
Damar menurunkan ponselnya dari telinganya. Yang mana Damar baru saja mendapat telpon dan wajahnya terlihat begitu terkejut tetapi tidak tau apa yang membuatnya terkejut.
" Jadi mama sudah masuk penjara," batin Damar yang ternyata mendapatkan kabar bahwa sang mama di penjara.
" Mama di penjara. Karena kasus karena terbukti bersalah karena masa lalu 17 tahun lalu. Kenapa bisa terbongkar, apa yang terjadi sebenarnya. Kenapa semuanya tiba-tiba seperti itu," batin Damar tampak kelihatan berpikir yang heran dengan tertangkapnya mama tiba-tiba.
Damar duduk di pinggir ranjang dengan mengusap wajahnya kasar. Dia terlihat begitu stres. Pasti stres tiba-tiba sang mama yang di penjara.
Krekkk. Laura memasuki kamar Damar dan melihat Damar yang terlihat frustasi. Laura menarik napasnya panjang dan membuangnya perlahan. Lalu melangkah mendekati Damar yang duduk penuh beban pikiran.
" Damar," tegur Laura yang langsung duduk di samping Damar dengan memegang punggung pundak Damar.
" Kamu kenapa?" tanya Laura.
" Mama di tangkap polisi tadi," ucap Damar.
" Jadi Rebecca sudah masuk penjara. Baguslah kalau begitu. Memang itu yang harus terjadi," batin Laura yang merasa bahagia mendengar kabar itu.
" Hmmm, kok bisa Tante teen Rebecca di penjara. Bukannya kamu ya, yang sedang mempunyai masalah hukum dan kenapa Tante Rebecca tiba-tiba masuk penjara?" tanya Laura dengan polosnya membuat Damar melihat ke arahnya.
" Aku tidak tau kenapa. Aku belum menanyakannya dengan pasti. Tetapi aku mendengar sepintas dari pengacara yang menangani mama. Jika mama di tangkap karena laporan Aditya. Penganiayaan kepada Almarhuma ibu Mariyati dan juga pada kejadian insiden pada kak Elia," jawab Damar.
" Apa itu yang seperti kamu ceritakan?" tanya Laura yang terus pura-pura bodoh.
" Iya. Dan aku heran. Kenapa semuanya tiba-tiba seperti itu. Padahal aku baru mengatakannya kepadamu. Tetapi mama langsung di penjara. Aku sangat heran," ucap Damar melihat Laura dengan serius. Membuat Laura kaget mendengarnya.
" Tidak. Damar tidak boleh mencurigaiku. Aku masih ada 1 pekerjaan lagi. Semuanya belum selesai," batin Laura yang kelihatan panik, kerena melihat mata Damar yang menatapnya aneh.
__ADS_1
Namun Laura tersenyum dan memegang tangan Damar.
" Damar bukannya ini yang kamu inginkan. Di mana mamamu akhirnya bertanggung jawab atas perbuatannya. Terlepas kenapa semuanya tiba-tiba terjadi dan dengan cepat Tante Rebecca itu jelas bukan menjadi masalah untukmu. Karena bukannya kamu justru itu akan meringankan pekerjaanmu," ucap Laura yang bicara lembut menatap Damar. Damar terlihat membuang napasnya dengan perlahan.
" Iya Laura kamu benar. Aku hanya bingung saja. Semuanya terjadi begitu saja," sahut Damar.
" Hmmm, aku tau perasaan kamu. Kamu pasti antara senang dan tidak dengan masuknya Tante Rebecca kedalam penjara. Tapi kamu harus tau jika ini yang terbaik," ucap Laura yang terus bicara manis.
" Iya mungkin ini yang terbaik. Aku akan mencoba untuk memahami situasinya. Makasih ya kamu selalu memberikan ku masukan," ucap Damar mengusap pipi Laura. Laura tersenyum dan mencium pipi Damar.
" Aku sudah cinta padamu Damar dan aku tidak ingin Pria yang aku cintai harus di hantui banyak masalah. Aku ingin kamu hidup normal," ucap Laura. Damar tersenyum mendengarnya dengan menganggukkan matanya.
