
Akhirnya Aditya, Felly, Bion, dan Laura selamat dari tempat itu dan ada beberapa anak buah Aditya yang mungkin meninggal dan ada yang cedera dan ada juga yang tanpa luka.
Aditya langsung membawa Felly pulang saat itu dan langsung di tangani Dokter pribadinya. Aditya tidak membawa Felly Kerumah sakit. Karena alasan tertentu.
Jadi ada 2 Dokter yang menangani Felly di dalam kamarnya dengan kondisi Felly yang benar-benar kritis. Sampai akhirnya Felly masih di beri kesempatan untuk hidup dan melewati masa kritisnya dan sudah berada di rumah selama 2 hari di dalam kamar.
Tepat hari ke-2 wanita yang masih muda itu terbaring lemah dengan pakaian kemeja putih milik Aditya yang di pakainya yang mungkin ukurannya sepahanya
Wajahnya dan rambutnya yang tadi berantakan juga sudah rapi kembali. Tetapi tetap wajah itu masih pucat dengan bibirnya yang juga memucat. Punggung tangan kirinya terdapat selang infus yang melekat.
Aditya duduk di samping Felly dengan memegang tangan Felly menumpuk dengan ke-2 tangannya. Mata Aditya yang terlihat kosong dan memerah terus menatap wanita yang masih tetap memejam kan matanya itu.
Jangan tanya wajah Aditya. Pasti penuh penyesalan. Tetapi apa yang di sesalkan lagi semuanya sudah terjadi dan bahkan Aditya sudah tidak peduli lagi dengan musuh-musuhnya apakah masih hidup atau tidak.
" Maafkan aku. Seharusnya aku tidak membawamu kedalam masalah ini. Maafkan aku Felly. Seharunya aku menjagamu dan tidak melukai perasaanmu," ucap Aditya yang terus mengucapkan kata maaf. Tetapi hanya mengucapkan saat Felly tidak sadarkan diri. Tidak tau apakah Aditya benar-benar akan minta maaf saat Felly sadar.
Tok-tok-tok-tok.
Aditya menoleh kebelakang dan melihat Dokter yang membuka pintu. Dokter wanita yang tak lain adalah Dokter kandungan Felly.
" Pak Aditya mari kita bicara sebentar," ucap Dokter. Aditya mengangguk dan Dokter itu pun pergi.
Aditya melepaskan genggaman tangan itu meletakkan tangan Felly kedalam selimut dan mencium kening Felly dengan lembut lalu pergi dari kamar itu dengan berat hati.
Setelah beberapa menit Aditya pergi Felly membuka matanya perlahan, menutup lagi dan akhirnya membuka lagi dan melihat dengan tatapan yang belum jelas. Lama bermain di matanya Felly pun melihat jelas menatap langit kamar dan dia bisa mengingat ruangan itu adalah kamarnya.
Masih dengan lemas, Felly memijat kepalanya yang terasa berat dan melihat punggung tangan itu terdapat perekat infus.
" Kenapa aku bisa ada di sini," ucapnya pelan yang bingung dengan kondisinya. Felly pun dengan sekuat tenaganya mencoba duduk dan melihat di kamar itu tanpa ada seseorang. Terdengar suara napas Felly yang panjang dan terasa sesak.
" Apa yang terjadi," ucapnya penuh kebingungan dan enggan untuk mengingat kejadian 2 hari lalu yang menyeramkan itu.
__ADS_1
Felly mencabut infus di tangannya, menyibakkan selimut dari tubuhnya dan langsung berdiri dengan lemah. Felly merasakan sakit yang luar biasa di pinggangnya. Tetapi dengan sekuat tenaga dia melangkah dan membuka pintu yang menampilkan Aditya dan Dokter wanita yang bicara tidak jauh dari depan pintu.
