
Mendengar bisikan Aditya membuat Felly merinding Aditya. Aditya masih memegang pipi Felly mengusap dengan lembut.
Felly langsung menepis kasar tangan Aditya dan langsung mendorong Aditya. Jauh-jauh darinya.
" Jangan menyentuhku," tegas Felly.
" Kau ingin ingkar janji. Melanggar kontrak yang kau tanda tangani sendiri dan kau kau tau apa akibatnya," ucap Aditya menyunggingkan senyumnya.
" Kau tidak bisa melakukan itu kepadaku," ucap Felly.
Felly membuka laci meja riasnya dan mengambil 1embar kertas yang juga sudah di beri kliping berwarna kuning. Dan langsung meletakkan di dada Aditya dengan mendorong sedikit Aditya.
Aditya heran dan mengambilnya. Dia penasaran dengan apa yang di berikan Felly kepadanya.
" Aku rasa kau juga bisa membacanya," ucap Felly dengan tegas. Aditya yang penasaran langsung melihat ala isi tulisan yang di berikan kepadanya.
" Selama pernikahan kau tidak boleh menyentuhku. Aku bukan istri pada umumnya yang harus melayanimu layaknya istri seperti biasanya. Aku tidak akan melayani urusan ranjangmu. Jadi kau tidak punya hak untuk meminta semua itu," tertulis sangat jelas dan besar.
Aditya yang membacanya cukup kaget dengan tindakan Felly sebelum menikah. Aditya menaikkan 1 alisnya melihat Felly. Felly berusaha tenang meski mendapat tatapan dingin dari Aditya.
" Kau juga menandatanganinya," ucap Felly mengingatkan.
Aditya mengingat dokumen itu di tandatanganinya saat di dalam kamar. Di mana dia memasuki kamar Felly. Ingin mengingatkan wanita itu dan Felly mengatakan hari itu masalah anak dan menyuruhnya menandatangani berkas yang dia tidak tau apa isinya.
" Kau menjebakku?" tanya Aditya.
" Tidak! itu bukan salahku. Seharusnya kau membacanya baru menandatanganinya dan bukan salahku. Jika kau tidak menandatanganinya tanpa membacanya. Kau menandatanginya. Berarti kau setuju dengan 2 syarat ku," sahut Felly menegaskan.
" Kau benar-benar sangat pintar," sahut Aditya tersenyum dengan geleng-geleng kepala.
" Aku hanya ingin melindungi diriku," sahut Felly menegaskan.
" Melindungi katamu," ucap Aditya.
" Aku berharap kau juga mematuhi. Apa yang sudah kau tanda tangani. Aku tidak meminta apapun kecuali yang 2 itu. Sementara kau banyak permintaan dalam pernikahan ini. Aku akan menuruti semua syaratmu. Kecuali masalah urusan itu. Asal kau menuruti 2 syarat utama ku itu. Tidak menyentuhku dan membiarkan anak ini bersamaku," ucap Felly dengan gugup bicara.
" Kau ingin bernegosiasi denganku?" tanya Aditya menyunggingkan senyumnya. Felly menggelengkan kepalanya.
" Aku hanya ingin aku mendapat kenyamanan. Selama 9 bulan. Jadi jangan memintaku untuk melakukan itu," ucap Felly dengan penuh harapan Aditya akan menuruti syaratnya.
Aditya menarik napasnya panjang dan membuangnya perlahan.
" Baiklah aku akan menuruti apa katamu. 2 syaratmu akan aku penuhi. Termasuk ketakutanmu untuk ku sentuh," ucap Aditya mengambil keputusan membuat Felly merasa lega.
__ADS_1
" Syukurlah dia tidak masalah dengan hal itu," batin Felly benar-benar merasa lega.
" Tapi kau dengar 1 hal. Jika aku melihatmu macam-macam dan bertingkah sesukamu yang tidak aku sukai. Hukuman yang aku berikan. Akan lebih dari apa yang kau takutkan. Jadi jangan pernah berpikir untuk macam-macam denganku," ucap Aditya memberi ancaman. Felly tidak peduli dengan ancaman Aditya. Yang penting Aditya mau menurutinya.
" Termasuk itu Damar. Jika aku melihatmu. Sedikit saja berbicara dengannya. Apa lagi menatapnya seperti malam itu. Kau sudah apa akibatnya yang pasti syarat pertamamu tidak akan berlaku untuk dalam masa hukuman. Apa kau mengerti," tegas Aditya lagi menekankan pada Felly. Felly mendengarnya menelan salavinanya.
" Kau mengerti?" tanya Aditya sekali lagi.
" Iya. Kau juga tidak boleh ingkar janji," sahut Felly. Aditya mengangguk-angguk. Lalu menjatuhkan dokumen yang di berikan Felly kepadanya ke atas tempat tidur.
Aditya membalikkan badan ingin berlalu dari Felly. Tetapi dia kembali menghentikan langkahnya dan menghadap Felly lagi.
" Apa lagi yang di inginkannya," batin Felly kembali panik.
" Kau benar-benar tidak ingin melayaniku sebagai suamimu?" tanya Aditya menaikkan 1 alisnya. Dengan cepat Felly menggeleng cepat. Membuat Aditya mendengus kasar.
