Pria Kejam Yang Merampas Kehormatan Ku.

Pria Kejam Yang Merampas Kehormatan Ku.
Eps 291 Pilihan yang berat.


__ADS_3

Felly dan Aditya berada di dalam mobil. Aditya menyetir dengan kecepatan tinggi dan Felly di sampingnya yang juga terlihat panik.


" Aditya apa benar yang menembak tadi adalah Rebecca?" tanya Felly.


" Benar Felly. Polisi sudah memastikannya. Berarti dia sedang mengawasi kita dia ingin membunuh kita semua," jawab Aditya dengan cepat.


" Dan Damar ikut bersamanya?" tanya Felly memastikan.


" Jika yang kamu lihat adalah Damar. Berarti memang benar Damar ikut bersamanya. Mereka bekerja sama," sahut Aditya.


" Lalu polisi apa sudah menemukan mereka?" tanya Felly. Kau belum mendapat kabar. Mereka sedang mencari di sekitar pantai yang kemungkinan besar Damar dan Rebecca ada di sana dan kita berdoa saja. Agar mereka ber-2 bisa di temukan," ucap Aditya.


" Aditya, jika Damar memang terlihat dan ikut bersama Rebecca. Lalu bagaimana Laura. Aku khawatir kepadanya," ucap Felly yang tiba-tiba kepikiran dengan Laura.


" Kamu tenang saja. Laura gadis yang pintar. Meski kita tau dia mencintai Damar. Tetapi percayalah. Laura bisa menghadapi semuanya. Laura tau apa yang harus di lakukannya. Dia akan peduli dengan Damar adalah Pria yang di cintainya atau tidak. Dia tau harus melakukan apa," ucap Aditya.


" Tapi tetap saja. Aku takut Laura justru lemah dengan semua ini," ucap Felly.


" Tidak akan Felly. Percaya padaku," sahut Aditya dengan yakin. Aditya meraih tangan Felly yang begitu dingin dan melihat istrinya itu.


" Aku akan selalu di sisimu. Kamu jangan takut ya. Kejadian tadi tidak akan terulang lagi. Aku tidak akan membiarkan satu orang pun untuk menyakiti kamu," ucap Aditya meyakinkan istrinya. Felly mengangguk-angguk dan meletakkan kepalanya di bahu Aditya.


" Kamu harus selalu berhati-hati. Aku tidak mau kamu sampai kenapa-kenapa," ucap Felly.


" Pasti sayang," ucap Aditya mencium pucuk kepala Felly.


************


Tidak lama Felly dan Aditya akhirnya sampai Kerumah dan di sana. Sudah ada Elia, Bion, Andre yang menunggu mereka.


" Kamu baik-baik saja Felly!" ucap Andre yang langsung menghampiri adiknya yang sangat khawatir pada sang adik.


" Iya kak, Felly baik-baik saja," sahut Felly.


" Syukurlah kalau begitu. Kakak khawatir pada kamu," ucap Andre yang sekarang sudah merasa lega.


" Aditya apa yang terjadi. Apa benar Felly hampir tertembak dan semua itu. Karena Rebecca ada di sana," sahut Elia.


" Iya kak, Rebecca yang ingin menembak Felly," sahut Aditya membenarkan.


" Aditya aku juga sudah mendapat laporan dari orang ku yang juga ada di lokasi. Jika Pak Baskoro juga ada di sana," ucap Andre yang membuat Aditya, Elia, dan Felly kaget.


" Apa papa ada di sana!" pekik Aditya.


" Lalu apa Polisi menemukan papa?" tanya Elia yang kepanikan.


" Belum!" jawab Andre.


" Aditya, ayo kamu pergi. Kamu harus kesana kamu harus cari papa. Kakak khawatir pada papa. Apa lagi Rebecca berkeliaran di sana," ucap Elia yang semakin panik.

__ADS_1


" Iya kakak tenang saja. Aku sama Andre akan mencari papa. Sebelum Rebecca menemukannya dan juga Polisi sahut Aditya yang juga memang akan bertindak secepatnya.


" Laura mana?" tanya Felly tiba-tiba yang tidak melihat Laura.


" Dia belum kembali," jawab Elia.


" Belum kembali. Bukannya tadi aku sudah menyuruhnya pulang untuk memberi tahu kalian masalah ini," ucap Aditya.


" Tapi dia tidak kembali dari tadi," sahut Elia.


" Lalu kalau begitu dari mana kalian tau tentang kejadian di pantai?" tanya Felly.


" Saya non Felly!" sahut Bion yang baru mengeluarkan suaranya, " saya mengetahuinya ketika mendapat laporan dari orang yang ada di sekitar dan saya langsung memberi tahu pak Andre," jawab Bion.


" Jadi Laura sama sekali belum pulang," sahut Felly yang mulai terlihat panik.


" Tante juga heran!" tiba-tiba suara Lusi terdengar dan terlihat Lusi memegang handphone dan melangkah menghampiri Aditya dan yang lainnya.


" Tante sudah menghubunginya sejak tadi. Tapi tidak bisa di hubungi," ucap Lusi yang terus menghubungi anaknya.


" Kemana dia?" tanya Aditya yang tampak bingung.


" Tante pikir dia ada bersama kalian. Karena tadi Polisi menelpon Tante dan mengatakan Laura sempat menelpon. Tetapi tidak ada respon dari Laura dan Polisi mengecek lokasinya. Panggilan Laura berasal dari lokasi kejadian," jelas Lusi. Aditya dan Felly semakin melihat dan bahkan sama-sama kaget.


