
Setelah sarapan bersama. Felly mencuci piring di dapur dan bibi Wanti menghampirinya.
" Biar bibi aja Felly. Kamu istirahat saja," ucap Wanti mengambil alih pekerjaan Felly.
" Tidak apa-apa bi, hanya sedikit saja," ucap Felly.
" Sudah tidak apa-apa, sana kamu temani suami kamu saja," ucap Wanti yang tetap menyuruh Felly untuk tidak melakukan pekerjaan itu.
" Sana, biar bibi saja," ucap Wanti lagi yang Menyinggirkan tangan Felly dari piring-piring itu. Dan langsung mengambil alih mencucinya.
" Sudah, kamu sana, buatin suami kamu teh, setelah dia pulang mengantar Aqni dari sekolah. Kamu beri dia teh," ucap Wanti. Mendengar kata mengantar membuat mengkerutkan dahinya.
" Apa, Aditya mengantar Aqni," sahut Felly dengan wajah terkejutnya.
" Hmmm, tuh mereka kayaknya mau pergi," ucap Wanti kepalanya mengarah ke jendela. Felly mendengarkan suara mesin mobil dan seketika dia menjadi panik dan langsung berlari.
" Felly jangan lari-lari," ucap Wanti yang ketakutan melihat keponakannya yang lari-larian.
" Dasar, anak itu, dia apa tidak sadar jika dia sedang hamil," ucap Wanti geleng-geleng.
Felly lari sekencangnya dan langsung lari keluar rumah dan melihat Aditya yang memang mengantar Aqni, Felly langsung menyetop mobil yang ingin berjalan itu.
" Buka pintunya," teriak Felly menggedor-gedor kaca mobil. Membuat Aditya heran dan langsung menurunkan kaca mobilnya.
" Ada apa?" tanya Aditya heran. Dan Felly memang melihat Aqni duduk di samping Aditya.
" Apa yang kau lakukan?" tanya Felly menguatkan Volume suaranya. Dengan wajahnya yang penuh kepanikan.
" Apa yang aku lakukan?" tanya Aditya heran.
" Aqni turun kamu!" usir Felly melihat ke arah adiknya dan Aqni benar-benar heran dengan kakaknya yang menyuruhnya turun.
" Kenapa?" tanya Aqni heran
" Sudah turun!" tegas Felly.
" Felly kamu ini apa-apaan sih," sahut tiba-tiba suara Sabila yang membuat Felly heran dan melihat sang mama yang ternyata berada di kursi belakang bersama Lulu dan Dody.
__ADS_1
" Mama," ucap Felly pelan yang kaget dengan keberadaan mamanya. Aditya mendengus dengan tersenyum miring melihat kelakuan Felly yang apa lagi. Jika tidak berpikiran buruk padanya.
" Kamu ini kenapa Felly. Kenapa marah-marah dan malah menyuruh adik kamu turun. Kenapa coba," ucap Sabila yang aneh melihat tingkah putrinya.
" Jadi mama ada di lama. Dan bukan hanya Aqni sendiri saja," batin Felly yang malu dengan ulahnya.
Felly melihat kearah Aditya dan Aditya melihatnya dengan senyum mengejek dan Felly yang kesal langsung pergi. Dan membuat semua orang yang ada di dalam mobil tambah heran.
" Kenapa sih kak Felly," gumam Aqni heran.
" Dia memang belakangan sangat aneh," sahut Sabila yang juga heran dengan tingkah putrinya yang aneh.
" Felly, kau masih saja membantah segalanya. Padahal jelas terlihat kau seperti apa," batin Aditya tersenyum miring.
********
Setelah mengantar Aqni, Lulu, dan Dody ke sekolah dan menemani mertuanya kepasar. Walau memang itu bukan sifat Aditya. Tetapi tidak tau kenapa dia mau saja menemani mertuanya itu.
Aditya pun sampai Kerumah dan membatu membawa belanjaan Sabila masuk kedalam rumah dan langsung kedapur. Terlihat Wanti beres-beres di dapur.
" Hmm, mana Felly?" tanya Wanti yang tidak melihat Felly. " Ini aku bawa kue kesukaannya dari pasar. Dia pasti sudah lama tidak memakan ini," ucap Sabila mengeluarkan kantung plastik. Dia mana mungkin tidak mengingat putri kesayangannya itu.
" Tuh di dari tadi di sana!" ucap Wanti melihat ke arah jendela dan yang memperlihatkan Felly duduk di atas rumput. Duduk termenung dengan kakinya bersilah.
" Ngapain dia di sana," batin Aditya heran.
" Dari tadi di sana terus, wajahnya kelihatan sangat murung, di panggil-panggil nggak mau, tau dia kenapa," ucap Wanti menjelaskan.
