
2 Minggu kemudian.
Tidak terasa sudah 2 Minggu Felly dan keluarganya pindah rumah dan semuanya berjalan lancar, aman damai dan tentram.
Rumah yang sederhana di tengah-tengah desa itu. Di sanalah Felly dan keluarganya tinggal.
Rumah itu lebih besar dari pada rumah mereka yang ada di jakarta.
Bangunannya masih kokoh walau sudah puluhan tahun berdiri. Tetapi masih sangat cantik. Bahkan bisa di katakan rumah mereka termasuk rumah-rumah bagus di desa itu. Ya lumayan lah nyaman untuk mereka.
Dulu Felly, kakaknya memang menghabiskan masa kecil di sana. Bahkan mereka juga lahir di sana dan orang tuanya juga mulai merintis kehidupan dari sana.
Rumah tersebut Memiliki ruang tamu, dapur yang menyatu dengan meja makan dan 3 kamar tidur yang cukup nyaman.
Selama di sana kondisi kesehatan mamanya terus membaik. Dan bahkan beraktivitas seperti biasanya.
Seperti saat ini. Sabila sedang membuat sarapan dengan Wanti adiknya. Sementara, Lulu, Dody dan Agni sudah menunggu di meja makan. Mereka juga sudah siap dengan seragam sekolah mereka masing-masing.
" Andre sama Felly mana?" tanya Wanti meletakkan hidangan sarapan pagi yang belum melihat 2 keponakannya itu.
" Di sini Bi," sahut Felly yang keluar dari kamarnya dengan tidak bersemangat. Wajahnya sangat pucat lesu, seperti sedang sakit.
" Kak Andre kayaknya sudah berangkat," sahut Felly yang duduk dengan lemas. Mengingat tadi pagi-pagi sekali kakaknya pergi kerja.
" Kamu kenapa Felly sakit," tanya Wanti melihat Felly pucat. Felly juga terlihat memijat-mijat tengkuknya.
" Tidak enak badan saja," sahut Felly yang memang merasakan perubahan tubuhnya selama beberapa hari ini.
" Sudah minum obat? tanya Sabira. Felly menggeleng.
" Kenapa belum?" tanya sang mama yang pasti sangat khawatir.
" Nanti saja ma," sahut Felly.
Eeg- Eggkh-Ehghg. Tiba-tiba Felly ingin muntah dan langsung berlari kekamar mandi dengan mual-mual.
" Kenapa kak Felly?" tanya Agni heran.
" Kak Felly mungkin kecapean," jawab Wanti berpikir positif.
__ADS_1
" Felly kamu baik-baik saja?" tanya mamanya dengan sedikit berteriak.
" Iya ma," sahut Felly dari kamar mandi.
Di kamar mandi Felly terus muntah-muntah sambil memegang belakang lehernya memijat-mijat agar muntahnya keluar.
Tidak tau kenapa. Tetapi memang perutnya sedang tidak enak. Dia juga sangat malas dalam melakukan hal yang lain dan penciumannya yang sangat buruk belakangan ini.
Felly mencuci mulutnya setelah selesai muntah. Tubuhnya semakin lemas. Ketika seluruh isi perutnya keluar. Karena dia belum mengisi apapun jadi wajar jika tambah lemas.
" Kenapa aku mual terus, aku pasti masuk angin," ucap nya dengan napasnya yang terasa sesak menatap dirinya di cermin.
Felly mengambil handuk dan melap wajah nya. Dia bahkan keringat dingin karena mengeluarkan makanan yang ada di dalam perutnya. Membuatnya kehabisan tenaga.
" Maag ku pasti kambuh. Tetapi bukannya aku teratur makan dalam beberapa hari belakangan," Felly hanya bingung dan menerka-nerka apa yang terjadi dengannya.
***********
" Apa rumahnya kosong," sahut Aditya dengan keras saat mendapat laporan dari Bion mengenai Felly.
" Benar tuan, menurut tetangganya sudah 2 Minggu penghuninya pindah," sahut Bion menjelaskan lebih detail dengan menunduk.
Aditya memang kembali ke Jerman untuk mengurus Perusahaannya yang sedang terkendala. Aditya menghabiskan waktu 2 Minggu lebih di sana.
Aditya terlalu spele dengan Felly sampai tidak menyuruh orang-orang nya mengawasinya dan tidak menyangka. Felly melarikan diri.
