Pria Kejam Yang Merampas Kehormatan Ku.

Pria Kejam Yang Merampas Kehormatan Ku.
Episode 157


__ADS_3

Felly selalu saja salah bicara dan Aditya mengambil kesempatan untuk menggodanya. Pipi Felly sudah benar-benar sangat merah dengan wajahnya yang panik.


Kedua tangannya yang berada di sisi meja benar-benar terus menekan meja dengan wajah Aditya yang semakin dekat dengannya. Belum lagi tatapan Aditya yang sangat menggoda.


" Bagaimana apa kamu mau?" tanya Aditya dengan menyunggingkan senyumnya.


" Apa maksudmu?" tanya Felly dengan suara bergetar yang terus memundurkan kepalanya.


" Kau selalu pura-pura bodoh jika sudah berhubungan dengan hal itu. Padahal jelas kau juga menginginkannya," ucap Aditya dengan matanya yang sekarang melihat nakal tubuh Felly.


" Kau terlalu percaya diri, aku tidak pernah menginginkan hal itu," bantah Felly dengan kegugupannya. Wajahnya semakin memerah. Aditya mendengus kasar mendengar bantahan Felly.


" Tapi aku melihatnya, jika kau benar-benar menginginkan hal itu," ucap Aditya membelai pipi Felly yang pasti sudah panas


" Minggirlah tanganmu," gertak Felly.


" Felly bukannya kau mengatakan jika kau istriku. Bukannya seharusnya kau melakukan tugasmu," ucap Aditya seakan menuntut haknya membuat Felly menelan salavinanya.


" Mungkin aku melakukannya, jika perasaanku sudah bisa ku mengerti," batin Felly. Yang menyadari statusnya dan kewajiban dan juga hak suaminya.


" Kau lupa dengan surat perjanjian dan pernikahan kita," ucap Felly mengingatkan Aditya.


" Jika urusan ranjang, seharusnya itu tidak berpengaruh," ucap Aditya dengan wajah seriusnya.


" Tetap saja, surat perjanjian itu adalah mutlak. Dan kau tidak bisa melanggarnya. Kecuali aku menginginkanmu," ucap Felly. Mendengar kata mengijinkan membuat Aditya menaikkan 1 alisnya.


" Apa itu berarti kau punya rencana akan memberiku izin," goda Aditya. Felly terdiam mendengarnya. Lagi-lagi dia memang suka keceplosan. Itu mempertanyakan. Jika perasaannya yang benar-benar bergejolak.


Aditya semakin mendekatkan wajahnya kehadapan Felly bahkan ingin meraih bibir Felly, di tengah Felly yang melamun. Tetapi belum sempat melakukan hal itu. Felly langsung mendorong dada Aditya dengan ke-2 tangannya.


" Kau selalu saja mencari kesempatan. Aku sudah mengatakan aku tidak butuh sentuhanmu," tegas Felly langsung beralih dari tempat itu. Dan langsung keatas ranjang. Aditya mendengus kasar melihat Felly yang lagi-lagi salah tingkah.


" Kau benar-benar, paling pintar sok jual mahal," ucap Aditya.

__ADS_1


Felly tidak mendengarkan perkataannya dan langsung berbaring dan menarik selimut. Dia memilih untuk tidur. Dari pada mendengarkan Aditya yang menggodanya terus menerus. Yang bisa-bisa nanti dia akan diam tidak berkutik.


Aditya menarik napasnya panjang dan membuangnya perlahan. Lalu menyusul Felly untuk rebahan di ranjang. Tempat tidur itu sangat sempit, Felly dan Aditya harus rapat-rapat.


Felly memebelakangi Aditya dan Aditya langsung memeluknya dari belakang. Membuat mata Felly terbelalak kaget.


" Apa yang kau lakukan, geser!" ucap Felly. Aditya tidak peduli dan semakin mempererat pelukannya.


" Aku bilang geser!" ucap Felly lagi menegaskan lagi.


" Diamlah, tempat tidur ini sangat kecil. Itu bukan kesalahanku. Jadi tidur yang paling nyaman seperti ini," ucap Aditya dengan santai.


" Kalau begitu, kau jangan tidur di sini. Kau tidur di luar sana!" ujar Felly dengan geram mengusir Aditya.


" Hmmm, begitu rupanya. Oke baiklah aku akan tidur di luar. Tetapi jangan salahkan aku. Jika mama mu akan bertanya dan akan memarahimu lagi. Jadi jangan salahkan aku," ucap Aditya seakan mengancam Felly. Felly mendengarnya kaget.


