Pria Kejam Yang Merampas Kehormatan Ku.

Pria Kejam Yang Merampas Kehormatan Ku.
Eps. 104 panik.


__ADS_3

Setelah melaksanakan sarapan. Felly dan Aditya langsung ke luar dari rumah tersebut. Ketika sang atasan sudah datang.


Bion langsung membukakan pintu mobil untuk tuan dan istrinya itu. Felly memang akan ikut. Karena dia harus bekerja kembali. Felly bekerja di Restaurant sang suami.


Felly masuk terlebih dahulu dan di susul Aditya. Duduk di sampingnya. Suasana hati Aditya lagi damai-damainya hari ini. Karena kata-kata yang keluar dari mulut sang istri membuatnya bahagia.


Paling tidak Damar, Rebecca akan sadar dengan siapa mereka sebenarnya. Dan lumayanlah untuknya. Felly sedikit berfungsi di tengah situasi buruk itu.


" Kita ke Restaurant!" perintah Aditya.


" Baik Tuan," sahut Bion melihat dari kaca spion. Bion pun langsung menarik gas mobil dan langsung melajukannya.


Semetara dari balkon. Damar yang berdiri di sana dengan ke-2 tangannya di letakkan di pagar balkon mengepal ke-2 tangannya.


" Apa kalian sudah merasa paling benar. Kau benar-benar menikmati semuanya Felly. Kau sudah menghiyanatiku dan sekarang kau malah dengan bangganya mengatakan dia suamimu," ucap Damar dengan wajahnya yang merah. Kebenciannya yang bertambah besar kepada wanita itu.


" Apa sekarang kamu baru sadar," sahut Rebecca berdiri di depan pintu dengan ke-2 tangan di letakkan di dada. Damar menoleh kebelakang dan melihat sang mama menghampirinya.


" Kamu tau kan. Kenapa mama terus marah sama kamu. Karena otak kamu sudah di cuci oleh wanita itu," ucap Rebecca membuat Damar semakin panas.


" Felly memang ingin menghancurkan kamu dan Aditya memanfaatkan situasi itu. Dan Felly juga memanfaatkan kelemahan kamu. Dia tau kamu sangat mencintainya. Makanya dia seperti itu dan sekarang kamu lihat wanita itu benar-benar merendahkan kamu. Di depan kakek kamu. Dan sekarang lihatlah pasangan yang menjijikkan itu. Pasti pergi untuk merayakan kemenangan mereka," ucap Rebecca yang terus mengkompor- kompori Damar.


Damar semakin emosi dengan mengeratkan giginya dan kepalan tangan yang sudah ingin di luapkan.


" Jangan bodoh Damar. Mau sampai kapan kamu seperti ini. Baru saja Felly menikah dengan Aditya. Kakek kamu sudah memberikannya harta yang jumlah tidak sedikit dan kamu tau Aditya sedang membangun tempat itu yang itu artinya. Lama-lama kelamaan asetnya akan semakin banyak dan kamu akan semakin kere,"


" Bukan hanya itu. Kamu jangan lupa dengan Culture perusahaan. Perusaan utama akan jatuh pada cucu yang sudah memiliki anak. Dan Aditya sudah menikah banyak kemungkinan 1 tahun kemudian Perusahaan utama akan menjadi miliknya.


" Lalu kamu apa. Bukannya kamu sudah bertahun-tahun ada di perusahaan itu. Kamu juga sudah membuat proyek banyak selama kamu di perusaahan. Tetapi pekerjaan kamu akan sia-sia. Ketima Aditya akan menjadi pemiliknya yang mungkin kamu tidak akan menjadi wakil CEO. Tetapi kamu juga akan di hempas dari perusaan utama," Rebecca terus mengeluarkan kata-kata yang menakut-nakuti Damar.


" Apa lagi sekarang. Mungkin kamu bisa merasakan perbedaan kakekmu kepadamu. Semenjak ada Felly. Dua bahkan sering membela Aditya dan jika Aditya bersikap kurang ajar. Kakekmu hanya menegurnya dengan lembut dan tidak memberi hukuman atau gertakan yang tegas,"


" Kamu juga seringkan melihat mama menjadi korbannya. Dan mungkin hal itu akan terus berlanjut. Jika Felly masih bersama Aditya," tegas Rebecca membuat Damar melihat mamanya.


" Apa maksud mama?" tanya Damar.


" Jika pawangnya adalah Felly. Maka itu yang harus di Singgirkan dan yang menyinggirkan nya. Adalah Aditya," sahut Rebecca tersenyum licik.

__ADS_1


" Maksud mama. Mama ingin...." Damar tidak tau apa yang di rencanakan mamanya. Tetapi walau apapun dia pasti tidak setuju jika Felly di sakiti. Karena walau membenci dia masih mencintai.


" Kamu tenang saja. Serahkan pada mama. Mam akan buat Aditya menghempasnya dari hidupnya sendiri," ucap Rebecca tersenyum miring.


" Kakek," lirih Damar tiba-tiba. Melihat Harison yang berdiri di depan pintu yang sekitar 7 meter dari mereka.


Rebecca terkejut mendengar Damar menyebutkan nama kakek membuat tangannya yabg berada di dadanya langsung turun dan matanya yang melotot menunjukkan rasa kagetnya.


