
Setelah tangannya di berikan obat, Aditya terlihat sibuk dengan beberapa lembaran dokumen yang berserakan di meja yang ada di kamar itu dan Felly duduk di ranjang hanya melihat saja apa yang di lakukan Aditya.
" Sebelum pergi dari sini aku harus masuk kedalam Vaviliun itu dan aku bisa melihat apa yang kemarin di bawakan Laura," batin Felly yang mempunyai rencana.
Aditya menoleh kearah Felly dan Felly langsung menyibukkan dirinya pada ponselnya.
" Aku ke luar sebentar. Jangan keluar kamar. Aku hanya pergi sebentar, jadi tetaplah di kamar," ucap Aditya mengingatkan.
" Iya," jawab Felly mengangguk-angguk. Aditya tidak membuang waktunya dan langsung pergi keluar dari kamar setelah menyusun semua berkas-berkas itu.
Felly tidak tertarik untuk melihat berkas-berkas yang di kerjakan Aditya. Karena masih ada yang lebih penting baginya. Karena waktunya tidak banyak. Karena jika sudah kembali pulang tidak mungkin Felly Kerumah itu tanpa Aditya lagi.
Ada 10 menit Aditya keluar dari kamar, Felly langsung menyusul keluar dari kamar dan berjalan dengan buru-buru.
Sampai saatnya Felly melihat Laura yang berjalan dengan nampan yang di bawanya sekitar 12 meter darinya dengan cepat Felly mengambil ponselnya dan berjalan sambil melihat ponselnya. Berjalan tepat ber-arahan dengan Laura.
Tepat di depan Laura, Felly menyenggol Laura sampai bahu mereka saling bertabrakan dan membuat Laura terduduk dengan apa yang di bawanya jatuh kelantai semuanya.
" Maaf aku tidak sengaja," sahut Felly yang langsung berjongkok dan di depan Laura yang mencoba membantu Laura membereskan apa yang berjatuhan.
" Tidak apa-apa nona, biar saya saja," sahut Laura menghentikan Felly membantunya.
" Tidak apa-apa ini salahku," sahut Felly dengan suara merasa bersalah. Tetapi matanya melihat kunci yang jatuh di lantai dan dengan triknya Felly pun mendapat kan kunci itu.
" Ini pasti kuncinya," batin Felly.
" Nona, cukup biar saya saja," sahut Laura menghentikan Felly.
" Begitu, rupanya. Aku minta maaf sekali lagi," ucap Felly dengan penuh penyesalan.
" Tidak apa-apa nona, nona kembali saja kekamar, saya akan menyesuaikan ini," ucap Laura.
" Hmm, baiklah, kalau begitu. Tapi aku boleh minta tolong setelah kamu membereskan ini," ucap Felly.
" Iya apa," sahut Laura.
__ADS_1
" Aku ingin makan sate, kamu bisa membelikanku," ucap Felly yang sepertinya sengaja melakukan. Agar Laura tidak ada di rumah.
" Baiklah," sahut Laura tanpa masalah.
" Terima kasih, kalau begitu," ucap Felly. Laura mengangguk dan Felly pun langsung berdiri dan pergi setelah mendapatkan apa yang di ambilnya dari Laura.
*********
Setelah memastikan Laura pergi. Felly pun langsung cepat-cepat menuju Vaviliun tersebut. Setelah berada di depan Vaviliun itu. Felly melihat di sekitarnya apakah ada yang melihatnya atau tidak. Setelah memastikan aman.
Felly pun langsung membuka pintu dan langsung memasuki tempat itu. Ruangan itu layaknya seperti kamar yang ada tempat tidur besar dengan lukisan-lukisan yang yang mungkin memiliki arti tersendiri yang juga tidak di ketahui apa artinya.
Kamar itu tampak rapi, Felly melangkah mendekati meja yang banyak bertumpukan foto-foto yang terpajang cantik yang tak lain adalah foto-foto mamanya, Elia dan juga Aditya dan lagi-lagi foto Baskoro tidak ada dan seakan di sobek.
" Pasti tempat ini sangat penting untuk Aditya, makanya tidak boleh ada yang memasukinya dan Laura mungkin penting untuknya," batin Felly yang melihat foto-foto itu.
Kemarin sudah membaca buku diary sang mama yang memang belum lengkap di baca semua dan sekarang Felly melihat buku diary lagi yang melihat lembaran awalnya adalan milik Elia.
Tidak mungkin bisa membaca semuanya. Felly hanya mengambilnya dan tangannya pun dengan cepat mencari benda yang kemarin di lihatnya Laura menyimpannya.
