
Persidangan semakin berlanjut dan Damar semakin takut. Jika dirinya akan di penjara. Karena jelas beberapa membuktikan dia sangat terlibat.
" Ini juga beberapa bukti yang kami miliki," sahut tuan Mark lagi yang sedari tadi memberikan banyak bukti.
" Di sana terlihat jelas bagaimana tuan Damar telah melakukan kejurangan dalam bisnisnya, yang menyebabkan tuan Anderson mengalami skandal korupsi," lanjut tuan Mark.
Hakim melihat bukti-bukti yang di berikan tuan Mark, seakan mengamati apa yang terlihat.
" Sebentar Pak, Mark. Ini hanya sebuah kesalahan. Sebelumnya Pak Damar klien kami bekerja sama dengan tuan William yang kebetulan adalah pengacara tuan Anderson dulu dan tuan Wiliam yang memberikan informasi dan sama sekali tuan Damar tidak tau apa-apa dan dan hanya menandatangani apa yang di berikan tuan Wiliam," sahut pengacara Damar.
William mendengarnya kaget. Ketika namanya di bawa-bawa dan bahkan terkesan di seret dalam masalah serius ini.
" Bukan begitu Anderson, bahwa tuan William, adalah kepercayaan anda dan telah menghiyanati Anda!" tanya Pengacara Rebeca.
" Benar, dia adalah kepercayaan saya dan banyak dokumen perusahaan saya ada di tangannya. Dan masalah kasus korupsi saya dia yang menanganinya dan membuat saya yang awalanya hanya korban lalu menjadi tersangka," jawab Anderson memang benar apa adanya. William mengepal tangannya ketika dia di jadikan kambing hitam.
" Ini bukti-buktinya. Bukti dalam kasus korupsi tersebut. Jika tuan William yang ikut di dalamnya," sahut pengacara Damar membuat William semakin kaget dengan melihat ke arah Rebecca yang tampak santai.
" Sial, mereka benar-benar mempermainkanku," batin Wiliam yang baru menyadari jika dia telah di jadikan kambing hitam yang sesungguhnya untuk menutupi kesalahan Damar.
Aditya mendengar hal itu menyunggingkan senyumnya.
" Benar-benar licik. Persiapan mereka jauh lebih hebat. Tidak apa-apa. Biarkan mereka saling menyerang agar bisa masuk dengan cara bersamaan," batin Aditya yang sudah menebak kemana arah persidangan ini.
" Persidangan di lanjutkan setelah makan siang," sahut hakim yang menghentikan persidangan pertama. Dan hakim langsung pergi meninggalkan persidangan dan beberapa orang lainnya juga mulai meninggalkannya.
" Apa kita akan menang?" tanya Felly khawatir.
" Iya, kita akan menang, kamu jangan khawatir," jawab Aditya yakin yang menggengam tangan Felly erat. Felly mengangguk yang merasa sedikit lega. Aditya menoleh ke arah kelompok lawan yang tampak panik di sana.
*********
__ADS_1
Rebecca dan Wiliam mencari tempat sepi untuk bicara. Terlihat Wiliam yang tampak emosi berbicara dengan Rebecca.
" Apa maksud mu Rebecca dengan semua ini. Kau ingin memenjarakanku?" tanya Wiliam.
" Kenapa menyalahkanku. Aku sudah mengatakan Aditya tidak bisa di anggap main-main. Lagian itu kebodohanmu sendiri. Kau yang terlalu ceroboh dan terima saja keputusan hakim," sahut Rebecca dengan santai.
" Kau menjebakku Rebecca. Pertama kau dengan licik membersihkan namamu dan kau juga menyeretku dalam kasus korupsi itu," sahut Wiliam dengan emosinya.
" Aku tidak menyeretmu, memang pada kenyataannya kau yang yang korupsi dan menjadikan Anderson kambing hitamnya. Sehingga dia di penjara dan aku sama sekali tidak terlibat dalam masalah korupsi itu. Karena memang sesungguhnya karena kau yang tamak," tegas Rebecca.
" Tutup mulutmu. Asal kau tau. Aku melakukan pencurian dana itu dan memanipulasi semuanya. Supaya Anderson masuk penjara dan Perusahannnya menjadi milik Damar. Aku melakukannya untuk Damar," teriak William dengan menunjuk tepat di wajah Rebecca.
