Pria Kejam Yang Merampas Kehormatan Ku.

Pria Kejam Yang Merampas Kehormatan Ku.
Epis 239 Kata-kata Elia untuk Rebecca.


__ADS_3

Kediaman Harison.


Elia benar-benar memilih untuk tinggal di rumah itu. Elia mungkin punya siasat yang mengharuskannya tinggal di rumah itu. Pasti juga berhubungan dengan Rebecca yang ingin di berinya pelajaran dengan caranya sendiri.


Hari ini sarapan pertama untuk Elia setelah sekian lama di rumah itu. Bersama dengan Harison, Baskoro, Damar dan Rebecca. Sarapan tampak tenang tetapi pasti ada ketidak nyamanan yang pasti berasal dari Rebecca.


" Ehemmm," Elia berdehem, " kakek!" tegur Elia.


" Ada apa Elia?" tanya Harison.


" Kek, kapan Perusahan utama akan di serahkan pada Aditya?" tanya Elia. Membuat Rebecca menghentikan makannya dan langsung menatap Elia tajam yang beraninya menyinggung masalah itu.


" Pak, Wiraguna, sedang menyiapkan berkas-berkasnya. Kemungkinan dalam 3 hari ini akan selesai dan akan langsung pemindahan hak waris," jawab Harison Membuat Elia tersenyum Dan Rebecca langsung mengepal tangannya.


" Elia, senang mendengarnya. Semoga saja tidak ada gangguan yang menimbulkan masalah," ucap Elia melihat sinis Rebecca.


" Adik sama kakak sama saja. Hanya bisa membuatku emosian," batin Rebecca.


" Iya, kita doakan yang terbaik dan tidak akan ada gangguan," sahut Harison. Elia mengangguk dan Elia melihat ke arah Damar yang sarapan seakan menutup kuping dengan apa yang di bahasanya.


" Lalu kamu bagaimana Damar, apa kamu sudah menerima surat panggilan dari polisi atas tuntutan tuan Anderson?" tanya Elia membuat Damar melihat Elia. Namun Elia tersenyum.


" Jangan tegang Damar. Kamu belum di penjara saja. Sudah setegang itu. Apa lagi di penjara, setahun, 2 tahun bahkan puluhan tahun nanti," ucap Elia yang bicara lembut namun menusuk.


" Jaga bicara kamu Elia," sahut Rebecca pasti tidak bisa menahan diri.


" Apa kamu akan membawanya Damar untuk menemani kamu," sahut Elia menggerakkan kepalanya kearah Rebecca dan Rebecca semakin mengepal tangannya kuat.

__ADS_1


" Hmmm, Damar kamu adalah orang yang pintar. Kamu harus tau posisi kamu sangat buruk sekarang. Kakek bahkan sudah menyita apa yang kamu miliki dan kamu taukan rumah ini aku yang menguasai yang itu berarti apa yang kamu duduki dan kunyah sekarang. Itu karena kekuasaan ku. Dan dalam hitungan detik kamu juga bisa tidak duduk dan memakan apa yang di rumah ini," ucap Elia. Membuat Damar hanya diam seakan mendapat hinaan dan Rebecca semakin panas mendengarnya.


" Dan untuk meringankan semuanya. Kamu jangan mau hanya tertimpa sendiri. Jadi gunakan otak kamu untuk posisi kamu yang lebih aman. Paling tidak ada yang menemani kamu di dalam sel," lanjut Rebeca lagi.


" Cukup Elia!" gertak Rebecca berdiri. Namun Elia menyunggingkan senyumnya melihat Rebecca.


" Rebecca jika kamu tidak melakukan apapun. Kenapa kamu yang malah ribut," sahut Harison. Membuat Rebecca melotot melihat Harison. Dan Elia hanya geleng-geleng melihat kebodohan Rebecca.


" Dasar bodoh, lama kelamaan kau hanya akan mengakui perbuatan mu tanpa kau sadari," batin Elia merasa puas.


" Aku berdiri, atau membantah, bukan berarti aku bersalah. Aku hanya ingin membela Damar," sahut Rebecca yang tampak panik.


" Membela, membela dalam hal apa. Lagian aku melihat Damar tidak butuh pembelaan dari mu. Aku melihat Damar lebih membutuhkan kamu menemaninya di dalam sel," sahut Elia.


" Elia, kamu," geram Rebecca. Dan Baskoro hari ini tampak diam tanpa berani bicara apa.


Damar pun meletakkan sendok dan garpunya di atas piring sehingga terdengar bunyi selintingan sedikit. Lalu Damar berdiri dan langsung pergi meninggalkan meja makan tanpa menanggapi apa-apa.


" Kalau stress bisa menimbulkan seseorang melakukan hal di luar dugaan, salah satunya yang sering terjadi bunuh diri," sahut Elia dengan tenang membuat Rebecca melihat Elia.


