
Laura ternyata tidak sanggup untuk melihat apa yang terjadi pada Damar. Laura begitu rapuh dan tidak berani membalikkan tubuhnya untuk melihat Pria itu.
" Laura!" panggil Damar. Suara itu terdengar di telinga Laura. Yang membuat Laura semakin merasa bersalah.
" Kenapa kamu melakukan semua ini. Apa salahku padamu Laura?" tanya Damar dengan suara yang penuh kekecewaan dan putus asa.
" Bukannya kamu mengatakan ingin memulai semuanya denganku. Bukannya kamu mengatakan semua itu Laura. Aku sudah menyerahkan semuanya. Bahkan aku menyerahkan diriku pada Polisi. Tetapi apa yang kamu lakukan Laura. Kamu menipuku, kamu hanya menjadikan ku sebagai alat balas dendam. Kenapa Laura kamu melakukan hal itu," ucap Damar yang merasa di dadanya.
Damar mengendus tersenyum yang seakan mengemis cinta pada Laura. Ya dia memang tidak mudah jatuh cinta. Tetapi saat jatuh cinta dia adalah orang yang setia dan bisa meletakkan hatinya pada wanita yang di percayai nya.
Bahkan tidak pernah bergeser sedikit pun. Tetapi Damar juga orang yang lemah dan rapuh karena cinta. Dia bisa menjadi bila karena cinta.
Dan karena masalah yang semakin menumpuk di otaknya. Mamanya yang juga di penjara, belum lagi dia dan Laura yang hanya memanfaatkannya membuatnya ingin mengakhiri hidupnya. Karena lelah dengan semua itu. Seakan tidak punya tempat untuk bercerita.
" Laura, aku mencintaimu," ucap Damar yang menatap punggung yang tampak berbalik sama sekali itu.
Air mata Laura semakin mengalir deras. Laura menyekanya. Lalu memilih untuk pergi. Laura tidak sanggup mendengar kata-kata itu. Damar memejamkan matanya dengan air mata yang mengalir yang melihat kepergian Laura. Yang ternyata datangnya Laura juga tidak menghasilkan apa-apa. Dan damar hanya menanggung kekecewaan berkali-kali.
**********
Laura berada di dalam mobilnya yang masih terparkir di parkiran rumah sakit jiwa. Ternyata Laura menagis di dalam mobil. Tidak tau perasaannya benar-benar bercampur aduk.
" Apa yang sudah aku lakukan. Apa Damar seperti karena aku. Kenapa aku harus mempermainkan hatinya. Mungkin dia salah. Tetapi semuanya karena mamanya. Dia juga tidak tau apa-apa tentang kejadian 17 tahun lalu. Bahkan Damar ingin membongkarnya.
" Selama ini dia juga mendapat tekanan dari mamanya. Selama ini Damar juga tidak pernah hidup tenang. Hidupnya justru seperti robot yang di gunakan Rebecca dengan suka-suka. Damar tidak bersalah. Dia juga adalah korban. Bahkan karena Damarlah masalah 17 tahun itu akhirnya selesai. Semua karena Damar, Damar lah yang sudah membongkarnya dan aku. Aku seharusnya tidak mempermaikan hatinya," ucap Laura yang tampaknya sangat menyesal karena mempermainkan Damar.
__ADS_1
" Dia mencintaiku, tapi aku justru membalasnya dengan seperti itu. Apa yang kamu lakukan Laura. Kenapa kamu sangat jahat Laura. Kenapa?" Laura menyibak rambutnya kebelakang tampak frustasi karena perbuatannya sendiri.
Laura tampak menyesal dengan apa yang di lakukannya pada Damar. Dia menangis di dalam mobil untuk mengerti perasaannya. Yang pasti dia menyadari. Jika dia bukan hanya menyesal pada Damar karena mempermainkan perasaan Damar.
Tetapi sepertinya Laura juga sudah menyukai Damar. Dia juga mungkin jatuh cinta pada Damar. Makanya dia seakan ikut sakit melihat apa yang terjadi pada Damar.
Sampai malam hari mobil Laura masih tetap berada di tempat yang sama. Dia terus melihat ke arah dalam rumah sakit. Tetapi tidak jelas apa yang ingin di lakukannya.
Tangannya juga beberapa kali menyeka air matanya. Yang terus jatuh. Mata itu juga sedikit membengkak karena menangis sedari tadi.
