
Sekarang Felly dan Aditya sudah berada di atas ranjang. Dan sekarang Felly sudah tertidur di dalam pelukan Aditya. Terlihat nyaman berada di dada bidang suaminya dengan tangannya yang di jadikan bantal.
Felly memang tertidur. Tetapi Aditya tidak. Dengan kepalanya yang sedikit menunduk. Yang terus melihat wajah Felly. Aditya hanya sibuk dengan tangannya yang mengusap-usap pipi mulus Felly dengan jarinya, terkadang tangannya juga mengusap rambut Felly. Menyinggirkan anak rambut Felly yang ada di wajahnya.
Matanya memang tidak lepas menatap wajah yang teduh itu. Felly seperti anak kecil yang setelah menangis begitu lama. Barulah terdiam dengan tertidur.
" Kau memang sangat mudah menangis. Hanya karena merindukan orang tuamu. Kau merengek seperti anak kecil," ucap Aditya tersenyum tipis dengan mengusap-usap pipi Felly.
" Lihatlah matamu, matamu jadi bengkak seperti ini. Karena menangis. Apa sangat serindu itu. Sampai kau harus menangis separah itu. Kau benar-benar sangat murah menangis, air matamu sangat banyak. Sehingga menangis semudah itu," ucap Aditya yang tersenyum miring dan mencium kelopak mata yang tertutup itu.
" Kau seperti anak kecil yang menangis lama, langsung tertidur. Dasar wanita cengeng," Aditya terus berbicara sendiri pada Felly yang tertidur.
Hobinya bertambah dengan, sekarang lebih suka melihati Felly dalam diam. Dia suka mengatai Felly saat Felly tertidur. Dia memang lebih bebas melakukan dan mengatakan apapun. Saat istrinya itu tertidur. Memang itulah Aditya yang hanya bisa melakukan semuanya kalau Felly tertidur.
Aditya menarik selimut sampai kedada Felly, mencium kening Felly dan mempererat pelukannya pada Felly. Layaknya seperti Pria yang mencinta istrinya.
Tetapi walau tidak mengatakan cinta. Tetapi dari bahasa tubuh ke-2nya jelas sangat terlihat Aditya maupun Felly sudah timbul benih-benih cinta.
Karena hanya dari simpatik, saling memperhatikan, saling mengkhawatirkan. Akhirnya tanpa mereka sadari. Jika mereka juga takut saling kehilangan. Benih-benih cinta itu mungkin masih tumbuh di tempat yang terdalam, sehingga belum berkembang lagi.
*********
Pagi hari kembali tiba. Tapi pagi yang cerah ternyata di dalam kamar Aditya dan Felly belum ada aktivitas. Aditya masih lelap tidur dengan posisinya yang sama seperti tadi malam. Masih memeluk istrinya.
Felly membuka matanya perlahan. Matanya yang sangat berat. Mungkin karena menangis tadi malam. Jadi mata indah itu sedikit membengkak dan akhirnya sedikit sulit untuk di buka.
Felly melihat posisinya yang tertidur di pelukan Aditya. Felly mengangkat sedikit kepalanya dan masih melihat Aditya yang tertidur lelap. Tanpa terbangun. Wajah Aditya tampak begitu tenang saat tertidur. Hari Felly bermain di tangan itu. Dari memegang matanya hidungnya mancung Aditya sampai membelai pipi Aditya.
__ADS_1
" Kenapa kamu bisa memiliki nasib semalamg ini. Aku tidak tau apa yang terjadi padamu. Bagaimana kamu menghadapi semuanya. Tetapi pasti kamu sangat berat menghadapinya," batin Felly yang begitu prihatin dengan suaminya yang mengalami hal kesulitan.
Felly seakan melupakan apa yang terjadi kepadanya. Dia melupakan bahwa Aditya sudah menghancurkan hidupnya. Dia benar-benar melupakan semua perbuatan Aditya kepadanya. Hanya karena apa yang di dengar dan di bacanya tadi malam.
" Mereka sangat jahat Aditya. Mereka sudah menghancurkan hidup kamu, keluargamu. Mereka sungguh jahat. Dan sekarang mereka masih ingin menyakitimu, mereka benar-benar bukan manusia. Kamu harus melawan orang-orang itu sendirian. Apa kamu bisa menghadapi mereka Aditya. Aku rasa itu tidak mungkin Aditya. Kamu tidak mungkin menghadapi mereka sendirian," batin Felly yang mencemaskan Aditya.
