Pria Kejam Yang Merampas Kehormatan Ku.

Pria Kejam Yang Merampas Kehormatan Ku.
Eps. 197 Bayangan.


__ADS_3

1 hari tanpa Felly saja sudah seperti 10000 tahun. Itu lah yang di rasakan Aditya yang galaunya minta ampun dengan kehilangan Felly yang tidak ada di sisinya.


Aditya menyandarkan punggungnya di kepala ranjang dengan tangannya di lipat di dadanya. Wajahnya tampak murung dengan matanya yang memerah dan terdapat genangan air mata di sana.


Aditya menoleh kesampingnya di mana biasanya Felly tertidur Aditya berhalusinasi melihat Felly yang tertidur miring mengarah padanya dengan cantiknya wajah istrinya yang kalau tertidur.


Ada sedikit ukiran senyum di wajah Aditya saat melihat Felly benar-benar ada di sisinya. Tangannya perlahan mengarah pada pucuk kepala wanita yang di khayalannya itu. Saat tangan itu sampai kepucuk kepala itu khayalannya pun telah hilang. Wanita yang ada di sisinya itu sudah tidak ada lagi.


Aditya mengusap wajahnya kasar dengan ke-2 tangannya dengan hembusan napas beratnya. Aditya bangkit dari tempat tidur itu dan menuju lemari. Aditya membuka lemari bagian milik Felly yang benar-benar sudah kosong.


Felly memang tidak banyak pakaian saat di bawa Kerumah Aditya jadi tidak masalah rasanya untuk membawa semua pakaiannya dari dalam lemari itu.


Aditya kembali menghembuskan napasnya kedepan dengan perlahan menutup lemari dan membalikkan tubuhnya. Halusinasi tentang Felly kembali terlihat. Di mana Felly yang tampak sibuk di kamar itu.


Aditya juga bahkan melihat bagaimana perlakukannya kepada Felly. Yang memarahi Felly, bersikap kasar dan segala sesuatu yang menyakiti Felly dan bahkan melihat Felly yang menangis terisak-isak.


Aditya kembali mengusap wajahnya dengan kasar menyadarkan dirinya jika apa yang di lihatnya hanyalah sebuah bayangan. Tidak ingin larut dalam bayangan istrinya Aditya memilih keluar dari kamar dengan tidak bersemangatnya.


Aditya menuruni anak tangga yang berpapasan dengan bibi.


" Tuan, makan malamnya sudah selesai," ucap Bibi. Aditya hanya mengangguk dan menuju dapur untuk makan malam.


Di dapur ada kakaknya yang sedang makan. Aditya menarik napasnya kembali dan membuangnya perlahan. Lalu melangkah mendekati meja makan. Aditya menarik kursi tepat di depan kakaknya. Tetapi Elia langsung berdiri dan mengangkat piringnya dan pergi dari hadapan Aditya.


" Kak!" panggil Aditya pelan. Elia tidak peduli yang mungkin Elia begitu marah pada adiknya sampai belum bisa melihat atau bahkan berbicara dengan adiknya. Aditya hanya membuang napas dengan acuhnya sang kakak kepadanya.


Aditya duduk dan mengambil makanan dan lagi-lagi Aditya harus melihat Felly duduk di depannya makan dengan santai dan tersenyum-senyum, baru sekilas, bayangan itu sudah hilang.


Aditya mengingat beberapa kali Felly yang memasak untuknya yang capek-capek bahkan sampai ketiduran. Tetapi sama sekali tidak pernah di makannya. Dia baru menyadari jika selama ini Felly selalu berusaha melakukan yang terbaik. Tetapi pada kenyataannya Aditya tidak pernah menghargai hal itu.


Apa lagi mau di kata hanya penyesalan, penyesalan dan penyesalan yang akan di dapatkannya dan kali ini dia benar-benar Pria yang paling lemah. Cinta memang bisa mengubah dirinya yang keras menjadi begitu lemah.

__ADS_1


*******


Kegelisahan dan kesedihan pasti bukan hanya di rasakan Aditya saja. Juga Felly yang sudah sampai kerumahnya dengan beribu alasan di berikannya pada keluarganya agar keluarganya tidak mempertanyakan keberadaannya. Karena tidak mungkin dia menceritakan apa yang terjadi sebenarnya.


Felly di dalam kamarnya, menangis terus menerus dengan suara yang semakin hilang. Duduk di atas tempat tidur dengan memeluk tubuhnya dengan kepalanya menunduk di atas ke-2 lututnya yang di tekuknya.


