Pria Kejam Yang Merampas Kehormatan Ku.

Pria Kejam Yang Merampas Kehormatan Ku.
Episode 161 Masih belum siap.


__ADS_3

Perasaan Felly sudah tidak bisa di bendung lagi. Perasaannya semakin tidak karuan. Debaran jantungnya, semakin menentu. Napasnya beratnya terus terdengar. Dengan Aditya yang pasti ingin melakukan hal yang seharusnya di lakukannya.


Felly tidak apa-apa, dia tidak trauma dengan sentuhan itu. Justru tubuhnya seakan menginginkan hal itu dan ingin Aditya cepat-cepat melakukannya. Walau hatinya mengatakan untuk tidak dulu.


Sibuk berpikir dengan kepanikannya, tanpa Felly sadari. Aditya mencium kembali kening Felly. Kecupan jangan itu kembali membuatnya merinding.


Aditya memegang dagu Felly, untuk mensejajarkan wajah itu, agar menghadap dirinya. Felly pun langsung menatap Aditya dengan tatapannya yang sendu.


Aditya meraih tangan Felly, mencium lembut tangan itu yang membuat Felly benar-benar semakin menggila. Belum apa-apa. Tetapi Apa yang di lakukan Aditya sudah membuatnya merinding.


Aditya yang merasa dapat izin langsung meraih bibir Felly, bukan hanya menciumnya sebentar, tetapi mencium dalam dengan penuh gairah dan jelas. Dan Felly menikmati permainan lidah Aditya di dalam mulutnya.


Gairah Aditya semakin meningkat, sampai membuat ciumannya turun ke leher Felly. di saat gairah itu semakin meningkat tiba-tiba Felly mendorong Aditya pelan. Sampai Aditya menghentikan perbuatannya, mengangkat kepalanya dan melihat Felly.


Mata Felly melihat mata Aditya yang terlihat sayu dan dengan gairah yang ingin langsung di salurkan.


" Aku tidak bisa melakukannya," ucap Felly. Meruntuhkan hasrat Aditya.


Wajah Aditya seakan kecewa mendengar penolakan Felly yang untuk kesekian kalinya. Aditya menelan salavinanya dengan hasratnya yang tidak bisa di salurkan.


" Kenapa?" tanya Aditya dengan suara beratnya, " Apa karena surat perjanjian yang kamu buat," tebak Aditya dengan suara penuh kecewa. Felly menggeleng dengan napasnya yang belum stabil.


" Lalu kenapa?" tanya Aditya lagi yang membutuhkan alasan Felly.


" Aku tidak peduli dengan surat perjanjian itu. Jika aku ingin melakukannya. Aku akan melakukannya, jika perasaanku tidak bimbang. Aku butuh waktu untuk semua itu," jelas Felly dengan matanya berkaca-kaca.


Tidak tau kenapa dia sangat takut membuat Aditya marah dan kecewa dengan penolakannya. Karena kali ini mereka bicara terlihat serius. Tidak seperti biasanya. Saat Felly menolaknya akan langsung kabur. Alasan Felly membuat jantung Aditya berdebar dengan matanya yang tidak lepas menatap Felly.


Tangan Felly mengusap pipi Aditya, membuat Aditya yang masih tetap di atas tubuhnya sedikit kaget.


" Kasih aku kesempatan. Untuk melakukan apa yang harusnya aku lakukan, di luar dari surat perjanjian dan juga kontrak itu. Aku ingin melakukannya, ketika perasaanku, benar-benar dapat kumengerti. Aku ingin melakukannya saat tidak memikirkan apa-apa dan hanya memikirkan mu," ucap Felly yang banyak bicara.


" Apa kau menyukaiku?" tanya Aditya langsung to the point.


Kali ini dia bukan menggoda Felly karena terlalu percaya diri. Tetapi apa yang di bicarakan Felly, seakan mengatakan Felly menyukainya dan ingin meminta kepastian dari Aditya yang apakah sama dengannya dan jika sama mungkin dia akan melakukan tugasnya. Itu yang membuat perasaannya bergejolak, sehingga belum bisa melayani Aditya semestinya.


" Kenapa kamu diam, jawablah," ucap Aditya yang menginginkan jawaban dari Felly. Tatapan ke-2nya bahkan tidak lepas sama sekali.


Tok-tok-tok-tok.

__ADS_1


Ketukan pintu menghentikan keheningan di antara ke-2nya.


" Felly, Aditya!" ayo keluar, kita makan siang dulu," panggil dari luar yang sepertinya suaranya dari sang mama.


Aditya menoleh ke arah pintu. Dan melihat Felly kembali. Lalu Aditya bangkit dari atas tubuh Felly.


" Mama tunggu di meja makan ya," ucap Sabila yang langsung pergi.


Saat Aditya sudah berdiri di samping Felly, wajahnya yang penuh kekecewaan, langsung ke kamar mandi untung memenangkan dirinya.


Felly menarik napasnya panjang dan membuatnya perlahan kedepan dengan melihat kepergian Aditya. Felly mencoba untuk bangun dan perlahan duduk.


