
Polisi yang tadi mengantarkan Rebecca kedalam ruangan yang di isi 9 Pria. Sekarang sedang berada di parkiran dan mengetuk jendela kaca mobil.
Pintu mobil pun terbuka dan Polisi tersebut langsung masuk dan duduk dan menoleh ke sampingnya yang ternyata adalah Baskoro.
" Apa semuanya lancar," ucap Baskoro.
" Iya, aku sudah melakukan yang kau mau," ucap polisi tersebut.
" Baguslah!" sahut Baskoro dengan wajah datarnya dan membuka laci mobilnya dan dan mengambil amplop coklat yang begitu tebal.
" Ambilah," ucap Baskoro. Polisi tersebut mengambilnya, memasukkan kedalam jaketnya.
" Aku pergi," ucap pamit polisi tersebut. Baskoro mengangguk dan polisi tersebutpun langsung pergi.
" Rebecca, kau sudah mengancurkan hidup Elia. Apa yang kau dapatkan malam ini. Tidak sebanding dengan Elia. Aditya mungkin tidak berbuat sejauh itu. Karena untuknya. Maka aku yang akan melanjutkannya memberimu pelajaran yang setimpal," batin Baskoro dengan mengepal tangannya, wajahnya yang memerah yang penuh amarah.
Baskoro memang bekerja sama dengan seorang yang di percayanya untuk membawa Rebecca. Baskoro seakan ingin membalaskan apa yang terjadi pada putrinya.
Matanya jelas melihat apa yang terjadi pada Elia dan semua karena perbuatan Rebecca dan Baskoro membalaskan semuanya. Jika Elia di perkosa 3 Pria maka Rebecca 3 kali lipat mengalaminya dan bahkan lebih parah dari apa yang di dapatkan Elia.
Walau Baskoro menyadari apa yang di lakukannya tidak akan mengubah apapun. Tetapi jelas dia melakukan semuanya untuk Elia. Alih-alih berguna untuk anak perempuannya.
**********
" Tidakkkk," teriakan keras Rebecca yang tak berarti apa-apa. Saat dirinya di jadikan pemuas nafsu oleh 9 Pria yang tidak peduli dengan Rebecca yang berteriak atau memberontak.
Tampaknya apa yang terjadi pada Rebecca sampai pada Damar. Damar yang masih berada di rumah Laura yang tertidur namun mengingau yang memanggil-manggil mama dengan wajahnya yang di penuhi keringat dan kepalanya yang miring ke kiri dan kekanan.
" Mama, mama, mama," lirih Damar dengan napasnya yang sesak yang terus memanggil nama mamanya. Damar seperti orang yang di kejar-kejar begitu lemas dan terlihat sangat lelah.
__ADS_1
Laura yang memasuki kamar dan melihat Damar yang tidur dengan resah membuatnya langsung menghampiri Damar.
" Damar, kamu kenapa? Damar, kamu kenapa, bangunlah Damar. Bangun!" ucap Laura yang duduk di samping Damar yang mencoba membangunkan Damar.
" Damar!" Damar," Laura terus membangunkan Damar dengan memegang pipi Damar dan melap keringat itu.
" Maaaaa!" teriak Damar langsung membuka matanya yang layaknya seperti orang tersentak.
" Kamu kenapa?" tanya Laura terlihat panik. Damar mengusap wajahnya dan napasnya masih tersenggal-senggal. Laura pun mengambil air putih dan membantu Damar untuk duduk.
" Kamu minum dulu!" ucap Laura memberikan Damar minum dan Damar masih mengatur napasnya.
" Kamu baik-baik saja?" tanya Laura lembut sembari mengusap keringat Damar yang begitu banyak dan Damar langsung memeluknya erat.
" Aku tidak baik-baik saja," sahut Damar dengan suara bergetar. Laura juga bisa merasakan tubuh Damar yang mengigil.
" Iya. Aku merasa ada sesuatu terjadi pada mama," ucap Damar yang kesulitan bernapas.
" Ya sudah besok kamu kekantor polisi saja. Kamu coba lihat mama kamu. Kamu cek keadaannya," ucap Laura memberi saran.
" Iya kamu benar, aku akan melihat mama besok," ucap Damar setuju dengan pendapat Laura.
