
Felly berada di dapur membantu pelayan rumah untuk menyiapkan makan malam.
" Felly!" panggil Elia. Felly yang mengaduk sayur sop menoleh kebelakang.
" Iya kak, kenapa?" tanya Felly.
" Kamu lihat pak Rudi?" tanya Elia.
" Lagi nganterin kakek tadi kayaknya," jawab Felly, " memang ada apa kak?" tanya Felly.
" Tidak. Kakak pikir ada. Soalnya kakak mau di anterin ke Restaurant sebentar," jawab Elia.
" Ya sudah kalau begitu biar Felly aja yang anterin kakak," ucap Felly mematikan langsung kompor. Elia mendengarnya langsung tersenyum cengengesan.
" Ada apa?" tanya Felly heran.
" Iya kamu yang anterin kakak. Setelah itu Aditya akan musnahkan kakak. Istri kesayangannya yang sedang hamil tua bisa-bisanya menyetir. Kakak bisa di ceramihi," sahut Elia yang merasa ide adik iparnya itu sangat buruk.
" Ya habisnya mau gimana lagi," sahut Felly, " Hmmm gini aja,' sahut Felly tiba-tiba mendapatkan ide dan mendekati kakaknya itu.
" Aku akan tetap anterin kakak. Tapi kita sepakat agar Aditya tidak tau. Kita rahasiakan masalah ini. Bagaimana?" tanya Felly dengan ide konyolnya. Wajah Elia sudah tidak yakin dengan ide buruk adik iparnya itu.
" Ayo!" ajak Felly dengan serius.
" Ehemm," tiba-tiba terdengar suara deheman yang membuat Felly dan Elia sama-sama melotot seakan tau suara besar itu berasal dari mana dan ke-2 wanita itu langsung menoleh ke arah suara itu dan memang benar tebakan mereka suara itu berasal dari Aditya yang sekarang menatap tajam Felly dan juga Elia.
" Bagus ya kalian ber-2. Punya rencana mau pergi," sahut Aditya yang terlihat kesal dan langsung menghampiri Elia dan Felly.
" Kamu mau menyetir?" tanya Aditya dengan serius pada Felly.
" Tidak kamu salah dengar kali," sahut Felly mengelak.
" Kamu pikir aku tuli. Aku dengar sendiri sok-sokan mau mengantarkan kak Elia," ucap Aditya yang langsung marah-marah.
" Nggak sayang kamu itu salah dengar benar deh," sahut Felly yang kembali mengelak. Elia hanya menonton adiknya yang sekarang memarahi istrinya.
" Oke, kakak pergi dulu. Kakak tidak ikut-ikutan. Kalian ber-2 lanjutkan pertengkaran kalian," sahut Elia dengan menggedikkan bahunya yang lepas tangan.
" Kak Elia mau kemana tolongin," sahut Felly. Namun Elia tetap pergi. Biarlah urusan rumah tangga itu di selesaikan orang yang berkepentingan.
__ADS_1
***********
Apertemen Bion.
Bion keluar dari kamar yang terlihat memakai kemeja putih yang ingin pergi dan mengambil kunci mobil di depan TV.
" Mas Bion mau kemana?" tanya Gina tiba-tiba yang melihat Bion pergi.
" Aku mau keluar sebentar," jawab Bion.
" mau kemana?" tanya Gina.
" Mau ke supermarket mau membeli susu," jawab Bion.
" Aku ikut?" sahut Gina.
" Tidak usah Gina. Kamu di rumah saja. Aku hanya sebentar," jawab Bion.
" Tapi....," sahut Gina yang terlihat ingin ikut.
" Gina, sudah ya. Aku hanya sebentar jadi kamu di rumah saja. Aku tidak akan lama," ucap Bion menjelaskan. Namun Gina terlihat murung yang tidak di berikan izin untuk ikut.
" Aku pergi!" ucap Bion yang langsung pergi begitu saja.
Elia akhirnya di antarkan Aditya ke Restaurant Itali milik Aditya yang memang sekarang dia yang mengelolanya. Aditya hanya mengantarnya sebentar. Lalu langsung pulang karena mana bisa dia meninggalkan istrinya sendirian di rumah.
Namun untuk Elia yang berada di ruangannya sendirian hanya mengecek saja beberapa masalah yang ada di Restauran itu. Dari pada pikirannya kemana-mana mending dia fokus bekerja untuk membuat hari-harinya jauh lebih berharga.
Terlihat Elia yang sudah lama berada di ruangan itu yang terlihat begitu serius sampai tidak mengingat waktu lagi.
