
Laura tertidur di lengan Damar yang terus memeluknya dengan erat di bawah ringkupan selimut putih yang menutup tubuh polos mereka.
Laura mengerjap-ngerjapkan matanya dan membukanya perlahan. Matanya masih terasa berat dan sangat malas untuk membukanya perlahan. Laura melihat dirinya yang masih berada di pelukan Damar dan Damar masih tertidur menghadap dirinya.
Wajah Laura terlihat resah saat menyadari kembali apa yang di lakukannya bersama Damar beberapa jam yang lalu. Laura dengan pelan mengangkat tangan Damar dari perutnya yang memeluknya erat.
Lalu Laura perlahan menggeserkan tubuhnya dari Damar, Laura mengambil ponselnya dan melihat sudah pukul 7 malam. Laura juga melihat banyaknya panggilan dari sang mama.
" Ya ampun mama terus menelpon. Kenapa aku tidak mendengar panggilan dari mama," batin Laura yang tampak cemas dengan menyibak rambutnya kebelakang.
Laura mengusap wajahnya dengan ke-2 tangannya dengan mengatur napasnya. Terlihat dari wajah Laura bahwa dia begitu gelisah dan bahkan sedikit tidak tenang. Laura menoleh ke arah Damar yang terlihat masih tertidur lelap.
Laura pelan-pelan bergeser dan mengambil pakaiannya yang di ujung kakinya. Laura langsung memakainya dengan cepat, setelah selesai memakai pakaiannya. Laur perlahan turun dari ranjang. Namun tangannya tiba-tiba tertahan. Laura perlahan menoleh kebelakang .
" Kamu mau kemana?" tanya Damar dengan suara seraknya.
" Aku harus pulang. Mama sedari tadi menelpon," jawab Laura yang terlihat datar. Damar bangkit dari rebahannya dan langsung mendekati Laura dengan memeluknya tubuhnya dari belakang. Meletakkan dagunya di bahu Laura.
" Apa kamu menyesal?" tanya Damar mencium lembut pipi Laura. Laura tidak langsung menjawab dan hanya diam saja.
" Laura, kenapa tidak menjawab?" tanya Damar. Laura melepas tangan Damar yang memeluknya. Lalu menghadap Damar.
" Aku tidak menyesal Damar. Kita saling mencintai dan saling menginginkan. Jadi aku tidak pernah menyesal," ucap Laura menatap dalam-dalam Damar. Damar tersenyum dan mencium lembut kening Laura.
" Lalu kenapa buru-buru pergi. Bukannya membangunkan ku. Malah pergi," ucap Damar mengusap lembut pipi Laura.
" Aku kan sudah mengatakan alasan ku untuk pergi. Karena mama menelponku. Aku harus pergi. Aku merasa tidak enak tidak menjawab telpon mama," ucap Laura.
" Hanya itu saja?" tanya Damar. Laura mengangguk.
" Tapi aku masih membutuhkan mu di sini," ucap Damar mengecup bibir Laura.
" Aku nanti akan kembali Damar. Aku harus pergi," ucap Laura yang kelihatan menghindari Damar. Dan bahkan Laura langsung turun dari ranjang.
" Aku pergi ya. Kalau ada apa-apa. Kamu telpon aku," ucap Laura dan langsung pergi. Damar hanya menatap nanar kekasihnya itu yang pergi begitu saja padahal mereka baru melakukan hubungan yang romantis. Sampai Laura tidak menyadari jika mamanya sedari tadi menelponnya.
__ADS_1
**********
Laura berada di dalam Taxi dengan beberapa kali mengusap wajahnya dengan ke-2 tangannya, memijat kepalanya yang terasa berat. Laura bahkan mengingat-ingat kejadian tadi pagi.
Hubungan panasnya dengan Damar. Dia benar-benar tidak percaya bisa melakukan hal itu. Wajah Laura bukannya bahagia. Malah terlihat sendu dan begitu gelisah yang terlihat sedang memiliki beban yang sangat banyak.
" Laura, kenapa kamu bisa sejauh itu melakukannya. Aku tau kamu mencintai Damar. Tetapi seharusnya kamu tidak melakukan itu. Kamu dan Damar belum menikah. Kenapa sih Laura kamu bisa melakukan hal itu," batin Laura yang terlihat menyesali apa yang di lakukannya dengan Damar.
" Lalu bagaimana selanjutnya. Situasi seperti ini. Kamu juga tidak mungkin menikah dengan Damar secepat itu. Dia masih dalam tahanan dan mama. Mama juga belum tau hubungan kami. Aisss, kenapa.sih Laura kamu benar-benar nekat," gerutu Laura di dalam hatinya yang menyalahkan dirinya sendiri.
Sekarang dia jadi pusing sendiri. Saat senang-senangnya. Laura tidak mengingat-ingat akibatnya dulu. Ya sekarang dia akhirnya harus berpikir keras masalah hubungannya dengan Damar. Percintaan itu ternyata tidak membawa kebahagian melainkan membawa masalah.
**********
Sesampai di rumah Laura yang pulang mengendap-endap yang takut ketahuan sang mama. Dan untungnya mamanya tidak ada di rumah dan Laura masih aman.
Begitu memasuki kamarnya. Laura langsung memasuki kamar mandi dan langsung menghidupkan shower, mandi di bawah guyuran air shower yang mana Laura masih memakai pakaian yang sama.