" Baiklah. Aku tidak akan memaksamu melakukan hubungan itu. Tetapi aku akan membuatmu memintanya dari ku," ucap Aditya menyunggingkan senyumnya membuat Felly panik.
" Itu tidak akan pernah terjadi," sahut Felly dengan yakin.
" Kita lihat saja nanti. Bagaimana kau akan memohon kepadaku untuk sentuhan dari ku," ucap Aditya tersenyum tipis. Lalu pergi dari hadapan Felly.
Setelah Aditya keluar dari kamarnya membuat Felly langsung melepaskan napasnya yang sudah lama di tahannya. Bahkan Felly ngos-ngosan. Padahal dia tidak berbuat apa-apa.
" Syukurlah dia benar-benar tidak macam-macam," ucap Felly mengusap dadanya. Merasa lega dengan kepergian Aditya.
Jadi kehidupan Felly masih penuh keuntungan. Dia memang harus mewaspadai sebelumya. Bruk. Felly kembali kaget dengan Aditya yang membuka pintu dengan kuat sehingga membuatnya tersentak kaget.
" Ada apa lagi?" tanya Felly dengan debaran jantungnya yang saling memburu.
" Kita sudah menikah dan suami istri yang tertidur berpisah dengan kamar. Jika kau tidak mau kekamarku. Maka aku yang akan di sini," ucap Aditya memutuskan.
" Aku tidak mau kau tidur 1 kamar denganku," sahut Felly yang langsung menolak. Penolakan Felly membuat Aditya geram.
" Kau benar-benar ya. Kau pikir aku juga mau 1 kamar denganmu," Desis Aditya yang lama-kelamaan dongkol melihat Felly.
" Ya sudah kalau kau tidak mau. Jadi jangan di sini," sahut Felly dengan santai. Aditya mendengus kasar mendengarnya.
" Baik. Kalau begitu. Tetapi jika kakek bertanya. Kau akan jelaskan kepadanya mengapa kita tidak sekamar," ucap Aditya tersenyum miring lalu kembali keluar dari kamar Felly.
Kepergian Aditya membuat Felly gelisah. Bagaimana ini. Apa yang harus aku lakukan. Aku tidak mungkin sekamar dengannya.
Tetapi kalau kalau kakek bertanya. Tidak mungkin aku mengatakannya. Apa yang harus aku lakukan," gerutu Felly malah sekarang dia yang gelisah. Felly pun langsung keluar dari kamarnya dan tidak tau mau melakukan apa-apa.
__ADS_1
" Felly," tegur Harison yang melihat Felly buru-buru berjalan.
" Kakek," ucap Felly menundukkan kepalanya.
" Kamu mau kemana?" tanya Harison heran dan melihat wajah Felly seperti panik.
" Oh, itu hah!" sahut Felly terbata-bata.
" Kenapa kamu tidak istirahat di kamar Aditya. Bukannya kalian sudah menikah dan sudah waktunya kamu tidur di kamarnya," ucap Harison. Felly semakin gelisah mendengarnya.
" Felly," tegur Harison yang melihat Felly bengong.
" Dia tidak ingin kekamarku," sahut Aditya yang langsung muncul. Kehadiran Aditya membuat Felly semakin gugup.
" Apa yang harus aku katakan," batin Felly gugup.
" Kenapa?" tanya Harison heran.
" Tanyakan saja padanya," sahut Aditya yang melempar langsung pada Felly. Membuat Felly semakin panik.
" Felly. Kenapa?" tanya Harison.
" Aku hanya tidak nyaman jika tidur di kamarnya," jawab Felly dengan cepat. Aditya hanya mendengus saja.
" Kenapa. Kalian sudah menikah dan kalian memang harus sekamar," ucap Harison.
" Tapi aku tidak mau. Jika di kamar itu. Aku ingin di kamarku saja," ucap Felly.
" Apa itu artinya. Aku yang harus kekamarmu?" tanya Aditya. Pertanyaan Aditya jelas menjebak Felly. Felly mengepal tangannya dengan pertanyaan Aditya.
Bahkan Aditya tersenyum kepadanya. Sementara kakek Harison terlihat jelas menunggu jawaban Felly.
" I-i-iya," jawab Felly terbata-bata. Aditya tersenyum penuh kemenangan. Sementara Felly hanya bisa geram di dalam hatinya.
Aditya mendekatinya dan meletakkan tangannya di pundak Felly.
" Kalau begitu. Mari sayang kita istirahat. Aku akan pindah kekamarmu. Tergantung di mana kau nyaman," ucap Aditya tersenyum pada Felly
Sementara Felly hanya bisa diam dan pasrah dengan Aditya yang pasti selalu menang darinya.
" Kakek. Kami harus istirahat duku," ucap Aditya pamit.
" Silahkan," jawab Harison mempersilahkan tangannya. Aditya tersenyum dan membawa Felly pergi dengan tangan yang masih letak di pundaknya. Harison juga masih memperhatikan cucunya itu sampai memasuki kamar.
__ADS_1
" Aneh-aneh saja," gumam Harison geleng-geleng lalu pergi.
Bersambung......