Menatap wajah Aditya dengan penuh arti. Sampai membuat mata Aditya terbuka secara perlahan dan langsung bertemu dengan mata indah Felly dengan tatapan yang menenangkan.
" Kau sudah tidak menangis lagi?" tanya Aditya. Felly menggeleng dengan pelan.
" Kau benar-benar, sangat cengeng, kau menangis seperti anak kecil hanya karena itu," ucap Aditya dengan mengejek Felly.
" Apa kau sangat merindukan ibumu?" tanya Aditya lagi dengan lembut. Felly menganggukkan matanya.
" Aku merindukannya. Aku sudah lama tidak menelponya makanya aku menangis," ucap Felly dengan suara nya yang serak.
" Apa hanya karena itu kau menangis. Apa tidak ada yang kau pikirkan?" tanya Aditya seakan tidak percaya dengan Felly.
" Hmmm, hanya karena itu," jawab Felly. Aditya menyunggingkan senyumnya dengan menatap dalam wajah Felly.
" Berhentilah menangis. Suaramu sangat berisik saat menangis," ucap Aditya mengejek Felly. Felly menganguk-angguk saja.
Dratttt, Dratttt, Dratttt. Ponsel Aditya tiba-tiba berdering Aditya menengok ke atas nakas mengambil ponselnya. Melihat panggilan masuk dari Laura.
" Kenapa dia menelpon sepagi ini," batin Aditya. Aditya menoleh kearah Felly.
" Sepertinya, itu dari Laura, makanya Aditya tidak mengangkatnya. Mereka begitu dekat. Bahkan Laura sering menelpon," batin Felly dengan wajahnya yang tampak tidak suka.
__ADS_1
Felly sepertinya sudah hilang mood lagi. Felly langsung bergeser dari Aditya, beranjak dari pelukan itu dan duduk. Membuat Aditya heran dengan Felly yang langsung pergi begitu saja tanpa berbicara padanya.
" Felly kamu mau kemana?" tanya Aditya. Tidak ada jawaban dari Felly dan Felly langsung masuk kekamar mandi.
" Tadi dia begitu nyaman, sampai tidak mau pergi dari pelukanku, sekarang malah asal main pergi saja. Ada apa dengannya. Apa ada hubungannya dengan Laura. Dia memang sangat aneh semenjak ada Laura. Apa dia cemburu," ucap Aditya menerka-nerka dengan senyum miringnya yang merasa jika Felly cemburu dengan Laudya.
" Felly, Felly, wajahmu tidak bisa bohong, kau memang tidak menyembunyikan apapun. Jangan-jangan kau menangis karena hatimu yang di lema," gerutu Aditya yang sangat percaya diri jika Felly sedang mencemburinya.
Padahal memang benar, Felly sedang mencemburinya. Felly menangis bukan karena Laura. Tetapi karena kisah yang di dengarnya. Tetapi dia sangat kesal dengan Aditya yang begitu tampak dekat dengan Laura. Apa lagi wanita itu sangat cantik. Jadi Felly sedikit sensitif.
Namanya juga ibu hamil, Jadi jelas, dia begitu sensitif dan Aditya malah sengaja membuatnya cemburu. Aditya tidak tau saja perasaan istrinya sudah bercampur aduk.
*********
Setelah mandi dan beres-beres kamar. Aditya, Felly, dan Elia sedang menikmati sarapan.
" Aditya kamu hari ini sibuk?" tanya Elia sambil mengunyah makanannya.
" Tidak kak, memang kenapa?" tanya Aditya yang memang tidak akan pernah sibuk untuk sang kakak.
" Kita ke makam mama ya. Kamu lupa, hari ini adalah hari Jumat," ucap Elia mengingatkan Aditya. Felly menghentikan makannya ketika mendengar ucapan Elia. Matanya yang tadi ke nasi langsung mengarah pada Elia.
" Ketika berbicara mengenai seorang ibu. Kak Elia tampak sedih, begitu juga dengan Aditya," batin Felly yang melihat kakak beradik itu secara bergantian.
Bersambung......
"
__ADS_1