Pria Kejam Yang Merampas Kehormatan Ku.

Pria Kejam Yang Merampas Kehormatan Ku.
Epsode 220 Tidak akan menyembunyikan apapun.


__ADS_3

" Siapa yang menyuruhmu tertawa. Aku serius. Kalau kamu macam-macam. Kamu tidak akan sembuh-sembuh," sahut Felly memberikan ancaman dengan wajahnya yang serius.


" Tetapi aku tidak peduli. Karena jika aku tidak sembuh. Kamu terus memperlakukan ku seperti raja," sahut Aditya.


" Aku terpaksa melakukannya. Jadi jangan kepedean," sahut Felly yang mengelak.


" Belum sampai hitungan satu hari. Kamu menangis memelukku dan sekarang kamu malah marah-marah seakan kita bermusuhan," sahut Aditya.


" Aku memelukmu karena terbawa suasana. Jadi jangan berpikir yang aneh. Lagian aku juga memaafkan mu itu hal yang biasa. Karena mama ku mengajarkan ku untuk memaafkan siapapun. Jadi jangan kepedean bukan hanya kamu yang aku maafkan," sahut Felly yang terus memberikan alasan. Aditya hanya tersenyum mendengar ocehan Felly.


Aditya langsung meraih tangan Felly dan menciumnya dengan lembut dan Felly pura-pura tidak melihat dengan matanya yang melihat kesamping dengan wajahnya yang tidak bisa bohong jika dia ingin tersenyum tetapi di tahannya. Aditya hanya geleng-geleng melihat tingkat Kegengsian Felly yang semakin tinggi.


" Aku ingin bertanya apa kamu memberiku makan karena terpaksa?" tanya Aditya.


" Hmmm," sahut Felly dengan deheman.


" Jadi kamu terpaksa menyuapi ku," sahut Aditya dengan suara kecewanya dan Felly langsung melihat kearah Aditya.


" Tidak, aku tidak terpaksa. Lagi pula aku tidak ada alasan untuk terpaksa melakukannya. Aku istrimu dan aku mana mungkin terpaksa untuk melayanimu," sahut Felly membuat Aditya tersenyum dengan tipis.


" Benarkah!" sahut Aditya. Felly mengangguk.


" Lalu bagaimana masalah melayani hal lain apa kamu juga akan melakukannya," sahut Aditya yang terus menggoda Felly yang membuat Felly kembali kesal.


" Lupakan, aku kata-kata ku tadi," sahut Felly kembali marah. Aditya hanya tersenyum saja. Melihat kekesalan Felly kepadanya.


" Aku minta maaf Felly," sahut Aditya.


" Terus meminta maaf. Tapi terus membuatku kesal," gerutu Felly dengan wajah cemberutnya.


" Aku memang sengaja membuatmu marah, aku menyukai wajahmu yang pemarah itu," sahut Aditya dengan entengnya. Aditya pun meraih tangan Felly dan langsung menarik Felly kedalam pelukannya.

__ADS_1


" Jangan marah lagi. Aku benar-benar hanya bercanda. Aku tidak bermaksud untuk melakukan apapun kepadamu. Aku hanya bercanda," ucap Aditya menjelaskan. Felly tersenyum dan mengangguk-anggukan kepalanya.


" Cepatlah sembuh, agar kita berdua bisa menghadapi semuanya sama-sama. Aky ingin kamu bisa menyelesaikan semua masalahmu dan mendapat keadilan untuk mama dan juga kak Elia," sahut Felly.


" Iya, terima kasih. Kamu benar-benar sudah ada di sisiku. Aku tidak percaya. Jika hari ini aku bisa memelukmu dan bicara panjang kepadamu. Terima kasih Felly untuk semua kesempatan yang kamu berikan kepadaku," ucap Aditya.


" Sama-sama," sahut Felly yang memeluk erat Aditya dan Aditya mengusap-usap rambut belakangnya yang mungkin baru merasakan kehidupan sekarang ini.


***********


Kondisi Aditya belum pulih total. Tetapi Aditya sudah mulai bekerja. Entah apa yang di lakukannya dia tampak serius duduk di kursi dengan fokus pada laptop yang ada di meja.


Baginya memang menyelesaikan masalah harus di lakukannya dengan cepat. Kematian Leon mungkin memberikan peringatan kepada Rebecca untuk menyadari siapa dirinya sebenarnya dan berharap Rebecca tidak main-main dengannya.


