Pria Kejam Yang Merampas Kehormatan Ku.

Pria Kejam Yang Merampas Kehormatan Ku.
Eps 295 Keputusan Aditya.


__ADS_3

" Aditya tunggu?" panggil Felly yang akhirnya keluar dari kamar dan mengejar suaminya. Aditya menuruni anak tangga dengan buru-buru dan Felly terus memanggilnya dan suara Felly yang berteriak-teriak membuat, Elia, Lusi, Laura, Harison dan Ke-2 orang tua Felly juga, Agni keluar dari kamar masing-masing.


Mereka semua heran dengan apa yang terjadi pada Aditya dan Elia yang kelihatan lari-larian dan Asti membuat mereka bertanya-tanya.


" Aditya!" panggil Felly yang berusaha menghentikan suaminya.


" Ada apa ini Aditya?" tanya Harison yang berdiri di depan Aditya. Yang menghalangi Aditya untuk keluar dari rumah.


" Aku harus pergi!" ucap Aditya.


" Kamu kenapa tidak menyahut Felly. Bukannya sedari tadi dia memanggilmu," ucap Harison.


" Felly tidak mengerti aku. Aku pikir dia memahami ku," sahut Aditya yang melihat Felly dengan ekor matanya yang mana Felly berada di belakangnya.


" Apa maksud kamu Aditya?" tanya Elia heran. Orang-orang yang di sana juga heran dengan Felly dan Aditya yang tiba-tiba bertengkar.


" Felly, ada apa sebenarnya. Kenapa kamu memanggil-manggil Aditya?" tanya Sabila mendekati putrinya.


" Aku tidak ingin dia pergi. Aku ingin tetap di sini," jawab Felly dengan suaranya yang sudah menahan tangis.


" Memang kamu mau kemana Aditya?" tanya Anderson.


" Aku harus menemukan papa. Andre dan Bion sedang menungguku. Papa ada di tangan Rebecca," jawab Aditya dengan jujur.


Orang-orang yang ada di sana kaget mendengarnya. Termasuk Elia yang tidak percaya dengan apa yang di katakan adiknya. Sampai Elia menutup mulutnya dengan tangannya.


" Papa ada di tangan Rebecca!" lirih Elia.


" Iya. Jadi aku harus pergi. Kau harus menyelamatkan papa," sahut Aditya dengan yakin.


" Felly, lalu kamu kenapa. Bukannya Aditya hanya ingin menyelamatkan orang tuanya. Kenapa kamu mencegahnya," ucap Sabila.


" Mah, kondisinya berbeda. Aditya pergi dengan membawa...." Felly tidak melanjutkan kalimatnya. Karena memang kedua orang tuanya tidak tau. Jika Aditya ahli menggunakan senjata dan pasti orang tuanya kaget jika mendengar apa yang di katakan Felly.


Aditya hanya melirik sang istri. Yang tidak bisa melanjutkan kalimat itu yang masih tetap menjaga rahasia suaminya.


" Apa maksud Felly. Apa jangan-jangan Aditya akan...," batin Laura seakan mengerti dengan kata-kata Felly. Laura juga melihat mamanya dah mereka berdua seketika panik. Seakan tau Aditya ingin apa.


" Membawa apa Felly. Kenapa kamu diam tiba-tiba?" tanya Anderson.


" Pokoknya Felly, tidak mau Aditya pergi," sahut Felly yang mengalihkan pembicaraannya.

__ADS_1


" Felly, Aditya adalah seorang anak. Sudah kewajibannya untuk menyelamatkan papanya. Jadi jangan seperti ini," ucap Sabila membujuk Felly. Membuat sang anak mengerti.


" Tapi dia juga suamiku. Aku kewajibannya. Aku mengandung. Aku dan anakku juga kewajibannya," sahut Felly yang benar-benar menuntut Aditya untuk di sisinya.


" Cukup Felly!" sahut Aditya membalikkan tubuhnya melihat istrinya yang penuh air mata.


" Kamu dengarkan aku. Kamu kewajibanku. Aku tau tanpa harus kamu kasih tau. Tapi ada yang lebih penting Felly," ucap Aditya.


" Jadi menurut kamu aku tidak penting. Setiap kamu pergi. Aku hanya takut. Takut kamu kembali atau tidak. Aku terkadang harus berpikir. Apakah aku harus bersiap-siap untuk melihat kamu muncul di hadapanku. Tanpa bernyawa," ucap Felly dengan menekan suaranya.


" Felly, apa yang kamu bicarakan. Jangan berbicara seperti itu kepada suamimu. Kamu seharusnya berdoa agar semuanya baik-baik saja," ucap Sabila.


" Percuma aku berdoa. Jika Aditya tetap kekeh dengan apa yang di pikirkannya. Aku sekarang memintamu Aditya untuk memilih kamu pergi atau tetap di sini," sahut Felly dengan tegas membuat Aditya kaget dan menatap istrinya serius.


" Aditya, jangan diam saja. Kamu tetap di sini. Atau tetap pergi," ucap Felly lagi. Membuat pilihan yang tersulit pada Aditya.


Sementara yang lain tidak bisa melakukan apa-apa. Karena memang Felly sangat keras kepala. Ya kali ini dia memang sangat berbeda.


" Laura Tante Lusi. Jaga Felly dengan baik. Kalian tetap awasi rumah ini," ucap Aditya dengan suara beratnya. Yang membalikkan tubuhnya yang tetap pergi. Tanpa mempedulikan Felly.


Aditya melihat kakaknya yang penuh rasa khawatir.


" Papa akan baik-baik saja," ucap Aditya memegang lengan kakaknya. Dan Aditya langsung pergi.


