Pria Kejam Yang Merampas Kehormatan Ku.

Pria Kejam Yang Merampas Kehormatan Ku.
Eps 248 Kenyamanan Damar.


__ADS_3

Damar langsung mengeluarkan uang kesnya dan memberikannya pada kasir.


" Sama minuman saya sekalian," ucap Damar memegang minumannya.


" Baik Pak," sahut kasir wanita itu.


" Tidak perlu Damar," sahut Laura merasa tidak enak.


" Tidak apa-apa, dari pada tidak jadi," sahut Damar.


" Tapi kan...." sahut Laura.


" Sudah tidak apa-apa," sahut Damar. Laura pun tersenyum tipis.


Setelah selesai menghitung belanjaan Damar dan Laura pun langsung keluar dari mini market tersebut dan mereka berjalan dengan langkah yang pelan.


" Makasih ya, kamu sudah bantuin aku tadi," ucap Laura.


" Sama-sama, lagian itu tidak seberapa. Dan kebetulan saja kita ketemu," sahut Damar.


" Hmmm, ini, kamu tulis no rekening kamu. Nanti aku akan membayarnya," sahut Laura yang memberikan ponselnya pada Damar. Damar mengambilnya dan memegang ponselnya yang ternyata Damar malah menyimpan nomornya di ponsel Laura.


" Jika aku ingin menagih, aku akan menelponmu," sahut Damar mengembalikan ponsel Laura. Laura hanya tersenyum dengan Danar yang memberikan nomor toonnya.


" Tidak masalahkan aku membuat nomorku di hanphonen mu?" tanya Damar.


" Tidak masalah," sahut Laura tersenyum.


" Ya ampun. Tidak melakukan apapun semuanya ternyata segampang ini," batin Laura yang tampaknya mendapatkan 1 poin dari rencananya.


" Oh, iya kamu mau kemana?" tanya Damar.


" Tidak ada, tadi hanya membeli beberapa cemilan," jawab Laura.


" Kalau tidak keberatan. Kamu mau makan bersamaku," sahut Damar menawarkan.


" Apa akan masuk bon?" tanya Laura. Membuat Damar mendengus.


" Ya kita hitungan nanti," sahut Damar.

__ADS_1


" Ya sudah. Kalau begitu aku mau," jawab Laura. Damar tersenyum.


" Mari," sahut Damar mempersilahkan. Laura mengangguk dan akhirnya mereka pergi bersama yang pasti Laura kesenangan. Karena tanpa berbuat apa-apa seakan rencananya berjalan dengan mulus.


*********


Laura dan Damar pun makan di salah satu Restaurant yang tidak jauh dari mini market tadi dengan. Mereka ber-2 juga tampaknya kelihatan begitu akrab. Bahkan makan sambil mengobrol.


" Aku minta maaf, jika kemarin sikap mamaku membuatmu tidak nyaman," ucap Damar merasa tidak enak dengan Laura.


" Tidak apa-apa, itu biasa. Ya pasti mama kamu kaget. Tiba-tiba ada orang yang tidak di kenal membawa anaknya pulang, ya wajar semua ibu juga pasti seperti itu," ucap Laura tampak terlihat sakit hati.


" Tapi apapun itu aku harus tetap meminta maaf dan harus berterimah kasih kepadamu," sahut Damar.


" Iya deh, kamu sudah mengatakan itu berkali-kali," sahut Laura tersenyum dan kembali mengunyah makanannya. Begitu juga dengan Damar dan Laura terus melihat Damar yang tampaknya ingin mengatakan sesuatu.


" Oh, iya Damar, aku melihat sepertinya kamu dan mama kamu, sedang ada masalah," sahut Laura dengan hati-hati bicara dan Damar mendengarnya langsung melihat ke arah Laura.


" Maaf aku tidak bermaksud untuk ingin tau. Tetapi aku hanya menerka-nerka saja dark apa yang aku lihat," ucap Laura tampak dengan wajah yang bersalah.


" Tidak apa-apa. Lagian yang kamu katakan memang benar. Hubungan ku dengan mama memang sangat tidak baik," sahut Damar.


" Oh iya, kayaknya masalahnya sangat besar sampai kamu dan mama kamu sampai seperti itu, aku melihat kamu tampak marah dengan mamamu," ucap Laura yang berusaha mengorek-ngorek dengan cara yang halus.


Laura tersenyum merasa dia telah menjadi menang karena rencananya untuk membuat Damar mempercainya mulai lancar. Laura memegang tangan Damar membuat Damar kaget dan langsung melihat ke arah Laura.