Mungkin dengan menangis sekuat-kuatnya akan membuatnya tenang apa yang terpendam bisa di keluarkannya.


Felly hanya mengingat-ingat bagaimana perjuangannya yang menyelamatkan bayinya. Tetapi tidak ada hasil. Bayinya harus pergi dari rahimnya. Dia akan gila jika mengingat hal tragis yang di alaminya.


Felly mengangkat kepalanya, wajahnya itu sudah penuh air mata.


" Rebecca!" ucapnya dengan suara seraknya. Felly mengingat ke jadian di gedung itu di mana dia dan Rebecca berkelahi dan bahkan saling mencekik leher, saling menampar dan Felly mendapat beberapa kali tendangan di perutnya dan bahkan saat dia lemas dan tidak berdaya.


Saat tangannya memegang tombol bom yang ada di gedung itu. Felly masih sempat melihat darah mengalir di pahanya yang membuatnya saat itu semakin putus asa dan memilih meledakkan bom tersebut.


" Rebecca!" Felly menghapus air matanya, " Dia, dia yang sudah membunuh anakku. Dia yang membuatku kehilangan bayiku. Dia harus mendapatkan balasannya," ucap Felly yang mempunyai dendam besar terhadap Rebecca karena sudah membuatnya keguguran.


" Jika dia masih hidup. Dia harus bertanggung jawab. Atas apa yang di lakukannya kepadaku, dan bayiku, kau harus bertanggung jawab," batin Felly yang mengepal tangannya yang tampak memiliki dendam pada Rebecca.


**********


2 hari setelah kepergian Felly dari rumah dan Aditya mungkin memberinya waktu, sehingga tidak menemuinya. Karena dengan sang kakak saja hubungan Aditya masih saja renggang.


Aditya duduk di ruang kerjanya dan Bion sedang menghadapinya yang mungkin akan memberikan informasi.


" Apa kamu sudah mengecek tempat itu?' tanya Aditya.


" Sudah tuan," jawab Bion dan mengeluarkan sesuatu dari sakunya yang berupa kantung plastik.


" Ini tuan," ujar Bion meletakkan di meja Aditya.

__ADS_1


" Apa ini?" tanya Aditya.


" Saya menemukan ponsel Rebecca di sana dan juga sebelah sepatunya dalam keadaan setengah terbakar," jawab Bion dan Aditya melihat-lihat bukti yang di bawakan Bion.


" Lalu bagaimana dengan Rebecca sendiri. Apa kamu menemukannya?" tanya Aditya masih melihat-lihat ponsel Rebecca yang mati total.


" Tidak tuan, saya tidak menemukannya. Tetapi saya saya juga menemukan potongan baju di tempat itu. Saya juga tidak tau milik siapa. Jika di lihat itu sepertinya milik seorang wanita. Dan di dalam sana hanya ada nona Felly dan Rebecca," ucap Bion menjelaskan dengan detail.


" Itu bukan punya Felly. Karena Felly pakaiannya masih itu tanpa ada yang sobek," sahut Aditya dengan yakin.


" Apa itu berarti milik Rebecca?" tanya Bion.


" Entahlah, kamu cari tau saja. Apakah Rebecca mati di tempat itu. Atau justru dia berhasil meloloskan diri," ucap Aditya memberi perintah.


" Baik tuan!" sahut Bion.


" Lalu bagaimana William dan Leon?" tanya Aditya.


" Saya menemukan tempat mereka dan saya pastikan tidak ada Rebecca di sana dan Leon dan William juga, dan mereka juga tidak mendapatkan apa yang mereka mau dan kasus tuan Anderson tetap kita jalankan," sahut Bion menjelaskan.


" Baguslah kalau begitu. Kamu terus urus semuanya jangan ada yang lengah lagi," ucap Aditya menekankan.


" Dan untuk Felly, kamu tetap mengawasinya," lanjut Aditya yang mengingat istrinya.


" Baik tuan! kalau begitu saya permisi dulu," ucap Bion menundukkan kepalanya. Aditya mengangguk lalu Bion pun pergi.


Aditya menarik napas panjang-panjang dan membuatnya perlahan kedepan. Dengan mengusap wajahnya dengan ke-2 tangannya.


" Aku berharap semua Benar-benar bisa selai dan aku bisa mengurus hubunganku dengan Felly," batin Aditya.


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2