
Baskoro langsung menarik napasnya panjang dan membuang perlahan mengusap wajahnya dengan kasar.
Hal seperti ini pasti bukan hal yang lumrah lagi dia sangat tau anaknya itu seperti apa. Dia tau anaknya itu sangat membencinya. Karena perpisahan dengan istrinya dulu.
Mungkin bagi Baskoro, kenapa Aditya membencinya karena masalah perpisahan ke-2 orang tuanya. Tetapi Baskoro tidak tau kalau putranya membencinya karena tidak memberi keadilan kepada mama dan papanya.
" Seharusnya kamu berhenti bermain tangan dengannya," tegur Harison. Dia selalu mendapati Baskoro memukul Aditya. Memang mulut Aditya yang pedas dan suka bicara asal-asalan akan membuat orang panas dan pasti ingin menampar mulut Aditya.
" Maaf pa," sahut Baskoro.
" Aku bukan Aditya, jadi jangan meminta maaf kepadaku," sahut Harison lalu langsung berdiri.
" Lain kali, selesaikan masalah dengan kepala dingin. Kau harus tau Aditya seperti apa. Jika kau seperti ini terus dia hanya akan semakin membencimu," ucap Harison memperingati dan langsung pergi.
" Aku hanya merindukan putriku," batin Baskoro yang benar-benar sangat merindukan Elia. Aditya memang tidak akan mengijinkan papanya untuk bertemu kakaknya.
Kakaknya sendiri pun tidak punya keinginan juga untuk menemui papanya. Karena bagi Elia tidak ada alasan untuk bertemu papanya. Keluarganya hanya adiknya saja. Aditya yang sudah merawatnya dari dulu. Makanya dia sangat menyayangi Aditya.
Ternyata di sisi lain. Felly yang tidak sengaja lewat mendengar kan hal itu. Dia harus mendengarkan untuk yang pertama kalinya pertengkaran antara ayah dan anak itu. Menyaksikan segala sesuatu apa yang terjadi di sana.
Dia sangat kaget dengan kata-kata Aditya kepada papanya dan bahkan sewaktu calon mertuanya menampar Aditya karena omongan Aditya.
" Kenapa pertengkaran itu sampai seperti itu. Seperti masalahnya sangat besar, makanya Aditya sangat marah dengan papanya. batin Felly yang sangat ingin mengetahui sesuatu.
Tanpa berpikir lama. Felly pun akhirnya pergi dari tempat persembunyiannya. Dia tidak ingin ketahuan. Tetapi saat Felly ingin pergi.
Di sudut sana dia menangkap Rebecca yang ternyata juga sedang melihat dan mendengarkan pertengkaran tersebut. Rebecca terlihat tersenyum seakan sangat menikmati pertengkaran ayah dan anak itu.
" Seharunya kalian saling membunuh saja. Agar aku tidak kesulitan," batin Rebecca benar-benar puas dengan pemandangan itu.
" Kenapa ekspresi tante Rebecca seperti itu, aneh sekali, dia sangat bahagia melihat pertengkaran itu," batin Felly dengan penuh penasaran.
Felly pun langsung pergi sebelum akhirnya Rebecca juga akan menemukannya yang juga sedang menguping di sana. Felly langsung memasuki kamarnya dan duduk di pinggir ranjangnya dengan wajahnya yang sangat lesu.
__ADS_1
" Jadi Aditya punya seorang kakak?" batinnya di dalam hatinya.
" Lalu kemana. Kenapa papanya ingin bertemu. Tetapi harus bertanya kepada Aditya. Apa memang benar kata Aditya kalau kakaknya sudah meninggal. Kalau memang benar mana mungkin papanya harus bertanya dan kenapa tidak tau anaknya meninggal," gerutunya bertanya-tanya kebingungan.
" Aditya juga mengatakan jika kakanya hancur di tangan wanita. Apa itu tante Rebecca. Dan tadi Aditya juga bilang kakaknya masuk rumah sakit jiwa. Kenapa harus di masukkan rumah sakit jiwa. Kenapa keluarganya setega itu. Apa itu yang membuat Aditya membenci semua orang,"
" Sangat jelas terlihat, Aditya sangat membenci papanya. Matanya jelas menggambarkan bahwa dia tidak menyukai papanya. Dari caranya bicara yang terlihat acuh. Bahkan tidak mengatakan masalah pernikahan kepada papanya. Kenapa Aditya harus se benci itu. Bukan hanya mas Damar, Tante Rebecca bahkan papanya sangat di bencinya. Seharunya semua punya alasan," Felly hanya terus bergerutu bertanya-tanya di dalam hatinya. Apa yang sebenarnya terjadi.
