Pria Kejam Yang Merampas Kehormatan Ku.

Pria Kejam Yang Merampas Kehormatan Ku.
Episode 320. Malam bahagia.


__ADS_3

Setelah acara pernikahan selesai semuanya lancar. Elia dan Bion sudah memasuki kamar pengantin. Kamar yang pasti sudah di sulap sedemikian rupa, seperti kamar pengantin pada umumnya.


Elia terlihat duduk di depan cermin yang sudah berganti pakaian. Dia juga sudah selesai mandi dan sekarang sedang memakai lotion pada kulitnya. Elia juga terlihat mempercantik dirinya yang padahal dia memang sudah sangat cantik. Namun dia semakin ingin cantik di depan suaminya.


Tidak berapa lama Bion keluar dari kamar mandi. Bion juga sudah mengganti pakainnya dengan pakaian santai yang ingin tertidur. Bion tersenyum melihat Elia yang duduk begitu cantik.


Padahal hanya duduk saja. Bion pun langsung menghampiri Elia, Bion sedikit membungkuk di belakang Elia dengan memegang ke-2 bahu Elia. Dengan dagunya yang berada di bahu Elia. Yang mana Elia melihat Bion dari depan cermin pantulan cermin yang mempertemukan mata ke-2nya.


" Aku sangat bahagia akhirnya bisa menikah denganmu," ucap Bion. Elia tersenyum mendengarnya.


" Aku jauh lebih bahagia. Apa lagi Aditya menceritakan semua kepadaku tentang perjuangan kamu. Kamu berhenti bekerja hanya karena aku. Kamu melakukan banyak hal untukku," ucap Elia.


" Elia, semua yang aku lakukan. Karena aku merasa wanita seperti harus di gapai dengan perjuangan," sahut Bion.


Elia tersenyum dan menghadap Bion. Di mana Bion yang membungkuk yang mensejajarkan wajahnya dengan Elia dan bahkan Bion memajukan wajahnya pada Elia. Elia memegang pipi Bion dengan ke-2 tangannya dan mencium kening Bion dengan lembut.


" Makasih ya Bion. Kamu sudah menerima ku apa adanya," ucap Elia dengan matanya berkaca-kaca. Bion hanya menganggukkan matanya dengan mencium lembut kening Elia.


" Aku akan memberikanku kebahagian, kita akan sama-sama bahagia, aku tidak akan membiarkan air matamu menetes, aku tidak akan membiarkan kamu penuh dengan beban. Elia bagiku kamu adalah segalanya dan segalanya," ucap Bion yang begitu tulus bicara dengan Elia.


" Kamu juga adalah segalanya untukku. Aku sangat bahagia," sahut Elia. Bion tersenyum dengan matanya yang turun pada bibir Elia dan tanpa menunggu apa-apa Bion langsung meraih bibir itu, menciumnya dengan dalam. Elia memejamkan matanya dengan perlahan membiarkan Bion melakukan apa yang di inginkannya.


Mereka sudah sah menjadi suami istri dan malam ini adalah malam pertama mereka. Ciuman itu semakin dalam dengan Bion yang masih pada posisinya dengan memegang tengkuk Elia. Mencium dalam-dalam Elia dengan tangan Elia yang memegang erat baju lengan Bion.


Hasrat membawa Bion perlahan mengangkat tubuh Elia. Menggendong ala bridal style yang membawa Elia ke atas ranjang. Di mana Bion sudah berada di atas tubuh Elia. Tanpa melepas ciuman itu.


Malam bahagia itu memang tidak akan tertunda lagi. Mereka tidak butuh esok atau kapanpun untuk saling memberi kenikmatan di atas ranjang. Elia dan Bion sama-sama terbawa gairah panas dalam penyatuan. Di mana hanya kenikmatan dan kebahagiaan yang pasangan pengantin baru itu di kamar pengantin itu.


**********


Hari sangat cepat berlalu, malam sudah kembali pagi lagi. Seperti biasa, Aditya, Felly, Laura, dan Lusi sedang melaksanakan sarapan bersama.


" Laura kamu kapan cek kandungan lagi?" tanya Felly di sela-sela sarapan.


" Lusa, terakhir," sahut Laura yang mengambil setangkap roti.


" Hmmm, kamu jadi normal lahirannya?" tanya Felly.

__ADS_1


" Jadi, kalau memang segala sesuatu di perlancar, aku akan normal," sahut Laura dengan santai.


