
Aditya dan Felly masih rebutan gagang pisau. Mungkin Felly yang kuat sudah benar-benar hancur. Dia juga manusia yang mempunyai batas kesabaran. Dia juga lemah dan lelah dengan semuanya.
" Felly, sadarlah Felly, kamu tidak bisa melakukan ini sadarlah Felly," Aditya terus membujuk wanita kesetanan itu dengan berusaha mengambil pisau itu dari Felly.
Karena jika dia lengah sedikit saja. Felly benar-benar akan berakhir dan Aditya tidak bisa membayangkan hal itu. Karena Felly yang di penuhi emosi dan juga iblis yang sudah masuk dan tidak bisa mengendalikan dirinya Aditya terpaksa memegang mata pisau untuk meraih pisau itu dari Felly.
" Shhhhhh," suara sayatan terdengar saat Aditya memegang mata pisau dan Felly masih memegang gagang pisau.
Felly schok melihat tetesan darah di lantai. Karena luka Aditya. Akibat pisau yang di pegangnya.
" Lepaskan tanganmu!" ucap Felly melihat Aditya dengan matanya yang memerah. Sementara Aditya tetap memegang mata pisau yang jika di tari Felly akan terjadi sayatan lagi.
" Kamu yang melepaskannya," sahut Aditya yang tidak mungkin membiarkan Felly memegang pisau itu.
" Aku tidak peduli dengan mu Aditya. Jika kau tidak melepaskannya. Maka akan kutarik," teriak Felly dengan suaranya bergetar memberikan ancaman.
" Jika hal itu membuat mu lebih baik, maka lakukan," sahut Aditya dengan suara serak yang menahan sakit. Dan mata Felly melihat darah yang semakin banyak berceceran di lantai.
" Lepaskan Felly. Kamu jangan menyakiti diri kamu sendiri," ucap Aditya dengan lembut membujuk Felly.
" Lalu siapa yang boleh menyakitiku kamu. Kamu yang boleh menyakitiku. Iya hanya kamu yang boleh menghancurkan ku iya," teriak Felly degan suara tangisnya.
" Ahhhhh," teriak Felly, yang akhirnya melepaskan pisau itu dari tangannya. Karena cinta di dalam sana membuatnya tidak bisa menyakiti Aditya. Itu terlalu sakit untuknya. Aditya bernapas lega saat berhasil menggagalkan Felly untuk melakukan percobaan bunuh diri.
Felly duduk di sisi ranjang dengan mengusap wajahnya kasar dengan menunduk menutup wajah dengan kedua tangannya yang menangis terisak yang penuh kehancuran yang kehilangan segalanya. Sebenarnya dia masih sakit.
__ADS_1
Perutnya juga sakit tetapi semua itu hilang karena sakit hatinya yang sangat besar. Dia terlalu sakit dengan semua yang terjadi dan Aditya berdiri di depan Felly hanya diam tanpa bicara apa-apa. Dia tau apa yang di katakannya pasti salah untuk Felly.
Felly mengangkat kepalanya menatap tajam Aditya. Felly mengusap air matanya.
" Ceraikan aku," ucap Felly tiba-tiba membuat Aditya kaget mendengarnya. Aditya sampai melebarkan matanya melihat wanita itu.
" Felly!" lirih Aditya dengan suara beratnya mendengar kata cerai dari Felly.
" Aku jelas masih mengingat apa yang kamu katakan beberapa hari lalu. Jika aku hanya istri kontrak karena ada janinmu yang tumbuh di dalam rahimku dan pernikahan itu ada dan akan berakhir jika janin itu sudah tidak ada. Jadi akhiri kontraknya. Ceraikan aku karena aku sudah tidak ingin terikat apa-apa lagi denganmu," tegas Felly menekan suaranya yang mengambil keputusan untuk berpisah karena tidak sanggup menahan penderitaan lagi.
" Aku tidak akan melakukannya," sahut Aditya yang tidak mungkin menceraikan Felly. Felly bangkit dari tempat duduknya berdiri di depan Aditya.
" Apa lagi yang kamu inginkan dariku Aditya. Apa kamu belum puas menghancurkan hidupku. Aku sudah kehilangan semuanya. Apa kamu masih belum puas. Sampai kapan kamu akan menjadikan ku alat untuk balas dendammu," teriak Felly tepat di wajah Aditya. Aditya diam tanpa menjawab.
Karena memang pada kenyataannya dia yang sudah mengatakan hal itu kepada Felly. Felly menyibak kasar rambutnya kebelakang dan dengan frustasi dengan semua yang terjadi Felly melangkah mendekati nakas dan membuka laci mengambil dokumen bersampul merah lalu mendekati Aditya lagi.
Aditya mengambilnya dari tangan Felly dan langsung merobeknya di depan Felly dan membuat Felly kaget.
" Apa yang kamu lakukan Aditya?" tanya Felly terkejut.
