Pria Kejam Yang Merampas Kehormatan Ku.

Pria Kejam Yang Merampas Kehormatan Ku.
Bab 294 Keputusan Aditya.


__ADS_3

Malam hari dimana di luar sana hujan yang deras turun yang membasahi bumi. Laura yang berada di dalam kamarnya tidak belum tidur. Laura mondar-mandir di dekat jendela dengan matanya yang beberapa kali melihat ke arah jam yang menggantung di dingding yang sudah menunjukkan pukul 12 malam.


Sementara dia belum tidur dan malah terlihat gelisah dengan tangannya yang saling mengatup.


" Kenapa perasaanku tidak enak. Apa yang terjadi. Apa Damar baik-baik saja. Kenapa dia tidak menghubungiku. Padahal ini sudah malam. Dia sudah seharian pergi. Dia sudah sangat lama pergi. Namun tidak ada kabar darinya. Di mana dia. Kenapa sangat lama sekali," batin Laura yang penuh rasa khawatir. Pada Damar yang tidak memberinya kabar apa-apa.


" Ya Allah, aku mohon jaga dia di mana pun dia berada aku mohon lindungi dua dari wanita jahat itu. Lancarkan segala urusannya. Mudahkan apapun yang di lakukannya," batin Laura yang hanya bisa berdoa pada ilahi untuk keselamatan Damar.


" Damar, aku berharap kamu benar-benar tidak apa-apa. Kamu sudah berjanji akan datang kepadaku. Kamu berjanji akan bersamaku. Kamu berjanji kita akan merawat anak kita bersama-sama. Kamu sudah berjanji Damar. Jadi kembalilah tepat waktu," ucap Laura yang menundukkan kepalanya melihat perut rampingnya.


" Sayang papamu akan datang. Dia tidak akan meninggalkan kita," ucap Laura dengan meneteskan air matanya.


" Laura!" panggil Lusi yang tiba-tiba masuk kamar dan membuat Laura tersentak kaget.


" Kamu ngapain kok megangin perut gitu?" tanya Lusi yang langsung fokus pada Laura. Laura langsung kaget mendengar pertanyaan mamanya.


" Malah bengong bukannya di jawab," ucap Lusi.


" Hah, itu, hah, tidak apa-apa," sahut Laura dengan gugup.


" Felly yang hamil, kamu yang megangi perut aneh," celetuk Lusi. Laura panik mendengar kata-kata mamanya itu.


" Lalu kenapa belum tidur?" tanya Lusi.


" Ini sudah mau tidur kok mah," sahut Laura yang berusaha tenang, " mama sendiri. Ngapain kemari?" tanya Laura.


" Mau lihat kamu. Kamu itukan kerjanya aneh-aneh. Tiba-tiba menghilang. Sudah suasana genting. Malah main pergi aja entah kemana," ucap Lusi sedikit mengoceh.


" Tidak kok mah. Aku di sini terus kok. Tidak kemana-mana," sahut Laura.


" Ya, syukur kalau begitu. Dengar ya Laura. Kamu jangan aneh-aneh. Ikuti instruksi. Jangan melakukan sesuatu yang gegabah. Contohnya Damar. Jangan perkara cinta-cintaan yang tidak jelas. Kamu bisa di kelabui. Dia menipumu dan memaafkanmu. Padahal kamu sangat sulit di kelabui. Tapi gara-gara pria itu. Kamu mampu di kelabui dan lihat akibat perbuatan kamu," ucap Lusi menegaskan pada anaknya itu.


" Iya mah, mama sudah mengatakan itu berkali-kali. Jadi aku sudah mendengarnya. Jangan di katakan lagi," sahut Laura.


" Mama memang harus mengingatkan kamu. Agar kamu bisa belajar dari kesalahan. Jangan menyulitkan orang!" tegas Lusi.


" Iya mah, sudahlah mama sana deh. Laura mau istirahat dulu," sahut Laura mengusir mamanya.


