
Aditya menyetir mobil dengan kecepatan tinggi. Dengan sebelah tangannya yang terus memegang pistol. Matanya juga beberapa kali melihat pistol itu.
Lintasan yang terjadi kepada kakaknya pada 17 tahun silam membuatnya semakin membulatkan tekatnya yang langsung bertindak tanpa ada unsur plin-plan atau rencana yang lagi.
Dia memilih untuk bergerak sendiri. Dia harus melenyapkan 2 orang yang memberikan kekuatan pada Rebecca. Dia harus membunuh akarnya agar pohon besar itu perlahan-lahan mati.
" Semuanya memang akan berakhir," batin Aditya yang tampak punya rencana sendiri.
Mobil yang di lajukannya dengan cepat itu berhenti di depan Bandara. Seperti yang tadinya nya dikatakannya. Dia akan mengantarkan kepergian kakaknya.
Wanita yang sampai detik ini selalu di lindungi nya yang sampai detik ini tidak mendapat keadilan sama sekali.
Aditya membuka sabuk pengamannya ketika mesin mobilnya sudah mati dan dengan buru-buru Aditya keluar dari mobilnya dengan langkah kakinya yang panjang. Aditya tidak perlu mencari. Aditya melihat kakaknya yang duduk dan Bion berdiri di sampingnya dengan satu koper di depan Bion.
" Kak Elia," tegur Aditya ketika sudah berada di depan Elia. Elia mengangkat kepalanya dan langsung berdiri ketika melihat adiknya.
" Aditya, kamu akhirnya datang juga, kakak sangat khawatir," sahut Elia memegang pipi Elia. Aditya langsung memeluk sang kakak.
" Maafkan Aditya, sudah membuat kakak cemas," ucap Aditya yang terus memeluk erat.
" Tidak apa-apa yang penting kamu ada di sini," sahut Elia melepas pelukan itu dan melihat adiknya.
" Aditya, kenapa kamu menyuruh kakak pergi ke Itali bersama Bion, apa yang terjadi?" tanya Elia yang merasa ada yang tidak beres.
" Tidak apa-apa kak. Aku hanya ingin kakak untuk sementara berada di sana dan jangan khawatir Bion akan menjaga kakak jadi semuanya akan benar-benar aman," jelas Aditya.
" Lalu kapan kakak akan pulang?" tanya Elia.
" Setelah semuanya beres kakak akan pulang," jawab Aditya dengan singkat. Elia tersenyum dengan memegang tangan Aditya.
" Baiklah, kakak menurut apa yang kamu katakan. Tapi jika kakak pulang. Kamu dan Felly yang harus menjemput kakak. Kakak ingin ketika kakak pulang kamu dan Felly sudah bersama lagi," ucap Elia dengan harapannya yang banyak.
" Iya kakak tenang saja, semuanya akan baik-baik saja. Jadi jangan khawatir," sahut Aditya yang menjawab lain. Elia hanya tersenyum saja dan Aditya kembali memeluk kakaknya.
__ADS_1
" Aditya sangat menyayangi kakak. Jadi hati-hati di sana. Jangan menyusahkan Bion. Sampai kapanpun Aditya akan tetap menyayangi kakak. Kakak harus harus tetap hidup ada dan tidak adanya Aditya," sahut Aditya yang memberikan kode pada kakaknya. Membuat Elia mengkerutkan dahinya.
" Apa maksud kamu?" tanya Elia heran.
" Tidak apa-apa, itu hanya sebuah perkataan mandiri saja. Bukannya kita berdua memang harus benar-benar sangat mandiri. Jadi jangan memikirkan apa-apa. Kakak baik-baik lah di sana," ucap Aditya lagi kembali mengingatkan. Aditya melepas pelukannya dari sang kakak dan mencium kening kakaknya.
" Hati-hati di sana!" ucap Aditya. Elia mengangguk tersenyum.
" Iya, kamu juga hati-hati. Ingat pesan kakak. Kamu tidak boleh ingkar," ucap Elia. Aditya mengangguk dengan tersenyum.
" Ayo Bion!" ajak Elia.
" Baik nona," sahut Bion menundukkan kepalanya.
