
Aditya benar-benar hanya akan emosi. Jika lama-lama melihat Felly seperti itu. Wanita yang semakin lama memang tidak ada takutnya dengannya.
" Kau dengar baik-baik Felly. Aku mengampunimu atas apa yang kau lakukan kepadaku. Mencelakai diriku. Tetapi jika kau berani melakukan sekali lagi. Aku tidak akan memenjarakanmu. Tetapi kau justru yang akan mati di tanganku," tegas Aditya mengancam Felly dengan matanya melebar menatap Felly.
Mendengarnya Felly mendengus kasar tersenyum melihat Aditya yang hanya bisa mengancamnya berkali-kali.
" Kau ingin membunuhku?" tanya Felly dengan senyumnya seakan menantang lagi. Wajah Felly bahkan terlihat seperti meremehkan.
" Kau menantangku lagi, kau pikir aku main-main," sahut Aditya yang melihat Felly benar-benar meremehkannya.
" Kau tidak mungkin membunuhku. Jika kau membunuhku. Seharusnya dari awal kau lakukan. Tapi kau tidak mungkin melakukannya. Karena kau sangat membutuhkanku untuk menghancurkan orang lain," sahut Felly sinis.
Aditya terdiam mendengar kata-kata Felly. Seakan Felly tau jika memang dia sebagai alat. Ya Felly memang benar tidak mungkin Aditya membunuhnya Karena Felly adalah salah satunya alat balas dendam.
" Wanita ini sekarang semakin pintar," batin Aditya yang tidak habis pikir dengan jalan pikiran Felly.
" Bagus kalau kau tau aku membutuhkanmu untuk menghancurkan orang lain. Jadi aku tidak perlu menjelaskan apa-apa lagi kepadamu. Dengan begitu kau juga akan tau. Hal itu jauh lebih mengerikan di bandingkan kematian. Jadi siap-siap saja menerimanya," sahut Aditya sinis
Menatap Felly dengan tajam dan Felly juga menatapnya tidak kalah tajam. Tatapan yang penuh kebencian.
" Kau benar-benar bukan manusia," umpat Felly tidak melepas tatapannya. Dia tidak tau pria yang seperti apa yang di hadapinya.
" Iya aku bukan manusia dan kau taukan bagaimana cara berhadapan bukan dengan manusia. Jadi jangan macam-macam denganku. Aku akan lebih menunjukkan bagaimana seorang manusia yang tidak menjadi manusia," sahut Aditya dengan senyum kemenangan di wajahnya.
Kata-kata yang keluar dari mulut Aditya sangat menakutkan. Aditya juga sangat bangga yang sepertinya di katakan bukan manusia yang membuat Felly mengepal tangganya. Rasanya ingin kembali mencucuk pria itu.
Seharusnya kemari dia menancapkan batu itu ke leher Aditya. Jadi Aditya benar-benar mati dan dia tidak akan bisa bicara seenaknya seperti saat ini.
" Kak Felly," tegur Agni tiba-tiba membuat Aditya dan Felly sama-sama melihat ke arah suara memanggil dan saling melepas pandangan. Felly juga meredakan emosinya ketika melihat adiknya. Menurunkan napasnya perlahan.
" Ayo masuk, mama memanggil untuk makan siang," ucap Agni.
" Kak Aditya juga," lanjut Agni.
" Ayo kak, yang lainnya sudah menunggu," ajak Agni lagi yang langsung pergi.
" Agni!" panggil Aditya mengehentikan langkah Agni. Membuat Felly melihat Aditya dengan wajah panik.
" Iya kak ada apa?" tanya Agni.
__ADS_1
" Bisa kita bicara sebentar?" tanya Aditya dengan senyumannya. Jantung Felly langsung bergetar tidak menentu.
" Ayo Agni masuk." Sahut Felly langsung menarik tangan Agni masuk. Sebelum Aditya berulah.
" Tapi kak," Agni bingung dan hanya mengikut saja.
Aditya mendengus melihat Felly yang benar-benar ketakutan.
" Dia sangat takut. Tetapi selalu bertingkah, dasar," gumam Aditya langsung menyusul masuk.
************
Akhirnya Aditya dan Harison ikut makan siang bersama. Mereka sudah duduk di meja makan dengan makanan yang pasti tidak semewah di rumah Aditya. Makanan ala kadarnya.
Dengan sayur asem, ikan goreng bumbu, tempe dan tahu goreng dan sambal terasi. Tidak tau Aditya pernah atau tidak memakan. Makanan semacam itu. Tetapi memang itu yang ada.
" Maaf Pak makanannya ala kadarnya," ucap. Sabila jujur apa adanya.
" Semua ini sangat mendadak. Jadi maaf kami tidak bisa menyiapkan apa-apa. Hanya ini yang bisa kami hidangkan sebagai makan siang ," sambung Wanti.