" Ya sudah kamu istirahat lagi," ucap Laura yang menatap Damar. Damar menganggukkan matanya. Laura pun membantu Damar kembali berbaring dan Laura menyelimuti Damar.
" Istirahatlah!" ucap Laura. Damar hanya menganggukkan matanya. Lalu perlahan memejamkan matanya dan Laura pun meninggalkan Damar. Dia tidak ingin mengganggu istirahat Damar.
*********
1 Minggu kemudian.
__ADS_1
..." Pemirsa di temukan 2 Pria Wiliam dan Heriyawan yang tewas bersimbah darah. Di mana terdakwah Hariyanto dan William di temukan tewas di dalam sel tahanan. Mereka di temukan tewas bersimbah darah dengan luka tembak di kepala masing-masing. Sebelum tewasnya 2 terdakwah tersebut. Banyak dugaan ke-2nya sempat saling serang karena terdapat banyak luka di tubuh masing-masing. Polisi masih menyelidiki motif tewasnya 2 terdakwah Wiliam dan Heriyawan tersebut. Sebelumnya 2 tersangka ini akan sudah di vonis hukum mati. Tidak tau apa yang terjadi sampai akhirnya 2 terdakwah tersebut di temukan tewas. Terus bersama kami, kami akan memberikan informasi selanjutnya," ucap pembawa berita dengan tutur kata yang lancar....
Aditya berdiri di depan telivisi menyaksikan berita tersebut dia juga melihat kelanjutan berita yang berada di TKP yang mana 2 mayat itu sedang di masukkan ke dalam kantung mayat.
" Aku tidak perlu mengotori tanganku untuk menghabisi mereka. Mereka sudah berakhir tragis sesuai dengan kemauanku," desis Aditya.
Felly melihat Aditya yang berdiri serius di depan televisi. Lalu Felly menghampiri suaminya, menggengam tangan suaminya yang menggantung, Aditya menoleh kearah Felly dan memeluk Felly.
" Apa itu sudah cukup?" tanya Felly. Aditya mengangguk.
" Aku merasa cukup. Walau seharunya aku yang melakukannya. Mungkin aku lebih puas jika mati di tanganku," ucap Aditya.
" Mungkin ini jalan Aditya. Untuk kamu tidak perlu membalas mereka. Karena lihatlah kamu tidak perlu mengotori tanganku mereka sudah mendapatkan apa yang harusnya mereka dapatkan," ucap Felly.
" Kamu benar Felly. Sekarang 3 orang itu benar-benar sudah pergi, mereka sudah di neraka dan tinggal mendapatkan hukuman dari perbuatan mereka. Aku merasa lega karena bisa memberi keadilan pada kak Elia," ucap Aditya dengan matanya berkaca-kaca. Felly melepas pelukannya dari suaminya dan memegang pipi Aditya menatap dalam-dalam suaminya itu.
" Setelah aku bersamamu. Aku hanya tidak ingin menjadi istrimu. Tapi aku juga ingin menjadi kakakmu, karena aku rasa kak Elia sangat beruntung memiliki adik sepertimu. Dia melakukan semuanya hanya untuk dia. Kak Elia pasti sangat bangga punya adik seperti kamu," ucap Felly dengan matanya bergenang.
" Apa aku sudah menjadi adik yang berguna?" tanya Aditya dengan meneteskan air matanya. Felly mengangguk tersenyum, mengusap air mata suaminya.
" Kamu orang yang paling berguna. Buka. hanya adik. Tapi kamu kakak, orang tua untuk kak Elia. Kamu sangat hebat Aditya. Usia kamu belum genap 15 tahun. Tetapi kamu bisa membawa kak Elia pergi, mengobatinya, bisa menjaganya, mengembalikan dia seperti awal. Kamu sangat hebat, sangat hebat," ucap Felly. Aditya mencium telapak tangan Felly yang di pipinya.
" Kamu yang hebat Felly, kamu mempunyai hati yang luar biasa. Kamu menerimaku yang jelas tidak pantas untukmu. Jadi kamu lah yang hebat," ucap Aditya. Felly tersenyum dengan penuh keharuan dan memeluk Aditya dengan erat.
" Semuanya sudah berakhir Aditya. Mari hidup tenang tanpa beban dan juga dendam," ucap Felly.
" Iya Felly, aku ingin hidup terus bersamamu," sahut Aditya yang memeluk erat Istrinya.
Bersambung
__ADS_1