
Felly langsung di antar kekamar oleh pelayan untuk segera beristirahat. Kaki Felly saat menaiki anak tangga sangat lambat seakan ada magnet yang menahannya.
Bahkan Felly berkeringat dingin saat semakin tinggi menaiki anak tangga. Felly juga terlihat mengusap-usap tangannya.
" Tidak! itu tidak mungkin, aku tidak mungkin kesana," ucap Felly dalam hatinya yang seakan ketakutan.
Ketakutannya semakin parah saat sudah tiba di depan kamar yang memang sangat menakutkan untuknya. Kamar Aditya. Kamar yang di siapkan untuknya beristirahat.
Felly semakin bergetar saat pelayan membukakan pintu itu dan memperlihatkan isi dalamnya membuatnya semakin ketakutan.
" Tidak," ucap Felly langsung berjongkok menunduk dan menutup telinganya seperti ketakutan.
" Non Felly kenapa?" tanya pelayan heran yang melihat Felly ketakutan.
Felly sangat trauma dengan kamar itu. Kejadian yang menimpanya memang pasti akan membekas. Melihat tempat itu sama saja melihat kembali apa yang terjadi di atas tempat tidur itu.
Dimana Aditya memperkosanya dengan keji. Ternyata melihat Aditya membuatnya tidak trauma. Tetapi kamar itu justru membuatnya trauma dan ketakutan.
Pelayang yang bingung pun langsung pergi untuk memanggil orang. Karena dia takut terjadi sesuatu kepada Felly. Saat menuruni anak tangga. Pelayan langsung bertemu Aditya di tengah tangga saat Aditya ingin keatas.
" Ada apa, kenapa kau lari-lari?" tanya Aditya heran.
" Itu tuan, anu, anu, anu tuan," pelayang yang gugup tidak sanggup berkata-kata.
" Apa, bicara yang jelas," ucap Aditya lama-lama kesal dengan pelayannya yang mendadak gagap.
" Non Felly,"
" Kenapa Felly?" tanya Aditya yang panik. Ketika hanya mendengar nama Felly.
" Itu non Felly..." Belum sempat mengatakan kegugupannya yang benar-benar tidak bisa melanjutkan kalimatnya. Akhirnya Aditya pergi sendiri. Menaiki anak tangga buru-buru dan melihat Felly.
Saat sampai Aditya heran dengan Verro yang berjongkok ketakutan di depan kamarnya. Bahkan wajah Felly tidak terlihat. Karena ketutupan rambutnya.
" Felly kamu kenapa?" tanya Aditya bingung yang sudah berjongkok di depan Felly dan memegang lengan Pergi. Aditya bisa merasakan tubuh Felly yang bergetar.
" Aku tidak mau, jika harus memasukinya. Aku tidak mau, aku tidak mau," terdengar kata-kata yang sambil menangis keluar dari mulut Felly.
Aditya bingung dan melihat ke arah dalam kamar. Aditya melihat Felly yang sangat ketakutan dan bahkan suara Felly seperti sedang menangis.
" Apa dia trauma dengan tempat itu?" batin Aditya yang menarik kesimpulan sendiri.
__ADS_1
" Ayo ikut dengan ku," ucap Aditya memegang lengan Felly mengajaknya berdiri Felly pun mengikut. Aditya membawanya jauh dari tempat itu dan sedikit membuat Felly tenang.
Felly dan Aditya sama-sama menuruni anak tangga. Aditya menoleh ke arah Felly masih ada bekas air mata di sana dan wajah Felly masih sangat pucat.
" Hapus air matamu. Aku tidak ingin kakek berpikiran buruk kepadaku. Jika aku melukaimu," ucap Aditya. Felly pun dengan cepat menyeka air matanya dan berkali-kali bernapas lega. Dia memang jauh lebih tenang.
Aditya dan Felly sampai ruang tamu yang ada kakeknya, ibu tirinya dan Damar. Yang pasti ibu tirinya itu pasti masih menghasut kakeknya agar pernikahan itu tidak terjadi.
" Kenapa turun. Bukannya dia seharusnya istirahat?" tanya Harison heran.
" Dia tidak akan tidur di kamarku. Dia akan tidur di kamar lain," jawab Aditya.
" Kenapa, bukannya kamarmu paling nyaman dan itu juga sangat besar dari yang lain?" tanya Harison.
" Sebelum kami menikah aku akan tinggal di rumah ini dan otomatis aku akan tidur di kamarku. Jadi Felly bisa di kamar lain. Kecuali kakek memberi izin kami untuk tidur satu kamar sebelum menikah," ucap Aditya dengan santainya.
