang sangat nyaman. Tempat itu memang cukup mencuri perhatiannya.


Felly mencoba untuk duduk. Tangannya terus memijat kepalanya yang semakin berat. Bahkan punggungnya juga semakin sakit.


Mata Felly mulai melihat tubuhnya. Wajahnya berubah menjadi kaget. Saat melihat ada yang berbeda dengan tubuhnya. Pakaiannya yang berubah. Tangannya reflek memegang-megang pakaian yang di pakaianya yang dia tidak tau milik siapa.


" Apa ini. Siapa yang mengganti pakaianku," ucapnya kepanikan dengan matanya yang melebar. Pikirannya pasti sudah kemana-mana dengan perubahan yang terjadi padanya.


Di tengah kepanikannya pintu kamar terbuka dan Felly langsung mengarah kepintu kamar itu yang sudah berdiri sosok Aditya yang datang dengan tangannya di masukkan ke dalam sakunya dan menatapnya dengan tatapan dingin.


" Kau," lirih Felly mengingat-ingat apa yang terjadi semalam.


Dia mengingat ada orang yang berusaha melecehkannya dan Aditya menyelamatkannya. dia juga mengingat Aditya berkelahi dengan Pria itu dan dia tidak tau apa yang terjadi lagi.


" Di mana aku?" tanya Felly masih kepanikan.


" Di rumahku?" jawab Aditya dengan benar.


" Lalu apa yang kau lakukan. Kenapa pakaianku berganti?" tanya Felly langsung pada intinya. Yang membuatnya penuh kecemasan.


" Apa aku harus menjelaskan semuanya apa yang aku lakukan padamu," sahut Aditya tersenyum miring membuat Felly geram. Merapatkan giginya.


" Kau yang mengganti pakaian ku?" tanya Felly memastikan.


" Hmmm, aku yang melakukannya. Kenapa apa kau ingin aku membukanya lagi?" sahut Aditya yang sangat puas jika menggoda Felly.


" Lancang sekali kau melakukan itu kepadaku," sahut Felly dengan wajah marahnya.


Bagaimana tidak marah beraninya Aditya menggantikan pakaiannya. Tidak hanya mengganti. Pikiran Felly memang sudah sampai sejauh itu. Aditya mendengus kasar mendengar ucapan Felly.


" Kenapa apa ada yang salah. Aku suamimu dan bukankah itu hal yang biasa. Memang apa yang harus kau tutupi lagi. Aku juga sudah melihat semuanya. Jadi tidak ada yang perlu di cemaskan," sahut Aditya tersenyum penuh kemenangan.

__ADS_1


" Kau benar-benar," geram Felly merapatkan giginya.


" Sudah jangan banyak Protes. Semua sudah terlanjur. Lagi pula aku tidak melakukan apapun kepadamu. Aku tidak suka harus melakukan hubungan itu dengan wanita yang tidak sadarkan diri. Jadi jangan sepanik itu. Anggaplah ini belum waktunya," ucap Aditya dengan santai.


Felly terlihat membuang napasnya perlahan yang mungkin Felly merasa lega. Walau tidak tau dia harus mempercayai Aditya atau tidak. Aditya mengambil paper bag yang ada di atas nakas dan menjatuhkan pada Felly.


" Cepat gantian pakaian mu dan langsung turun!" perintah Aditya membuat Felly bingung dan melihat isi paper bag tersebut yang terdapat pakaian.


" Kenapa diam. Kau ingin aku menggantinya lagi?" tanya Aditya dengan seriangi nakal di wajahnya.


" Tidak perlu. Aku bisa sendiri," sahut Felly dengan ketus.


" Bagus kalau begitu jadi gantilah secepatnya. Aku menunggumu di bawah," sahut Aditya membalikkan tubuhnya dan melangkah pergi.


" Apa kau membunuhnya?" tanya Felly tiba-tiba membuat langkah Aditya terhenti.


Felly mengingat dia mendengar suara tembakan yang di dalam pikirannya. Pria itu yang terkena tembakan. Karena dia masih hidup dan pasti peluru itu mengenai Pria itu. Walau dia tidak melihat Aditya menembaknya.


" Kau menebak-nebak," sahut Aditya membalikkan badannya dan melihat wajah Felly yang penasaran.


" Aku melihat dia memegang pistol dan sebelumnya saat aku memelukmu aku melihat ada pistol di Jasmu dan jika tembakan itu tidak mengenaiku. Berarti itu mengenainya," ucap Felly menyimpulkan sendiri.


Yang memang sebelumnya melihat pistol di pinggang Aditya saat dia memeluk Aditya.


Aditya membuang napasnya perlahan.


Dia tidak menyangka jika Felly akan tau. Kalau dia telah membunuh orang yang mencelakai Felly. Walau dia sudah berusaha untuk menutup mata Felly agar tidak melihat kejadian itu.


" Iya," jawab Aditya menjeda omongannya. Aku sudah memperingatkannya di awal. Dan dia tidak mendengarku. Aku jauh lebih membutuhkanmu dari pada dia dan dia harus mati. Jika tidak dia bisa mengganggumu lagi," lanjut Aditya mengatakan yang sebenarnya jika dia sudah membunuh Pria yang mencelakai Felly.


" Dan itu berlaku untukmu. Kau juga bisa mati di tanganku. Jika kau berani macam-macam denganku," ucap Aditya mengalihkan sesuatu dengan mengancam Felly. Felly hanya terdiam tidak tau menanggapi seperti apa lagi.


" Cepat ganti pakaian mu. Aku tidak suka menunggu lama," ucap Aditya langsung pergi. Sebelum Felly berbicara banyak lagi.


" Apa dia sering membunuh orang," batin Felly dengan wajah senduhnya. Bukannya takut dengan Aditya. Tetapi dia justru penasaran. Karena melakukan semua itu pasti butuh alasan.


Bersambung......

__ADS_1


__ADS_2