" Maaf pak Aditya, kandungan Bu Felly sangat lemah, banyak terjadi insiden pada Bu Felly, tekanan pikirin dan juga beberapa pukulan yang terjadi di perutnya menyebabkan kandungan Bu Felly bermasalah dan menyebabkan banyak luka," ucap Dokter wanita dengan berat hati menyampaikannya informasi yang pasti berita buruk.
" Apa maksud Dokter?" tanya Aditya dengan suara beratnya. Yang sebenarnya sudah tau apa arti dari perkataan Dokter dan bertujuan kearah mana. Tetapi seakan Aditya masih ingin mendapatkan secercah harapan.
" Bu Felly mengalami keguguran, maaf saya tidak bisa menyelamatkan kandungannya. Pendarahan yang di alaminya menyebabkan kandungannya tidak terselamatkan, karena tendangan yang berkali-kali di dapatkannya," ucap Dokter membuat mata Aditya berkaca-kaca saat janin yang di kandung Felly sudah tidak ada lagi.
Felly mendengar hal itu meneteskan air matanya dengan sesak di dadanya tangannya yang langsung terlepas dari gagang pintu. Sangat hancur. Hatinya benar-benar hancur ketika janin di dalam kandungannya sudah tidak ada lagi.
Apa yang di pertahankannya sudah hilang. Hanya itu kekuatannya tetapi sudah pergi dan dia sendiri masih hidup dan itu tidak adil untuknya.
Aditya membuang napas beratnya kedepan dengan mengusap wajahnya dengan ke-2 tangannya. Pasti dia juga frustasi mendapatkan kabar itu dan tidak sengaja kepalanya mengarah ke arah pintu kamar dan kaget melihat Felly yang berdiri di sana dengan air mata Felly yang jatuh.
" Felly!" lirih Aditya yang pasti tau Felly mendengarkan semuanya. Felly langsung terisak menarik tangisannya yang sudah tidak terbendung lagi. Dengan tubuhnya yang bergetar yang menemani tangisnya yang pecah.
" Felly," Aditya langsung menghampiri Felly yang kembali memasuki kamar dan begitu masuk Aditya menahan tangan Felly dan membuat Felly menghentikan langkahnya dan menghadap Aditya.
Plakkk. Felly langsung menampar Aditya dengan penuh kemarahan dan Aditya terdiam terpaku dengan pipinya sebelah kanan yang sudah memerah.
" Tidak mungkin! tidak mungkin! tidak mungkin bayiku sudah tidak ada. Itu tidak tidak mungkin. Bayi ku pasti masih hidup," ucapnya berteriak-teriak kesintingan dengan meremas rambutnya, memegang perutnya yang ramping yang sudah tidak ada lagi bayi di dalam sana.
Dan Aditya hanya bisa diam menonton histerisnya Felly yang terpukul karena kehilangan sang bayi.
" Tidak mungkin bayiku pergi. Tidak mungkin. Katakan Dokter itu pasti bohong. Katakan!" teriak Felly yang masih menginginkan harapan.
" Itu adalah kenyataan," sahut Aditya dengan suara seraknya. Felly mendengarnya semakin schock.
" Puas kamu! pembunuh, kamu pembunuh, kamu yang sudah membunuh bayiku, kembalikan bayiku, semua ini gara-gara kamu, aku harus kehilangan bayiku. Karena perbuatan mu. Semua ini gara-gara kamu," teriak Felly mendorong Aditya dengan dengan kedua tangannya.
Dan Aditya pasrah mundur-mundur saat Felly terus mendorong dengan memukul-mukulnya saat Felly meluapkan kemarahan itu pada Aditya.
__ADS_1
" Kamu jahat Aditya, kamu sudah membuat bayiku mati. Kamu pembunuh. Kamu lebih memilih pergi dengan wanita itu. Semuanya gara-gara kamu," teriak Felly yang pasti mengingat kejadian awalanya. Aditya hanya diam dengan matanya memerah dan menerima makian pukulan yang Tidka berdaya dari Felly.
