
Laura membuka pintu kamar di mana kamar sebelumnya Damar berada. Mata Laura berkeliling melihat Kamar itu. Kamar itu tidak rapi sama sekali. Sama seperti di tinggalkannya saat mereka selesai memadu cinta di atas ranjang yang terlihat berantakan itu.
Dengan kaki bergetar. Laura melangkah memasuki kamar itu. Laura duduk di pinggir ranjang dan tangannya mengusap ranjang dengan dengan menatap nanar.
Sudah 1 Minggu Damar sama sekali tidak di temukan. Damar, Rebecca masih dalam proses pencarian. Mata Laura tiba-tiba menangkap noda merah di atas sempat itu. Noda kecil yang sudah mengering.
Air matanya jatuh saat melihat noda itu. Ya dia telah memberikan kesuciannya kepada Damar dan semuanya hampa. Dia yang memang pergi begitu saja. Tetapi tidak percaya. Jika Damar akan menghilang begitu saja tanpa pesan.
Hiks, hisk, hisk. Isyak tangis Laura pecah saat menyadari jika hatinya begitu hancur. Dia seakan di pakai begitu saja lalu di campakkan. Damar yang pergi tanpa berpamitan.
" Damar, kenapa kamu pergi! kenapa? kenapa kamu tega denganku. Kenapa Damar!" lirih Laura dengan isak tangisnya. Laura menutup wajahnya dengan ke-2 tangannya dan menagis terus sengugukan yang seakan menyesalkan apa yang terjadi.
Apa lagi mau di kata nasi sudah menjadi bubur. Tidak ada yang bisa di ubah. Jadi hanya tangisan yang bisa di keluarkan Laura.
************
Berita di televisi sibuk dengan buronan anak beranak. Ya bagaimana tidak anak beranak. Atau tidak 1 keluarga. Rebecca yang kabur dari tahanan yang menjadi buron dan Damar juga kabur dan Baskoro yang juga tidak di temukan Polisi.
Keluarga Cemara itu menjadi buronan dengan kasus yang berbeda-beda. Mungkin mereka ber-3 memang 1 hati. Makanya bisa serentak menjadi buronan.
Felly yang membawa secangkir kopi berjalan mendekati Aditya yang duduk di sofa yang terus mengikuti perkembangan berita di kepolisian.
" Ini sayang," ucap Felly memberikan teh itu untuk suaminya.
" Makasih ya," sahut Aditya yang langsung mengambilnya dan meminumnya Sebelumnya pasti sudah di tiup dulu.
" Kamu masih pikirin papa?" tanya Felly memegang tangan suaminya itu.
" Aku mana mungkin Felly tidak memikirkan papa. Kemarin Andre masih menemukan papa. Tapi papa malah kabur lagi. Aku tidak tau Felly apa yang di pikirkan papa sebenarnya. Aku takut papa melakukan sesuatu yang justru membahayakan dirinya," ucap Aditya dengan wajahnya yang penuh beban.
" Aku mengerti Aditya apa yang kamu pikirkan. Lalu apa lagi yang harus kita lakukan?" tanya Felly. Aditya menghadap Felly.
" Aku sama kak Elia sudah saling bicara. Kita sudah siap dengan apapun yang terjadi nanti. Yang penting aku sudah berusaha. Aku mungkin membencinya. Tetapi fakta menjelaskan, jika dia tetap papaku. Tapi batas kemampuanku hanya sampai di situ," ucap Aditya membuat Felly heran mendengar kata-kata itu.
" Apa maksud kamu Aditya. Apa itu artinya kamu sama kak Elia...." ucap Felly yang tidak bisa melanjutkan kata-katanya.
" Benar Felly, aku dan kak Elia, sudah ikhlas apapun yang terjadi nanti. Papa membunuh Wiliam dan Heriyanto karena balas dendam atas apa yang terjadi pada putrinya dan aku bisa menjamin papa juga akan melakukan hal yang sama pada Rebecca dan itu artinya mereka akan saling menyerang. Karena Rebecca tidak akan pernah sadar dengan perbuatannya. Wanita itu sangat keji," ucap Aditya.
" Aditya, jika itu terjadi. Nyawa papa dalam bahaya," sahut Felly khawatir.
" Aku tau Felly. Tapi tidak ada yang bisa kita lakukan. Kak Elia yang kemarin bertemu papa sudah mengatakan dengan jelas dia ingin bersama papa. Tapi nyatanya papa tidak mau dan akan menyelesaikan urusannya yang pasti pada Rebecca. Mungkin papa merasa bersalah atas apa yang terjadi 17 tahun lalu. Dan mungkin dia akan menebusnya walau dia akan mati. Makanya dia lari dari kejaran polisi sebelum mengakhiri semuanya," ucap Aditya dengan matanya.
__ADS_1
" Aditya!" lirih Felly memegang pipi suaminya.
" Aku sudah tidak memilik seorang ayah sejak 17 tahun lalu Felly. Dan jika tuhan tidak memberikan aku dan kak Elia untuk mendapat sedikit saja kasih sayang itu. Maka aku dan kak Elia ikhlas. Jika hal terburuk itu terjadi," ucap Aditya meneteskan air matanya.
Felly ikut sedih melihat suaminya itu. Dia bisa merasakan kepasrahan seorang anak yang pasrah jika harus kehilangan orang tuanya. Felly langsung memeluk Aditya untuk memberikan Aditya ketenangan.
