
" Kau tidak makan?" tanya Felly. Melihat kearah Aditya yang menatapnya seperti aneh.
" Melihat mu saja aku sudah kenyang, jadi aku tidak perlu makan," jawab Aditya.
" Oh begitu," sahut Felly dengan santai. Dia justru merasa syukur Aditya tidak makan. Jadi bagiannya tidak berkurang.
" Kau lebih memilih makan di Restaurant lain. Dari pada makan di Restaurant milikku," ucap Aditya menaikkan 1 alisnya.
" Bukan memilih. Hanya saja aku baru selera makan sekarang. Lagian kalau Restaurant mu juga buka. Aku juga akan makan di sana," ucap Felly memberi alasan.
" Kau selalu punya jawaban," sahut Aditya. Felly kembali melanjutkan makannya. Aditya tiba-tiba kepikiran sesuatu. Sampai ekspresi wajahnya berubah.
" Apa kakaknya sudah mengatakan kepadanya. Masalah papanya," batin Aditya. Yang ternyata kepikiran tentang hal itu.
" Sepertinya belum. Jika sudah mengatakan. Dia pasti akan menanyakannya. Sebaiknya aku jangan memberi tahu. Biarkan saja. Kakaknya yang memberi tau bahwa kasusku papanya. Kembali di ungkap. Lalu ketika kasusnya bisa di selesaikan. Dia akan tau siapa Damar sebenarnya dan kau akan berterima kasih kepadaku. Karena aku menyelamatkanmu dari orang-orang seperti mereka," batin Aditya yang bergerutu di dalam hatinya.
" Ehmmm, kau tidak pernah menghubungi keluargamu?" tanya Aditya tiba-tiba. Membuat Felly melihat ke arahnya. Felly heran dengan pertanyaan Aditya yang tumben-tumbennya mengarah ke arah sana.
" Apa petanyaanku sesulit itu. Sampai kau tidak bisa menjawab dan malah menatapku seperti itu," ucap Aditya menaikkan 1 alisnya.
" Tidak, aku heran saja, tumben-tumbennya. Kau menanyakan hal itu," ucap Felly memang kebingungan.
" Jawab saja," sahut Aditya.
" Belum, aku belum menelpon mama," jawab Felly. Oh iya aku..." tiba-tiba Felly gugup. Antara mau bicara apa tidak. Sementara Aditya terus melihatnya menunggu kelanjutan kalimat Felly.
" Ada apa?" tanya tidak.
" Boleh tidak, uang yang kamu berikan, aku berikan pada keluargaku," ucap Felly pelan.
Dia memang sama sekali belum memakai uang itu. Karena memang tidak tau uang itu untuk apa.
Dia juga tidak butuh-butuh amat. Kalau masalah membeli baju. Dia juga merasa itu tidak penting. Karena dia memang tidak kemana-mana.
" Aku memberikannya kepadamu dan kau gunakan keperluan mu. Bukan memberikannya. Kepada orang lain," ucap Aditya.
" Keluarga bukan orang lain. Lagi pula kan uang itu untukku. Kau sudah mentransfernya ke rekening ku. Yang artinya itu milikku. Jadi terserahku dong. Kalau pada akhirnya. Aku menggunakannya untuk siapa. Dan kau tidak harus ikut campur," ucap Felly. Sekarang dia malah mengoceh.
Tadi sangat manis memberi izin. Sekarang bicara sangat ketus. Aditya mendengar Felly yang mengoceh geleng-geleng dengan sifat Felly yang berubah-ubah.
" Baiklah aku meminta izin sekali lagi. Aku menggunakan uang itu untuk keluargaku apa boleh," ucap Felly yang kembali lembut meminta izin pada suaminya.
" Kalau aku bilang tidak. Kau akan menurutinya," ucap Aditya ingin mengetahui reaksi Felly.
__ADS_1
" Kau ini benar-benar ya, memang apa salahnya mengatakan iya saja. Dari pada uangnya tidak di gunakan," sahut Felly menjadi kesal.
" Baiklah terserahmu mau kau apakan uang itu," sahut Aditya akhirnya mengambil keputusan. Wajah Felly langsung tersenyum lebar.
" Serius," ucap Felly tidak percaya.
" Hmmm," sahut Aditya dengan deheman. Felly yang mendapat persetujuan langsung tersenyum bahagia. Aditya geleng-geleng melihatnya.
" Bisa-bisanya dia sebahagia itu. Hanya
karena memberikan keluarganya uang, apa baginya keluarganya adalah segalanya," batin Aditya yang menyimpan senyum di wajahnya. Mungkin selama ini.
Aditya baru pertama kali melihat Felly tertawa lepas tanpa tekanan. Mungkin dia menyadari. Jika senyum di wajah itu. Dia yang telah merampasnya. Karena memang selama bertemu dengan Felly. Aditya tidak pernah melihat wanita itu tertawa lepas seperti itu.
**********
Mentari pagi kembali tiba. Aditya berdiri di depan cermin sambil memakai dasinya. Tidak berapa lama Felly keluar dari kamar mandi dengan pakaian dress putih di atas lututnya. Felly keluar dari kamar mandi sambil mengeringkan rambutnya yang basah.
Aditya yang berdiri di depan cermin menangkap hal itu. Melihat Felly yang mengeringkan rambutnya. Air dari ujung rambutnya menetes kelantai. Aditya yang mencuri-curi perhatian pada Felly menelan salavinanya.
Matanya yang melihat dari cermin. Bahkan melihat dengan perlahan dari atas sampai ujung kaki Felly. Secara tidak langsung apa yang di lakukan Felly benar-benar membuat gairahnya naik.