" Anak ini benar-benar, bikin emosi aja!" geram Lusi.

__ADS_1


" Apaan sih mama. Orang Laura mau tidur. Juga apa coba yang bikin emosi," sahut Laura.


" Ya sudah kamu istirahat. Ingat ya. Jangan aneh-aneh. Dengarkan apa kata mama. Jangan menambah-nambah masalah!" tegas Lusi lagi.


" Iya-iya," sahut Laura.


Lusi pun akhirnya keluar dari kamar Laura setelah memperingatkan Laura dengan apa yang harus di lakukan Laura.


Laura menarik napasnya panjang dan membuangnya perlahan kedepan yang mana dia sudah merasa jauh lebih lega.


" Untung saja mama tidak mencurigaiku lagi," batin Laura merasa lega dan akhirnya Laura pun memutuskan untuk beristirahat. Laura tidur dengan tenang.


***********


Laura yang gelisah tidak dengan Aditya dan Felly tertidur lelap. Setelah menemukan Laura. Aditya memang memilih untuk berada di sisi istrinya. Sementara Andre dan Bion yang bergantian untuk bergerak.


Felly begitu nyenyak tidur di bidang dada suaminya dengan memeluk erat Aditya. Begitu juga Aditya yang memeluk erat istrinya dengan bibir Aditya yang tepat di kening Felly.


Dratttt Dratttt Dratttt Dratttt


Ponsel Aditya bergetar yang berada di atas meja. Aditya masih tertidur lelap dan tidak mendengar panggilan itu. Namun ketika ponsel itu terus bergetar yang akhirnya membuat Adita tersentak dan membuka matanya menyipit dengan melihat ke arah nakas.


" Ada apa malam-malam begini menelpon," desis Aditya tampak kesal yang sudah mengganggu tidurnya. Namun mau tidak mau Aditya harus tetap mengangkatnya. Karena pasti jika Bion menelpon itu sudah panggilan darurat.


" Ada apa?" tanya Aditya dengan suara serah khas bangun tidur.


" Apah!" pekik Aditya tampak terkejut dan suara Aditya yang sedikit keras mampu membangunkan Felly. Dan membuat Felly mengerjap-ngerjapkan matanya.


" Kamu serius. Apa kamu sudah pastikan?" tanya Aditya yang perlahan melepas tangannya dari bawah kepala istrinya dan langsung duduk dengan wajahnya yang penuh serius.


Felly mengucek matanya dan melihat jelas eksperesi suaminya itu. Felly juga penasaran dan langsung duduk.


" Ya sudah, kamu tetap ada di sana dan juga Andre. Aku akan segera kesana," ucap Aditya menutup telpon dengan cepat. Lalu buru-buru bangkit dari ranjang. Namun Felly menahan Aditya.


" Ada apa Aditya, kenapa kamu kelihatan panik dan kamu mau kemana malam-malam begini?" tanya Felly dengan wajahnya yang penasaran.


" Aku harus pergi Felly. Papa dalam bahaya. Rebecca. Papa ada di tangannya dan aku harus kesana. Sebelum terjadi sesuatu," ucap Aditya panik dan langsung berdiri dan Felly pun menyusul berdiri melihat Aditya mengambil pistol dari dalam laci membuat Felly keget.


" Aditya tunggu!" cegah Felly menahan tangan suaminya, " kamu mau ngapain bawa-bawa itu. Kamu tidak akan membunuh siapapun kan?" tanya Felly dengan wajahnya yang penuh khawatir.

__ADS_1


" Felly, membunuh bukan hal yang aneh untukku. Kamu tau siapa aku dan sekarang aku harus pergi. Papa dalam bahaya," ucap Aditya.


" Tunggu dulu Aditya!" sahut Felly yang kembali menghentikan Aditya. Berdiri di depan suaminya.