Aditya melepas pelukannya dari Felly dan langsung berdiri. Sementara Felly malah kebingungan. Tidak tau kenapa dia begitu takut dengan ancaman Aditya. Felly pun duduk dan memegang tangan Aditya.


" Tetap di sini," ucap Felly saat Aditya sudah setengah beranjak dari tempat tidur.


" Kamu yakin menyuruhku di sini?" tanya Aditya dengan menaikkan 1 alisnya.


" Sudah, di sinilah jangan banyak bicara," ucap Felly kesal dan kembali berbaring. Aditya tersenyum miring, lalu kembali untuk berbaring di tempat tidur.


Felly tetap membelakangi Aditya. Aditya meletakkan lengannya di bawah kepala Felly dan menarik Felly kedalam pelukannya dan Felly pun sudah menghadap Aditya dan sudah berada di dada bidang Aditya.


" Jika begini lebih nyaman, kenapa harus yang lain-lain," ucap Aditya yang memeluknya erat. Felly tidak memberontak dan mengalah tetap di pelukan suaminya. Aditya pun tersenyum memeluk erat Felly.


" Aku memang nyaman seperti ini. Aku merasa tenang," batin Felly yang merasa nyaman di pelukan suaminya.


" Tidurlah jangan memikirkan hal-hal yang lain," ucap Aditya yang sudah memejamkan matanya.


Tetapi Felly belum. Felly mengangkat kepalanya dan melihat Aditya yang sudah memejamkan mata. Jika dalam ke adaan mata terpejam. Wajah Aditya terlihat sangat tenang.

__ADS_1


" Aditya, aku ingin kamu benar-benar terbuka kepadaku. Aku tidak ingin jika aku harus mencari tau sendiri apa yang terjadi. Aku menunggumu untuk menceritakan semua masa lalumu kepadaku. Aku menunggu Aditya," batin Felly yang terus menatap wajah suaminya.


" Jangan memandangiku terus. Tidurlah," ucap Aditya tanpa membuka matanya. Mendengarnya membuat Felly kaget dan langsung memejamkan matanya. Aditya terlihat tersenyum miring. Meski tidak membuka mata. Tetapi dia tau Felly sedang menatapnya.


*********


Pagi hari kembali tiba. Di rumah Felly Aditya dan Felly sudah bangun dan sekarang keluarga besar itu sedang menikmati sarapan di rumah Felly. Pasti bukan hanya ada Aditya dan Felly saja.


Ada Sabila, Wanti sang bibi, ada Agni, Andre dan Lulu dan Dody anak dari Wanti yang ikut menikmati sarapan seperti biasanya.


" Apa tidur kamu nyenyak Aditya?" tanya Sabila.


" Iya ma nyenyak," jawab Aditya.


" Apa Felly tidurnya lasak?" tanya Sabila.


" Tidak, dia tidak lasak," jawab Aditya tersenyum tipis. Mana mungkin Felly lasak tidur namanya di peluk terus.


" Hmmm, ya sudah kamu makan yang banyak," ucap Sabila yang membuatkan nasi goreng ke piring Aditya dan maaf-maaf Felly yang berada di samping Aditya benar-benar di acuhkan sang mama dan bahkan seperti tidak di anggap.


" Makasih ma," ucap Aditya yang tersenyum.


" Dia sangat mubajir senyum, jika di depan semua orang. Tetapi sama ku. Dia tidak akan pernah senyum se iklahas itu," oceh Felly di dalam hatinya kesal dengan perlakukan mamanya yang lagi-lagi mengistimewakan Aditya di bandingkan dirinya.


" Kamu tidak makan Felly?" tanya Wanti. Bibinya yang melihatnya hanya bengong tanpa menyentuh makanan.


" Iya kenapa tidak di makan, memang kamu tidak lapar," sahut Andre yang juga heran melihat adiknya seperti tidak selera makan.


" Iya, Felly akan makan," sahut Felly dengan terpaksa. Aditya menggedikkan bahunya dan makan dengan santai.


Sarapan sederhana di rumah istrinya itu membuatnya begitu nyaman dan tenang. Seakan merasakan keluarga. Ya selama ini Aditya pasti akan makan sendiri. Sang kakak yang tidak tinggal dengannya. Jadi untuk makan bersama tidak akan bisa sering-sering.


Jika sang kakek mengajaknya makan di rumah bersama ibu tirinya dan juga Damar. Yang ada hanya ada pertengkaran dan kali ini sarapan itu sangat tenang layaknya sebagai keluarga.

__ADS_1


Apa lagi mama Felly, begitu memperhatikannya dan selalu mempedulikannya. Sosok seorang ibu seakan kembali di dapatkannya dari ibu mertuanya itu.


Bersambung....


__ADS_2