Dalam mandinya Laura mengingat-ingat apa yang terjadi. Sebenarnya dia memang merasakan kenikmatan yang tidak bisa di gambarkannya. Tetapi setelah semuanya berakhir dia baru menyesalinya.
Bukan hanya Laura yang membersihkan dirinya di bawah guyuran air shower ternyata Damar juga melakukan hal yang sama. Damar menggaruk-garuk rambutnya dengan 10 jarinya, mengibas-ngibaskannnya. Damar juga mengingat percintaannya dengan Laura.
Setelah selesai mandi. Laura yang sudah memakai baju mandi putih keluar dari kamar mandi berjalan pelan menuju cermin. Rambutnya juga masih basah dan tetesan dari ujung rambutnya menetes di lantai. Laura berdiri di depan Cermin. Menatap wajahnya di depan cermin. Pandangan mata Laura begitu sendu.
Laura melihat bekas-bekas kemerahan di lehernya. Yang mana lagi jika bukan milik Damar. Laura memejamkan matanya kembali dan mengingat hal itu lagi. Tubuhnya yang tidak satupun tidak di cumbu Damar.
Laura dengan cepat menggeleng-gelengkan kepalanya, menyadarkan dirinya untuk melupakan kejadian itu.
" Laura stop, tidak ada yang perlu di sesali. Semuanya sudah terjadi. Apa yang kamu pikirkan. Tenanglah Laura setelah semua masalah selesai. Kamu dan Damar akan membahas masalah hubungan kalian. Jadi tenanglah, jangan berpikiran apa-apa. Semuanya akan baik-baik saja. Damar mencintaimu dan kamu bisa merasakan cintanya dan apa yang kalian lakukan, juga bukti cinta kalian," batin Laura yang mencoba menetralkan pikirannya, agar tidak berpikiran yang aneh-aneh.
" Sebaiknya aku segera siap-siap. Aku harus ke butik untuk menemui mama. Aku tidak mau terjadi sesuatu nanti. Mama bisa mencurigaiku. Jika aku tidak cepat-cepat menemuinya," ucap Laura memutuskan dengan cepat.
Laura pun langsung siap-siap, memakai bedak pada lehernya untuk menutupi tanda kemerahan itu dan memilih-milih pakaian yang pas agar tidak ada yang salah dengan dirinya.
Ya, Laura tidak mungkin menceritakan pada mamanya apa yang terjadi. Sedangkan berhubungan dengan sang mama saja. Laura tidak berani. Apa lagi ini melakukan hal itu. Sang mama bisa mengamuk dan mungkin bisa berakhir hidupnya. Karena Lusi sangat menjaga Laura dengan baik.
__ADS_1
**********
Damar berdiri di depan cermin yang sedang memakai kemejanya. Dia juga sedari tadi menatap wajahnya di cermin dengan pemikiran-pemikiran sendiri.
" Maafkan aku Laura, aku harus melakukan itu, aku tau menyesal Laura melakukan hal itu. Tapi apa mau di kata semuanya sudah terlanjur jadi maaf," batin Damar yang memandang penuh kekosongan di depan cermin.
Dia menyadari jika Laura berubah menjadi dingin setelah hubungan intim itu terjadi. Dari sikap dan perginya Laura begitu saja memang sudah menjelaskan semuanya.
" Aku sebaiknya pergi. Aku harus menemui mama. Aku harus bisa keluar dari tempat ini tanpa ada yang tau. Papa bisa berbuat nekat. Bisa-bisa papa membunuh mama sama seperti Wiliam dan Heriyawan. Aku tidak bisa membiarkan hal itu terjadi. Aku harus menemui mama secepatnya harus," ucap
Damar yang teringat kembali pada manya.
" Aku harus bisa mengatur situasi," ucapnya yang mempunyai Rencana.
Damar pun buru-buru mengganti pakaiannya dengan tangannya yang lincah. Damar sepertinya tidak punya banyak kesempatan dan harus buru-buru menyelamatkan mamanya sebelum papanya bertindak yang tidak-tidak.
***********
Aditya dan Andre masih tetap mencari Baskoro. Mereka berada di dalam mobil, Andre sibuk dengan tablet dengan wajahnya yang serius.
" Apa ada petunjuk?" tanya Aditya dengan wajah paniknya.
" Lihat Aditya," sahut Andre mendekatkan diri pada Aditya dan menunjukkan tablet yang di pegangnya. Di mana mereka melihat tanda merah yang berhenti di suatu lokasi yang membuat Aditya kaget.
" Bukannya itu di kantor polisi," sahut Aditya melihat Andre dengan serius.
" Iya kamu benar. Ini di kantor polisi," sahut Andre yang membenarkan.
" Ngapain papa ada di sana?" tanya Aditya penasaran, " tidak mungkin kan papa menyerahkan diri," sahut Aditya.
" Iya kamu benar, sangat tidak mungkin om Baskoro menyerahkan diri," sahut Andre.
" Atau jangan-jangan," Andre tiba-tiba menebak-nebak sesuatu. Dan Aditya menatapnya dengan serius yang tiba-tiba juga kepikiran sesuatu yang kemungkinan pikirannya dengan Andre sama.
" Kita, cek kesan," sahut Aditya dengan cepat mengambil keputusan.
__ADS_1
" Iya, ayo kita cek," sahut Andre yang langsung setuju dan dengan cepat Aditya langsung menyetir dengan kecepatan tinggi.
Bersambung