Pria Kejam Yang Merampas Kehormatan Ku.

Pria Kejam Yang Merampas Kehormatan Ku.
Eps 273 Cemburu.


__ADS_3

Elia keluar dari kamarnya dengan pakaiannya yang sudah rapi dan sepertinya Elia Ingi pergi. Tapi tidak tau kemana yang penting dia sangat rapi.


" Elia," tegur Harison yang melihat Elia keluar dari kamar.


" Kakek," sahut Elia.


" Kamu mau kemana?" tanya Harison.


" Hmmm, Elia mau Kerumah Aditya sebentar kek. Tapi kayaknya Elia akan menginap. Soalnya Elia kangen tidur di rumah Aditya dan lagian Felly juga hamil dan pasti butuh banyak bantuan. Karena mama dan papa Felly lagi sedang tidak di rumah," jawab Elia panjang lebar.


" Ya sudah kalau begtu, kakek akan menemani kamu," ucap Harison.


" Kakek mau iku?" tanya Elia.


" Iya Elia. Tetapi kakek tidak akan menginap. Kakek juga ingin bertemu Felly," ucap Harison.


" Hmmm, ya sudah kalau begitu ayo kek," ajak Elia dengan semangatnya. Harison langsung mengangguk dan Elia menggandeng tangan kakeknya yang semangatnya bertambah. Karena kakeknya mau menemaninya.


Saat mereka keluar rumah, tiba-tiba Baskoro datang yang ingin memasuki rumah yang membuat mereka akhirnya saling berhadapan dan menghentikan langkah masing-masing.


Mata Baskoro langsung menatap Elia. Tetapi Elia sama sekali tidak. Ya pasti dia sangat marah kepada papanya itu. Dari Rebecca di penjara ini pertama kalinya Elia dan Baskoro saling berhadapan saling menetap seperti ini.


Melihat Elia membuat Baskoro hanya semakin bersalah. Apa yang terjadi pada putrinya membuatnya seperti ayah yang tidak berguna sama sekali. Kehancuran hidup Elia karena di sebabkan dirinya yang lebih mempercayai ular di bandingkan keluarganya sendiri


" Kamu dari mana Baskoro. Kenapa selama beberapa hari ini. Kamu tidak terlihat sama sekali, dari mana kamu?" tanya Harison heran.


" Aku habis menyelesaikan tugasku pa," jawab Basket dengan singkat yang terus melihat Elia.


" Tugas, tugas apa itu. Kenapa tampak kamu sangat serius dalam menjalankan tugas itu?" tanya Harison penasaran.


" Suatu hal yang harus aku lakukan," ucap Baskoro membuat Harison semakin bingung.


" Oh, ya jika memang harus kamu lakukan maka lakukanlah," sahut Harison yang tampaknya tidak ingin ambil pusing memikirkan kata-kata Baskoro yang terlihat seperti penuh teka-teki yang harus di pecahkan.


" Elia, bisa papa sebentar bicara denganmu," ucap Baskoro dengan penuh harapan. Agar putrinya itu mau bicara dengannya.

__ADS_1


" Aku harus pergi," sahut Elia yang tampaknya ingin menolak.


" Sebentar saja Elia," ucap Baskoro dengan suara memohon.


" Kakek!" Elia melihat pada sang kakek, " ayo pergi. Elia sudah tidak sabar mau ketemu Aditya dan Felly," ucap Elia yang langsung mengalihkan.


Kebenciannya pada papanya memang tidak berkurang sedikitpun. Makanya dia sampai seperti itu. Jangankan bicara melihat sang papa saja sudah membuatnya begitu hancur.


" Hmmm,ya sudah ayo kita pergi," sahut Harison yang tidak bisa melakukan apa-apa. Dia sangat mengerti posisi Elia.


" Iya, ayo," sahut Elia yang langsung pergi duluan dan tanpa berpamitan pada Harison.


" Baskoro, kau harus mengerti posisi Elia. Apa yang terjadi padanya membuat kebencian di dalam hatinya. Jadi pahamilah Elia, jangan memaksakannya. Kasihan dia. Jika engkau bersabar lama-lama Elia akan mengerti dan akan kembali membuka dirinya, membuka pintu maaf. Jadi bersabarlah," ucap Harison memberikan nasehat pada Baskoro.


" Iya pa, aku sangat mengerti dan aku memaklumi kebencian Elia dan Aditya padaku," sahut Harison dengan kepasrahan hatinya.