Mendengar hal itu membuat Damar mengepal tangannya dan pasti Felly juga geram dengan Aditya yang berbicara suka-sukanya. Enak saja Aditya ingin tidur sekamar dengannya.
" Aku akan suruh pelayan untuk menyiapkan kamar lain. Aku hanya heran kau tiba-tiba ingin tinggal di rumah ini, sskian lama aku memaksamu. Tetapi kau tidak pernah mau," sahut Harison.
" Aku harus menjaga, calon istriku. Aku tidak ingin ada tangan jahat yang melukainya, jadi aku harus mengawasinya," sahut Aditya menatap Rebecca dengan penuh sindiran.
" Baik kalau begitu, terserahmu ingin tinggal atau tidak di rumah ini. Felly sementara kamu istirahat di kamar Aditya dulu. Nanti kalau kamar kamiu sudah selesai. Kamu boleh pindah," ucap Harison.
Mendengarnya membuat Felly seakan gelisah. Dia benar-benar tidak kuat jika ada di sana.
" Bagaimana ini," batin Felly.
" Aku ingin keluar bersamanya?" sahut Aditya.
" Mau kemana kalian. Felly harus istirahat," sahut Harison yang kurang setuju.
" Aku dan Felly berencana ke kantor Polisi untuk meminta restu pada papanya. Soalnya waktunya semakin sedikit. Jadi harus di manfaatkan. Aku menikah bukan hanya dengan wanitanya saja. Tetapi dengan keluarganya juga. Jadi aku sangat tau bagaimana prosedur sebelum menikah. Harus meminta restu dengan orang tuanya," jelas Aditya. Sekalian menyindir Damar.
Damar memang tidak melakukan itu. Bahkan tidak meminta restu dari ibu Felly dan apalagi papanya.
" Karena aku tau bagaiman cara berhubungan yang baik. Agar pernikahanku. Tidak banyak petaka dan menimbulkan kegagalan. Karena tanpa restu pernikahan itu akan gagal," lanjut Aditya sinis yang terus menerus menyindir.
Felly terkejut dengan Aditya yang benar-benar akan datang menemui papanya. Dia bahkan sampai terus melihat Aditya yang berbicara. Mungkin Felly memang awalnya tidak percaya dengan hal itu.
" Baiklah! pergilah," ucap Harison. Yang kalau sudah seperti itu. Dia juga tidak akan bisa melarang lagi.
__ADS_1
" Ayo!" ajak Aditya menggengam tangan Felly dan membawanya pergi.
" Dia benar-benar selalu merasa menang. Kamu benar-benar puas Felly menghancurkanku dan berbahagia dengannya," batin Damar menahan amarahnya yang pasti sangat cemburu dengan hal ini.
" Pa, apa papa tidak bisa membatalkan pernikahan itu. Apa ini adil untuk Damar," sahut Rebecca yang masih membujuk papanya.
" Apa jika aku membatalkannya. Aditya tidak akan menikahinya. Jadi sudahlah. Aku hanya seorang kakek yang mengikuti kemauan cucunya jika itu positif," sahut Harison.
" Tapi pa...." Harison langsung mengangkat tangannya pertanda berhenti.
" Aku lelah dan harus istirahat. Kalau kamu tidak keberatan bantulah proses acara pernikahannya," ucap Laskarta to the point dan langsung pergi. Tanpa mau mendengarkan protes sana sini.
" Aku tidak sudi," desis Rebecca mengepal tangannya dengan giginya yang merapat.
*********"
Kantor Polisi.
Mobil Aditya sudah berhenti di parkiran kantor polisi. Tetapi Felly malah bingung sampai pelongo- pelongo. Melihat ke luar dengan bengong.
" Dari mana dia tau. Kalau papa di tahan di sini. Kan aku belum ada kasih tau?" batin Felly bingung.
" Kenapa bengong, ayo turun!" ujar Aditya.
" Kamu kok tau, papa aku di tahan di sini?" tanya Felly.
" Sudah jangan banyak tanyak. Cepat turun," ucap Aditya yang tidak mau menjawab dan langsung turun dari mobil.
" Aneh sekali. Ya tapi memang seharunya tidak heran. Karena dia memang pasti sudah menyelidikinya," gerutu Felly.
tok-tok-tok. Aditya mengetuk kaca mobil. Karena Felly tak kunjung turun.
" Cepat!" desak Aditya.
" Iya-iya," sahut Felly kesal dan buru-buru membuka seat beltnya lalu turun dari mobil.
" Dasar lelet," cicit Aditya yang berjalan terlebih dahulu.
" Ishhhhh," Felly hanya berdesis kesal dan mengikuti Aditya.
Bersambung......
__ADS_1