Dan sekarang dia benar-benar marah dengan kepergian Felly. Padahal Felly adalah umpannya dan sekarang umpannya sudah pergi.
" Berani sekali wanita itu melarikan diri. Dia pikir dia siapa. Aku tidak akan membiarkan kau pergi. Kau akan tetap di dalam genggamanku," batin Aditya mengepal tangannya dengan matanya yang memerah karena kepergian Felly.
Bahkan Felly 2 Minggu sudah pergi. Dia benar-benar lengah sehingga wanita yang di peralatannya itu kabur.
" Cari dia sampai ketemu dan seret kehadapan ku!" perintah Aditya dengan geram. Kali ini mungkin tidak akan ada ampun untuk Felly.
" Baik tuan," jawab Bion.
" Pergilah!" usir Aditya merendahkan suaranya.
" Baik tuan, saya mengingatkan akan ada makan malam bersama tuan Harison jam 7 malam," ucap Bion mengingatkan.
__ADS_1
" Ibu dan anak itu juga ada di sana?" tanya Aditya mewanti-wanita.
" Saya kurang tau tuan. Saya hanya di suruh menyampaikan pesan dari tuan Harison," sahut Bion.
" Untuk apa lagi kakek mengajak makan malam. Apa lagi yang di inginkan kakek," batin Aditya tambah kesal. Sudah masalah Felly membuatnya kesal di tambah lagi kakeknya. Bagaimana dia tidak frustasi.
" Baiklah," sahut Aditya.
mengiyakan saja dulu. Soal pergi atau tidaknya bisa menjadi urusan belakang.
" Kalau begitu saya permisi tuan," ucap Bion menundukkan kepalanya. Aditya mengangguk.
" Berani sekali kamu pergi. Aku harus menemukannya. Jika dia benar-benar pergi semuanya bisa berantakan aku tidak akan punya alat lagi untuk membuat Damar hancur," batin Aditya dengan mengepal tangannya.
" Memang dia mau lari kemana. Keujung dunia pun aku pasti menemukannya. Dia pikir bisa melawanku. Wanita keras kepala,"
*********
Ternyata Aditya dan Harison hanya makan ber-2. Harison berada di ujung meja Aditya juga berada di ujung meja mereka menikmati makanan yang di siapkan para pekerja di rumah itu. Beberapa pelayan tetap berdiri seperti biasa di tempatnya.
" Aku tidak pernah mendengar kabar calon istrimu, apa kau sudah membuangnya," ucap Harison penuh sindiran. Membuat Aditya berhenti memotong steak.
Sementara Harison yang makan dengan santai sambil melihat Aditya menatap seperti mengejek.
" Dugaan ku benar. Makan malam ini pasti mengarah kepada wanita itu. Kakek benar-benar sangat suka ikut campur," batin Aditya yang memang sedari tadi memiliki Firasat yang tidak enak.
" Apa kata calon istri hanya sementara saja. Hanya untuk membuat kegaduhan," ucap Harison lagi yang benar-benar membuat Aditya panas.
" Apa kakek mengundangku makan untuk bergosip," sahut Aditya menanggapi dengan santai membuat Harison tersenyum.
" Aku tidak bergosip, aku hanya menanyakan saja. Biasanya Damar jika aku menanyakan calon istrinya. Wajahnya akan tersenyum lebar dan bercerita dengan suka bahagia. Tetapi aku tidak melihat kau seperti dia bahkan kau terlihat cemas," ucap Harison membuat Aditya semakin marah.
Kakeknya sekarang malah membanding-bandingkan dengan Damar membuat darah tingginya naik. Bagaimana wajahnya tidak cemas wanita yang di bicarakan itu entah di mana.
Tetapi Aditya malah menyunggingkan senyumnya. Dia berusaha tenang supaya tidak terlihat terjadi apa-apa.
" Buat apa aku harus bercerita dengan suka rela. Kalau pada akhirnya hubungan itu sudah selesai. Kakek jangan menyamakan ku dengan dia. Dia terlalu lebay dalam menjalin hubungan,"
" Dia sangat suka cerita sana sini, suka heboh sendiri. Tapi hasilnya apa. Kakek sudah terlanjur ikut bahagia. Kakek sudah sibuk menyiapkan segalanya. Tetapi semua nihil dia mengakhiri dengan mempermalukan keluarga Harison," sahut Aditya tersenyum.
__ADS_1
Bersambung.....