
Laura yang mencurahkan perasaannya pada Aditya dan Felly menatap serius pasangan suami istri itu secara bergantian.
" Kalian kenapa diam apa kalian menganggap aku seorang penghiyanat?" tanya Laura dengan ragu.
" Kau menyukai Damar?" tanya Aditya sekali lagi memastikan.
" Dia yang menyukaiku terlebih dahulu. Aku juga tidak tau kalau dia bisa menyukaiku," sahut Laura.
" Lalu kau?" tanya Aditya melihat Laura dengan tatapan mengintimidasi.
" Ya aku hanya...."
" Kalau kau tidak menyukainya. Lalu kenapa mengatakannya kepada kami," sahut Aditya memotong pembicaraan Laura.
" Iya, aku akhirnya menyukainya," sahut Laura kembali jujur. Felly tersenyum mendengarnya.
" Aku jatuh cinta padanya. Aku tidak tau kenapa tiba-tiba. Tetapi aku bisa merasakan ketulusannya dan dia juga baik," ucap Laura yang memuji Damar.
" Lalu apa yang kau inginkan?" tanya Aditya membuat Laura menatap heran Aditya.
" Maksudnya apa. Aku hanya ingin kalian mengetahuinya dan tidak menganggapku berhiyanat," sahut Laura.
" Lalu kau ingin aku menikahkanmu dengan Damar?" tanya Aditya to the point. Membuat Laura membuka matanya lebar dan Felly juga menatap suaminya heran.
" Aditya tidak seperti itu juga. Aku hanya ingin merawatnya dan kalian jangan melarangku," sahut Laura dengan suara menekan.
" Tidak ada yang melarang kamu Laura," sahut Felly tersenyum, " Laura kamu yang mempunyai hati dan itu hak kamu harus menyukai siapa. Sekalipun itu Damar. Kita tidak ada yang tau dari mana cinta itu datang. Sama dengan kamu Damar tidak ada yang tau kalian ternyata malah saling jatuh cinta. Jadi tidak ada yang melarangmu," ucap Felly menegaskan.
" Apa itu artinya kalian tidak akan mempermasalahkan hal itu?" tanya Laura memastikan.
" Iya, itu terserah kamu. Lagian Damar memang orang yang baik. Ya tidak ada manusia yang tidak bersalah. Semuanya punya kesalahan. Jika kamu tulus kepadanya. Maka Damar juga perlahan akan berubah. Dan dia juga sudah mempertanggung jawabkan perbuatannya dan tinggal di kamunya menerima masa lalunya atau tidak," ucap Felly dengan bijak membuat Laura tersenyum.
" Makasih ya Felly, kamu sudah memberiku arahan yang tepat. Makasih juga kalian memberiku kesempatan dan tidak memasukkan hal ini dalam masa lalu itu," ucap Laura yang merasa lega.
" Lagian semuanya sudah selesai. Ya jika ingin hidup baru membuka lembaran baru. Ya kenapa tidak dan kamu punya hak untuk hal itu," tegas Laura.
__ADS_1
" Yang penting kamu bisa jaga diri dan juga bisa saling memahami dan kamu harus tau kondisi Damar sekarang seperti apa," sahut Aditya menambahi.
" Iya, makasih saran kalian berdua," sahut Laura tersenyum lebar.
" Hmmm, bye the way, Tante Lusi bagaimana apa dia tau masalah ini?" tanya Aditya.
" Hmmmm, aku belum mengatakannya sama mama. Ya nanti saja aku akan mengatakannya. Aku mencari waktu yang tepat dulu," sahut Laura.
" Ya sudah terserah kamu saja. Yang penting kamu tau batasan kamu," tegas Aditya. Dia memang sudah menganggap Laura seperti adiknya sendiri, makanya dia juga akan tegas-tegas pada Laura.
" Iya," sahut Laura, " Ya sudah kalau begitu aku pamit pulang dulu," ucap Laura pamit.
" Iya kamu hati-hati," sahut Felly.
" Aman santai aja," sahut Laura. Dan Laura langsung pergi dengan melambaikan tangannya. Felly tersenyum melihat Laura yang tampak Fress. Ya terlihat sangat berbunga-bunga. Namanya juga cinta. Jadi wajar jika sangat berbunga-bunga seperti itu.
Felly melihat ke arah suaminya dan langsung menyandarkan kepalanya di pundak suaminya dan memeluk pinggang suaminya.