" Percayalah Aditya papa tidak akan kenapa-kenapa," ucap Felly yang masih penuh harapan yang banyak.
Aditya memang sudah pasrah. Kaburnya Rebecca. Justru membuatnya lebih mengawasi istri dan kakaknya dan tidak pernah meninggalkan sedetikpun dan menyerahkan masalah papanya pada anak buahnya.
Tetapi Aditya dan Elia sudah pasrah. Jika hal buruk akan terjadi pada orang tua mereka satu-satunya itu. Ya mau gimana lagi, Aditya juga harus mementingkan keselamatan, istri, kakek dan kakaknya.
***********
1 bulan kemudian
1 bulan berlalu. Rebecca tetap dalam pencarian. Damar maupun Baskoro. Entah kemana keluarga Cemara itu. Apakah saling mencari supaya membalskan dendam masing-masing atau seperti apa. Tidak ada yang tau. Yang jelas. 3 tersangka itu masih dalam proses pencarian.
Aditya sendiri fokus pada istrinya, kakaknya dan kakeknya. Mereka kembali tinggal 1 rumah. Bersama orang tua Felly, Lusi dan Laura juga. Agar penjagaan tidak memencar dan bisa lebih memperbanyak penjagaan di rumah itu lagi.
Ehgk, ehgk, ehgk.
Yang ternyata Laura yang sedang muntah-muntah di wastafel dengan wajahnya yang pucat.
Ehgk, ehek, ehgk, Ehgk.
" Ahhhhh, kenapa aku mual-mual terus dari tadi. Apa maag ku kambuh," ucap Laura mencuci mulutnya di wastafel dan juga sekalian wajahnya. Laura melihat dirinya di cermin dan terlihat sangat pucat.
" Aku harus ke Dokter, jangan sampai maag ku tambah parah," ucapnya yang tampak panik.
" Laura, Laura!" panggil Felly yang masuk kekamar Laura. Ya dia asal masuk saja. Karena pintunya tidak di kunci.
" Iya, Felly!" sahut Laura melap mulutnya. Lalu langsung keluar dari kamar mandi, yang melihat Felly yang datang membawa kantung plastik kecil.
" Kenapa Felly?" tanya Laura.
" Nih, pesanan kamu di anterin gojek tadi," ucap Felly.
" Makasih ya," sahut Laura mengambil apa yang di berikan Felly padanya.
" Sama-sama. Kamu kenapa, kok pucat?" tanya Felly.
__ADS_1
" Hmmm, entahlah, aku terus muntah-muntah, kayaknya maagku kambuh," jawab Laura yang mengambil air putih dan meneguknya.
" Mual-mual aneh sekali. Aku yang hamil kamu yang mual-mual," sahut Felly.
uhuk-uhuk-uhuk-uhuk.
Mendengar hal itu Laura langsung tersedak minuman.
" Pelan-pelan Laura," ucap Felly. Laura memang tampak terkejut mendengar kata-kata Felly.
" Nggak mungkin. Aku tidak mungkin hamil," batin Laura yang langsung panik.
" Laura kamu kenapa?" tanya Felly yang merasa ada yang aneh dengan Laura.
" Oh, tidak, aku tidak apa-apa. Aku hanya merasa tidak enak badan saja," jawab Laura yang terlihat jelas gelisah.
" Hmm, mau aku temani ke Dokter?" tanya Felly menawarkan diri. Laura langsung kaget mendengarnya.
" Tidak. Felly mana mungkin menemaniku ke Dokter. Jika benar aku hamil. Maka Felly akan tau semuanya," batin Laura yabg terlihat begitu gelisah.
" Laura!" tegur Felly memegang pundak Laura membuat Laura tersentak kaget.
" Hah! iya. Nggak usah. Aku mau istirahat saja. Soalnya aku hanya tidak enak badan. Aku telat makan. Makanya mual-mual. Nanti juga akan pulih lagi," ucap Laura yang berusaha tenang.
" Mau aku masakkan sup?" tawar Felly.
" Tidak usah Felly. Kamu tidak perlu repot-repot. Aku tidak apa-apa kok," sahut Laura yang menolak langsung.
" Ya sudah kalau begitu. Kamu sebaiknya istrirahat. Nanti kalau ada apa-apa. Kamu panggil aku ya," ucap Felly dengan tersenyum.
" Iya Felly pasti. Makasih ya. Kamu sudah baik," sahut Laura.
" Ya, sudah aku keluar dulu," ucap Felly pamit. Laura mengangguk dan mengantarkan Felly keluar kamar dan dengan cepat Laura menutup kamarnya
" Nggak, nggak, aku tidak mungkin hamil. Ini pasti hanya maag ku yang kambuh. Aku tidak mungkin hamil," ucap Laura yang kepanikan dan beberapa kali menyibak rambutnya kebelakang.
" Aku harus memastikan. Aku hamil atau tidak. Aku harus memastikannya. Aku tidak mungkin hamil. Itu sangat mustahil," Laura bergerutu yang tampaknya ketakutan jika pada kenyataannya dia akan hamil.
Laura jelas takut. Karena dia pernah berhubungan dengan Damar dan dia juga sudah telat datang bulan. Jelas banyak kemungkinan apa yang di takutkannya menjadi kenyataan.
Bersambung
__ADS_1