
Aditya dan Felly sudah berada di dalam mobil. Felly yang duduk di samping Aditya sangat bingung. Dia tidak tau Aditya mengajak nya kemana.
Yang jelas dia merasa sudah sangat lama di perjalanan. Sampai matanya benar-benar mengantuk. Felly juga sudah mulai gelisah berada di dalam mobil.
" Kemana dia mengajakku, kenapa lama sekali sampai. Yang ada perutku tambah mual," batin Felly yang benar-benar sangat gelisah. Melihat di sekitar jalan yang sangat sunyi.
" Kita mau kemana?" tanya Felly akhirnya bertanya. Dari tadi dia memang diam. Karena malas bertanya. Yang pasti Aditya akan marah kalau di tanya. Seperti sekarang ini. Saat Felly bertanya. Aditya malah diam tanpa bicara apapun.
" Aku mual, perutku tidak enak. Kalau perjalananya sangat lama seperti ini yang ada aku semakin mual," ucap Felly yang mengeluhkan keadaannya. Aditya harus menoleh ke arah wanita yang sangat berisik.
" Kalau kabur saja sejauh mungkin perutmu tidak akan mual. Kau memang selalu banyak alasan. Kalau pergi bersamaku," sahut Aditya dengan sinis.
" Bukan begitu. Itu memang kenyataan. Kau bicara karena bukan kau yang hamil," cicit Felly pelan kesal dengan Aditya.
" Apa katamu," sahut Aditya dapat mendengar ocehan Felly.
" Aku sudah mengatakan perutku mual. Aku mau muntah. Eggeg, eeeek," belum sempat melanjutkan kata-katanya. Felly langsung menutup mulutnya. Dia benar-benar sangat mual.
" Isshhhh," desis Aditya langsung meminggirkan mobilnya.
" Turun kalau mau muntah! Mobilku akan kotor. Karena ulahmu," ucap Aditya yang tidak ingin mobilnya di kotori. Felly langsung membuka pintu mobil dan langsung keluar dari mobil.
" Dasar menyusahkan," cicit Aditya yang melihat dari kaca spion. Di mana dia melihat Felly yang terus mual-mual.
" Benar-benar," desis Aditya langsung keluar dari mobil.
Tidak tahan melihat Felly yang seperti itu membuatnya langsung keluar dari mobil dan langsung menghampiri Felly yang masih saja mual-mual.
" Bagaimana?" tanya Aditya ketus.
" Kau tidak melihat," sahut Felly lebih ketus lagi.
" Ya aku mana tau bagaiman," sahut Aditya kesal.
" Sebaiknya kau diam. Mendengarmu berbicara membuat perutku tambah mual," sahut Felly dengan ketus.
" Kau," geram Aditya. Salah sendiri orang hamil di tanya sana sini langsung kenal.sembut lah oleh Felly yang memang tulang sembur.
__ADS_1
Setelah mual-mual dan mengeluarkan isi perutnya. Felly kembali memasuki mobil begitupun dengan Aditya. Dia semakin lemah. Karena perutnya yang sudah kosong.
" Nih minum," Aditya dengan ketusnya memberikan Felly minuman botol yang sudah di bukakan botolnya. Felly langsung mengambilnya dan langsung meminumnya.
" Sebenarnya kau pernah kedokter apa tidak ?" tanya Aditya sinis.
" Apa urusanmu," sahut Felly dengan masa bodo.
" Kau masih bertanya apa urusanku. Kau lihat dirimu yang seperti ini. Kau sangat menyusahkan. Membuat repot," sahut Aditya marah-marah.
" Jika kau tau aku menyusahkan. Seharusnya kau tidak menjemputku. Aku juga tidak pernah ingin bersamamu. Aku ingin bebas darimu dan seharusnya kau memberiku kebebesan. Agar aku damai dan tidak merepotkanmu," sahut Felly.
" Jadi sebaiknya dari pada kau mengoceh tidak jelas dan merasa di repotkan. Kembalikan aku kepada orang tuaku. Maka masalahnya akan selesai," ucap Felly menekankan.