" Kalau papa sudah di temukan. Kenapa tidak telpon Polisi dan Polisi bisa bergerak. Kamu tidak perlu pergi kesana," Felly menegaskan.


" Masalahnya berbeda Felly. Rebecca ada bersama papa dan aku khawatir papa terjadi sesuatu. Jika papa terjadi sesuatu di tangan Polisi aku tidak masalah. Tetapi jika di tangan Rebecca. Aku tidak akan memaafkan diriku," jawab Aditya.


" Apa itu artinya pertumpahan darah akan ada. Aditya kamu sudah berjanji tidak akan menggunakan benda itu untuk mengakhiri hidup orang. Kamu berjanji untuk menyerahkan urusan kamu kepada Polisi. Lalu kenapa masih menggunakannya," ucap Felly yang tampak sangat khawatir.


" Felly, aku sudah mengatakan kamu mengenalku. Jadi tolong. Pahami aku. Jangan seperti ini. Kamu tetap di rumah. Jangan pikirkan apapun. Aku pergi dulu," ucap Aditya yang pamit pada istrinya.


" Bagaimana aku tidak memikirkannya," sahut Felly membuat Aditya menghentikan langkahnya.


" Aditya, beberapa hari ini kamu terus pergi meninggalkanku. Kamu terus bilang untuk menemukan papa. Tapi tidak ada hasilnya dan malam ini larut malam. Hujan deras. Kamu pergi dengan membawa senjata yang menakutkan itu. Apa kamu ingin aku tidak memikirkannya. Aku jelas memikirkannya. Kau takut suamiku terjadi sesuatu," sahut Felly. Aditya membalikkan tubuhnya dan melihat istrinya.


" Ada apa denganmu?" tanya Aditya tiba-tiba.


" Apa maksud kamu bertanya seperti itu ?" sahut Felly yang kembali bertanya.


" Kenapa sekarang kamu seakan tidak menerima diriku," sahut Aditya.


" Apa maksud kamu?" tanya Felly heran.


" Felly, kamu tau siapa aku. Bahkan kamu melihatku membunuh orang lain. Benda yang aku bawa sudah familiar untukmu darah dan kematian bukan hal yang lumrah bagimu. Kau sudah masuk kedalam dunia ku. Lalu untuk apa harus menanyakan dan memprotes pekerjaanku," ucap Aditya dengan suara rendah.


" Apa aku salah Aditya. Jika aku melarangmu untuk melakukannya. Aku istrimu. Aku takut apa itu salah. Aku tau kamu seperti apa dan masalah bunuh sana sini. Seharusnya tidak di pertanyakan lagi. Tapi aku takut. Aku memprotes. Karena aku tidak mau kamu kenapa-kenapa. Aku istrimu dan sekarang ada janin di dalam rahimku. Apa kamu pikir gampang melepasmu pergi dengan senjata itu," ucap Felly menegaskan.


" Ketika kita memutuskan untuk bersama. Kamu sudah tau resikonya untuk menjadi istriku," ucap Aditya menegaskan.


" Jadi kamu tidak akan mendengarkan kata-kata ku. Kamu tetap akan pergi dan aku dan anak kita akan berada di sini. Aku akan menunggu kamu pulang. Menunggu dari berita atau langsung menunggu mayat kamu yang akan di antarkan," ucap Felly meneteskan air matanya.


" Aditya aku mencintaimu. Aku tidak akan bisa hidup. Jika kamu harus mati di depanku. Jadi tolong pertimbangkan perasaanku," ucap Felly yang menuntut suaminya untuk tetap di sisinya.


Aditya dan Felly saling melihat dengan tatapan yang dalam.


" Maaf Felly. Aku harus pergi," ucap Aditya yang tidak menanggapi kata-kata istrinya lagi dan memutuskan untuk pergi meninggalkan Felly.


" Aditya!" panggil Felly. Namun Aditya tidak merespon dan tetap melanjutkan langkahnya.

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2