
Felly dan Aditya sedang berada di mobil dan Felly terlihat sangat fokus melihat hanphonenya yang di mana Felly melihat YouTube. Sementara Aditya menyetir fokus kedepan.
" Kamu lihat apa sayang serius sekali? tanya Aditya menoleh sebentar ke arah Felly.
" Hmmm, aku sedang melihat berita terbaru mengenai kematian, William dan Heriyawan," jawab Felly.
" Memang ada apa lagi dengan kematian mereka. Sampai kamu tertarik untuk melihat perkembangan kasus itu," ucap Aditya.
" Aku hanya penasaran siapa yang sudah membunuh mereka," ucap Felly.
" Ya mungkin mereka juga punya musuh, makanya bisa di lenyapkan seperti itu," sahut Aditya tampak santai.
" Aditya, Aku jadi takut sesuatu," sahut Felly tiba-tiba yang membuat Aditya menoleh ke arah Felly.
" Takut! kamu takut kenapa?" tanya Aditya heran.
" Hmmmm, entahlah, tetapi perasaanku tidak enak. Aku takut kematian mereka malah...." Felly menghentikan kata-katanya yang tidak sanggup mengatakan rasa kekhawatirannya.
" Felly, kamu sedang tidak berpikiran kan kalau aku yang menyebabkan kematian mereka?" tanya Aditya yang melihat Felly serius. Dia seketika merasa istrinya sedang mencurigainya.
" Tidak Aditya, bukan itu. Aku tau kamu. Aku mana mungkin punya pikiran seperti itu," sahut Felly.
" Lalu apa. Kenapa kamu tiba-tiba merasa khawatir dengan kematian mereka," sahut Aditya.
" Aku juga tidak tau perasaanku. Aku hanya cemas, itu saja," sahut Felly membuang napasnya perlahan kedepan.
Aditya meraih tangannya dan memegangnya dengan erat, laku mencium punggung tangan itu.
" Semuanya akan baik-baik saja. Tidak ada yang perlu di Khawatirkan," ucap Aditya meyakinkan istrinya.
" Felly, intinya aku tidak menggunakan tanganku untuk mereka berdua. Walau seharusnya aku melakukan itu. Tapi tidak aku tidak melakukannya. Kematian mereka yang tragis tidak ada kaitannya denganku," ucap Aditya yang meyakinkan istrinya.
" Aku percaya kepadamu aku juga tidak pernah memikirkan hal itu," sahut Felly tersenyum.
" Ya sudah kamu jangan memikirkan apa-apa lagi. Walaupun mereka di bunuh dan Polisi sedang mencari perlakukannya. Itu tidak urusan kita. Karena aku tidak berkaitan dengan mereka," tegas Aditya.
" Iya," sahut Felly mengangguk. Aditya mengusap pucuk kepala Felly dan Felly pun meletakkan kepalanya di bahu Aditya.
__ADS_1
" Ya Allah, semoga saja masalah ke-2 orang itu tidak berkaitan dengan keluarga kami. Aku mohon lindungi keluarga kami," batin Felly yang masih tetap mencemaskan sesuatu.
" Tap siapa yang membunuh mereka ber-2, mereka di bunuh begitu tragis. Siapa yang melakukan itu," batin Aditya yang akhirnya penasaran juga karena istrinya memikirkan hal itu.
**********
Malam hari di pemakaman Elit. Baskoro berdiri di makam mantan istrinya Mariyati.
" Maryati, aku mungkin tidak berguna. Aku gagal menjadi suami dan juga ayah untuk putra dan putri kita. Tetapi aku hanya bisa melakukan pembalasan perbuatan mereka pada Elia dan aku juga sudah mengirim 2 orang yang tersisa itu keneraka. Aku merasa puas karena mereka mati di tanganku. Aku merasa sangat puas sebelum mereka mati. Aku memberi pelajaran yang mungkin tidak bisa menggantikan ke hancuran Elia.
" Aku hanya melakukan itu. Aku membuat Rebecca merasakan apa yang di rasakan Elia dan aku 2 Pria yang kehidupan putri kita sudah mati di tanganku. Maafkan aku Mariyati aku bari bisa melakukan itu sekarang. Aku minta maaf yang baru bisa membalaskan perbuatan orang-orang biadap itu. Tenanglah di sana. Karena semuanya sudah berakhir," ucap Baskoro di depan pusarah makam itu.
