
Felly mondar mandir di dalam kamar. Dia tidak tau kenapa Aditya setuju-setuju saja untuk menginap di rumah itu. Tetapi Felly sudah menebak-nebak, jika Aditya pasti punya rencana kenapa harus menginap di rumah itu sampai 3 hari kedepan.
Tetapi baru satu hari. Felly sudah tinggalkan dan benar-benar hanya penuh rasa penasaran dan kecemburuan yang semakin bertambah.
" Aditya apa susahnya kamu melibatkan ku dalam hal ini. Aku hanya ingin membantumu. Tetapi kamu malah seakan tidak menganggapku," ucap Felly dengan nada kecewa yang sudah terduduk dengan mengusap wajahnya dengan ke-2 tangannya.
" Aku tidak tau apa yang terjadi pada diriku, aku begitu membencinya karena dia sudah menghancurkan hidupku. Tetapi seakan aku melupakan apa yang di lakukannya kepadaku. Dengan kenyataan bahwa kehidupan Aditya sangat menderita. Di saat aku mempercayainya sampai aku benar-benar tulus memberikan haknya sebagai suami. Tetapi baru kejadian itu selang beberapa hari. Semuanya berubah dan sekarang sangat parah. Dulu menganggap biasa karena aku tidak peduli karena kebencian yang ada di hatiku. Tetapi kenapa rasanya sakit. Jika dia tidak menghargaiku dan seakan tidak menganggapku," batin Felly meneteskan air matanya yang hanya bisa berbicara pada hatinya.
" Aditya, aku selalu bertanya kenapa harus aku yang mendapatkan semuanya. Aku selalu bertanya alasan kamu membuatku tidak pernah tenang. Aku ingin melupakan semua alasan itu. Dan bahkan ingin membuka lembaran baru. Tepi kenapa sepertinya kamu tidak mengerti dan tidak menginginkan hal itu terjadi," lanjutnya lagi yang penuh kekecewaan.
Ceklek.
Tiba-tiba pintu kamar terbuka membuat Felly kaget yang ternyata Aditya yang membuka pintu kamar itu. Aditya berdiri di depan pintu dan melihat Felly yang menangis membuatnya heran.
Aditya memasuki ruangan itu dengan langkah pelan. Lalu langsung memasuki kamar mendekati Felly dan Felly dengan cepat mengusap air matanya.
" Kamu kenapa?" tanya Aditya.
" Aku tidak apa-apa," jawab Felly yang langsung berdiri dan ingin pergi tetapi Aditya menahan tangannya dan Aditya kembali berdiri di depan Felly. Tetapi Felly tidak melihat wajah Aditya dan mengalihkan pandangannya kekirinya.
" Kamu kenapa?" tanya Aditya lagi.
" Aku tidak apa-apa," jawab Felly menepis tangan Aditya dengan nada suaranya yang sedikit mengeras.
" Felly, jangan bersikap seperti ini. Aku sedang banyak pekerjaan. Aku tidak punya waktu untuk membujukmu atau melakukan hal lain. Jadi bersikaplah biasa. Kau juga tidak perlu mencari tau siapa Laura. Karena itu bukan urusanmu," ucap Aditya dengan nada datar. Felly langsung menoleh ke arah Aditya.
" Laura, jadi dia langsung menyampaikan kepadamu, jika aku bertanya kepadanya," sahut Felly kesal.
__ADS_1
" Felly, kau tidak perlu berbicara kepadanya. Apalagi menanyakan sesuatu yang tidak penting," sahut Aditya menegaskan.
" Kenapa, kenapa, kenapa aku tidak boleh bicara dengannya?" tanya Felly.
" Itu tidak penting. Karena jelas tidak akan ada untungnya untukmu dan apa yang kau lakukan hanya akan membahayakan dia. Jika kau tiba-tiba harus bicara dengannya," tegas Aditya.
" Kau, sangat takut jika terjadi sesuatu kepadanya," ucap Felly dengan sinis. Suara yang yang sangat pelan.
" Felly, aku sudah mengatakan. Apa yang aku lakukan tidak main-main. Jadi jangan membuat cela sedikitpun yang bisa membuat rencanaku berantakan, bisa kan kau mendengarkanku," ucap Aditya yang terus menegaskan. Felly tersenyum palsu mendengarnya.
" Lalu kenapa, kau tidak memberi tahuku tentang rencanamu. Kenapa kau tidak memberitahuku tentang semuanya. Kenapa masih harus di sembunyikan?" tanya Felly.
" Kau tidak perlu ikut terlibat. Karena ini urusanku, jadi aku sudah mengatakan berkali-kali. Lupakan apa yang kau dengar dan apa yang kau lihat. Kau tidak perlu tau detailnya," sahut Aditya.
" Tapi aku ingin tau Aditya," sahut Felly dengan tatapan matanya yang benar-benar ingin Aditya mempercayainya.