" Tidak Felly, aku membiarkanmu pergi dari sisiku. Tidak akan. Aku tidak akan pernah menceraikanmu. Kontrak itu tidak berati apa-apa. Pernikahan kita terdaftar dalam agama dan hukum. Jadi kontrak itu tidak berpengaruh," tegas Aditya.
Plakkkkkkk.
Felly kembali menampar Aditya dengan kuat dan Aditya menerima saja tamparan yang pantas di dapatkannya.
__ADS_1
" Apa lagi yang kamu inginkan dariku. Kamu ingin membuatku seperti apa lagi Aditya. Apa semuanya belum cukup. Aku tidak tau ada apa dengan semua masa lalu mu dan juga keluargamu. Tapi kau menyeretku masuk kedalam kehidupanmu. Aku cukup bersabar dan bertahan hanya untuk bayi di dalam kandunganku. Aku mengalah banyak hal. Tetapi kau tidak pernah memahami bagaimana perasaanku," teriak Felly.
" Hanya karena sebuah diary, memarahi ku. kau mengacuhkan ku. Kau mengatakan degan seenakmu jika aku hanya alat balas dendam. Kau mempermainkan perasaanku. Kau memilih pergi berasa wanita itu. Dan kau juga sudah membunuh bayiku," teriak Felly yang kembali histeris dan Aditya mendengarnya hanya memejamkan matanya.
Saat Felly mengatakan dia adalah pembunuh bayinya. Aditya seakan terasa sakit dan merasa tidak berguna karena tidak bisa melakukan apa-apa dan memang benar dia adalah pembunuh.
" Apa lagi Aditya, apalagi yang kau inginkan. Aku capek Aditya aku capek," ujarnya menekan suaranya yang benar lelah dengan kehidupannya.
" Kau menghentikanku untuk menyakiti diriku sendiri. Karena cuma kau yang bisa melakukannya. Hanya kau yang boleh menyakitiku. Apa salahku Aditya. Apakah dengan mengenal Damar aku harus menanggung semuanya. Apa aku ada di saat kejadian keluargamu. Sampai kau benar-benar menyiksaku seperti ini. Aditya semuanya terasa sakit. Kau tidak betapa hancurnya hidupku. Sakit Aditya semuanya sangat menyakitkan," ucap Felly menangis terisak-isak.
" Kau sudah memilih pergi dan meninggalkanku. Jadi tinggalkan aku sekarang, bebaskan aku dari hidupmu," teriak Felly. Aditya diam tanpa bisa merespon ucapan Felly.
" Kau sangat kejam, kau bukan manusia, kau bukan manusia," umpat Felly memukul-mukul dada Aditya dengan ke-2 tangannya.
" Aku tidak bersalah Aditya aku tidak bersalah Aditya. Kenapa harus aku yang menanggung semuanya. Kenapa harus aku. Aku tidak ada di sana. Lalu kenapa kau haru membuatku untuk menanggung semuanya kenapa Aditya, kenapa?" Felly terus memukul Aditya dengan bertanya-tanya tanpa mendapat jawaban dari Aditya dan Aditya meneteskan air matanya ketika tidak bisa menjawab pertanyaan dari Felly.
" Lepaskan aku Aditya. Aku mohon lepaskan aku. Aku mohon Aditya lepaskan aku. Lepaskan aku Aditya. Lepaskan aku. Lepaskan aku. Lepaskan aku. Kembalikan hidupku, kembalikan hidupku. Aku mohon kembalikan hidupku Aditya. Aku mohon," ucap Felly dengan suaranya yang terdengar begitu lemah, begitu lelah dan benar-benar putus asa tangannya yang memukul-mukul dada itu semakin lama semakin pelan. Begitu juga suaranya yang semakin lama semakin hilang.
" Lepaskan aku!" ucapnya dengan suara pelan dan akhirnya melemah dan pingsan dan untuk Aditya cepat menangkapnya dan Felly tidak sadarkan diri di pelukannya.
" Felly, Felly, bangun," ucap Aditya yang terduduk bersama Felly di pangkuannya dan melihat wajah itu memucat dengan air mata yang masih mengalir dari kelopak mata itu.
" Felly, maafkan aku, bangun Felly," ucap Aditya membangunkan Felly yang mungkin sudah begitu lemah berteriak-teriak dan akhirnya tidak sadarkan diri. Aditya pun memeluknya, walau tidak sadarkan diri. Aditya bisa merasakan tubuhnya Felly yang begitu bergetar.
" Kamu pantas membenciku, ini semua memang salahku. Aku yang salah aku yang bersalah. Maafkan aku Felly, maafkan aku Felly. Tidak seharusnya aku menghancurkan hidupmu. Maafkan aku Felly," ucap Aditya yang terus memeluk Felly yang tidak sadarkan diri dengan tangan Aditya yang masih berdarah dan juga matanya beberapa kali menetes air mata.
__ADS_1
Bersambung