" Aneh sekali," gumam Sabila geleng-geleng lalu pergi dengan membawa kue yang tadi untuk Felly. Aditya hanya melihat Felly saja. Dari fostur tubuh Felly, sangat terlihat Felly sedang sedih.
Felly duduk termenung dengan wajahnya yang sendu, bahkan matanya berkaca-kaca. Tidak tau apa yang membuatnya seperti itu. Tetapi dia benar-benar seakan sangat sedih.
Tiba-tiba sentuhan tangan lembut memegang pundaknya, membuat Felly sedikit kaget dan melihat siapa yang memegangnya yang ternyata mamanya.
Felly tampak kesal dan menepis pelan tangan mamanya dan menggeserkan dirinya. Seakan marah dengan mamanya.
" Ada apa Felly?" tanya Sabila dengan lembut.
__ADS_1
" Sudahlah, mama sana saja, Felly tidak mau di ganggu," ucap Felly dengan suara ketusnya.
" Ada apa sayang, ini mama beliin kue lapis kesukaan kamu," ucap Sabila yang sudah duduk di samping Felly.
" Aku tidak mau, kasihkan saja kepadanya," sahut Felly dengan kesal. Membuat Sabila mengkerutkan dahinya.
" Siapa maksud kamu?" tanya Sabila bingung.
" Siapa lagi. Kalau bukan Aditya, mama begitu peduli kepadanya, tetapi aku. Aku pulang bukannya di peluk, tidak di kasih makan. Mama malah memarahiku dan lebih parahnya mama mengomeliku di depan Aditya. Mama tidak peduli apa denganku. Anak mama itu aku apa dia. Mama benar-benar sudah tidak sayang sama Felly lagi," ucap Felly yang mengoceh dengan mengeluarkan isi hatinya yang di pendamnya.
Sabila tersenyum mendengar putrinya yang merasa di asingkan. Dia tidak menyangka putrinya menanggapi serius, sampai Felly mengeluarkan air mata karena kecemburuannya yang mamanya lebih memperdulikan suaminya di bandingkan dirinya.
" Kamu ini cemburuan sekali. Kalau Aditya suami kamu. Berati dia juga anak mama," ucap Sabila mengusap pipi Felly dengan menghapus air matanya.
" Tetapi tetap saja. Mama berlebihan dan tidak peduli kepadaku," ucap Felly.
" Sayang, mana mungkin mama tidak peduli kepadamu. Mama sayang, sama kamu dan juga yang lainnya. Mama juga merindukan kamu dan ingin memeluk anak mama yang sangat cantik ini," ucap Sabila membujuk Felly yang merajuk.
" Bohong, mama pasti bohong," sahut Felly yang tidak percaya pada mamanya.
" Mana ada ibu yang berbohong, sini mama peluk," ucap Sabila yang langsung memeluk Felly, awalnya Felly tidak mau. Tetapi Sabila tetap memaksanya dan akhirnya Felly mau dan menangis di pelukan mamanya.
" Shuttt, jangan menangis sayang, maafkan mama sudah mengacuhkan kamu, maaf kan mama. Kamu itu tetap putri kesayangan mama. Mana mungkin ada yang menggantikan kamu," ucap Sabila menepuk bahu Felly menenangkan Felly dalam tangisnya.
Ternyata Aditya tidak jauh dari Felly dan mamanya. Dia mendengarkan semua keluhan Felly yang dugaannya benar jika Felly sedang merajuk karena mamanya yang cuek kepadanya.
" Kau begitu galak selama ini. Tetapi apa kau begitu cengeng dan menangis hanya karena hal spele," gumam Aditya geleng-geleng.
" Hmmm, memang begitulah Felly," sahut Wanti tiba-tiba yang sudah berdiri di samping Aditya dan membuat Aditya kaget dengan kehadiran wanita itu yang dia tidak tau kapan.
" Bi," ucap Aditya.
" Felly itu anak yang manja sebenarnya. Sangat manja pada mama dan papanya, juga kakaknya. Dia selalu ingin di dahulukan. Tetapi tidak ada yang menyangka setelah kehancuran keluarga kami. Felly berubah menjadi wanita yang mandiri. Dia melakukan segala hal dan merasa dia adalah pengganti papanya yang bertanggung jawab atas keluarganya," ucap Wanti yang menceritakan bagaimana keponakannya itu yang membuat Aditya menyimaknya.
" Tetapi lihatlah dia. Walau dia kuat. Dan menyembunyikan keadaannya. Tetapi jika dengan mamanya dia akan lemah dan akan menjadi wanita cengeng," ucap Wanti tersenyum. Aditya melihat ke arah Felly. Aditya tersenyum tipis dengan penuh arti melihat Felly.
Bersambung.....
__ADS_1