" Aku tidak menyesal melakukannya dan tidak akan pernah menyesal melakukannya, aku puas melakukannya. Aku sangat puas," ucapnya lagi dengan mata memerah yang terus melihat foto di atas makam itu.
Ternyata selama ini Baskoro otak di balik matinya. William dan Heriyawan. Dia yang sudah menyiksa 2 orang itu dan bahkan membunuhnya. Baskoro juga memanipulasi kematian 2 orang itu. Yang mana seolah-olah ke-2 orang itu di buat saling menghajar dan akhirnya saling membunuh.
Ya tapi seperti apapun itu polisi menjadikan kasus kematian itu yang awalnya di duga saling membunuh menjadi pembunuhan dan itu artinya Baskoro tidak aman. Ya pantas saja perasaan Felly tidak enak yang ternyata mertuanya sedang tidak baik-baik saja.
***********
" Ehem, terdengar suara deheman membuat Elia menoleh kebelakang dan ternyata melihat sang kakek yang berdiri di depan pintu.
" Kakek," ucap Elia. Harison pun menghampiri cucunya.
" Mau kemana, kenapa cantik sekali," puji Harison dan bahkan Harison mengendus seperti menghirup aroma yang khas, " cucu kakek juga sangat wangi," tambahnya lagi.
" Kakek bisa aja," sahut Elia malu-malu yang mendapat pujian itu.
" Kalau begitu katakan, mau kemana cucu kakek ini?" tanya Baskoro lagi.
" Hmmm, aku mau makan malam," jawab Elia.
" Oh, iya dengan siapa?" tanya Harison.
" Kakek di ajak tidak mau. Jadi aku makan malam sendirian," sahut Elia.
" Sendiri tanpa di temani siapa-siapa," sahut Harison tampak cemas jika cucunya keluar sendirian.
__ADS_1
" Tidak kakek, aku di temani Bion. Aditya bisa marah-marah sama Bion. Kalau misalnya Bion tidak menjagaku," ucap Elia.
" Jadi Bion yang akan menemanimu?" tanya Harison memastikan. Felly menganggukkan kepalanya.
tok-tok-tok-tok.
Baru di bicarakan Bion sudah berdiri di daun pintu dengan mengetuk pintu. Dan langsung menundukkan kepalanya.
" Non Elia, apa sudah siap?" tanya Bion dengan sopan.
" Hmmm, iya aku sudah siap," jawab Elia yang kelihatan sangat semangat. Harrison hanya tersenyum melihat cerianya cucunya itu.
" Kakek Elia pergi dulu makan malam, kakek mau di bawakan sesuatu?" tanya Elia menawarkan. Harison memegang pipi Elia.
" Tidak perlu sayang, kakek tidak perlu di bawakan apa-apa. Yang penting kamu menikmati makan malam kamu. Maaf ya kakek tidak bisa menemani kamu," ucap Harison.
" Tidak apa-apa kek. Lagian kakek juga kurang enak badan, jadi jangan memikirkan Elia. Kan ada Bion. Orang yang di percaya Aditya. Jadi akan aman," ucap Elia.
" Iya," sahut Harison menoleh ke arah Bion.
" Bion!" tegur Harison.
" Iya tuan," sahut Bion dengan menundukkan kepalanya.
" Kamu tolong jaga Elia ya. Saya tutup Elia sama kamu. Tolong kamu jaga dengan baik," ucap Harison yang berpesan pada Bion.
" Tuan, tenang saja. Nona Elia adalah tanggung jawab saya dan itu sudah kewajiban saya untuk menjaganya," sahut Bion. Elia tersenyum mendengarnya.
" Ya sudah kek, Elia pergi dulu. Nanti kemalaman," ucap Elia pamit.
" Iya kamu hati-hati ya," ucap Harrison Elia mengangguk. Mengambil tasnya dan kembali pamitan pada kakeknya.
" Ayo Bion!" ajak Elia. Bion mengangguk dan menundukkan kepala pada Harison. Lalu menyusul Elia.
" Semoga saja Elia bisa terus seceria ini. Dia harus bahagia," batin Harison yang penuh harapan pada Elia.
Bersambung
__ADS_1