." Aku minta maaf. Jika apa yang aku lakukan membuatmu marah dan kecewa. Aditya biarkan aku yang merelakan semuanya tanpa kamu suruh, biarkan aku memahami semuanya terlebih dahulu," batin Felly jujur merasa bersalah pada Aditya.


Felly yang menolak Aditya berdasarkan alasan karena Aditya masih menutupi banyak hal darinya. Aditya bahkan tidak terbuka dengannya dan membuatnya sangat asing. Perasaan yang awalanya benci, namun menjadi rasa simpatik dan sepertinya semua perasaan itu sudah menjadi benih-benih cinta yang mungkin masih sulit untuk di pahami nya.


***********


Seharian Felly dan Aditya tampak canggung. Aditya juga tidak tampak banyak bicara. Dia mungkin kecewa dengan penolakan Felly. Tetapi hal biasa itu justru membuat ada sesuatu di hatinya yang tidak bisa di jelaskan.


Mendengar ucapan Felly yang seakan menuntut status jelas. Membuat Aditya berpikiran dengan hal itu. Tidak tau apa yang di pikirkannya Aditya duduk termenung di teras rumah.


" Ada apa?" tanya Aditya dengan suara beratnya.


" Aku ingin mencari udara segar," ucap Felly.


" Malam-malam begini?" tanya Aditya.


" Hmmm, biasanya di pinggir pantai ramai jika malam seperti ini. Aku ingin kesana," ucap Felly pelan yang sepertinya bukan hanya meminta izin tetapi ingin di temani.


" Baiklah," jawab Aditya yang berdiri. Felly tersenyum dengan kemauannya yang di turuti.


Felly dan Aditya berjalan-jalan santai di pinggir pantai yang memang sangat ramai, dan terang saat malam hari. Bukan hanya para pedagang yang ada di sana. Tetapi banyak anak kecil juga yang berlari-larian dengan suka cita.


Dan pasti banyak pasangan yang juga menghabiskan waktu di berbagai moment di sana.


Felly melangkah dengan kepalanya yang berkeliling, wajahnya tampak mencarikan kecerian. Yang mungkin sangat bahagia. Karena bisa berada di tempat itu. Hal yang sudah lama tidak di rasakannya.


" Aku boleh, minta makanan?" tanya Felly menghentikan langkahnya yang ragu jika Aditya tidak mengijinkannya.

__ADS_1


" Kamu mau makan apa?" tanya Aditya begitu lembut. Felly menunjuk kegerobak makanan yang terlihat seperti udang bakar.


" Ayo!" ajak Aditya. Felly mengangguk.


Felly dan Aditya duduk di pinggir pantai dengan memakan udang bakar keinginan Felly. Mereka duduk di atas pasir yang beralaskan karpet yang memang di sediakan penyewaan di sana.


Felly makan tampak lahap, Aditya juga menyediakan air mineral agar istrinya tidak kehausan.


Angin sepoi-sepoi membuat hawa dingin itu menusuk kulit. Melihat Felly yang hanya memakai dress lengan pendek. Membuat Aditya melepas jaket yang di pakainya dan langsung memakainya kepada Felly. Dia tampaknya tidak tega melihat tubuh Felly kedinginan.


Felly melihat ke arah Aditya, tersenyum tipis saat mendapat perhatian dari Aditya.


" Kau mau?" tanya Felly yang menawarkan Aditya makanam yang di makannya. Dan bahkan daging udang yang di ambilnya sudah berada di depan mulut Aditya.


Aditya membuka mulutnya, tidak menolak pemberian Felly, lagi-lagi Felly tersenyum saat Aditya menerima suapannya.


" Apa ini sangat enak menurutmu?" tanya Aditya mengunyah makanan itu.


" Hmmm, ini sangat enak," jawab Felly yang kembali memakannya.


" Apa ini keinginanmu atau keinginan anak kita?" tanya Aditya memegang perut Felly.


Hati Felly seketika tersentuh saat Aditya mengatakan anak kita.


" Mungkin juga keinginannya," jawab Felly.


" Kalau begitu makanlah yang banyak. Jangan biarkan dia kelaparan," ucap Aditya. Felly mengangguk-angguk. Dan kembali memakannya. Bahkan Felly juga kembali menyuapi Aditya dan Aditya menerimanya kembali dengan senang hati.


Aditya bahkan tersenyum tipis, saat merasa apa yang di lakukannya dan Felly di luar ekspektasi.


Felly melihat di ujung bibir Aditya terdapat minyak. Tangannya tidak sabaran dan langsung mengusap minyak itu dengan jarinya membuat Aditya kaget dan menatap Felly dengan dalam.


" Kau seperti anak kecil makan belepotan," ucap Felly dengan tertawa kecil.


Aditya mendengus tersenyum melihat Felly. Aditya meraih tangan Felly yang tadi menyentuh bibirnya, membuat telapak tangan itu dipipinya dan juga menciumnya dengan matanya yang tidak lepas menatap Felly.


Felly tersenyum tipis saat membiarkan Aditya melakukannya, dia menurunkan tangannya dari pipi Aditya dengan wajahnya yang memerah dan salah tingkah sampai tidak berani lagi melihat Aditya dan fokus makan. Aditya tersenyum melihat Felly yang tidak bisa menyembunyikan kecanggunganya.


Bersambung....

__ADS_1


__ADS_2