Pria Kejam Yang Merampas Kehormatan Ku.

Pria Kejam Yang Merampas Kehormatan Ku.
Eps 279 Kata maaf


__ADS_3

Baskoro yang menjadi tersangka dan menjadi buronan polisi ternyata berada di pemakaman Mariyati. Pra yang terlihat lesu, kucel, dengan wajahnya yang memang berantakan dan pakaian yang juga tidak rapi. Ya dia sudah terlihat seperti bukan anak kolong merat lagi. Melainkan seorang preman.


Pria itu berdiri di depan makam Mariyati dan meletakkan 1 tangkai mawar putih di atas makam itu.


" Itu yang aku berikan di hari ulang tahun mu. Kamu berulang tahun hari ini dan mungkin apa yang aku lakukan adalah hadiah untukmu. Aku menjadi tersangka kasus pembunuhan. Aku juga menjadi buronan. Aku tau sekarang polisi ada di mana-mana. Tetapi aku menyempatkan diri untuk mengunjungimu. Sebagai perpisahan. Karena aku tidak tau apakah masih bisa bertemu denganmu nanti. Atau bagaimana. Atau justru kita akan bertemu di alam sana. Tetapi yang penting aku sudah menemui hari ini," ucap Baskoro yang menyampaikan tujuannya pada Mariyati.


" Elia dan Aditya. Tidak memberiku pintu maaf dan juga kesempatan. Tapi tidak apa-apa. Itu pantas untukku. Yang jelas aku sudah lega membunuh ke-2 pria itu dan membuat Rebecca merasakan apa yang di rasakan Elia. Aku merasa lega bisa melakukannya," ucap Baskoro dengan meneteskan air matanya.


" Mariyati, terima kasih sudah pernah menjadi istriku. Terima kasih sudah memberiku putri dan putra yang sangat sempurna. Terima kasih sudah mencintaiku. Aku tidak akan pernah bisa membalas kebaikan mu. Tidka akan sama sekali," ucap Baskoro yang beberapa kali menjatuhkan air matanya.


" Hhhhhh," Baskoro membuang napasnya perlahan dan menyeka air matanya.


" Aku pergi dulu," ucapnya pamit. Menatap sebentar mesan itu, lalu membalikkan tubuhnya. Saat membalikkan tubuhnya. Baskoro di kejutkan dengan ke hadiran Elia yang tiba-tiba.


" Elia," tegur Baskoro. Elia berdiri mematung dengan tubuhnya bergetar dan matanya yang bergenang. Baskoro pun melangkah mendekatinya dan sudah berdiri di hadapannya.


" Apa papa yang membunuh Mereka?" tanya Elia langsung.


" Kamu memanggil apa barusan. Papa," sahut Baskoro yang meneteskan air matanya yang tidak percaya. Jika Elia memanggilnya kembali dengan kata papa. Sudah belasan tahun panggilan itu tidak terdengar di telinganya.


" Katakan Elia sekali lagi. Kamu barusan memanggil apa," sahut Baskoro yang ingin mendengar lagi.


" Aku bertanya, apa memang papa yang membunuh mereka?" tanya Elia lagi. Baskoro mengangguk membenarkan pertanyaan Elia. Air mata Elia langsung jatuh ketika kenyataan benar adanya.


" Kenapa papa membunuh mereka. Kenapa melakukan itu?" tanya Elia dengan menekan suaranya.

__ADS_1


" Hanya itu yang bisa papa lakukan untuk kamu. Mereka harus mati dengan perlahan. Mati dengan rasa sakit. Hanya itu Elia yang bisa papa lakukan. Papa memukul, menyiksa mereka habis-habisan dan juga menembak mereka. Semua papa lakukan dengan tangan papa sendiri," ucap Baskoro dengan jujur.


" Papa bodoh, seharusnya papa tidak melakukan itu. Lihat hasilnya. Polisi mencari papa. Papa di jadikan tersangka. Apa yang papa lakukan hanya akan menyusul orang-orang bajingan itu," ucap Elia dengan isak tangisnya. Namun Baskoro tersenyum mendengar kemarahan Elia.


" Elia, papa tidak bodoh. Tapi itu adalah hal yang harus papa lakukan. Selama ini Aditya sudah melakukan banyak hal. Aditya sudah menjadi orang lain hanya demi keadilan untuk kamu dan mamamu. Dia membalskan dendam untuk kalian. Jadi apa yang papa lakukan. Itu tidak ada apa-apanya," sahut Baskoro dengan tenang.