" Astaga sudah larut. Aku sampai lupa waktu," gumamnya yang menyadari dan sudah melihat arloji di tangannya yang sudah pukul 11 malam.
Elia pun langsung buru-buru beres-beres agar cepat pulang. Aditya nanti bisa memarahinya. Kalau dia lama-lama pulang.
Setelah selesai beberes Elia keluar dari ruangannya dan melihat Restaurant sudah gelap. Ya ternyata memang karyawan sudah pada pulang dan mungkin tidak ada yang menyadarinya jika dia berada di dalam. Makanya tidak ada yang memanggilnya.
" Harus telpon pak Rudi suruh jemput," ucap Elia yang langsung mengambil handphone untuk menghubungi supirnya.
*********
__ADS_1
Elia menunggu Rudi supirnya di depan Restaurant. Jalanan sudah sangat sepi. Bahkan Elia juga sudah menutup Restaurant tersebut dan tinggal Elia yang ada di sana. Dengan kendaraan yang melintas satu persatu.
" Kenapa Pak Rudi lama sekali," gumam Elia yang sudah merasa bosan untuk menunggu. Dia beberapa kali melihat arloji di tangannya yang semakin lama semakin larut.
Tiba-tiba di tengah kegelisahan Elia. Ada tiga Pria yang lewat yang berjalan dengan sempoyongan yang sepertinya sedang mabuk dan mereka menghentikan langkah mereka. Ketika melihat Elia yang gelisah menunggu sendirian. Pria itu bahkan menyeriangi nakal yang melihat Elia dan langsung mendekati Elia membuat Elia langsung ketakutan.
" Mau kemana neng?" tanya Pria yang satunya yang sangat kurang ajar mencolek Elia.
" Apa-apaan kalian, pergi dari sini!" bentak Elia dengan wajahnya yang pucat yang sudah di kelilingi pria itu.
" Jangan galak-galak neng, nanti cantiknya hilang," sahut pria yang setengah sadar itu.
" Mending kita senang-senang dulu. Nanti akan di antarkan pulang," sahut yang satunya lagi.
" Jangan kurang ajar kepadaku. Pergi kalian dari sini!" geram Elia.
" Sok jual mahal amat," sahut pria yang satunya yang menarik tangan Elia dan temannya juga ikut-ikutan yang ingin melecehkan Elia.
" Lepas! lepaskan aku, tolong! tolong!" teriak Elia saat pria-pria itu ingin menjamah tubuhnya. Elia ketakutan dalam tangisnya ketika mendapat perlakukan yang kurang ajar. Namun di tengah- tengah aksi bejat Pria itu. Tiba-tiba satu pukulan melayang pada salah seorang Pria yang ada di sana dan membuat melayang.
Elia kaget yang ternyata adalah Bion yang datang tepat waktu yang sekarang sedang berkelahi dengan 3 orang itu. 3 orang itu walau mabuk tetap kuat dan Bion kewalahan menghadapinya.
" Ya Allah, Bion. Semoga saja kamu tidak apa-apa," batin Elia yang ketakutan terjadi sesuatu dengan Bion.
Bion sedang menghajar dia Pria yang sudah terkapar. Namun tiba-tiba Elia melihat salah seorang Pria yang datang dari belakang Bion dengan mengeluarkan pisau yang ingin menusuk Bion.
" Bion awas!" teriak Elia. Bion langsung membalikkan tubuhnya dan kaget dengan pria yang ingin menusuknya dan dengan cepat Bion menangkisnya dan terdengar suara sayatan di tangannya.
" Bion!" teriak Elia melihat Bion terluka parah. Tetapi Bion langsung menendang Pria itu hingga tersungkur. Dan pria-pria itu mengambil kesempatan untuk kabur ketika Bion lengah.
" Mau kemana kalian pengecut!" teriak Bion yang ingin mengejar. Namun Elia datang menghentikan.
" Bion sudah," sahut Elia memegang tangan Bion.
" Kamu tidak apa-apa kan?" tanya Elia cemas dengan melihat luka Bion yang berkeluaran darah.
" Aku tidak apa-apa. Bagaimana dengan kamu. Kamu tidak apa-apa kan?" tanya Bion yang cemas dengan Elia.
" Aku juga tidak apa-apa," sahut Elia. Bion merasa lega dengan Elia yang tidak apa-apa. Untung saja dia datang tepat waktu. Namun berbeda dengan Elia yang sekarang sangat panik dengan keadaan Bion.
__ADS_1
Luka sayatan itu terus mengeluarkan darah membuatnya cemas. Bahkan matanya berkaca-kaca dengan apa yang terjadi pada Bion.
Bersambung