" Tidak Laura, kamu tidak bisa egois. Jangan mengorbankan diri untuk semua ini. Kamu mungkin membalaskan dendam. Tapi bukan untuk Damar Laura!" ucap Laura dengan suara seraknya.
Laura memutuskan kembali turun dari mobilnya. Yang ternyata Laura kembali memasuki rumah sakit tersebut dan Laura juga menghampiri kamar Damar di rawat.
Damar yang sudah memakai pakaian rumah sakit jiwa. Di mana duduk di atas tempat tidur dengan memeluk lututnya dan kepalanya yang tertunduk. Damar juga tidak di borgol.
Melihat kondisi Damar yang seperti itu. Bisa di pastikan Damar masih menangis dan membuat hati Laura semakin hancur. Rapuhnya Pria itu membuat Laura kembali meneteskan air mata.
Laura menarik napas panjang dan membuangnya perlahan. Lalu Laura melangkah masuk perlahan ke dalam ruangan itu. Laura sudah berada di dekat Damar. Tangannya perlahan ingin menyentuh Damar.
" Damar!" lirih Laura yang memegang pundak Damar. Damar perlahan mengangkat kepalanya dan melihat Laura. Tatapan Damar sangat sendu. Putus asa, kecewa sudah menjelaskan dari bola mata yang indah itu.
" Untuk apa kamu kemari?" tanya Damar dengan suara seraknya. Laura diam dan tidak bisa menjawab pertanyaan itu langsung.
" Kamu sudah berhasil Laura. Aku sudah hancur. Dendammu dan Aditya sudah berhasil. Aku sudah menanggung semuanya. Aku menanggung kesalahan mama. Sudah puaskan kamu Laura?" tanya Damar dengan suara rendah.
__ADS_1
" Laura. Bagaimana jika aku juga membalas perbuatanmu?" tanya Damar. Laura menggelengkan kepalanya dan duduk di depan Damar.
Tangan Laura perlahan memegang pipi Damar.
" Kamu tidak mungkin melakukannya kepadaku," ucap Laura.
" Apa yang tidak mungkin. Aku tidak bersalah atas kejadian 17 tahun itu. Tetapi kamu membalasnya padaku. Jadi apa yang tidak mungkin. Jika aku juga akan membalasmu," ucap Damar.
" Kamu mencintaiku Damar dan aku yakin kamu tidak sanggup melakukan itu," ucap Laura yang menatap dalam-dalam Damar. Damar mendengarnya mengendus tersenyum.
" Apa artinya cinta. Jika cinta itu sangat menyedihkan. Tidak ada Laura artinya. Jika itu menyakitkan," ucap Damar.
" Maafkan aku Damar, aku tidak bermaksud untuk melakukan itu kepadamu. Maafkan aku," ucap Laura merasa bersalah pada Damar.
" Damar tidak seharusnya kamu melakukan tindakan bodoh itu. Tidak seharusnya kamu menghilangkan nyawa kamu hidup kamu masih panjang Damar," ucap Laura dengan memegang ke-2 pipi Damar dengan menatapnya dalam-dalam.
" Bukannya yang kamu mau, kamu menginginkan semuanya terjadi. Dan termasuk tempat ini. Kamu menginginkan aku berada di sini. Aku tidak gila Laura. Tapi tempat ini menjadi tempatku sesuai dengan keinginanmu," ucap Damar.
" Tidak Damar, aku tidak pernah menginginkan hal ini terjadi. Mungkin dulu iya aku ingin membuatmu merasakan apa yang di rasakan Aditya dan juga kak Elia. Tetapi aku sadar kamu tidak harus menanggungnya. Aku menyadari jika aku jatuh cinta padamu dan hal itu sangat menyakitkan untukku. Sangat menyakitkan Damar," ucap Laura yang mengakui perasaannya yang membuat Damar kaget mendengarnya.
" Jangan berbohong Laura. Dramanya sudah selesai. Jadi jangan mengatakan cinta padaku," sahut Damar.
" Aku tidak berbohong Damar. Aku serius. Jika aku memang jatuh cinta padamu," tegas Laura yang langsung memeluk Damar. Air mata Damar kembali jatuh dan memelas pelukan itu dengan erat.
Bersambung
__ADS_1