" Kalau begitu terima kasih untuk kebaikanmu. Tetapi Damar tidak menyuruhmu melakukan itu kau yang terlalu berlebihan memberikan apa yang di maunya," sahut Rebecca tersenyum licik.
" Kurang ajar kamu Rebecca. Beraninya kamu melakukan ini kepadaku," sahut Wiliam dengan matanya yang memerah.
" Santailah kau Wiliam, anggaplah ini pelajaran untukmu," sahut Rebeca dengan santai dan menepuk bahu William lalu pergi tanpa mempedulikan Damar.
" Rebecca!" panggil Wiliam. Tetapi Rebecca sama sekali tidak peduli dan tetap melanjutkan langkahnya.
Sementara Rebecca berjalan dengan santainya.
" Semuanya benar-benar akan selesai. Damar dan aku akan menjadi aman maaf William kamu harus menanggung semuanya," batin Rebecca dengan santainya.
**********
Waktu persidangan tahap ke-2 di mulai. Semuanya sudah berkumpul dan hakim juga sudah memasuki tempat persidangan dan persidangan pun di mulai kembali.
Suasana di dalam persidangan semakin tegang. Di mana William benar-benar di jadikan kambing hitam.
" Sudah jelas pak hakim. Bahwa Pak Damar sama sekali tidak terlibat dalam kasus korupsi tersebut," sahut pengacara Damar. Hakim terlihat berdiskusi dengan para orang di kiri dan kanannya.
__ADS_1
" Aditya apa itu artinya Damar tidak akan bersalah dalam hal ini," ucap Felly yang tampak panik.
" Kamu tenanglah Felly, orang seperti mereka sangat licik. Mereka tidak bisa di serang secara bersamaan. Jadi biarkan mereka yang saling menyerang," ucap Aditya yang membuat Felly heran.
" Tunggu dulu!" sahut William yang berdiri yang sepertinya ingin buka suara.
" Kurang ajar, apa lagi mau anak ini," batin Rebecca terlihat kesal. Namun Aditya tersenyum tipis yang melihat drama semakin panjang.
" Penandatanganan itu memang saya yang memberikan kepada tuan Damar. Tetapi untuk mengalihkan perusaahan tuan Damar tidak mendapatkannya sendiri. Tetapi memang memanfaatkan situasi untuk mengambil alih dari Anderson dengan berupa ancaman," sahut Wiliam yang membuat Damar kaget dan Rebecca juga kaget.
" Tutup mulutmu Wiliam, kau tidak punya bukti," sahut Rebecca panik.
" Saya memiliki bukti," sahut William.
" Bukankah itu perlu pak hakim, Wiliam hanya mencari pembelaan," sahut pengacara Damar.
" Tidak ada salah pak hakim, untuk memberikannya kesempatan," sahut Mark. Hakim terlihat berdiskusi kembali.
" Silahkan," sahut pak hakim memberikan kesempatan. Wiliam keluar dari bangkunya dan memberikan beberapa bukti yang ada di ponselnya. Membuat Damar dan Rebecca panik apa yang di berikan William.
Persidangan tetap di lanjutkan dengan ketenangan yang semakin memanas. Di mana yang sekarang saling menyerang adalah William dan 2 pengacara Rebecca.
" Hasil persidangan," sahut Pak hakim yang memberikan hasil keputusan sidang akhir yang membuat semuanya tegang.
" Berdasarkan semua bukti-bukti dan saksi. Anderson Danuarta dan Arya di nyatakan tidak bersalah dan bebas dalam masa tahan," ucap hakim membuat Felly tersenyum bernapas lega.
" Untuk William di nyatakan sebagai tersangka atas pemalsuan bukti dan keterlibatan jelas dalam kasus korupsi.
" Perusahaan Mitra Erlain di cabut kepemilikannya dan di serahkan kembali kepada tuan Anderson dan tuan Damar di nyatakan bersalah karena beberapa suap dan pencucian uang dan tuan Damar akan mengikuti proses hukum selanjutnya dan perusaahan Mitra Erlain harus membayar denda pada Anderson sebesar 283 Triliun untuk kerugiannya beserta membayar masa tahanan selama 5 tahun sebesar 128 miliar,"
Tok-tok-tok-tok
__ADS_1
Ketuk palu hakim pertanda berakhirnya persidangan dengan keputusan seadil-adilnya.
Bersambung