Pria Kejam Yang Merampas Kehormatan Ku.

Pria Kejam Yang Merampas Kehormatan Ku.
Epis 189 perlawanan.


__ADS_3

Rebecca tidak percaya jika Felly tersadar dan Felly juga mendengar dan mengetahui semuanya yang membuat Rebecca jelas takut. Karena Felly bisa saja mengadu pada Harison karena Harison sangat mempercayai Felly.


" Apa yang kau pikirkan Rebecca," ucap Felly.


" Gadis bodoh. Bagus jika kau akhirnya tau siapa aku. Tapi semua sia-sia. Karena kau hanya akan mati di dalam gudang ini dan tetap aku yang akan menjadi pemenangnya," sahut Rebecca dengan sini dan Felly tersenyum mendengarnya.


" Apa kau yakin kau bisa membunuhku," sahut Felly menantang. Rebecca mengepal tangannya mendengar kata-kata Felly.


" Anak bodoh, lepaskan kakiku. Lepaskan! ucap Rebeca menggerak-gerakkan kakinya agar terlepas oleh Felly. Tetapi Felly tetap memegang kuat bahkan menarik sehingga Rebecca tersungkur kelantai.


" Auhhhh," lirih Rebecca yang kesakitan saat tersungkur karena perbuatan Felly. Rebecca menoleh kebawahnya dan melihat Felly.


" Kau mau kemana. Aku tidak akan membiarkanmu pergi begitu saja," sahut Felly dengan terus menarik kaki Rebecca.


" Anak kurang ajar," geram Rebecca yang tetap ingin meloloskan diri dengan menarik kakinya dari tarikan Felly yang juga sudah telungkup menarik kaki Rebecca.


Mereka berdua saling tarik menarik-narik, karena Felly memang tidak akan membiarkan rencana Rebecca berhasil begitu saja.


Sementara di luar Aditya sudah berada di depan gedung tua itu dengan memegang selembar dokumen penting yang pasti di jadikan bahan barter istrinya.


Lama berdiri dengan penuh kegelisahan dan kekhawatiran. Akhirnya William dan Leon keluar dari gedung itu tanpa ada Rebecca karena memang Rebecca tidak mungkin menunjukkan dirinya.


Karena masih merasa jika Aditya tidak mengetahui dia di balik semuanya. Tetapi jelas Aditya tau dia yang di balik penculikan istrinya.


2 pria itu melangkah mendekati Aditya dengan langkah santai dan wajah yang tanpa dosa. Sementara Aditya yang berdiri tegak sudah mengepal tangannya dengan geram.


Karena jelas dia seperti pengecut yang tidak bisa melakukan apa-apa saat 2 orang yang merusak kehidupan kakaknya berada di depannya yang padahal jelas dia ingin membunuh orang itu.


" Aditya kau ternyata benar-benar sudah dewasa," sahut Wiliam yang tersenyum miring. Senyum ejekan pada laki-laki tersebut.


" tutup mulutmu katakan di mana istriku," sahut Aditya dengan geram yang tidak mau basa-basi dengan 2 orang itu.


" Tenang Aditya. Kami menjaga istrimu dengan baik. Kami juga menjaga hasrat kami agar tidak menyentuhnya walau jujur, kami benar-benar tergila-gila kepadanya, dan jelas ingin bersentuhan," sahut Leon dengan menyunggingkan senyumnya. Perkataan Leon membuat darah tinggi Aditya semakin naik.


" Jika kalian ber-2 masih bicara. Aku benar-benar akan merobek mulut kalian ber-2," tegas Aditya yang mengepal tangannya.


" Tenang Aditya kamu tenanglah. Jangan langsung emosian Aditya tenanglah Aditya," sahut Wiliam dengan santainya.


" Sekarang katakan di mana Felly. Cepat katakan. Jangan banyak cerita," sahut Aditya dengan geram.

__ADS_1


" Tenang dia ada di dalam. Serahkan dokumen itu. Maka kami akan melepaskannya," sahut Leon yang langsung ingin tukaran dengan mata Leon yang jatuh pada dokumen yang di pegang Aditya.


" Bawa dia kemari," sahut Aditya yang pasti tidak bodoh dan tidak mungkin percaya begitu saja.


" Sial, apa Rebecca sudah pergi dari sana. Jika Felly di bawa kemari sama saja gedung itu tidak di ledakkan dan Aditya tidak akan mati," batin Leon yang malah kepanikan sendiri.


" Kenapa kau diam saja. Cepat bawa Felly kemari," sahut Aditya dengan menegaskan.


" Aditya serahkan dokumen itu dulu dan bawa sendiri istrimu, dari dalam sana," sahut Leon.


" Bagaimana mungkin aku percaya dengan kata-kata mu," sahut Aditya yang tidak mudah percaya.


" Terserah jika kau tidak percaya. Tetapi kami juga tidak akan percaya jika omongan mu juga bisa di percaya," sahut William. Aditya megendus dan terlihat menggosok hidungnya.


" Semuanya siapa," lirih Aditya dengan pelan ternyata cincin yang di pakai Aditya memiliki audio suara yang langsung terhubung dengan Bion dan Laura yang berada di dalam mobil.


" Baiklah," sahut Bion. Dan melihat ke arah Laura yang berada di dalam mobil. Dan Laura menggangguk dan langsung menghidupkan HT.


" Semua siap-siap. Terima kode selanjutnya," ucap Laura yang memberikan arahan pada anak buah yang lainnya.


" Ya sudah Laura, aku kesana dulu. Kamu tunggu di mobil dan bersiap-siap jika ada sesuatu dan jangan lupa pakai topengku," ucap Bion memberikan arahan.