" William, tidak mati pada saat itu. Apa yang mereka lakukan setelah ini. Aku harus terus berhati-hati," batin Aditya sambil membuka email yang masuk dari Laura.


Di mana Laura yang entah di mana tetapi mengirim laporan yang sudah di kerjakannya dengan dokumen yang di dapatkan dari Damar. Alias telah di curi Laura dari Damar.


Felly memasuki ruangan yang di mana Aditya sangat serius. Felly dengan memakai kimono Silver sepahanya dengan memegang secangkir kopi.


Felly melihat suaminya itu tampak sangat fokus dengan layar laptop tersebut. Felly menoleh ke arah jam yang menggantung dingding sudah pukul 1 malam. Felly menarik napasnya panjang dan membuangnya perlahan kedepan lalu melangkah menghampiri Aditya.


Aditya menyadari kehadiran Felly, langsung buru-buru menutup laptopnya dan membuat Felly heran dengan melettakkan secangkir kopi yang di buatnya.


" Kenapa menutupnya?" tanya Felly heran.


" Hmmm, tidak apa-apa," sahut Aditya terlihat gugup. Namun Felly langsung kesal.


" Katanya tidak ingin menyembunyikan apapun. Ingin melibatkan ku. Tapi apa buktinya hanya perkataan saja," sahut Felly dengan kesal yang langsung pergi. Aditya terlihat panik dan langsung menyusul Felly.


" Hey, mau kemana?" tanya Aditya memegang pundak Felly.

__ADS_1


" Kamu kerjakan saja sendiri. Aku tidak mau mengganggumu," sahut Felly tampak kesal dengan Aditya yang masih tidak mempercayainya.


Aditya membuang napasnya perlahan dan langsung memegang tangan Felly mengajak Felly mendekati tempat di mana dia tadi sedang serius. Aditya menarik kursi dan mendudukkan Felly. Lalu Aditya duduk di samping Felly membuka kembali laptop dan mendekatkan pada Felly.


" Aku sedang memeriksa email masuk dari Laura," ucap Aditya yang tampaknya tidak ingin rahasia-rahasia dengan Felly yang membuat Felly tersenyum.


" Kenapa tersenyum. Bukannya kamu ingin tau apa yang aku kerjakan," sahut Aditya. Felly mengangguk-angguk. Aditya mendekatkan kepalanya dengan Felly sehingga kepala itu bersentuhan dan melihat kelayar laptop.


" Lihatlah, baik-baik, apa yang di kirim Laura," ucap Aditya Felly mengangguk.


" Apa ini?" tanya Felly.


" Ini data-data yang sudah di siapkan Laura kemarin. Dokumen yang sudah di cirinya dari ruang kerja Damar. Beberapa informasi yang memperkuat bukti untuk membebaskan papa mu," jelas Aditya.


" Hmmm, jadi Laura kemarin sewaktu di kejar Damar itu karena Laura masuk Keruangannya?" tanya Felly. Aditya mengangguk.


" Apa itu juga. Mengapa ada Tante Lusi di pesta itu?" tebak Felly. Aditya kembali mengangguk.


" Dan kamu menahanku karena takut aku jadi pengacau. Karena aku sudah 2 kali menggagalkan rencanamu," sahut Felly dengan wajah senduhnya penuh pengelasan. Aditya tersenyum dengan menyinggirkan anak rambut Felly di wajah cantik itu.


" Aku tidak mengatakan itu," sahut Aditya.


" Tapi itu kenyataan di mana aku sudah menggalakan rencanamu. Aku mengambil file itu. Dan malah menghilangkannya. Lalu gara-gara aku di culik rencana kamu juga gagal lagi menyerahkan dokumen itu pada kakek. Padahal semua yang kamu lakukan hanya untuk kebebasan papa," sahut Felly merasa bersalah pada Aditya.


" Aku tidak menyalahkan mu untuk semua itu. Aku yang salah karena bermain banyak rahasia kepadamu," sahut Aditya mengakui itu kesalahannya.


" Felly, mulai sekarang aku benar-benar tidak akan merahasiakan apapun kepadamu. Aku akan berbagi semuanya. Karena tidak ada yang perlu aku rahasiakan. Kamu adalah istriku dan kamu harus tau sedetail apapun yang kukerjakan. Aku akan melibatkan mu untuk urusan semuanya dengan catatan kamu jangan gegabah dan jangan ceroboh," ucap Aditya sambil terus memebelai-belai rambut Felly.


" Kamu mengerti?" tanya Aditya menekankan. Felly mengangguk dengan cepat.


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2