Pria Kejam Yang Merampas Kehormatan Ku.

Pria Kejam Yang Merampas Kehormatan Ku.
Episode 164 Hadiah untuk mertua.


__ADS_3

3 hari di rumah Felly Aditya dan Felly akan berencana pulang hari ini. Beberapa hari bersama. Seakan Felly merasakan hal manis dan melihat sisi lain dari Aditya yang jujur membuatnya salut dan bahkan ada hati yang semakin terbuka lebar.


Sekarang Aditya, Felly, Andre, mamanya, Agni dan Wanti berada di ruang tamu. Aditya dan Felly berpamitan untuk pulang kembali ke Jakarta.


" Ini ma," ucap Aditya yang duduk di depan Sabila memberikan agenda hitam yang tipis dan sedikit panjang.


" Apa ini?" tanya Sabila yang heran dan meraih dari tangan Aditya. Bukan Sabila juga yang heran. Tetapi semua orang dan Felly juga karena dia tidak tau apa yang di berikan Aditya pada mamanya.


" Buka saja dulu," ucap Aditya. Sabila pun membukanya dengan perlahan. Wajah Sabila terlihat kaget membuat semua orang penasaran.


" Apa yang di berikan Aditya. Kenapa mama tampak Schok," batin Felly penasaran.


" Aditya, apa maksudnya ini?" tanya Sabila heran.


" Jelas tidak ada maksud apa-apa. Itu hanya Restaurant kecil yang aku ingin mama mengolahnya," sahut Aditya. Semua orang kaget mendengarnya. Ternyata isi agenda itu adalan surat Restauran.


" Aku tidak mempunyai orang tua lagi. Aku juga tidak memberikan hadiah kepada siapapun bahkan Felly juga tidak pernah. Tetapi aku merasa ingin memberikan hadiah kepada mama, sebagai ucapan terima kasih ku yang selama 3 hari ini membuatku merasa layaknya hidup sebagai manusia yang hidup dengan keluarganya," ucap Aditya begitu tulus pada Sabila.


Sepanjang Aditya berbicara. Felly yang di sampingnya hanya melihat Aditya yang berbicara. Mata Felly bergenang saat kata-kata indah itu keluar dari mulut suaminya.


" Jadi aku mohon terima lah itu. Aku ingin Restauran yang nanti akan mama kelolah menjadi saingan terbesar Restauran Itali milikku. Bahkan mengalahkan Restauran itu," ucap Aditya lagi yang benar-benar sangat tulus dengan apa yang di berikannya.


" Nak, kamu sudah melakukan banyak hal untuk keluarga kami. Kamu sudah membantu papanya Felly untuk menemukan ke adilan. Kamu juga membatu segalanya dan yang paling penting kamu membantu Felly. Membuat bahagia. Itu jelas sudah cukup dan apa yang kamu lakukan. Kamu memberikan ini sangat berlebihan," ucap Sabila yang merasa tidak enak.


" Apapun yang aku lakukan. Jelas tidak sebanding dengan apa yang aku dapatkan," ucap Aditya.


Aditya berdiri membuat Felly heran. Aditya keluar dari tempat duduknya dan menghampiri Sabila. Duduk di depan Sabila dengan ke-2 lututnya memegang ke-2 tangan Sabila.


" Aku tidak mempunyai seorang ibu. Ibuku telah tiada. Anggaplah ini hadiah dari seorang anak," ucap Aditya. Sabila merasa terharu dengan perkataan Aditya yang begitu tulus. Sabila tersenyum dan memegang pipi Aditya.


" Kamu mungkin adalah malaikat yang di kirim tuhan untuk keluarga kami. Kamu sangat baik pada Felly dan juga pada kami. Jika memang ini hadiah seorang anak. Maka seorang ibu tidak boleh menolaknya. Karena seorang ibu tidak ingin anaknya kecewa," ucap Sabila.

__ADS_1


Aditya mendengarnya tersenyum dengan menahan air matanya agar tidak menetes. Sabila langsung memeluknya dengan penuh kasih sayang pelukan itu membuat Aditya akhirnya meneteskan air mata.


Bukan hanya Aditya bahkan Felly juga meneteskan air mata. Perasaannya benar-benar sangat tersentuh dengan apa yang di lakukan Aditya.


Dia seakan tau jika Aditya sangat menderita dia bisa merasakan penderitaan Aditya yang di tutupi dengan kekejaman Aditya. Sabila melepas pelukan itu dari Aditya dan mengusap pipi Aditya dengan lembut.