" Hmmm, untuk mencegah hal itu. Bagaimana jika kita bawa Damar kerumah sakit jiwa," ucap Elia dengan entengnya membuat Rebecca melotot dan Baskoro juga kaget mendengar ucapan Elia.


" Tutup mulut kamu Elia," sahut Rebecca menekan suaranya dengan napasnya yang sesak dengan gampangnya mulut anak tirinya bicara.


" Papa dengar sendiri apa yang dia katakan. Baru satu hari tinggal di rumah ini. Tapi berani-beraninya mengeluarkan ide untuk membuat Damar di rumah sakit jiwa. Damar tidak gila," ucap Rebecca dengan penuh amarah. Namun Elia tersenyum mendengarnya.


" Maaf, ya mamanya Damar. Orang yang di rumah sakit jiwa bukan hanya karena ada gangguan jiwa. Tetapi orang sehat pun bisa masuk rumah sakit jiwa. Bukannya seharusnya kamu tau hal itu. Apa kamu lupa pernah memasukan seseorang Kerumah sakit jiwa tanpa gila sama sekali," sahut Elia dengan berbicara tenang menatap Rebecca yang sudah merapatkan giginya dengan tangan yang mengepal.

__ADS_1


Harison dan Baskoro diam tanpa mengatakan apa-apa.


" Kamu tidak lupakan, Rebecca," ucap Elia.


" Elia, kamu bisa diam tidak. Mas, pa, kalian bisa dengar sendiri apa yang di katakan Elia. Dia sudah keterlaluan bicara. Dia sudah tidak menghargaiku. Dia hanya 1 hari tinggal di sini. Tapi dia sudah melewati batasnya," ucap Rebecca yang mencari pembelaan yang bicara seperti di kejar-kejar. Merasa sesak tetapi tidak bisa berbuat apa-apa.


" Baru 1 hari dan juga baru bicara. Kamu sudah seperti kesetanan. Lalu kamu sendiri bagaimana Selama ini hanya bersembunyi dan menjadi simpanan. Lalu tiba-tiba datang dengan membawa anak berusia 5 tahun dan baru tinggal serumah. Tapi kamu sudah berhasil mencuri suami dan ayah 2 orang anak. Kamu berhasil menghilangkan nyawa seorang ibu. Kamu berhasil menghancurkan masa depan seorang anak perempuan merusak mentalnya dan fikisnya dan lebih parahnya kamu membuat anak 10 tahun harus dewasa, berpikir keras tidak sesuai usianya," ucap Elia dengan matanya berkaca-kaca jika mengingat kejadian buruk itu.


Rebecca seakan tidak bisa berkutik dengan kata-kata Elia yang mengungkap masa lalu di depan semua orang yang jelas lebih parah dari pada Aditya.


" Kamu menyalahkan ku atas kematian ibumu," sahut Rebecca. Elia tersenyum


" Hmm, jelas itu kesalahan mu. Tapi jelas yang paling bersalah adalah suami mama ku yang telah berhiyanat dan membawa farasit kedalam rumah kami. Itu yang bersalah," ucap Elia. Baskoro langsung melihat Elia. Melihat kebencian Elia yang jauh lebih besar kepadanya di bandingkan Aditya.


" Dan kau tau, sangat tidak adil. Jika kau sudah menikmatinya bertahun-tahun. Dan akan menjadi adil jika karma akan mendatangimu," lanjut Elia dengan sinis. Rebecca terlihat bergetar mendengarnya. Bahkan Rebecca hanya bisa geram tanpa bisa melakukan apa-apa.


Elia langsung mengambil gelas dan meneguk air putih sampai habis. Lalu melap mulutnya dan langsung berdiri.


" Kakek aku sudah selesai sarapan. Aku tidak ingin ada yang pingsan di depanku. Jadi aku kekamar dulu untuk menulis peraturan baru di rumah ini yang pasti tidak akan membuatnya senang," ucap Elia to the point, melihat Rebecca sinis.


" Iya ,silahkan kekamar mu," ucap Harison. Elia mengangguk tersenyum lalu melangkah.


" Aku akan menyiksamu di rumah yang kau anggap surga mu menjadi neraka," batin Elia dengan senyum miringnya yang melangkah pergi.


" Papa hanya diam saja dengan semua ini?" tanya Rebecca yang sudah tidak bisa menahan diri. Harison berdiri dan juga pergi enggan menanggapi protes Rebecca.


Ternyata Baskoro juga mengikut pergi dan meninggalkan Rebecca yang tidak punya tempat pengaduan.

__ADS_1


" Sial!!!!!" teriak Rebecca kerasukan setan dengan meremas rambutnya frustasi.


Bersambung


__ADS_2