" Baiklah, aku akan menunggu di sini," sahut Laura. Bion langsung keluar untuk menjalankan misi. Laura memang tidak ikut dan hanya berjaga-jaga. Karena juga takut penyamarannya akan terbongkar oleh Rebecca dan pasti Laura tidak akan bisa lagi membantu Aditya.


" Ambillah!" ucap Aditya menyerahkan. Leon dan William saling melihat dan tangan Leon langsung memegang ujung dokumen itu dan


Aditya langsung menendang perut Leon, sehingga Leon langsung jatuh dan William melihat hal itu langsung menyerang Aditya dan dan Aditya mengelak dan meninju wajah William. Hal yang seharusnya di lakukan sejak tadi.


" Brengsek," geram William yang kembali menyerang Aditya dan Leon juga bangkit dan langsung baku hantam dengan Aditya.


Baru beberapa detik, anak buah Leon berkeliaran dan langsung menyerang Aditya. Tetapi tidak lama dari situ anak buah Aditya pun langsung datang dan melakukan penyerangan dan akhirnya terjadi perang besar-besaran di mana Aditya berkelahi melawan Leon dan William.


" Aku harus menyelamatkan Felly," batin Aditya yang mengincar masuk kedalam gedung itu di tengah Leon dan William yang melawannya.


" Sial, dia benar-benar tidak bisa di anggap main-main. Di mana Rebecca. Apa dia sudah keluar," batin Leon yang kewalahan melawan Aditya dan berusaha mengambil dokumen yang masih di pegang Aditya.


Perkelahian terjadi di luar ternyata sama dengan di dalam di mana Rebecca dan Felly juga saling menyerang. Bahkan Rebecca dan Felly sama-sama mencekik leher lawan masing-masing dan keadaan duduk.


" Apa kau ingin melawanku," ucap Rebecca dengan kuat mencekik leher Felly dengan yang Felly bersandar di dingding.

__ADS_1


" Aku tidak pernah takut kepadamu," sahut Felly yang kesulitan bicara yang juga tidak kalah mencekik leher Rebecca.


" Anak sialan!" geram Rebecca yang membenturkan kepala Felly kedingding dan Felly melihat ada kayu di sampingnya dan langsung mengambilnha dan membalasnya dengan memukul kepala Rebecca dengan kayu.


" Auhhhh," lirih Rebecca yang langsung melepas cekekinnya dari Felly Rebecca melihat darah menetes di kelopak matanya dan membuat Felly tersenyum miring.


" Anak sialan!" Plakkk. Rebecca langsung menampar Felly dengan kuat sampai wajah itu miring kesamping dengan wajahnya yang tertutup rambutnya. Dan Felly langsung membalas dengan menendang Rebecca sampai Rebeca menjauh dari nya.


" Kau yang sialan, kau yang kurang ajar," sahut Felly yang benar-benar tidak takut dengan Rebecca.


Dia juga tau kalau dia akan mati. Jadi tidak ada yang perlu di tahannya lagi dan Rebecca melotot sampai matanya ingin keluar melihat Felly yang terus membalas serangannya.


" Aku tidak bisa di sini terus sebaiknya aku pergi. Felly haru mati tempat ini harus di ledakkan," batin Rebecca yang kepanikan karena melihat situasi Felly yang benar-benar tidak takut apapun dan Rebeca langsung berdiri dan tidak sempat melangkah Felly kembali menarik kakinya dan Rebecca kembali tersungkur.


" Kau tidak akan bisa pergi," ucap Felly sinis.


" Lepaskan kakiku, lepaskan," sahut Rebecca yang berusaha meloloskan dirinya dengan menarik kakinya dari cengkraman tangan Felly yang kuat. Jangan tanya pergelangan kaki Rebeca sudah penuh darah karena jelas Felly mencengkram dengan kukunya.


Rebecca yang ingin lolos dari cengkraman Felly mengambil tindakan dengan menendeng perut Felly.


" Aaaaaa," teriak Felly saat perutnya kesakitan dengan air matanya menetes. Dan perlahan cengkramannya semakin melonggar karena Rebecca tidak sekali menendang perutnya.


" Mampus kamu! tau rasa kamu," ucap Rebecca yang penuh kemarahan yang terus melakukan hal itu dan akhirnya Felly yang terkalahkan dan terduduk lemas bersandar di dingding dengan memegang perutnya yang terasa perih.


" Tau rasa kau!" ucap Rebecca yang sudah berdiri dan dengan tertatih-tatih melangkah pergi dari tempat itu.


" Kau tidak akan bisa hidup," sahut Felly dengan suara lemasnya membuat Rebecca menengok kebelakang dan melihat Felly memegang alat peledak yang ada padanya.


" Jika aku memencet tombol ini. Maka kita akan mati bersama-sama," ucap Felly yang sudah Tidka berdaya tetapi masih bisa tersenyum.


" Jangan melakukan itu Felly, berikan kepadaku. Berikan kepadaku," ucap Rebecca membujuk Felly dengan wajahnya yang penuh kepanikan.


" Aku bahagia di akhir hidupku aku melihat wajahmu yang ketakutan seperti itu," ucap Felly yang tersenyum.


" Maafkan mama," lirih Felly dan langsung memencet tombol itu.


" Felly," teriak Rebecca.


Dorrrrrrr. Tempat itu pun akhirnya meledak. Dan orang-orang diluar bahkan terpelanting dengan kobaran api yang tiba-tiba ada dan gedung tua itu penuh dengan si jago merah.

__ADS_1


Bersambung........


...Buat para readers yang selalu setia. Kita akan up dengan normal ya. Jadi tetap dukung ya....


__ADS_2