Pria Kejam Yang Merampas Kehormatan Ku.

Pria Kejam Yang Merampas Kehormatan Ku.
Eps 165. Rasa canggung yang tercipta.


__ADS_3

Tidak berapa lama Bion kembali datang mengetuk kaca mobil bagian Aditya. Aditya langsung membukanya.


" Bagaimana apa dapat penginapannya?" tanya Aditya.


" Ada tuan hotelnya ada di ujung sana," ucap Bion menunjuk ke ujung jalan yang ada gedung tingginya.


" Apa ada payung?" tanya Aditya.


" Saya akan cari tuan," ucap Bion.


" Tidak usah Aditya," sahut Felly.


" Lagian tidak jauh, kita lari saja, akan cepat sampai," ucap Felly yang tidak mau Bion sampai hujan-hujanan lagi. Dia juga kasihan dari tadi Bion sudah basah-basahan.


" Kamu yakin?" tanya Aditya. Felly mengangguk.


" Baiklah, kalau begitu," Aditya membuka jasnya dan langsung keluar dari mobilnya dan Felly menyusul. Aditya langsung menutupkan jasnya pada kepala Felly agar terlindung dari hujan. Felly dan Aditya saling melihat dengan jas yang membentang itu.


" Ayo pak!" ajak Bion. Felly dan Aditya mengangguk dan langsung berlari mengikuti Bion. Berlari dengan payung jas Aditya.


Aditya berusaha, agar Felly tidak basah, di tengah-tengah larian, Felly terus melihat Aditya yang tampak serius. Sosoknya yang serius seakan tidak ingin dia basah. Debaran jantung Felly terus-menerus berdebar yang mendapat perlakuan hangat dari Aditya yang lagi-lagi membuat hatinya semakin dalam untuk Aditya.


Tidak lama akhirnya mereka sudah berada di depan hotel. Walau terlindungi jas, tetap saja rambut dan sedikit pakaian Felly basah, bahkan dressnya yang tipis sampai membuat bajunya dalamnya kelihatan.


Aditya mengibas-ngibaskan jasnya dan menutupkan kepada Felly. Agar tidak ada yang melihat tubuh bagian dalam tubuh Felly. Karena memang hanya dia yang boleh melihatnya. Lagian agar Felly tidak kedinginan.


" Kamu tidak apa-apa?" tanya Aditya.


" Felly menggeleng dia memang tidak apa-apa.


Sementara Bion mendatangi resepsionis dan memesan kamar untuk atasannya itu. Dan tidak berapa lama Bion pun menghampiri Aditya dan Felly.


" Bagaimana apa sudah ada kamarnya?" tanya Aditya.


" Sudah tuan. Tetapi hanya satu. Karena kamar lain sudah penuh dan ini juga karena ada. Karena ada yang mencansel nya," jawab Bion.


" Lalu kalau satu, kamu bagaimana?" tanya Felly.

__ADS_1


" Tidak apa-apa. Bu Felly bisa menginap, istirahat di dalam kamar, saya akan mengurus mobil dan nanti saja akan tidur di mobil," ucap Bion.


" Ya sudah baguslah kalau begitu," sahut Aditya tampak tidak peduli. Felly melihat Aditya geleng-geleng. Bisa-bisanya Aditya bilang bagus.


" Mana mungkin kamu tidur di mobil," ucap Felly yang tampak tidak tega.


" Kalau begitu dia tidur sekamar dengan kita," sahut Aditya yang tampak ketus. Seakan cemburu dengan perhatian Felly kepada Bion. Felly diam saja.


" Ayo!" ajak Aditya memegang erat tangan Felly. Mengambil kartu hotel dari Bion dan langsung pergi.


" Aku belum selesai mengatakan semuanya. Tuan Aditya sudah main pergi saja," batin Bion yang sepertinya masih ada yang ingin di sampaikannya.


Aditya dan Felly sudah ada di depan kamar tersebut. Wajah Aditya tampak kesal. Felly hanya melihat wajah yang kesal itu.


" Kenapa dia tampak marah," batin Felly heran.


Aditya memegang kenopi pintu dan langsung membukanya. Saat sudah terbuka Aditya dan Felly langsung masuk dan mereka berdua terkejut melihat kamar itu.


Di mana kamar itu. Layaknya kamar pengantin baru. Kamar yang tidak terlalu besar dan di atas tempat tidur penuh dengan kelopak mawar yang berbentuk hati dan banyak tangkai-tangkai mawar merah yang berserakan di lantai dengan kamar yang di terangi dengan lili. Layaknya kamar pengantin baru.


Aditya dan Felly saling melihat dengan apa yang mereka pikirkan. Mereka sedang salah masuk kedalam kamar.


" Bion, gimana sih," desis Aditya mengambil ponselnya dan langsung menelpon Aditya.


