
Felly masih termenung dengan pemikirannya.
" Memang apa yang membuatnya marah saat 10 tahun usianya?" tanya Felly penasaran.
Bi Warmi terlihat menarik napasnya panjang seakan tidak berani untuk bicara apa-apa dan Felly bisa melihat wajah pelayan itu yang seperti ingin bungkam.
" Bu," ucap Felly lembut yang penasaran apa yang terjadi pada Aditya.
Felly pun berdiri dan memegang pundak Bi Warmi. Felly menarik kursi dan mendudukkan Bi Warmi di kursi tersebut. Lalu Felly pun menyusul untuk duduk di tempatnya semula.
" Bi. Saya tidak tau apa-apa dan saya ingin tau apa yang terjadi pada Aditya dan apakah kemarahannya yang bibi katakan itu apa yang menyebabkan Aditya juga membenci keluarganya?" tanya Felly.
Warmi masih diam saja dan tidak berani mengatakan apa-apa.
" Aku yakin pasti ada sesuatu yang terjadi makanya bibi seperti itu. Dia pasti menyimpan sesuatu. Dia lama bekerja di rumah Aditya dan pasti mengetahui semuanya. Aku harus tau apa yang terjadi padanya," batin Felly yang benar-benar penasaran dan ingin tau sesuatu.
" Bi, katakan. Aku ingin mendengarnya, ayolah bi. Katakan," ucap Felly yang membujuk Wanita itu tua itu. Agar memberi tahunya.
" Itu non, ahhh...." ucap bibi gagap yang tidak berani mengatakan apa-apa.
" Kenapa kau belum tidur," tiba-tiba terdengar suara yang khas. Siapa lagi jika bukan Aditya. Pelayan itu melihat Aditya langsung berdiri dengan ke-2 tangannya yang berada di depannya dia menundukkan kepalanya seakan takut dengan Aditya.
" Aditya," lirih Felly. " Kenapa dia pake datang segala," batin Felly juga ikut gugup.
" Maaf, saya kembali kedapur. Permisi!" ucap Pelayan itu menundukkan kepalanya dan langsung pergi dengan takut-takut sedikit.
" Aku hanya bosan sendirian jadi aku menyuruh bibi untuk menemaniku makan," ucap Felly gugup memberikan alasannya pada Aditya kenapa wanita itu ada di sampingnya.
" Apa aku ada bertanya," sahut Aditya dengan suara dinginnya.
Felly berdecak kesal mendengarnya. Dia sudah sempat takut tetapi tidak berpengaruh pada Aditya.
" Iya sih, dia tidak ada bertanya. Lalu ngapain repot-repot memberikan jawaban," ucap Felly pelan.
" Tidurlah ini sudah malam," ucap Aditya.
" Kamu tidak makan?" tanya Felly Aditya tidak mempedulikannya dan langsung pergi.
__ADS_1
" Aditya tunggu," ucap Felly yang berdiri dengan tergesa-gesa ingin mengejar Aditya. Saking tergesa-gesanya lututnya menabrak kaki meja dan membuatnya jatuh.
" Auhuhh," lirih Felly yang kesakitan.
Aditya berbalik badan dan sudah melihat Felly terduduk di lantai dan Aditya yang langsung panik. Langsung lari menghampiri Felly.
" Apa yang terjadi?" tanya Aditya panik yang sudah berjongkok di depan Felly. Dan melihat Felly yang seperti menahan sakit.
" Lututku terbentur," jawab Felly memegang lututnya yang terdapat noda darah.
" Kenapa kau ceroboh sekali?" tanya Aditya tampak kesal dengan Felly.
" Aku hanya ingin mengejarmu," ucap Felly dengan menahan sakit.
" Apa itu perlu," gertak Aditya membuat Felly lumayan kaget.
" Kau benar-benar tidak bisa di kasih tau, selalu saja ceroboh," ucap Aditya langsung memasukkan tangannya di antara 2 lutut Felly dan langsung menggendong wanita itu.
Felly sempat kaget saat tubuhnya sudah terangkat dan refleks tangannya mengalungkan tangannya di leher Aditya.
Aditya menggendongnya dan menaiki anak tangga. Aditya berjalan tanpa melihat Felly sama sekali. Tetapi Felly terus melihat Aditya. Felly melihat wajah itu sangat dingin. Dingin sedinginnya.