Sampai-sampai dia harus menelan salavinanya. Karena istrinya yang benar-benar membuat tubuhnya menjadi panas. Felly tidak menyadari apa yang di lakukannya membuat Aditya tergoda.
" Hmmmm," Aditya berdehem. Karena sudah tidak tahan dengan apa yang di lakukan Felly. Aditya membalikkan tubuhnya dan melihat Felly yang berjarak 3 meter darinya.
Felly yang tampak acuh. Berjalan mendekati meja rias yang mungkin untuk mengambil hairdryer untung mengeringkan rambutnya. Saat melewati Aditya. Harum tubuh Felly benar-benar sangat mengundang hasratnya.
Dan alhasil Aditya tidak dapat mengendalikan dirinya dan langsung menarik tangan Felly membuat Felly melotot kaget. Saat Aditya membawanya kehadapan nya.
Aditya menarik pinggang Felly agar lebih dekat kepadanya sampai Felly menabrak dada Aditya dengan Ke-2 tangan Felly yang hampir memegang dada Aditya.
Felly melotot dengan posisinya dengan Aditya yang begitu sangat dekat. Wajah mereka yang tidak ada jarak sama sekali dan napas mereka yang saling menerpa..
" Apa yang kau lakukan, lepaskan aku," ucap Felly dengan suara beratnya mencoba melepaskan diri dari Aditya yang benar-benar mengunci tubuhnya. Felly bahkan mencoba mendorong tetapi tetap saja tidak bisa. Aditya terlalu kuat untuk di dorong.
Semakin Felly bergerak. Aditya semakin mempererat pegangannya di pinggang Felly dan semakin mendekatkan wajah Felly ke hadapannya. Sehingga hidung mereka sudah bersentuhan.
" Aku yang bertanya kepadamu. Apa yang kau lakukan," ucap Aditya. Felly menelan salavinanya mendengar suara serak Aditya yang begitu menggoda.
" Apa maksudmu, aku tidak melakukan apa-apa," ucap Felly heran. Dia merasa memang tidak melakukan apa-apa.
" Kau sengaja menggodaku?" bisik Aditya di telinga Felly membuat.
__ADS_1
Felly merinding mendengar suara napas di telinganya. Yang jujur membuat jantungnya berdetak tidak menentu dan napasnya juga naik turun.
" Apa kau bisa bertanggung jawab dengan apa yang kau lakukan," ucap Aditya lagi. Membuat Felly benar-benar tidak mengerti.
Tetapi wajahnya sudah memerah. Apa lagi jari Aditya sudah membelai lembut pipinya Menyinggirkan anak rambut di wajah itu.
" Apa yang kau katakan. Harus bertanggung jawab apa. Aku tidak melakukan apapun, jadi lepaskan aku," ucap Felly dengan panik.
" Felly, kau itu istriku. Terlepas dari perjanjian. Seharusnya kau melakukan tugasmu sebagai seorang istri suka tidak suka itu sudah kewajibanmu," ucap Aditya membuat Felly langsung menatap serius.
" Apa yang di katakannya. Apa dia ingin aku.... Tidak aku tidak mau," batin Felly yang kepanikan.
" Aku juga tidak akan melakukan hal itu. Kalau bukan kau yang memancingku. Lagian apa kau lupa apa kata Dokter. Hubungan seksual itu bagus saat istri sedang hamil," ucap Aditya menyunggingkan senyumnya.
Felly semakin panik dengan Aditya yang dia sekarang paham arah mana pembicaraan itu.
" Tidak, aku tidak mau," ucap Felly langsung menolak. Aditya tersenyum miring dengan penolakan Felly.
" Kau ingin menjadi istri durhaka," sahut Aditya.
" Jangan gunakan kalimat itu demi kepentinganmu. Perjanjian adalah perjanjian. Kau sudah menyetujuinya dan kau tidak berhak untuk menuntut hal itu," ucap Felly menegaskan.
" Kau langsung marah. Jika aku membahas masalah itu. Kau tau marahmu membuat darah ku berdesir," bisik Aditya.
Cup. Kali ini dia bahkan mencium lembut pipi Felly. Membuat Felly melotot yang bisa-bisanya kecolongan lagi oleh Aditya.
" Kau," Felly langsung mendorong Aditya. Sampai Aditya bergeser dan Felly berhasil lolos dari dekapan itu.
" Kau memang benar-benar keterlaluan," ucap Felly langsung marah dengan menghapus bekas ciuman Aditya di pipinya.
Sementara Aditya tersenyum penuh kemenangan karena berhasil mencium pipi Felly yang memerah seperti kepiting rebus.
" Itu salahmu. Makanya jangan suka menggodaku," ucap Aditya terlihat santai. Aditya mengambil tasnya yang ada di atas tempat tidur. Melihat kearah Felly yang masih marah.
" Cepat keluar untuk sarapan, kakek sudah menunggu!" ucap Aditya menegaskan. Tanpa menunggu jawaban dari Felly. Aditya melanjutkan langkahnya dan langsung keluar dari kamar.
" Isshhh dia memang selalu mencari kesempatan," geram Felly terus menggosok-gosok pipinya dengan punggung tangannya.
Felly pun langsung beralih ke depan Cermin dan mengeringkan kembali rambutnya dan memberi polesan makeup sedikit pada wajahnya.
Wajahnya pasti sangat cemberut dengan Aditya yang berbuat semaunya yang membuatnya kesal dan ingin menerkam Aditya suaminya.
Bersambung..
__ADS_1