
Rebecca terlihat panik di dalam kamarnya. Dia mondar-mandir seperti setrikaan dengan wajahnya yang begitu cemas yang kelihatan sedang memikirkan sesuatu.
" Apa lagi yang akan di lakukan Elia selanjutnya. Elia benar-benar dia selalu punya cara untuk menjebakku dan papa terus saja berpihak padanya. Selalu menurutinya dan tidak mempedulikanku.
" Apa yang harus aku lakukan. Bagaimana jika penyidik benar-benar akan memeriksa semuanya," ucapnya yang menggigit ujung jarinya yang otaknya tidak bisa berpikir.
" Damar juga di mana. Kenapa sih anak itu tidak bisa di kasih tau. Apa dia tidak tau masalah semakin genting jika seperti ini yang ada Damar yang akan mengacaukannya dan aku benar-benar akan terseret dan tidak bisa lolos lagi," ucap Rebecca dengan merapatkan giginya. Stress nya bertambah ketika anaknya semakin membuat masalah.
" Tidak Rebecca, kau tidak bisa hanya diam saja. Sebaiknya bergerak lah cepat. Kau harus bertindak sebelum semuanya berantakan," ucap Rebecca menyibak rambutnya kebelakang dan langsung keluar dari dalam kamar yang tidak tau apa yang ingin di lakukannya.
Sementara Elia terlihat menelpon di depan jendela yang berada di teras lantai dua tempat untuk bersantai-santai.
" Kamu tenang saja Aditya. Kakak sudah mengurus semuanya. Kamu jangan khawatir biarkan ini menjadi urusan kakak," ucap Elia dalam telponnya yang kebetulan Rebecca lewat menghentikan langkahnya ketika mendengar Elia menelpon.
" Kamu santai dengan fokus yang lain. Kakak baik-baik saja jangan khawatir," sahut Elia memutar perlahan telponnya dan melihat Rebecca yang 5 meter jauh dari depannya yang tampak sedang menguping. Dan Rebecca terlihat seperti monster dengan mengepal tangannya.
" Kakak tutup dulu telponnya, nanti kakak telpon lagi," ucap Elia menurunkan handphone itu dari telinganya.
" Kau sedang menguping," sahut Elia.
" Aku sudah menduga kau dan adikmu sengaja melakukan ini," sahut Rebecca sinis yang mendengar Elia menelpon.
" Lalu kenapa. Apa itu sebuah rahasia. Seharusnya kau tidak kaget melihat hal ini. Aku sama Aditya memang sedang berbagi tugas untuk menyelesaikan masalah dan membuang hama-hama yang masih menempel di rumah ini," sahut Elia dengan santai.
" Kau dan adikmu ingin menyinggirkan ku dari rumah ini?" tanya Rebecca.
" Bukankah jika farasit memang harus di singgirkan. Harus di kembalikan kepada tempatnya dari pada menyebar luas," sahut Elia dengan sinis.
__ADS_1
" Kau tidak akan bisa melakukannya Elia," sahut Rebecca. Elia mendengarnya tersenyum mengendus.
" Hanya menyinggirkan hama dan semacamnya aku tidak bisa. Aku ras kau salah atau kau lupa aku bisa menyinggirkan yang lebih dari itu. Bahkan aku bisa membuat peluru sampai menembus otak," sahut Elia dengan sinis. Membuat Rebecca diam tampak bisa bicara.
Kata-kata Elia memang tidak pernah lembut, dia bicara dengan tenang tetapi kata-kata itu begitu menakutkan.
" Ehemm, aku rasa aku harus pergi. Karena tidak ada gunanya di sini. Aku tidak ingin rencanaku terdengar oleh telingamu," sahut Elia tersenyum mengejek dan melangkah berjalan mengarah Rebecca. Saat ingin melewati Rebecca.
" Dorr," ucap Elia menembak dengan jarinya dan membuat Rebecca tersentak kaget. Membuat Elia tertawa.
" Dasar penakut," ejek Elia dan kembali melanjutkan langkahnya. Napas Rebecca terlihat naik turun hanya karena perbuatan Elia.