Aditya kembali ke depan Felly berjongkok di depan Felly dengan 1 lututnya menyentuh lantai. Aditya membuka kotak obat itu dan langsung mengambil botol kecil yang berisi cairan dan langsung menumpahkan pada luka di kaki Felly.
" sssyyyyy," lirih Felly kesakitan dan langsung memegang tangan Aditya yang seakan menghentikannya. Aditya mengangkat kepalanya dan melihat Felly menahan sakit.
" Itu ulahmu sendiri, jadi tahanlah sakitnya," ucap Aditya.
" Tapi pelan-pelan, sakit," keluh Felly.
Aditya tidak menjawab pertanyaan Felly dan kembali mengobati luka Felly yang sekarang sudah memberikan obat merah dengan lembut. Meski lembut tetapi Felly masih merasakan perih
Dia harus menahan Perih sampai akhirnya luka itu di beri perban dan di berikan perekat.
" Lain kali hati-hati. Aku mengatakan ini. Kerena ada bayi yang kau kandung jadi berhati-hatilah," ucap Aditya menyusun obat-obatan itu. Lalu berdiri dan mengembalikannya ketempatnya semula.
" Hanya karena ada bayi, lalu bagaimana dengan diriku," batin Felly yang sepertinya ingin diperhatikan.
__ADS_1
" Istirahat lah?" ucap Aditya langsung pergi.
" Eggkh, Eggkh," langkah Aditya harus terhenti ketika mendengar Felly mual.
Dan Aditya kembali membalikkan tubuhnya dan melihat Felly yang tampak mual sampai menutup mulutnya.
" Ada apa lagi dengan mu?" tanya Aditya terlihat kesal. Tetapi sangat panik.
" Aku tiba-tiba mual dan tubuhku merasa tidak enak," jawab Felly mengeluhkan keadaannya sambil mengusap-usap tengkuknya.
" Apa kau sudah meminum obatmu?" tanya Aditya. Felly mengangguk.
" Lalu kenapa kau mual-mual?" tanya Aditya.
" Aku mana tau," sahut Felly. Aditya pun tidak mendengarnya lagi bicara dan langsung keluar dari kamar itu.
" Lalu kenapa bertanya, kalau pada akhirnya pergi, sama sekali tidak ada gunanya," oceh Felly bergerutu melihat Aditya yang pergi tanpa mempedulikannya.
" Sayang, kamu kenapa. Ada apa sayang. Kamu jangan seperti ini. Mama tidak tau harus melakukan apa untuk kamu," ucap Felly menundukkan kepalanya dengan mengusap-usap perutnya.
Janin yang di kandungnya seperti kangen ayahnya. Makanya dari tadi ada-ada saja tingkahnya.
" Di tengah pembicaraannya. Tiba-tiba Aditya kembali dan Aditya datang dengan membawakan 1 gelas susu lalu kembali berjongkok di depan Felly yang membuat Felly kaget.
" Minumlah! kau belum meminumnya kan," ucap Aditya yang seakan tau. Felly masih gugup dan mengangguk pelan lalu mengambil gelas itu dan Aditya tidak melepas tangannya dari gelas itu.
Tangannya dan tangan Felly saling menumpuk dan sama-sama mengantarkan kemulut Felly.
" Habiskan," ucap Aditya. Felly pun meminum perlahan sampai susu yang di buat Aditya sudah habis.
" Apa kau masih mual?" tanya Aditya. Felly menggeleng.
" Kalau begitu berbaringlah, kau harus istirahat," ucap Aditya. Felly mengangguk dan langsung berbaring yang pasti juga di bantu Aditya. Setelah Felly berbaring. Aditya menarik selimut sampai dadanya.
" Istirahat dan jangan banyak tingkah," ucap Aditiya dengan pelan. Felly mengangguk dan Aditya langsung pergi.
Felly memegang perutnya. Lalu tersenyum tipis. Felly memang sudah tidak mual lagi yang mungkin sepertinya ananknya menginginkan papanya. Makanya saat papanya bersamanya. Sang mama tidak mual-mual.
__ADS_1
Felly pasti ngidam ingin di manja. Tetapi sayang ada benteng gengsi yang besar yang menjadi penghalang.
Bersambung.....