" Sekarang kamu puas. Puas kamu Aditya yang sudah membunuh bayiku. Puas kamu Aditya," umpat Felly yang terus menyalahkan Aditya dengan terus memukul-mukul dada Aditya dengan tangannya. Aditya tidak melawan karena memang pantas di salahkan.
" Kenapa kamu diam. Bicaralah bajingan. Kemana bayiku!" teriak Felly yang terus menangis.
" Kamu bukan manusia, kamu iblis, kamu manusia kejam, kamu sangat jahat, kamu brengsek," umpat Felly terus menerus dengan memukul-mukul dada Aditya dengan kuat dengan menangis terisak-isak.
" Aku membencimu, aku sangat membencimu kau benar-benar jahat Aditya kau bukan manusia, aku benar-benar sangat membencimu, aku membencimu, aku membencimu," teriak Felly yang terus mengulang kata-katanya dan suara itu semakin memelan dan membuatnya terduduk di lantai dengan kakinya yang melipat kesamping.
Aditya masih tetap diam tanpa melawan dalam tindakan dan juga bicara. Felly mengepal tangannya dan mengangkat kepalanya dan menatap Aditya dengan penuh kebencian dengan napasnya yang naik turun.
Dia sangat hancur. Tetapi Felly tersenyum palsu melihat Aditya yang juga terdapat air mata.
" Kau benar-benar kejam Aditya. Aku sungguh membencimu. Aku sudah kehilangan bayiku. Kau yang telah membunuh bayiku. Aku kehilangan bayiku. Hanya karena dendammu kepada orang-orang itu. Apa itu menjadi urusanku!" teriak Felly dengan suaranya menggelegar.
Felly menoleh ke atas meja dan melihat pisau di atas apel. Ke-2 bola mata Felly sudah tertanam kebencian menatap Aditya. Bahkan bola mata menatap seperti iblis dan iblis yang merasuk kedalam tubuh itu membuatnya berdiri dengan cepat mengambil pisau itu dan langsung mendorong Aditya kedinginan.
" Kau harus mati!" geram Felly yang ingin menancapkan pisau itu tepat di dada Aditya.
Tapi tidak di lakukannya dan Aditya saat itu juga tidak melawan. Dan jika Felly pun menusukkan itu dia juga tidak peduli. Felly melihat mata Aditya yang juga melihatnya. Tangan Felly bergetar seakan tidak mungkin menusuk Aditya yang pasti jika tepat di jantungnya akan mati.
" Lakukanlah!" ucap Aditya dengan suara seraknya yang malah menantang Felly.
" Jika hal itu membuatmu bisa tenang maka lakukan," ucap Aditya lagi dan Felly yang berlinang air mata melihat Aditya. Kebencian yang di tanamkannya pada Aditya karena kehilangan bayinya membuatnya ingin membunuh Aditya.
Tetapi ada hal di hatinya yang membuat tangannya bergetar dan seakan tidak bisa melakukannya. Cinta yang tumbuh harus bertentangan dengan kebenciannya dan melawan dirinya dan Felly tidak jadi melakukannya.
Dengan napasnya yang naik turun air matanya yang mengalir deras membuat langkahnya mundur perlahan. Tetapi tidak ada ampunan Felly ingin menusuk dirinya sendiri dan Aditya melotot saat melihat Felly ingin melakukan hal itu dan Aditya langsung berlari menghentikan kegilaan Felly.
" Felly apa yang kamu lakukan!" ucap Aditya yang berebut pisau dari Felly.
__ADS_1
" Lepaskan aku, lepaskan! untuk apa aku hidup. Aku tidak sanggup lagi menerima semua penderitaan yang kamu berikan. Aku bertahan hidup karena bayiku. Tetapi kau sudah membunuhnya. Jadi biarkan aku mati," teriak Felly yang terus ingin melakukan percobaan bunuh diri. Dan Aditya terus menghentikan Felly dengan memegang pisau yang di pegang Felly. Berusaha merebutnya karena silaf sedikit pisau itu akan tertusuk kedalam perut Felly.
Bersambung