Felly tidak berbicara sepatah katapun lagi. Dia hanya diam dengan air matanya yang mengalir deras. Sebagai istri jelas dia memang sangat khawatir dan itu yang di pikirkannya. Masalah kepergian Aditya yang ditakutkannya terjadi apa-apa.


" Felly, ayo istirahat. Kamu tidak boleh menangisi kepergian suamimu. Dia tidak melakukan apa-apa. Dia hanya pergi untuk menyelamatkan orang tuanya yaitu mertuamu. Jadi jangan memikirkan apa-apa masuklah," ucap Sabila yang membujuk Rania.


" Aqni!" tegur Anderson.


" Iya pa," sahut Aqni.


" Temani kakakmu untuk istirahat di kamar!" perintah Anderson.


" Iya pa," sahut Aqni yang langsung menghampiri Felly, " ayo kak!" ajak Aqni memegang bahu Felly dan membawanya pergi. Felly terlihat lemah dan menatap kosong. Tubuhnya juga bergerak begitu saja ketika Aqni membawanya pergi kekamar.


Setelah melihat putrinya kembali kekamar. Anderson dan istrinya pun akhirnya kekamar. Tinggal Harison. Elia, Laura dan Lusi.


" Kek, apa papa akan baik-baik saja?" tanya Elia.


" Iya. Dia akan baik-baik saja. Kita doakan yang terbaik. Kamu juga istirahat," ucap Harison yang menenangkan Elia. Elia mengangguk dan berusaha tenang.

__ADS_1


" Lalu di mana Damar. Kenapa perasaanku semakin tidak enak," batin Laura.


" Aku harus menelpon Aditya. Aku harus tau apa yang terjadi sebenarnya dan Aditya tidak bisa menghadapi semua ini sendiri. Aku harus secepatnya Laura yang langsung pergi.


Kemudian Lusi juga menyusul Laura. Dia juga sangat penasaran dengan apa yang terjadi sebenarnya.


**********


Aditya berada di dalam mobil. Aditya melaju dengan kecepatan tinggi. Apa yang di katakan istrinya tadi jelas masih terlintas di dalam pikirannya.


" Maafkan aku Felly. Aku tau kamu khawatir. Kamu dan anak kita adalah tanggung jawabku. Bukan maksudku menganggap tidak penting. Tapi aku tau Felly apa yang harus aku lakukan. Aku akan kembali dengan selamat. Aku tidak mungkin meninggalkanmu," ucap Aditya dengan matanya yang memerah. Aditya sebenarnya sangat menyesal harus pergi yang di mulai dengan keributan terlebih dahulu.


Hal itu jelas membuat perasaannya tidak tenang. Air mata Felly yang tumpah juga membuatnya merasa bersalah. Tapi mau gimana lagi. Dia harus pergi. Karena dia juga seorang anak yang harus menyelamatkan ayahnya dari wanita yang tidak bisa di anggap main-main.


********


Di dalam gudang di tempat yang sama. Ternyata Damar sudah berada di sebuah kursi yang tubuhnya di ikat dengan kuat. Ternya bukan hanya Damar yang ada di sana. Di sana ada juga Baskoro yang sama terikatnya dengan Damar dan tidak tau kenapa Baskoro bisa di dapatkan oleh Rebecca.


Memang hal itu membuktikan jika Rebecca tidak bisa di anggap main-main. Dia benar-benar mampu membawa melumpuhkan Baskoro. Padahal selama ini Baskoro yang mengejarnya yang pasti Baskoro ingin menghabisi Rebecca. Sesuai dengan apa yang di khawatirkan Damar.


Damar tidak sadarkan diri. Namun Baskoro terbangun dan berusaha melepas ikatan itu dari tubuhnya.


" Damar! Damar! panggil Baskoro dengan suara pelan. Lama memanggil-manggil Damar. Akhirnya Damar membuka matanya perlahan. Damar mencari-cari suara itu yang berasal dari sampingnya.


" Papa," lirih Damar yang kaget melihat sang papa yang sudah ada di sampingnya yang juga sama terikatnya dengan papanya.


" Kenapa bisa ada di sini?" tanya Damar.


" Apa lagi. Kalau bukan perbuatan mamamu. Itu semua gara-gara kamu yang sudah membantunya keluar dari penjara," ucap Baskoro.


" Papa telah membunuh William dan juga Hariyanto dan itu yang membuatku membebaskan mama. Karena takut papa akan membunuhnya," ucap Damar yang jujur dengan alasannya.


" Lalu apa yang kamu dapatkan. Lihat apa yang di lakukannya. Dia ingin membunuh semua orang. Termasuk kamu. Wanita yang kamu panggil mama itu. Tidak pantas menjadi seorang ibu. Karena tidak ada seorang ibu yang sanggup untuk membunuh anaknya sendiri," ucap Baskoro.


" Iya pah. Aku mengakui. Tindakanku memang bodoh. Aku hanya ingin membawa mama pergi. Makanya aku membebaskan mama. Tapi aku tidak menyangka jika masalahnya akan seperti ini," ucap Damar yang penuh penyesalan.


" Sudahlah Damar tidak ada gunanya kamu menyesali semuanya. Sekarang kita lepaskan ikatan kita dan harus lari dari wanita itu," ucap Baskoro.


" Lalu apa yang papa lakukan setelah itu?" tanya Damar was-was.


" Jangan membuang waktu dengan banyak bertanya cepat lepas ikatanmu," sahut Baskoro yang tidak membagikan jawaban apa-apa.

__ADS_1


" Jika pada akhirnya mama harus mati di tangan papa. Aku tidak bisa berbuat apa-apa. Mungkin itu lebih baik," batin Damar yang sudah terlihat pasrah.


Bersambung


__ADS_2