" Papa dan Aditya berbeda. Jika Aditya yang mengakhiri hidup mereka. Kejadiannya tidak akan seperti ini. Papa hanya mencelakai diri papa. Dan lihat sekarang apa yang terjadi papa di kejar-kejar polisi," sahut Elia dengan suaranya yang berteriak.


" Papa senang Elia. Jika kamu khawatir sama papa. Papa tidak menyangka jika akan ada hari seperti ini di dalam hidup papa. Jadi jika kamu bertanya menyesal atau tidak sudah melakukan kebodohan seperti yang kamu katakan. Sama sekali tidak Elia. Papa tidak menyesal," sahut Baskoro dengan tersenyum merasa bahagia. Sementara Elia sudah menangis senggugukan.


" Elia maaf kan papa. Jika selama ini mata di tutup oleh wanita itu. Maafkan papa yang sudah membuat kamu menderita," ucap Baskoro yang terus menyesal.


" Sekarang kamu jangan khawatir. Papa akan pergi dan tidak akan muncul di hadapan kamu dan Aditya. Karena papa tau, kalian berdua sangat terluka. Jika melihat papa. Jadi kamu dan Aditya akan bahagia," ucap Baskoro.


" Apa maksud papa?" tanya Elia dengan panik.


" Jangan pergi. Aditya akan menyelesaikan semuanya. Ikutlah dengan Elia!" cegah Elia. Baskoro tersenyum mendengarnya dan memegang pipi Elia.


" Papa tidak bisa ikut dengan kalian. Karena masih ada satu lagi yang harus papa selesaikan," ucap Baskoro.


" Apa maksud papa?" tanya Elia khawatir. Baskoro hanya menjawab dengan senyuman.


" Papa sangat menyayangi kamu Elia sama seperti Aditya. Sebelum papa memelukmu," ucap Baskoro. Elia menagis sengugukan dan langsung memeluk Baskoro.


" Jangan pergi, Aditya akan menyelesaikannya. Elia sudah lama kehilangan seorang ayah. Elia tidak mau lagi kehilangan seorang ayah. Jadi Elia mohon jangan pergi," ucap Elia menagis senggugukan di pelukan Baskoro yang juga sudah menangis senggugukan.

__ADS_1


" Papa tidak pantas menjadi ayahmu," sahut Baskoro yang melepas pelukan itu mengusap air mata Elia.


" Apa kamu memaafkan papa?" tanya Baskoro. Elia mengangguk.


" Aku memaafkan papa dan justru itu papa jangan pergi. Kita harus hidup seperti dulu lagi. Elia mohon," ucap Elia.


" Tidak sayang papa akan pergi, papa harus menyelesaikan masalah ini. Papa harus pergi," ucap Baskoro dengan berat hati menurunkan tangannya dari pipi Elia.


" Pah!" lirih Elia. Baskoro mengusap pucuk kepala Elia dan mencium kening Elia. Lalu Baskoro dengan berat hati pergi dari hadapan Elia.


" Pah, pah, papa," teriak Elia. Namun Baskoro mempercepat langkahnya memasuki mobil.


" Papa!" teriak Elia yang mengejar Baskoro. Namun Baskoro tetap melaju dengan kecepatan tinggi.


" Papa," teriak Elia yang mengejar mobil itu dengan lari yang cepat.


" Non Elia," teriak Bion yang turun dari mobil dan melihat Elia berlari mengejar-ngejar mobil membuat Bion pun langsung mengejar Elia.


" Non Elia," teriak Bion yang berhasil menahan Elia memegang tangan Elia mencegahnya untuk tidak mengejar mobil itu.


" Lepas Bion, aku harus kejar papa, lepas Bion!" berontak Elia.


" Tidak, non jangan," sahut Bion yang terus menahan Elia yang terus memberontak yang ingin mengejar Baskoro. Yang akhirnya pun Bion memeluk Elia, memeluk erat agar Elia tidak pergi. Dia bisa merasakan tubuh Elia yang bergetar.


" Lepas Bion! lepas," Elia terus memberontak yang bersih keras mengejar mobil itu. Namun Bion terus memeluknya dan akhirnya Elia pasrah dan menangis sengugukan di pelukan Bion.

__ADS_1


Dia jelas begitu khawatir dengan papanya. Walau membencinya. Tetapi dia sangat takut akan terjadi sesuatu pada papanya.


Bersambung.


__ADS_2