
" Apa yang kau katakan Rebecca?" tanya Baskoro yang schok mendengarnya.
" Apa maksud mama?" tanya Damar dengan suara menekan.
" Apa yang aku katakan kurang jelas. Jika dia bukanlah ayah kandungmu," sahut Rebecca mengulangi sekali lagi kata-katanya.
" Tidak mungkin mah, itu tidak mungkin. Mama bicara seperti itu. Hanya untuk mengecoh ku," ucap Damar dengan tersenyum yang tidak akan percaya semuanya.
" Tidak mungkin katamu. Apa yang tidak mungkin. Itu adalah kenyataan Damar dan terimalah kenyataan itu," sahut Rebecca.
" Jaga bicaramu Rebecca. Kau jangan bicara sembarangan. Damar adalah putraku dan tidak akan ada yang mempercaimu," sahut Baskoro yang tidak mempercayai apa yang di katakan Rebecca.
" Apa yang aku katakan adalah kebenarannya. Aku saat itu hamil. Dan aku hamil anak orang lain. Aku sengaja menggodamu, hingga kau masuk kedalam jebakanku, agar anak di dalam kandunganku memiliki seorang ayah. Aku sengaja melakukannya untuk masuk kedalam keluarga Harison. Untuk mendapatkan semua kekuasaan dengan cara menyinggirkan orang-orang bodoh itu!" tegas Rebecca yang menceritakan semuanya dengan detail.
" Itu tidak mungkin mah," sahut Damar yang masih tidak percaya dan terasa sakit mendengar kenyataan itu.
" Damar, aku berkata benar. Jadi untuk apa kau berpihak pada Pria yang ingin menghancurkan ibumu. Ingin membunuhku," ucap Rebecca.
" Ahhhhhhh," teriak Damar yang langsung berlutut dengan meremas rambutnya rambutnya dengan wajahnya yang memerah.
" Kenapa mah. Kenapa mama baru cerita sekarang!" teriak Damar yang kelihatan tidak mudah menerima semua itu.
" Mama benar-benar sangat kejam. Mama hanya memanfaatkan sejak aku di dalam kandungan. Mama memanfaatkan ku untuk menikah dengan papa, ketika aku lahir sampai dewasa. Mama tetap saja memanfaatkanku. Mama membawaku kejalan yang salah hidupku yang hancur!" teriak Damar dengan derain air matanya.
" Mama melakukan semua itu demi kebaikanmu," ucap Rebecca.
" Kebaikan apa ma!" teriak Damar dengan suara menggelar.
" Kau tidak akan mengerti Damar," sahut Rebecca. Damar merapatkan giginya dengan ke-2 tangannya mengepal dan dengan cepat Damar berdiri dan mengambil pistol yang di tangan papanya yang membuat Baskoro kaget.
Rebecca melihatnya tersenyum yang melihat tindakan Damar. Namun dengan cepat Damar langsung menembakkan ke arah Rebecca.
Dorr. Rebecca yang tidak siap tidak bisa mengelak dan ternyata Damar menebak pistol Rebecca sehingga pistol itu terlepas dari tangan Rebecca.
" Damar!" teriak Rebecca.
__ADS_1
" Jika mama hanya memanfaatkan ku. Maka mama yang akan mati di tanganku!" ucap Damar mengarahkan pistol ke arah sang mama. Rebecca terkejut mendengarnya. Di mana Damar yang ingin membunuhnya.
" Apa kamu gila Damar!" teriak Rebecca.
" Mama juga ingin membunuhku. Maka kita lebih baik saling membunuh," ucap Damar dengan tatapan matanya yang sudah kosong. Dia benar-benar lelah dengan kenyataan -kenyataan yang ada.
" Bukan aku yang harus kau bunuh tapi Dia!" teriak Rebecca menunjuk Baskoro yang juga terlihat panik. Walau Damar memegang pistol ke arah Rebecca. Namun tetap dia takut Damar akan di pengaruhi Rebecca dan akhirnya dia yang tertembak.
" Aku hanya akan membunuh satu saja," ucap Damar memutuskan dan kembali menarik pelatuk pistol yang ingin menembak mamanya.
" Anak sialan ini. Aku bisa mati di sini," batin Rebecca yang terlihat panik.
" Akhhh," teriak Rebecca yang langsung bersujud dengan mengacak rambutnya prustasi.