" Kalian jangan berlebihan. Kami jadi merasa datang sangat merepotkan. Makanan ini sangat enak jadi apa yang perlu di khawatirkan, dengan menawarkan makan. Kami justru sangat berterima kasih. Ternyata kedatangan kami diterima dengan baik," ucap Harison mengunyah makanannya.
" Kakek Harison memang baik. Sangat berbeda dengan dia," batin Felly tersenyum tipis mengagumi sosok Harison yang dari awal di kenalnya memang sangat baik dan bahkan tidak marah kepadanya walau dia sudah membuat onar tempo lalu.
" Benarkan Aditya," sahut Harison yang memang suka melempar pada Aditya.
" Iya," jawab Aditya dengan terpaksa.
Aditya harus terpaksa makan. Walau dia juga tidak Sudi makan di rumah wanita yang di bencinya. Tetapi dia tetap melanjutkan makannya. Paling tidak masakan itu memang mendukungnya.
" Saya tidak tau jika putri saya mempunyai seorang kekasih setampan ini. Bahkan nak Aditya akan menikahinya. Saya sangat kaget. Untuk pertama kalinya seorang Pria datang kerumah kami melamar Felly," ucap Sahila tiba-tiba dengan rasa haru.
" Ma," lirih Felly agar mamanya tidak terlalu banyak bicara.
" Pertama kali?" tanya Harison heran. Karena sebelumnya Felly akan menikah dengan Damar. Dan masa iya Damar tidak melamarnya.
" Benar ini pertama kalinya dia memperkenalkan pria bahkan juga sekalian melamarnya," sahut Wanti.
" Wau hebat sekali wanita ini. Menyuruhku melamarnya. Sementara Damar saja tidak melamarnya. Dia memang benar-benar suka membuat ulah," batin Aditya kesal.
__ADS_1
Damar memang tidak pernah melamar Felly seperti apa yang di lakukan Aditya saat ini. Jadi jelas Sabila merasa sangat di hargai sebagai seorang ibu ketika ada yang melamar putrinya tanpa melihat status sosial keluarganya.
" Lalu bagaimana Felly apa kamu menerima lamaran Aditya?' tanya Harison tiba-tiba membuat Felly langsung tersedak.
Uhuk-uhuk-uhuk.
" Felly pelan-pelan, tegur Sabila memberikan minum.
" Aku rasa dia tidak akan bertingkah kali ini," batin Aditya.
" Bukannya kita sudah sepakat untuk menikah. Aku rasa pertanyaan kakek tidak akan membuatmu Kaget seperti ini," sahut Aditya dengan geram mencoba santai.
" Benar Felly, jawablah, apa kamu menerima lamaran dari Aditya, kekasihmu," sahut Wanti.
" Felly jika memang kamu mencintai Aditya dan sudah sepakat untuk menikah. Mama dan semuanya hanya akan mengikuti pilihan kamu. Ini juga sudah waktunya kamu menikah. Kamu berhak untuk hidup bahagia. Kamu tidak perlu memikirkan keluarga ini lagi," ucap Sabila yang melihat keraguan putrinya. Karena takut Felly yang mencemaskan dia dan keluarganya.
" Mama salah menikah dengannya bukan kebahagian. Justru aku sedang berperang dengannya," batin Felly yang sedang galau.
" Nak. Aditya ini terlihat baik. Dan bibi juga yakin dia bisa menjaga kamu dan memberi kamu kebahagian," sahut Wanti tersenyum penuh harapan.
" Aku juga berharap seperti itu. Semoga Aditya bertanggung jawab dengan keputusan yang di ambilnya," sahut Harison dengan santai menoleh ke arah Aditya.
" Iya kan Aditya," lempar Harison lagi. Aditya membuang napasnya perlahan. Dia sepertinya harus menyakinkan keluarga wanita yang di nikahinya agar masalahnya kelar.
" Saya akan menjaga Felly dan bertanggung jawab atas kehidupannya. Saya akan jamin dia bahagia bersama saya," sahut Aditya bergetar saat mengatakan itu.
" Sandiwara," batin Felly.
" Terima kasih nak Aditya sudah menerima Felly apa adanya," sahut Sabila merasa bahagia.
" Aditya kau sudah berjanji di depan ibunya. Kakek harap kau tidak mengingkarinya," ucap Harison menepuk bahu Felly. Aditya tidak menanggapi lagi ucapn kakeknya.
" Bagaimana denganmu. Apa kau menikah denganku?" tanya Aditya menatap Felly. Felly semakin gugup saat pertanyaan itu langsung keluar dari mulut Aditya.
" Iya aku bersedia menikah denagnmu," jawab Felly dengan yakin. Aditya tersenyum miring mendengarnya.
" Baguslah, Akhirnya kau sadar apa yang harus kau lakukan dari awal," batin Aditya
Bersambung...
__ADS_1