" Iya. Aku akan mengurus masalahku. Aku akan bertanggung jawab atas semua perbuatan ku. Karena aku sudah tidak ingin apa-apa lagi. Karena aku hanya ingin hidup bersamamu," ucap Damar menatap dalam-dalam Laura. Laura pun meletakkan kepalanya di pundak Damar.
" Aku juga ingin hidup bersamamu," ucap Laura. Damar tersenyum dengan mencium pucuk kepala Laura.
" Hhhhh, hidup bersama bagaimana. Lagian mana mungkin aku hidup bersama dengan pria sepertimu. Damar kamu hanya akan hidup bersama dengan wanita jahat itu di dalam penjara bukan denganku," batin Laura yang sebenarnya sangat lelah bersandiwara. Tetapi dia melakukannya demi dendam yang harus di tuntaskan.
***********
Elia sedang beristirahat di kamarnya. Ternyata apa yang terdengar di telinga Elia tadi pagi membuat Elia sempat drop dan truamanya seakan muncul lagi. Tetapi syukurlah Felly ada di sampingnya dan terus menjaga kakak iparnya itu dan akhirnya Elia bisa beristirahat.
Felly menarik selimut sampai ke dada Elia. Felly menatap sebentar sang kakak ipar. Menatap dengan wajah sendunya.
" Semoga kak Elia tidak apa-apa," batin Felly. Lalu Felly langsung ke luar dari kamar tersebut yang ternyata suaminya sudah menunggu di depan pintu.
" Apa kal Elia sudah tidur?" tanya Aditya pada istrinya.
__ADS_1
" Sudah, dia sudah beristirahat," jawab Felly.
" Ya sudah kalau begitu ayo kita pulang," ucap Aditya mengajak sang istri.
" Tetapi bagaimana kak Elia. Kita akan meninggalkannya?" tanya Felly yang tampak khawatir.
" Ada harus aku selesaikan Felly, untuk Kaka Elia Bion akan menjaganya. Jadi kamu jangan khawatir," ucap Aditya meyakinkan istrinya
" Kamu yakin kak Elia tidak akan kenapa-kenapa?" tanya Felly ragu. Aditya mengangguk yakin.
" Ya sudah kalau begitu," sahut Felly mengangguk. Aditya meraih tangannya dan langsung pergi bersama istrinya dan baru beberapa langkah. Tiba-tiba Harison datang membuat Aditya dan Felly menghentikan langkahnya.
" Kakek!" lirih Felly yang melihat Harison tampak murung. Bahkan terlihat wajah Harison yabg berantakan dan mata itu terlihat sendu yang tampaknya membengkak. Jelas terlihat seperti menangis.
Harison hanya melihat ke arah Aditya. Dan Aditya juga melihat sang kakek dengan tatapan dingin. Tidak tau apa juga yang harus di bicarakan. Tetapi melihat dari wajah kakeknya Aditya yakin jika kakeknya sudah melihat video rekaman itu.
Harison melangkah mendekati Aditya. Hanya 4 langkah tepat sampai di depan Aditya. Cucu dan kakek itu saling melihat dan tiba-tiba Harison berlutut di depan Aditya membuat Felly dan Aditya kaget dan Aditya sempat mundur selangkah ketika kakeknya berlutut di depannya.
" Kakek," lirih Felly terkejut sampai menutup mulutnya dengan ke-2 tangannya yang melihat Harison berlutut seperti itu.
" Astaga apa yang kakek lakukan," ucap Felly yang langsung berjongkok mendekati kakeknya dan berusaha membuat kakeknya berdiri sementara Aditya hanya diam mematung dan bahkan tidak melihat kebawah sama sekali dia tetap Fokus memandang lurus kedepan.
" Kek, ayo berdiri! apa yang kakek lakukan? ucap Felly yang terus berusaha membuat Harison berdiri. Dia hanya merasakan tubuh Pria tua itu sangat dingin dan bergetar hebat.
" Aditya, apa kamu sangat membenci kakek?" tanya Harison dengan mendongakkan kepalanya keatas yang melihat cucunya yang dingin itu dengan air mata Harison yang kembali jatuh. Aditya tidak menjawab. Namun wajahnya memerah dan mungkin sebenarnya jawabannya pasti iya.
__ADS_1
Jangan lupa mampir ke karya terbaru aku ya. Di tunggu like, komentar nya. Terima kasih.
Bersambung