" Kenapa aku yang menjadi korban. Aku juga korban. Tetapi kenapa aku juga akhirnya di bunuh anakku sendiri!" teriak Rebecca dengan air mata biayanya yang keluar.
" Aku sudah bersusah payah mengandungmu Damar, aku melahirkan mu. Aku melakukan semuanya untukmu. Tapi apa ini balasan mu kepada ibu kandungmu demi orang-orang yang tidak mempedulikan kita. Sadarlah Damar. Jika mereka mempedulikan kita tidak akan seperti ini kejadiannya. Kamu di penjara. Lihat apa yang mereka lakukan. Mereka sama sekali tidak membantumu!" Rebecca berteriak-teriak yang ingin mengecoh hati Damar.
" Jangan dengarkan mamamu Damar," sahut Baskoro yang mencoba membuat Damar untuk tidak bimbang, " dia sangat jahat. Dia wanita kejam. Kamu jangan mendengarkannya," ucap Baskoro.
" Tidak Damar. Kau tetap putraku. Kau sudah besar bersamaku dan apapun itu. Kau tetap adalah putraku. Itu tidak akan pernah berubah," sahut Baskoro.
" Aku ibu mu Damar. Jadi menurutlah kepadaku!" teriak Rebecca.
Damar terlihat linglung dia benar-benar lelah dengan drama keluarganya itu.
" Papa!" teriak Elia yang tiba-tiba datang. Suara teriakan Elia membuat semua orang kaget. Baskoro, Damar dan Rebecca melihat ke arah suara itu di mana Elia berlari.
" Elia!" lirih Baskoro yang tidak percaya Elia akan datang. Rebecca yang melihat Damar sudah hilang fokus pada Elia. Dengan cepat Rebecca mengambil pistol yang tadi terjatuh.
Dorrrrrrr.
Rebecca langsung menembak dada Damar.
Suara tembakan itu membuat Baskoro kaget dan melihat Damar tergelatak dengan darah di dadanya.
__ADS_1
" Damar!" teriak Baskoro. Rebecca yang melihat Elia yang masih berlari langsung mengarahkan pistol pada Elia dan langsung menembaknya. Baskoro yang melihatnya langsung bergerak cepat.
Dorrr.
Peluru itu tembus pada punggung Baskoro yang memeluk Elia. Elia yang berada di pelukan itu kaget.
" Papa," lirih Elia meneteskan air matanya. Saat melihat tangannya yang memegang punggungnya sudah berdarah.
" Pergi dari sini cepat!" ucap Baskoro dengan suara lemas dan Elia sudah menagis.
" Tidak pah! apa yang terjadi!" ucap Elia yang terlihat panik.
" Matilah kalian semua!" ucap Rebecca yang menembakkan lagi.
Dorrr.
Tembakan itu terdengar lagi. Yang ternyata tidak mengenai Baskoro atau Elia. Tetapi Rebecca yang tertebak di bagian perutnya yang mana Aditya datang tepat waktu.
" Pah!" teriak Aditya yang berlari menghampiri papanya yang terduduk lemas di yang masih di peluk Elia dan Aditya juga melihat Damar yang tertembak.
" Aditya!" lirih Baskoro dengan suara lemas tidak berdayanya.
" Papa tidak apa-apa, papa harus bertahan," ucap Aditya dengan panik pada papanya yang terus mengeluarkan darah.
" Apa kalian ber-2 datang untuk papa?" tanya Baskoro meneteskan air matanya tersenyum menahan sakit melihat ke-2 anaknya ada di depannya.
" Iya, kita akan membawa papa pergi. Jadi bertahanlah," ucap Aditya yang juga meneteskan air mata.
" Apa itu artinya kamu menganggap papa sebagai papamu?" tanya Baskoro.
" Papa tidak pernah tidak menjadi seorang ayah. Apapun yang terjadi papa adalah orang tua ku dan kak Elia," ucap Aditya. Baskoro tersenyum mendengarnya.
" Maafkan papa, Aditya. Maafkan papa Elia. Papa sudah menghancurkan hidup kalian berdua. Papa sudah mencuri kebahagian kebahagian kalian. Papa tidak berguna sebagai seorang ayah. Papa gagal menjadi ayah untuk kalian," ucap Baskoro dengan penuh penyesalan kepada Aditya dan Elia di depannya.
Elia tidak henti-hentinya menagis melihat papanya yang terluka parah dan belum lagi. Aditya juga menangis dengan melihat kondis itu.
__ADS_1
Bersambung