Dengan perlahan dengan debaran jantungnya yang tidak berdetak sangat kencang.


" Papa," lirih Rebecca dengan wajahnya yang pucat. Dia kepanikan melihat mertuanya yang tiba-tiba sudah ada.


" Gawat. Kenapa papa ada di sini, bagaimana ini. Apa papa mendengarkan aku dan Damar," batin Rebecca yang ketakutan.


" Apa kakek mendengar kata-kata mama," batin Damar yang juga mengkhawatirkan hal itu.


" Sejak kapan papa di sana?" tanya Rebecca dengan suara gugupnya.


" Barusan," jawab Harison tampak santai.


" Damar ikutlah denganku. Aku ingin bicara pada mu," ucap Harison.


" Iya kek," jawab Damar dengan gugup. Damar terlihat membuang napas pelan dan melangkah mendekati sang kakek.


" Kamu kenapa Rebecca?" tanya Harison. Membuat Rebecca tersentak dan langsung gelisah.


" Hah, aku. Tidak pa. Tidak apa-apa," jawab Rebecca dengan gagap.


" Kamu sepertinya banyak pikiran. Sampai kamu wajahmu pucat dan seperti ketakutan," ucap Harison. Rebecca menelan salavinanya mendengar kata-kata papa mertuanya.


" Mama kurang enak badan kek," sahut Damar yang mencoba mengalihkan suasana tegang.


" Oh, begitu rupanya. Baiklah jika begitu. Ayo kita bicara," ucap Harison yang melangkah terlebih dahulu. Damar mengangguk dan mengikuti kakeknya.


" Gawat, bagaimana ini. Apa papa mendengarnya," ucap Rebecca dengan gelisah memijat kepalanya. Dia sangat kepanikan yang takut jika kata-katanya di dengar mertuanya.


" Tidak. Papa sepertinya. Tidak mendengarnya. Jika dia mendengarnya. Dia pasti membahasnya. Ini sama sekali tidak. Tapi kenapa suara papa tampak dingin," Rebecca terus bergerutu kebingungan dengan situasi yang di hadapinya.

__ADS_1


Bagaimana tidak ketakutan. Tiba-tiba mertuanya sudah ada dan yang paling membuatnya panik. Dia tidak mengetahui mertuanya mendengar ucapannya atau tidak. Jadi Rebecca gelisah sendiri.


*********


Aditya dan Felly masih di dalam mobil perjalanan menuju Restaurant. Aditya menoleh ke arah Felly yang tampak santai.


" Apa penciumanmu sudah tidak berfungsi lagi," ucap Aditya tiba-tiba dengan suara ketusnya.


" Memang kenapa dengan penciuman ku apa yang salah," sahut Felly bingung.


Menurutnya Aditya memang selalu mencari-cari sesuatu yang salah pada dirinya yang tidak penting. Dan akan memicu keributan. Karena memang Aditya suka memancingnya untuk ribut.


" Kau tidak bisa mencium bau nanas sampai kau hampir meminumnya," ucap Aditya dengan menekan suaranya.


" Bisa. Aku tau itu nanas. Lalu apa yang salah. Dan aku juga heran. Kenapa kau melarangku meminumnya. Dan bahkan mengatakan aku alergi. Padahal tidak sama sekali," ucap Felly kebingungan.


" Aku sekarang batu sadar bukan penciuman mu yang bermasalah. Tetapi pendengaran mu," sahut Aditya tambah geram.


" Kenapa sih dia. Tadi menyalahkan penciuman. Sekarang pendengaran. Aneh," batin Felly kebingungan.


" Aku tidak mengerti dengan maksudmu. Sudahlah lupakan semuanya," ucap Felly malas ribut.


Aditya dengan geram mengeluarkan ponselnya dari sakunya dan terlihat mengetik dan tidak tau apa yang di lakukannya.


" Lihat pakai matamu dan semoga mata mu juga tidak bermasalah," ucap Aditya memeberikan kasar ponselnya padan Felly. Felly pun bingung dengan ponsel Aditya yang sudah ada di tangannya.


" Semua pancra indaraku di protesnya," batin Felly kesal.


Lalu Felly langsung melihat ponsel Aditya. Felly langsung terkejut melihat apa yang ada di ponsel itu dan Felly langsung menutup mulutnya dengan tangannya bahkan matanya melebar sempurna.


" Jadi nanas itu berbahaya untuk kandungan ku," ucap Felly dengan wajah terkejutnya melihat ke arah Aditya.


" Aku sudah membayar dokter mahal-mahal. Paling tidak kau gunakan telingamu untuk mendengar kata-katanya. Apa yang boleh kau konsumsi dan yang tidak kau konsumsi. Agar kandungan tetap baik-baik saja. Kecuali kau memang sengaja ingin memusnahkan kandungan itu," ucap Aditya sinis. Felly langsung geleng-geleng kepala dengan cepat.


" Aku tidak pernah punya niat untuk mencelakai janin ini. Aku tidak tau jika itu berbahaya," ucap Felly yang benar-benar tidak percaya. Dan sekarang kepanikan sendiri dengan hal itu.


Bersambung....

__ADS_1


__ADS_2