" Ya Tante selalu bilang sama Laura, kalau lahiran normal itu akan lebih puas. Kesempurnaan seorang wanita itu adalah dalam lahiran normal," sahut Lusi.


" Mau normal atau tidak yang penting kamu dan bayinya sehat," sahut Aditya.


" Iya Aditya, terima kasih untuk sarannya," sahut Laura mengangguk dengang tersenyum.


" Hmmm, kak Elia sama Bion belum turun?" tanya Felly.


" Sayang, mereka itu baru menikah, ya kalau pengantin baru itu memang sangat betah di dalam kamar," sahut Aditya.


" Hmmm, begitu, perasaan kita dulu tidak," sahut Felly.


" Itu karena kamu yang selalu jual mahal," sahut Aditya.


" Ya karena kamu sudah maksa," sahut Felly yang tidak kalah membantah suaminya.


Lusi dan Laura hanya geleng-geleng dengan pasutri yang masih aja sering ribut-ribut kecil.


" Memang benar kok, sekarang aja nih kamu yang udah baik," sahut Felly.


" Iya deh kamu menang," sahut Aditya mengalah yang membuat Felly tersenyum.


" Aditya memang seharusnya kamu itu mengalah pada istri kamu. Karena kodratnya. Wanita selalu benar," sahut Lusi yang membela Felly.


" Tuh dengerin," sahut Felly semakin di bela. Semakin menjadi-jadi.


" Iya, iya," sahut Aditya mengangguk. Laura hanya senyum-senyum dengan geleng-geleng.


Tingnong, Tingnong.


Tiba-tiba bel rumah berbunyi.


" Siapa pagi-pagi gini bertamu," sahut Felly.


" Hmmm, biar aku aja yang buka," sahut Laura.

__ADS_1


" Paling sudah di buka bibi," sahut Aditya.


" Benar biar bibi aja, kamu sarapan lagi. Kalau nggak biar aku aja yang buka," sahut Felly menawarkan tidak.


" Oh, nggak usah biar aku aja," sahut Laura yang langsung berdiri.


" Kalian lanjutin sarapannya aku yang akan bukakan," sahut Laura yang langsung pergi. Laura pun menuju pintu.


" Ni biar saya aja," sahut Laura yang melihat bibi yang mengarah pada pintu yang ingin membukakan pintu. Bibi menundukkan kepalanya. Lalu pergi yang membiarkan Laura membuka pintu.


" Siapa sih pagi-pagi sudah bertamu," gerutu Laura yang membuka pintu. Saat pintu terbuka. Laura melihat sepasang kaki dan dengan perlahan kepalanya mengangkat ke atas dan saat Laura sudah bisa melihat siapa yang bertamu membuat Laura terkejut.


Sontak jantungnya bagai berada di suasana perang dengan apa yang di lihatnya matanya yang membulat sempurna. Namun terdapat genangan. Mulutnya menganga yang langsung di tutup dengan ke-2 tangannya.


" Damar!" lirih Laura dengan meneteskan air matanya yang tidak percaya jika suaminya berdiri di depannya. Seakan Laura ingin berhenti bernapas melihat kehadiran Damar nyata di depannya.


" Laura," lirih Damar dengan suaranya yang serak. Namun suara itu mampu membuat air mata Laura jatuh lagi. Dia merindukan suara yang tidak pernah terdengar olehnya itu.


Damar suaminya yang di penjara hadir dengan penampilan cukup berbeda, terlihat kucel dan tidak terurus, rambut juga sedikit memanjang. Namun tetap Damar masih tampan seperti dulu.


Dengan kaki yang bergetar Laura mendekati Damar, tangannya yang bergetar memegang pipi Damar yang ingin memastikan apakah benar itu suaminya.


" Ini benar-benar kamu?" tanya Laura dengan sulitnya bicara.


" Ini aku Laura, aku Damar, aku kembali, aku pulang untukmu," ucap Damar yang juga meneteskan air mata. Tangis Laura langsung pecah dan Damar langsung memeluknya untuk melepas rasa rindu pada istrinya tercinta. Di mana ke-2nya saling memeluk dengan erat.


Bersambung....


Hay para readers yang setia membaca Pria Kejam Yang Merampas ke hormatanku. Terus ikuti ya, sekedar mau memberitahu. Novel aku ini sudah memasuki babak akhir. Terima kasih yang sudah mendukung selama ini.


Hmmm, aku juga ada novel terbaru aku yang baru di up. Jangan lupa untuk mampir ya.




Di tunggu komen,like dan Vote kalian terima kasih.

__ADS_1


__ADS_2