Sementara Felly di sampingnya terlihat mengusap-ngusap lengannya untuk menghangatkan tubuhnya.


" Begitu rupanya," ucap Aditya saat menelpon Bion


" Ada apa?" tanya Felly.


" Tidak ada kamar lagi. Memang ini kamarnya. Pemesan kamar ini. Tidak jadi memesan kamar dan ini kamar satu-satunya," jawab Aditya.


" Oh, begitu," sahut Felly yang langsung memasuki kamar itu.


Felly duduk di pinggir ranjang dan membuka jas Aditya, dengan mengusap-usap bajunya yang bisa di katakan basah. Sementara Aditya memasuki kamar mandi dan tidak berapa langsung keluar dari kamar mandi tanpa menggunakan pakaian. Dan hanya celana panjangnya. Karena kemeja yang di gunakannya basah total.


Felly melihat Aditya yang seperti itu langsung mengalihkan pandangannya dan gugup yang harus melihat Aditya telanjang dada.

__ADS_1


" Ganti pakaianmu dengan ini," ucap Aditya memberikan baju mandi untuk Felly yang hanya ada 1 di kamar mandi. Felly mengambilnya dan langsung berdiri, lalu menuju kamar mandi dengan cepat.


Tidak berapa lama Felly kembali keluar dari kamar mandi dengan pakaian yang sudah di gantinya yang di berikan Aditya. Felly dengan gugupnya melangkah mendekati Aditya yang mengeringkan kemejanya dengan hair dryer yang sepertinya tersedia di sana.


" Sini bajumu," ucap Aditya meminta baju yang di pegang Felly.


" Untuk apa?" tanya Felly.


" Biar di keringkan. Agar besok bisa di pakai kembali," Jawab Aditya. " Bawa kemari," ucap Aditya lagi meminta dengan menjulurkan tangannya dan Felly pun memberikannya kepada Aditya.


Aditya meletakkan pakaiannya dan mengeringkan pakaian Felly dengan Hair Drayer. Dan Felly hanya menonton dengan rasa canggung yang dia tidak mengerti kenapa dia merasa aneh.


Tidak lama Aditya mengeringkannya. Dan akhirnya selesai dan meletakkan di dekat pakaiannya.


" Hmmm, aku tidur duluan," ucap Felly gugup yang ini menaiki ranjang yang penuh dengan mawar. Tetapi Aditya menghentikan tangannya membuat langkah Felly terhenti dan menengok ke arah Aditya.


" Rambutmu masih basah, biar aku keringkan, kamu bisa sakit. Jika tidur dalam keadaan seperti itu," ucap Aditya dengan lembut. Tidak ada anggukan dari Felly. Aditya mengajak lembut Felly duduk di sisi ranjang, dengan kaki Felly yang masih menyentuk lantai dan Aditya duduk di sampingnya.


Felly semakin gugup saat Aditya benar-benar mengeringkan rambutnya, Felly tidak berani menatap Aditya yang sangat dekat dengannya. Menyentuh lembut rambutnya. Selain angin dari hair dryer sentuhan Aditya juga membuatnya merinding.


Kedua tangannya saling menggenggam di atas pahanya. Aditya dengan serius mengeringkan rambut Felly.


" Apa kamu flu?" tanya Aditya.


" Tidak," jawab Felly dengan suara serak yang sudah melihat Aditya.


Pada akhirnya dia memang memberanikan diri untuk melihat Aditya yang tidak melihatnya dan sibuk dengan rambutnya.


" Aditya apa mungkin aku...." batin Felly yang tidak mampu melanjutkan kata-katanya. Dia tidak berani mengatakan. Jika dia sudah jatuh hati pada Aditya.


Belakangan kemanisan Aditya yang dia rasakan membuatnya bergetar. Tatapan mata Aditya yang terus memberikan arti untuknya. Membuat ada gejolak di dalam sana dan terlebih Aditya yang memanggilnya dengan kata kamu yang terkesan begitu indah.


Aditya mampu membuat perasaan Felly benar-benar bergejolak. Seakan Felly melupakan siapa laki-laki yang di katakan begitu kejam itu.


Menatap terus menerus Aditya membuat hatinya semakin goyah dan tanpa iya sadari tangannya sudah berada di pipi Aditya. Memegang pipi itu lembut.


Apa yang di lakukan Felly membuat Aditya melihatnya, menatapnya Felly dengan heran. Karena jelas Felly tidak pernah memulai sesuatu dan selalu dia yang memulai segala hal walah tidak berakhir dengan sempurna.

__ADS_1


Tangan Aditya berhenti bekerja dan sekarang hanya mata ke-2nya yang bekerja yang saling melihat dengan penuh arti. Tatapan yang bercampur dengan saling menginginkan.


Bersambung


__ADS_2