" Itu hanya khayalanmu saja. Karena aku tidak akan melakukannya. Kau akan tetap berada di di dalam genggamanku," jawab Aditya menekankan. Aditiya menarik gas mobilnya dan langsung melajukan.
Felly hanya bisa berdecak kesal. Karena apa yang di katakannya sama sekali tidak di pedulikan Aditya. Dan Aditya hanya mengacuhkannya.
*********
Ternyata perjalanan jauh itu berada di tempat kakanya. Aditya mengajak Felly kerumah yang hampir 2 Minggu tidak di datanginya.
" Turun!" ucap Aditya sembari membuka seat beltnya.
" Tempat siapa ini?" batin Felly kebingungan sambil membuka seat beltnya. Aditya sudah keluar dari mobil dan Felly sudah menyusulnya keluar dari mobil.
Langkah Felly sangat pelan mengekor di belakang Aditya yang benar-benar membuatnya sangat bingung. Kepalanya terus berkeliling melihat di sekitarnya. Dia benar-benar tidak tau rumah siapa itu.
Aditya sudah membuka pintu rumah. Felly masih di depan pintu dan melihat kedalam sangat gelap.
" Ayo masuk!" ajak Aditya.
" Mau ngapain?" tanya Felly gugup. Dia takut Aditya akan berbuat macam-macam kepadanya.
" Sudah jangan banyak tanya buruan masuk," ucap Aditya.
" Tidak! kau mau ngapain dulu," sahut Felly yang takut Aditya macam-macam kepadanya. Aditya yang tau pikiran Felly kemana-mana mendengus kasar.
__ADS_1
" Heh, aku tidak akan melakukan apapun kepadamu. Kau jangan kegeeran. Aku tidak selera untuk bermain-main denganmu. Lagi pula kalau aku mau. Dari kau berada di Jakarta. Aku sudah melakukannya," ucap Aditya.
" Cepat masuk!" suruh Aditya lagi. Felly masih ragu dan akhirnya harus membuat Aditya menarik tangannya.
" Sakit!" protes Felly saat Aditya menarik langsung menariknya ke ruang tamu dan langsung mendudukkan Felly dengan kasar.
" Apa kau tidak bisa pelan-pelan," protes Felly.
" Makanya. Jangan banyak tingkah," desis Aditya dengan sinis.
" Tunggu di sini. Jangan kemana-kemana, awas saja kalau kau kabur," ucap Aditya dengan nada mengancam. Felly hanya menatapnya dengan kesal.
Aditya langsung meninggalkan Felly dan langsung menaiki anak tangga. Menuju kamar kakaknya yang sama sekali tidak menyambutnya saat datang yang memang tidak seperti biasanya.
" Pasti kakak marah," gerutu Aditya yang tau alasan kakaknya yang sama sekali tidak membuka pintu.
Aditya memang tau alasan sang kakak marah dan makanya dia membawa Felly kerumah itu agar kakaknya tidak marah lagi kepadanya.
Saat tiba di depan pintu kamar Elia. Aditya menarik napas panjang dan langsung mengetuk pintu.
" Semoga kakak mau membuka pintunya," batin Aditya yang akan sangat frustasi kalau melihat kakaknya marah.
tok-tok-tok-tok beberapa kali ketukan barulah Elia membuka pintu. Wajah Elia saat membuka pintu sangat murung dan terlihat jelas sangat kecewa.
" Kak," ucap Aditya pelan.
" Kenapa kemari?" tanya Elia dengan ketus.
Elia langsung masuk kedalam kamar dan duduk di pinggir ranjang. Aditya langsung menghampiri sang kakak duduk di samping Elia dan memegang pundak Elia. Elia langsung menepis tangan Aditya. Dan wajah cantik itu semakin merengut tidak jelas.
" Kak," Aditya hanya berusaha membujuk Elia karena memang Elia sedang merajuk para kepadanya.
" Kenapa kakak harus tau dari media. Apa kakak bukan keluarga kamu sampai masalah itu harus kakak ketahui dari media," ucap Elia. Nada bicaranya sangat terdengar jelas dia memang sangat marah.
" Maaf," sahut Aditya merasa bersalah dengan kakaknya.
Bersambung
__ADS_1