" Kamu akan selalu bahagia. Terima kasih sudah menikah dengan putriku," ucap Sabila. Aditya mengangguk.


" Tidak ada yang perlu di terima kasihkan," sahut Aditya. Sabila dan yang lainnya tersenyum mendengarnya.


" Aku sama Felly harus pulang. Bion sudah datang menjemput kami aku sangat berharap mama benar-benar mengelolah Restauran itu," ucap Aditya berpamitan dan kembali mengingatkan pada mertuanya agar tidak mengabaikan apa yang di berikannya.


" Pasti. Kami tidak akan mengecewakanmu," sahut Sabila mengusap rambut Aditya.


" Baiklah kami pamit dulu!" ucap Aditya kembali pamitan. Sabila mengangguk dan sekarang giliran Felly yang pamitan dengan mamanya.


" Ma, Felly pamit dulu," ucap Felly memeluk mamanya.


" Iya sayang, mama titip salam sama papa kamu. Semoga saja kasus papa cepat selesai," ucap Sabila dengan harapannya yang penuh.


" Kamu jaga diri kamu baik-baik. Jangan menyusahkan suami kamu. Kamu harus tau. Tugas istri adalah memberikan suaminya kebahagian dan jangan pernah membuatnya marah. Karena kata-katanya adalah yang terbaik untuk kamu," ucap Sabila yang terus mengingatkan putrinya.


" Iya ma," jawab Felly dengan tersenyum tipis.


Felly berpamitan dengan semua orang begitu juga Aditya yang berpamitan dengan semua orang dan orang-orang tersebut pun mengantarkan Felly dan Aditya ke luar rumah.


Aditya dan Andre tampak bicara sesuatu di dekat mobil yang membuat Felly penasaran dan heran apa yang di bicarakan suaminya dan kakaknya itu.


" Kak Andre sama Aditya begitu serius bicara apa yang mereka bicarakan," batin Felly penasaran.


Setelah bicara dengan Andre Aditya tampak memukul bahu memukul bahu Andre dan Aditya langsung pergi.

__ADS_1


************


Aditya dan Felly pun akhirnya pulang dari rumah Felly. Mereka berada dalam perjalanan yang di setiri oleh Bion. Hujan deras dengan Sambaran petir yang kuat menemani perjalanan mereka.


Aditya dan Felly yang duduk di bangku belakang tumben-tumbennya tidak jauh-jauhan. Tidak seperti biasanya yang satu di ujung dan satunya di ujung mereka malah dekat-dekatan dan kali ini Felly malah memeluk lengan Aditya dan seakan bersembunyi di dada bidang Aditya.


Felly mungkin ketakutan dengan suara petir sampai dia butuh Aditya untuk menghilangkan rasa takutnya dan Aditya jelas tidak masalah dengan hal itu.


Di tengah jalan tiba-tiba mobil mereka berhenti dan banyak mobil lain juga yang berhenti seperti ada macet.


" Ada apa Bion?" tanya Aditya.


" Tidak tau tuan, saya akan coba untuk melihatnya," jawab Bion. Aditya mengangguk dan Bion langsung keluar dari mobil dengan cepat. Karena tidak ada payung juga jadi dia harus buru-buru agar tidak terlalu basah.


Tidak berapa lama Dion pun akhirnya kembali dan memasuki mobil dengan sedikit basah. Lalu menoleh ke belakang


" Ada apa?" tanya Aditya.


" Ada kecelakaan beruntun di depan tuan, polisi dan ambulance juga sedang memadati tempat itu," jawab Bion.


" Begitu rupanya," sahut Aditya.


" Benar tuan dan kemungkinan macetnya mungkin akan lama. Kalau saya lihat," jelas Bion menebak-nebak.


Aditya melihat ke arah Felly yang tampak ketakutan dengan mendengar suara petir. Dia memang tau jika Felly sangat ketakutan mendengar suara itu.


Sinar petir yang membuatnya tidak berani membuka matanya dan terus berlindung di di dada Aditya.


" Kita cari penginapan!" perintah Aditya yang merasa Felly akan jauh lebih tenang jika berada di ruangan tertutup dan tidak melihat cahaya petir.


" Baik tuan!" Bion kembali keluar dari mobil dan mencari penginapan di daerah tersebut yang mungkin memang akan dapat di temukannya.

__ADS_1


Aditya meletakkan tangannya di pundak Felly dan memeluknya, agar Felly tidak ketakutan.


Bersambung


__ADS_2