" Laura, sama dengan kamu," ucap Felly membuat Aditya heran.
" Sama di mananya?" tanya Aditya.
" Kapan aku jatuh cinta kepadamu," sahut Aditya membuat Felly menatapnya horor.
" Kalau kau tidak jatuh cinta padaku dan tidak mencintaiku. Aku tidak akan mengandung seperti ini," ucap Felly menekan suaranya. Aditya mengendus dengan senyum miringnya dan memegang perut Felly.
" Ini hasil cinta kita?" tanya Aditya dengan menaikkan alisnya. Felly menganggukkan kepalanya.
" Aku pikir, ini hasil dari ke perkasaan ku," goda Aditya membuat Felly menarik ujung bibirnya yang mulai suaminya membuatnya tensian.
" Terserah kamu," sahut Felly yang memeluk suaminya. Aditya menyunggingkan senyumnya dan juga memeluk istrinya dengan erat.
" Kamu benar Felly. Aku memang jatuh cinta padamu. Ya aku juga tidak menyangka jika aku bisa jatuh cinta pada wanita sepertimu," ucap Aditya membuat Felly mengkerutkan dahinya mengangkat kepalanya kembali melihat Aditya.
" Wanita sepertiku, maksudnya apa?" tanya Felly.
__ADS_1
" Ya wanita cantik, baik hati, tulus, penyayang, wanita yang seperti itu," jawab Aditya memuji istrinya membuat Felly tersenyum simpul dan semakin memeluk suaminya.
" Tapi kamu menyebalkan pagi ini," ucap Aditya tiba-tiba membuat Felly heran.
" Menyebalkan, menyebalkan karena apa?" tanya Felly.
" Kamu masih mengingat Damar!" ucap Aditya dengan wajah mengkerutnya membuat Felly heran dan melepas pelukannya dari suaminya dan wajah suaminya berubah menjadi cemberut.
" Apa maksudnya dan kenapa jadi bawa-bawa Damar?" tanya Felly heran.
" Kamu lupa, kalau kamu begitu mengaguminya, ya tapi wajar sih. Kamu dan dia pacaran lama. Jadi pantas kamu bisa mengatakan, dia Pria baik, tulus penyayang. Ya kamu masih mempunyai memori dengannya," ucap Aditya yang tampaknya cemburu.
Aditya yang cemburu begitu menggemaskan membuat Felly tersenyum tipis.
" Kamu cemburu padanya?" tanya Felly.
" Entahlah, memori mu sangat kuat padanya dan aku tidak bisa mengatakan apa-apa. Karena memorimu lebih banyak dengannya di bandingkan aku," ucap Aditya dengan kecemburuannya.
Felly mendekatinya dan memegang pipi Aditya membuat wajah suaminya itu menghadapnya.
" Walau aku pacaran dengannya dan aku mempunyai memori dengannya. Tapi kehadiranmu sudah menghapus semua memori itu. Tidak tersisa satupun darinya," ucap Felly berbicara lembut dengan menatap dalam-dalam suaminya
" Apa aku harus percaya?" tanya Aditya. Felly menganggukkan matanya.
" Aku tidak harus mengatakannya denganmu. Percaya dan tidak percayanya kamu. Tetapi pada kenyataannya. Aku tidak mengingat sedikit kenangan apapun dengannya. Karena semua tertutupi dengan kehadiran kamu yang memberikan ku cinta yang sangat besar," jawab Felly.
" Benarkah seperti itu?" tanya Aditya.
" Iya sayang," jawab Felly mencubit lembut pipi suaminya. Felly sangat gemas dengan wajah mengkerut suaminya. Jadi wajah gemas.
" Aku tidak percaya, aku akan membersihkan memori itu tanpa tersisa sedikitpun," ucap Aditya.
" Caranya?" tanya Felly. Aditya memegang dagu istrinya dan mengantarkan bibir Felly padanya dan mengecupnya.
" Saat kita berciuman. Kamu harus mengingatku dan saat itu juga memori itu tidak akan tersisa sedikitpun," ucap Aditya.
__ADS_1
" Itu kalau aku mau berciuman denganmu. Kalau tidak," sahut Felly membuat Aditya menatapnya tajam. Namun Felly tersenyum dan mengalungkan tangannya pada leher Aditya dan terlebih dahulu memulai ciuman itu. Aditya pasti tidak akan kehilangan sedikit kesempatan untuk hal itu.
Bersambung