" Ya sudah kalau begitu. Aku pergi dulu," sahut Harison yang pamitan. Baskoro hanya mengangguk dan sebelum pergi Harison menepuk pundak Baskoro seolah memberikannya semangat.


" Kamu pantas membenci papa Elia. Tapi papa sudah membalaskan semuanya kepada orang-orang itu. Papa sudah membunuh mereka dan untuk wanita itu dia sudah merasakan apa yang kamu rasakan. Papa sudah membalasnya Elia," ucap Baskoro dengan matanya yang memerah.


Harison dan Elia berada di dalam mobil yang di setiri supir pribadi Harison.


Bertemu sang papa ternya membuat Elia menjadi murung dan terlihat tidak bersemangat dan Elia terus melihat ke arah jendela. Harrison yang duduk di sampingnya menoleh ke arah Elia melihat wajah cucunya yang kembali murung.


" Kamu tidak ingin membawa sesuatu untuk Aditya dan Felly?" tanya Baskoro membuat Elia melihat ke arah kakeknya.


" Apa itu kira-kira?" tanya Elia yang tampaknya kepikiran juga hal itu.


" Ya kakek tidak tau. Mungkin suatu makanan yang di inginkan calon keponakanmu," ucap Harison. Elia tiba-tiba tersenyum tipis saat mendengar kata calon keponakannya.


" Kalau begitu, kita mampir sebentar ke Supermarket," ucap Elia yang tampak punya rencana untuk membeli sesuatu.


" Ya sudah," sahut Harison. Elia tersenyum dan tampaknya sudah tidak sedih lagi. Kakeknya memang punya cara yang banyak untuk membuat mood cucunya kembali baik.


*********

__ADS_1


Akhirnya Elia dan Harison mampir dulu ke Supermarket untuk membeli beberapa keperluan yang akan di bawakan untuk calon keponakan Elia.


Elia terlihat mendorong troli belanjaan yang sudah di isinya dengan banyaknya buah-buahan dan juga beberapa makanan lainnya.


Elia terus memilih-milih dan bahkan sampai kalap belanja, Elia melihat-lihat di sekitarnya dan tidak sengaja Elia melihat Bion yang juga ada di supermarket yang sama dengan seorang wanita yang mana wanita itu sedang juga sedang mendorong troli belanjaan yang juga sudah terisi.


" Bion!" batinnya yang terus melihat Bion.


" Siapa dia, apa itu pacarnya?" batin Elia yang tampak sedih melihat Bion dengan wanita lain yang berduaan.


" Ya mungkin itu yang membuat Bion, bersikap dingin kepadaku. Karena dia sudah memiliki kekasih. Lagian wajar sih. Orang seperti Bion. Pasti memilih wanita yang tepat yang tidak seperti aku," batin Elia yang lagi-lagi merasa dirinya tidak pantas untuk Bion.


Harison berdiri di samping Elia dan heran melihat Elia yang bengong dengan pandangan yang entah ke arah mana. Sampai akhirnya Harison mengikuti arah pandang itu yang ternyata mata Elia fokus pada Bion dan seorang wanita.


Harison kembali melihat ke arah Elia dan wajah Elia tampak murung karena pemandangan itu membuat Harison bertanya-tanya. Namun seolah Harison tau apa yang di pikiran Elia.


" Elia!" tegur Harison. Elia mendengarnya tersentak kaget.


" Hmmm, iya kek?" sahut Elia yang terlihat kurang fokus.


" Kamu kenapa, apa ada yang mengganggu pikiran kamu?" tanya Harison.


" Hmmm, tidak kek, tidak apa-apa," jawab Elia bohong.


" Kamu yakin tidak apa-apa?" tanya Harison pasti tidak percaya. Elia mengangguk membenarkan.


" Kalau tidak ada apa-apa. Lalu kenapa harus melihat ke arah Bion seperti itu," ucap Harison yang membuat Elia kaget.


" Maksud kakek?" tanya Elia yang menjadi salah tingkah.


" Kamu ada sesuatu dengan Bion?" tanya Harison yang mengintrogasi cucunya.


" Tidak, kek, tidak apa-apa," sahut Elia dengan cepat menggelengkan kepalanya. Namun Harison menatapnya tidak percaya.


" Ahhhh, sudahlah kek, sekarang ayo kita pergi. Elia sudah selesai belanjanya," sahut Elia yang langsung menggandeng kakeknya. Agar Harison tidak mengintrogasinya lagi. Harison hanya geleng-geleng kepada cucunya itu.

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2