" Kurang ajar kamu Elia," teriak Rebecca yang merasa di permainkan Elia.
" Kau belum tau siapa aku. Aku akan membalasmu," teriak Rebecca yang benar-benar seperti orang bodoh ketika sudah berada di depan Elia.
*********
Akhirnya acara persemian rumah sakit yang di berikan untuk Felly pun tiba. Di mana di depan rumah sakit itu banyak para tamu yang sengaja di undang. Selain keluarga Rania yaitu Anderson, Sabila, Agni dan Andre di sana juga terlihat Harison dan Elia dan Bion.
Sementara Damar dan Rebecca tidak terlihat mungkin saja Aditya tidak mengundangnya. Baskoro juga tidak terlihat ada di sana.
Selain ada pita memanjang di sana juga ada tumpeng untuk syukuran pembukaan rumah sakit yang mana masih tertutup dengan tirai putih sampai lantai paling atas.
Felly juga terlihat cantik dengan dress putih selututnya dengan rambutnya yang di biarkan di gerai. Sementara Aditya biasa dia selalu berpakaian formal dengan jas hitamnya.
" Apa kita mulai saja pemotongan pita-nya? tanya Sabila.
__ADS_1
" Iya ma, kita mulai saja," sahut Aditya yang berdiri di samping istrinya.
" Kita mulai," ucap Aditya menatap tulus istrinya itu. Felly mengangguk dengan wajahnya yang begitu bahagia.
Tangan mereka pun sama-sama saling memegang gunting yang juga di berikan pita. Mereka berdua saling melihat.
" 1, 2, 3," ucap semuanya serentak memberikan arahan untuk memotong pita. Aditya dan Felly pun sama-sama memotong pita dan ketika pita terpotong. Tirai putih itu pun turun dan memperlihatkan rumah sakit mewah itu.
Prok-prok-prok prok prok prok.
Mereka pun mendapat sambutan tepuk tangan yang meriah dan melihat takjub rumah sakit itu dan Felly pun membalikkan tubuhnya melihat rumah sakit dengan tinggi mencakar langit itu bahkan matanya berkaca-kaca melihat rumah sakit yang di beri nama. Hosfidal ****Medica YAFEL****.
Aditya meletakkan pundaknya di bahu istrinya dengan mengusap-usap bahu sang istri yang dia tau istrinya pasti terharu dengan apa yang di berikannya.
Orang-orang di sana juga begitu bahagia, terharu bercampur aduk melihat pasangan suami istri yang sangat tulus itu.
" Kita sekarang potong tumpengnya," sahut Sabila mengarahkan. Felly dan Aditya pun sama-sama memotong tumpengnya dan kembali mendapat tepuk tangan.
Lalu Felly mengambil sedikit ke dalam piring kecil lengkap dengan beberapa lauknya dan langsung menyiapkan untuk suaminya. Namun Aditya mengoper sendok pada mulu Felly.
" Rumah sakit ini untukmu. Jadi kamu yang memakannya pertama," ucap Aditya. Felly semakin terharu membuka mulutnya menerima suapan suaminya dan tanpa iya sadari air matanya menetes. Aditya langsung memeluknya dan mencium keningnya.
" Makasih untuk semuanya," ucap Felly yang tidak mampu berbicara apa-apa.
" Aku yang berterima kasih kepadamu. Karena kamu hadir dalam hidupku dan memberikan ku arti kehidupan sebenarnya," ucap Aditya dengan tulus membuat Felly mewek di pelukan suaminya. Sabila dan Anderson sendiri yang melihat hal itu saling melihat dan pasti ikut terharu. Sama dengan Elia yang juga begitu tersentuh.
" Kamu pantas Aditya. Mendapatkan wanita seperti Felly. Kamu pantas bahagia. Kakak selalu mendoakan kebahagian kalian berdua. Semoga tidak ada yang memisahkan kalian berdua," batin Elia dengan penuh keharuannya.
__ADS_1
Bersambung