" Bion, jaga kak Elia. Lakukan sesuai dengan perintahku. Pastikan semuanya tidak sia-sia," ucap Aditya dengan pelan.
" Baik tuan," sahut Bion yang menundukkan kepalanya.
Yang memang sepertinya Bion juga sudah mendapatkan arahan dan perintah yang banyak dari Aditya.
" Ini sudah saatnya kakak. Kakak akan mendapatkan keadilan untuk kakak. Jika hukum terlalu lama menghukum Pria yang menghancurkan kakak. Maka hukum neraka yang akan datang pada mereka. Dengan cara aku akan mengirimnya lebih cepat,"
" Aku akan pastikan itu. Aku pastikan semuanya akan benar-benar terjadi. Tapi maaf kak. Jika kali ini aku tidak bisa menepati janjiku," batin Aditya yang terus melihat sang kakak dengan matanya berkaca-kaca. Melihat sang kakak yang sudah tidak terlihat sama sekali.
*********
...Bion yang susah berasa si dalam pesawat permisi kekamar mandi pada Elia....
...Bion mencuci tangannya di wastafel....
..." Jagalah kak Elia. Jangan bawa dia pulang sebelum semuanya selesai," ucap Aditya....
..." Lalu bagaimana jika nona Elia pulang dan melihat kenyataan itu?" tanya Bion....
__ADS_1
..." Dia akan mengerti. Mungkin dia akan terluka. Tapi percayalah perlahan dia akan menerima semuanya. Kak Elia tau semua itu untuk dia. Jadi jangan mencemaskan hal itu," jawab Aditya....
..." Baik Tuan," ucap Bion....
..." Satu lagi!" sahut Aditya....
..." Kamu mengetahui semua tentang harta yang aku punya. Punya kak Elia adalah punya kak Elia dan nama-nama yang masih atas namaku. Kamu secepatnya pindahkan pada Felly," ucap Aditya berpesan yang membuat Bion kaget....
..." Lalu bagaimana saya mengatakannya pada nona Felly?" tanya Aditya....
..." Jika sia juga sudah melihat kenyataannya. Maka tidak akan juga ada masalah," sahut Aditya....
..." Kamu lakukan saja apa yang aku katakan. Jangan membuat semua usahaku menjadi sia-sia," ucap Aditya....
..." Baik tuan," sahut Bion yang mengangguk saja....
Bion mengingat pesan dari atasannya yang seperti wasiat yang harus di laksanakan.
" Apa yang terjadi sebenarnya, kenapa perasaanku tidak enak. Apa benar tuan Aditya benar-benar akan melakukannya semuanya sendiri. Semoga saja tuan Aditya tidak apa-apa," batin Bion yang penuh dengan kecemasan.
**********
Ternyata Felly tidak menemukan Aditya dan memilih pulang kerumahnya. Dengan lemas dia langsung menjatuhkan diri di ranjangnya.
" Di mana sebenarnya Aditya. Apa yang terjadi? kenapa aku tidak menemukannya dan Leon dan William mereka tiba-tiba ada. Bahkan aku juga tidak bisa mengejar mobil mereka. Kemana mereka sebenarnya," batinnya yang terus bertanya-tanya yang ingin mengetahui keberadaan suaminya yang sama sekali tidak bisa di temukannya.
" Felly melihat ponselnya dan menscroll kebawah layar kontak di ponselnya. Di jarinya berhenti pada kontak nama Aditya. Sepertinya Felly ingin menghubungi Aditya.
" Kenapa? kenapa aku punya pikiran untuk menghubunginya," batinnya yang tampaknya tidak ingin melakukannya.
" Itu tidak perlu, aku tidak perlu melakukan hal itu," ucapnya yang memutuskan untuk tidak melakukannya.
" Lagian dia juga pasti aman-aman saja. Bukannya dia selalu merasa paling hebat. Jadi biarkan saja dia seperti," batin Felly.
__ADS_1
Felly yang tampaknya lelah memejamkan matanya dengan perlahan yang tertidur dengan pakaian saat dia pergi ke pesta. Felly ada niat untuk menyusul Leon dan William saking penasarannya. Tetapi malah tidak bisa dan akhirnya dia pulang kerumahnya untuk beristirahat.
Bersambung