" Apa isinya ini, kenapa harus di simpan di sini," batin Felly yang penasaran.
Tidak mungkin melihat di tempat itu. Walau ada laptop di sana. Felly yang penasaran hanya mengambilnya dan buru-buru keluar dari tempat itu. Sebelum Aditya atau Laura pulang dan melihatnya ada di ruangan itu.
Dengan tergesa-gesa. Felly pun keluar dari tempat itu, dengan melihat di sekelilingnya lagi dan memastikan aman. Lalu dia langsung pergi dari lokasi tersebut setelah mendapatkan apa yang di inginkannya.
***********
Aditya dan Felly pun akhirnya sudah pulang kembali Kerumah. Dan Aditya belakangan benar-benar sangat sibuk dengan urusannya yang pasti Felly tidak boleh tau. Dan Felly juga belum ada kesempatan untuk melihat isi file tersebut.
Malam hari Felly dan Aditya sama-sama berada di kamar seperti biasanya dan Felly sudah tertidur sementara Aditya belum dan masih sibuk dengan pekerjaannya. Yang pasti memang Aditya tidak ada hentinya-hentinya untuk bekerja.
Aditya mengambil ponselnya dan menelpon seseorang.
" Jangan lupa besok, datang tepat waktu dan ingat bawa file yang kau simpan. Ingat jangan gegabah, apa lagi ceroboh. Aku tidak suka pekerjaan yang sembarangan," ucap Aditya dalam telponnya dengan wajah yang serius.
__ADS_1
" Baiklah, kalau begitu, berhati-hati lah, besok, jangan sampai, Damar, Rebecca, dan Leon mencurigaimu," ucap Aditya memberi peringatan dan menutup telponnya dan menoleh ke arah Felly.
" Satu persatu masalah akan selesai. Janji ku pada ibumu akan terpenuhi. Papa akan bebas kembali dan selebihnya keluarga ku juga akan mendapatkan keadilan," ucap Aditya di dalam hatinya melihat ke arah Felly yang terlentang tidur dengan terlelap.
***********
Pagi hari kembali tiba. Sinarnya yang cerah membuat semuanya semangat untuk melakukan beberapa aktivitas. Tetapi tidak dengan Aditya yang sekarang marah-marah di depan Laura yang menunduk.
" Kenapa kau begitu bodoh sekali!" bentak Aditya dengan penuh emosi kepada Laura. Rahang kokohnya mengeras dan benar-benar ingin menerkam Laura. Sementara Bion yang juga ada di sana hanya diam saja.
" Aku tidak tau kalau file itu bisa hilang," sahut Laura dengan gugup yang pasti takut jika Aditya sudah marah-marah.
" Hanya menjaga itu saja. Kau tidak bisa. Aku sudah mengatakan berhati-hati," gertak Aditya lagi.
" Maaf Aditya, aku benar-benar teledor. Tetapi aku sudah menyimpannya di Vaviliun. Aku tidak tau kenapa bisa hilang," ucap Laura yang mencoba menjelaskan kepada Aditya agar tidak di marahi terus menerus.
" Itu sama saja. Itu semua terjadi. Karena kebodohanmu," gertak Aditya lagi yang sudah di penuhi amarah.
" Sial," desis Aditya mengusap wajahnya kasar dengan membalikkan badan nya yang mungkin jika Laura Pria akan melayangkan pukulan karena ketidak bejusannya dalam bekerja.
" Sekarang bagaimana lagi, semuanya benar-benar berantakan. Harapan satu-satunya benar-benar hilang," geram Aditya yang sudah tidak tau melakukan apa-apa lagi.
Dia memijat kepalanya dan langsung yang semakin berat dan kembali melihat ke arah Laura.
" Kau benar-benar tidak bejus," umpat Aditya lagi yang mau semarah apapun benda yang di perlukannya tidak akan mungkin muncul di hadapannya.
" Bion," ucap Aditya.
" Iya tuan," sahut Bion.
" Periksa semua cctv yang mengarah pada Vaviliun dan temukan siapa yang masuk kesana!" perintah Aditya.
" Baik tuan," sahut Bion yang langsung melaksanakan perintah Aditya.
" Dan kau, hubungi tuan Mark, dan laporkan apa yang kau lakukan," ucap Aditya dengan menekan suaranya. Laura yang sudah mendapat ocehan hanya mengangguk saja dan langsung melakukan pekerjaannya sebelum Aditya bertambah murka.
__ADS_1
Bersambung