" Dan itu semua urusan Laura ," sahut Felly. Aditya terdiam mendengarnya.
" Felly cukup. Jangan membahas masalah yang tidak penting. Laura dan aku sedang berusaha. Jadi aku minta tolong kepadamu. Jaga sikapmu dan aku tegaskan sekali lagi dan berulang-ulang kali kepadamu jangan melakukan hal yang aneh-aneh. Yang membuat berantakan dan jika sekali lagi kau tidak mendengarkanku maka aku..,"
" Maka apa. Kau akan melakukannya seperti dulu, memberi hukuman katamu. Hukuman apa. Kau menarikku kekamarmu dan kau membuatku mengingatkan semuanya. Itu yang akan kau lakukan agar aku jera, iya itu yang akan kau lakukan," sahut Felly yang menaikkan volume suaranya.
" Kau benar-benar keras kepala Felly. Apa kau tidak bisa mendengarkanku," gertak Aditya yang mulai terpancing emosi, jelas gertakan yang terlihat membentak itu membuat Felly tersentak kaget dan matanya berkaca-kaca.
" Kau begitu manis Aditya, sebelum kau menyentuhku malam itu. Aku sampai terpesona kepadamu. Aku sampai melupakan semua yang kau lakukan sampai aku luluh dan benar-benar tulus memberikan hak mu sebagai semua. Lalu apa yang kau lakukan. Setelah kau mendapatkan maumu. Ini yang kau lakukan kepadaku. Kau sengaja berpura-pura manis di hadapanku. Hanya untuk kemauan dirimu saja," ucap Felly dengan menekan suaranya.
" Apa maksudmu?" tanya Aditya menekan suaranya.
__ADS_1
" Semuanya memang jelas. Jika kau memang seberengsek itu," kecam Felly. Aditya memijat kepalanya dengan membuang napasnya perlahan.
" Aku tidak punya waktu untuk membicarakan hal yang tidak penting padamu. Kau istirahatlah. Aku ingin keluar," ucap Aditya yang walau sudah emosi. Tetapi masih mengendalikan dirinya dan memilih untuk pergi.
" Jika aku sendirian di rumah ini. Aku juga ingin pulang," sahut Felly membuat Aditya tidak jadi melangkah.
" Kita tidak bisa pulang sekarang, tunggulah sampai urusanku selesai," sahut Aditya beralih dari hadapan Felly dan kembali melangkah.
" Jika aku tidak bisa ikut campur urusanmu. Lalu kenapa kau menikahiku?" tanya Felly membuat langkah Aditya terhenti lagi.
" Aku juga tidak ingin Aditya masuk kedalam kehidupanmu dan ikut-ikutan. Tetapi apa yang aku dengar membuat aku juga dalam bahaya. Dan semua itu karena kau menarik ku untuk kedalam kehidupanmu. Jika aku sudah terlanjur masuk. Lalu kenapa menghentikan semuanya, dan seakan aku tidak di percayai," lanjut Felly.
" Aku istrimu Aditya dan bukan Laura," lanjut Felly yang seakan menuntut statusnya.
" Kalau begitu aku harus mengingatkan pada posisimu sebagai istri yang seperti apa. Aku rasa kau tidak lupa jika pernikahan kita hanya kontrak," sahut Aditya dengan bergetar mengingatkan pada Felly.
Felly mendengarnya menelan salavinanya. Pasti tidak pernah terpikir olehnya. Jika Aditya bisa membahas kontra yang bahkan sudah dianggapnya tidak ada.
" Kau dengar aku Felly," sahut Aditya menghadapkan tubuhnya ke arah Felly.
" Awal kita menikah. Jelas tidak ada bedanya dengan sekarang. Bagiku sama dan sama juga aku tidak suka jika melihat menantang apa yang aku katakan. Aku tidak suka jika kau benar-benar membantah semuanya. Semu jelas masih berlaku sampai sekarang. Jadi dengar baik-baik. Aku tidak akan main-main dengan ucapanku. Jika aku benar-benar melihatmu melakukan sesuatu yang membuat rencanaku berantakan. Aku benar-benar tidak akan mengampunimu," tegas Aditya yang mengancam Felly yang membuat hati Felly sakit sampai menahan air matanya.
" Jadi diam lah di tempatmu dan jangan buat ulah," tegas Aditya langsung pergi. Aditya berada di depan pintu kamar, ekor matanya masih melihat ke arah daun pintu.
" Jika aku tidak keras kepadamu. Kau tidak akan mengerti Felly. Terlalu bahaya. Jika kau mencampuri urusanku," batin Aditya yang terpaksa mengeluarkan kata-kata menyakitkan untuk Felly. Agar Felly mengerti dan benar-benar menurutinya.
Bersambung
__ADS_1