" Semoga masalah kamu cepat selesai dan kamu bisa bijak dalam menanganinya. Walau itu berat. Tapi aku percaya itu akan mudah kamu hadapi," ucap Laura tersenyum lebar seakan memberikan semangat pada Damar.


" Makasih ya," sahut Damar. Laura mengangguk.


" Tinggal selangkah lagi kau akan benar-benar akan tunduk padaku dan pelan-pelan Rebecca akan mendapatkan ganjaran dari perbuatannya," batin Laura tersenyum palsu.


" Oh iya Laura, apa kita sebelumnya pernah bertemu?" tanya Damar tiba-tiba membuat Laura kaget bahkan spontan menjauhkan tangannya yang masih memegang tangan Damar.


Laura kelihatan panik sementara Damar terus melihatnya dan masih menunggu jawaban dari Laura.


" Laura!" tegur Damar.


" Hah! iya," sahut Laura tampak gugup.

__ADS_1


" Kamu mendengarku?" tanya Damar.


" Iya aku pasti mendengarmu. Mungkin saja kita pernah bertemu berpapasan atau bagaimana lagian dunia ini sangat lebar. Aku juga tidak tau mungkin kita memang pernah bertemu tidak sengaja," ucap Laura yang berusaha tenang.


" Ya mungkin saja," sahut Damar. Laura mengangguk tersenyum namun terlihat membuang napasnya perlahan.


" Jangan sampai Damar mengingat kejadian itu. Bisa berantakan semuanya. Aku tidak ingin Damar mengenaliku," batin Laura yang milai was-was.


***********


Kediaman Harison.


Harison dan Baskoro duduk di ruang tamu. Rebecca berjalan menuruni anak tangga sementara Elia terlihat memasuki rumah dengan membawa map coklat yang langsung menghampiri ruang tamu di mana ada kakeknya.


" Apa itu Laura?" tanya Harison melihat map di pegang Laura. Rebecca mempercepat langkahnya menuruni anak tangga yang juga penasaran dengan apa yang di berikan Elia yang membuat perasaannya tidak tenang.


" Ini surat panggilan untuk Damar untuk melakukan penyidikan," jawab Elia membuat Rebecca kaget mendengarnya dan Harison mengambil map itu dari Elia dan membukanya.


" Polisi akan datang untuk memeriksa rumah ini," ucap Elia lagi membuat Rebecca kaget mendengarnya.


" Apa maksud kamu Elia. Seumur hidup rumah tidak pernah di masuki para penyidik dan kamu terlalu lantam memberi izin," sahut Rebecca yang langsung naik pitam.


" Kalau tidak ada sesuatu. Kenapa harus protes dan terlihat panik sekali. Memang ada sesuatu?" sahut Elia dengan sinis membuat Rebecca tercengang mendengarnya.


" Apa ada yang di sembunyikan di rumah ini. Makanya terlihat panik seperti itu," lanjut Elia lagi membuat Rebecca mengepal tangannya yang tidak mampu berkutik lagi.


" Kau," geram Rebecca.


" Sudah apa yang kalian ributkan," sahut Harison. Elia tersenyum miring melihat ketakutan di wajah Rebecca.


" Papa jangan mencari penyakit dengan membiarkan penyidik datang kerumah kita. Papa tau kan apa yang akan di bicarakan nanti di luar sana," ucap Rebecca memberikan saran.


" Sebenarnya aku setuju pa dengan kata Rebecca. Penyidik tidak perlu datang kerumah ini. Damar cukup di periksa di kantor polisi," sahut Baskoro yang memihak istrinya membuat Elia mendengus kasar mendengarnya.


" Kakek kasus ini sudah terangkat dan media juga sudah tau. Justru akan muncul pembicaraan kenapa rumah ini tidak di perbolehkan penyidik masuk. Apa kakek ingin muncul spekulasi kalau ada kesalahan yang tersembunyikan bagaimana jika orang-orang berpendapat seperti itu," sahut Elia berbicara dengan santai.


" Sialan anak ini. Dia selalu pintar bicara dia pikir siapa dirinya, bisa gawat jika penyidik datang kerumah ini," batin Rebecca yang kelihatan panik.


" Ya sudah kamu urus saja semuanya. Kakek mau istirahat dulu," sahut Harison yang langsung berdiri. Elia tersenyum mendengarnya dan Rebecca terlihat begitu Khawatir. Rebecca bahkan tidak bisa memperotes lagi. Karena takut Harison akan mencurigainya lagi.

__ADS_1


Bersambung.


"


__ADS_2