" Apa itu artinya. Laura tidak jadi pergi dan dia bertemu Rebecca atau Damar di lokasi dan Laura ingin menghubungi Polisi," ucap Felly menarik kesimpulan.


" Apa maksud kamu Felly," sahut Lusi yang semakin panik, " ini juga kenapa dari tadi Laura tidak mengangkat toonnya. Dia mana dia," ucap Lusi yang semakin panik.


" Benar kata Andre," sahut Aditya, " aku sama Andre akan kembali ke lokasi. Bion kamu tetap di sini. Kamu tambah pengawalan lagi. Di sekitar rumah. Jangan ada satupun penghuni rumah yang keluar dari rumah. Kak kakak jaga kakek dan kamu Felly tetap di rumah jangan kemana-mana," ucap Aditya yang menegaskan dengan betul-betul pada orang-orang yang akan di tinggalkannya.


" Iya aku akan di rumah dan kamu hati-hati lah," ucap Felly.


" Iya sayang," sahut Aditya.


" Bion kamu dengarkan saya terus awasi semuanya dan cepat kabari jika terjadi sesuatu," ucap Aditya menegaskan.


" Baik tuan, saya akan melajukannya dengan baik," sahut Bion menundukkan kepalanya.


" Tante. Tante terus hubungi Laura. Aku sama Andre juga akan mencarinya," ucap Aditya.


" Iya Aditya. Kalian pergilah dan terus kabari apa yang terjadi," ucap Lusi. Aditya mengangguk. Aditya memeluk istrinya sebelum pergi dan kemudian dia dan Andre pun langsung pergi.


" Semoga tidak terjadi apa-apa lagi. Dan Laura semoga dia tidak kenapa-kenapa," batin Felly dengan penuh harapan.


" Aku kekamar kakek dulu. Untuk melihat kondisi kakek," ucap Elia pamit. Yang lainnya mengangguk dan Elia pun langsung pergi.


" Saya akan menjaga di Luar," ucap Bion yang juga berpamitan.


" Iya Bion," sahut Felly. Bion menundukkan kepalanya dan langsung pergi.

__ADS_1


Sementara Lusi tetap menghubungi Laura yang tetap tidak bisa di hubungi.


**********


Ternyata Laura berada di dalam gedung yang duduk di atas kursi dan tubuhnya di ikat di kursi dan Rebecca juga Damar ada di depannya yang berdiri di hadapan Laura yang menatap 2 orang itu penuh kebencian.


" Apa yang ingin kamu lakukan. Kamu masih berharap ingin bebas," ucap Rebecca pada Laura. Laura mendengus kasar mendengarnya


" Pengecut!" Desis Laura yang tidak ada takutnya dengan Rebecca.


" Apa katamu aku pengecut," sahut Rebecca tampak kesal.


" Iya, kau dan anakmu. Sama saja. Kalian berdua bukan hanya pengecut tapi sampah," geram Laura yang tidak ada takutnya dengan Rebecca dan Damar terlihat diam apapun yang di katakan Laura. Dia merasa pantas mendapatkannya.


" Jaga bicaramu!" teriak Rebecca mendekati Laura dan mencengkram pipi Laura dengan satu tangannya dan Damar tampak panik yang ingin melerai. Tetapi seakan tidak memiliki kekuasaan apa-apa.


" Wanita sialan. Kau pikir kau siapa berani mengataiku sampah," desis Rebecca yang menjatuhkan cengkramannya dari pipi Laura. Sehingga wajah Laura kesamping.


Cih, Laura yang tidak takut langsung meludahi wajah Rebecca. Hal itu membuat Rebecca kaget.


" Kurang ajar!" teriak Rebecca dengan penuh kemarahannya.


Plakkk.


1 tamparan melayang kepipi Laura membuat wajah itu kembali miring kesamping.


" Mah cukup!" sahut Damar yang langsung berdiri di depan Laura.


" Kamu membelanya. Kamu tidak melihat apa yang dilakukannya! bentak Rebecca.


" Sudah ma hentikan!" sahut Damar.


" Minggir kamu! Rebecca menggeser Damar dan langsung mengambil pistol meletakkan di kepala Laura.


" Mah!" cegah Damar yang panik.


" Wanita ini harus mati. Semua bermula gara-gara kelicikannya. Jadi dia harus mati," ucap Rebecca menatap tajam Laura yang ingin menembak Laura. Namun Laura tersenyum seperti tidak takut. Sementara Damar panik.


" Bunuh diam damar!" perintah Rebecca yang membuat Damar kaget.


" Apa yang mama katakan," sahut Damar dengan suara beratnya.


" Bunuh dia. Atau peluru ini akan masuk kekepala mama!" teriak Rebecca mengancam dan sekarang menodongkan pistol ke kepalanya sendiri.


Rebecca tau Damar tidak mungkin membiarkannya seperti itu, makanya memberikan ancaman itu. Laura mendengarnya hanya tersenyum seolah tidak takut apapun.


" Ma cukup itu tidak mungkin!" sahut Damar.


" Bunuh, atau mama yang akan mati!" ancam Rebecca lagi.

__ADS_1


" Bunuhlah aku Damar bersama bayi yang aku kandung," sahut Laura dengan santai. Namun mendengarnya membuat Damar kaget.


Bersambung


__ADS_2