" Tante Rebecca, kenapa dia harus tersenyum saat Aditya bertengkar dengan papanya. Bukannya menjadi penengah tetapi seakan- akan sangat menikmati apa yang terjadi,"
" Keluarga ini memang sangat aneh. Aku tidak tau kenapa tuhan harus melibatkan aku masuk kedalam keluarga ini. Aku harus ikut berpikir dan memahami apa yang terjadi," ucapnya di dalam hatinya yang benar-benar kebingungan.
Felly menundukkan kepalanya dan mengusap perutnya yang masih ramping.
" Sayang, mama tidak tau harus melakukan apa. Banyak misteri di dalam keluarga ini. Kamu doain mama ya. Supaya tidak terjadi apa-apa dengan mama dan juga kamu. Mama janji kita berdua pasti baik-baik saja," ucap Felly dengan senyum haru di wajahnya.
" Oh iya, Aditya di mana ya," ucapnya tiba-tiba yang ingin mencari Aditya. Felly pun langsung keluar dari kamarnya. Ingin mencari di mana keberadaan Aditya.
*************
Aditya duduk salah satu bangku yang ada di Du dekat kolam renang dengan tangannya yang melipat di dadanya.
Pertengkaran dengan papanya akan membuatnya moodnya hilang dengan cepat. Dia akan sangat marah. Kalau pada akhirnya papanya harus memukulnya lagi dan lagi.
" Ingin menemui putrinya katanya. Sejak kapan kak Elia menjadi putrinya. Apa ada orang tua seperti itu. Yang selalu melakukan semua dengan suka-sukanya. Dulu dengan mudahnya membuang kakakku. Dan sekarang ingin menemuinya. Dia pikir dia siapa. Sudah merasa paling hebat," batin Aditya yang benar-benar kesal.
" Aku akan membuat kalian semua menyesal dengan apa yang kalian lakukan kepada mama dan kakakku. Rasa bersalah akan terus menghantui pria tidak bertanggung jawab seperti mu. Dan jangan harap aku akan mempertemukan mu dengan kakakku," batin Aditya dengan sorot matanya penuh kebencian.
" Sedang apa kau di sana?" tanya Aditya tiba-tiba yang menyadari jika ternyata Felly sedang berada di balik pintu. Apa lagi jika bukan mengintip.
" Kau masih ingin berdiri di sana?" tanya Aditya dengan suara dinginnya.
Felly yang kaget dengan memegang 1 gelas teh langsung keluar dari persembunyiannya dan dengan langkah yang ragu dia menghampiri Aditya
__ADS_1
" Apa yang kau lakukan di sana?" tanya Aditya dengan sinis.
" Tidak, tidak apa-apa, aku hanya ingin memberikan ini," jawab Felly dengan gugup meletakkan secangkir teh di atas meja. Tangannya sangat bergetar sampai cangkir teh goyang-goyang. Seperti ada gempa.
" Kau ingin meracuniku," sahut Aditya dengan sinis menaikkan 1 alisnya. Langsung berpikir negatif kepada Felly.
" Kenapa kau menuduhku seperti itu. Memang kau melihat aku melakukannya," sahut Felly kesal dengan Aditya yang menuduhnya sembarangan
" Apa aku harus percaya kepadamu? bukannya sebelumnya kau juga ingin membunuhku. Dan bisa saja di dalam teh ini ada racunnya untuk melancarkan aksimu," lanjut Aditya.
" Terserahmu mau mengatakan apa-apa dengan pikiranmu yang kotor itu. Aku hanya berhati baik untuk membuatkannya untukmu. Jika kau tidak mau itu urusanmu. Bukan urusanku," ucap Felly dengan ketus dan langsung pergi. Aditya menahan tangannya membuatnya menghentikan langkahnya.
" Ada apa lagi?" tanya Felly dengan ketus.
" Bersiaplah. Kita akan keluar," ucap Aditya.
" Malam-malam begini?" tanya Felly.
" Iya," jawab Aditya.
" Memang kita mau kemana?" tanya Felly.
" Jangan biasakan banyak tanyak. Jadi bersiaplah," ucap Aditya yang selalu kesal jika y terus banyak tanya.
" Hanya bertanya apa masalahnya," oceh Felly langsung pergi. Tetapi Aditya kembali menahan tangannya.
" Ada apa lagi," ucap Felly dengan ketus.
" Jangan biasakan menjadi seorang penguping, hati-hati telingamu bisa bermasalah. Jika kau terus mencoba menjadi penguping," ucap Aditya.
" Apa dia tau aku menguping pembicaraan papanya dan dia," batin Felly rada-rada takut
" Siapa yang penguping," sahut Felly membantah dan melepas tangannya dari Aditya dan langsung pergi.
__ADS_1
" Sudah ketahuan masih mengelak," desis Aditya geleng-geleng.
Bersambung