
Mobil Rebecca berhenti di depan rumah William. Anak buah William dan pasti juga ada orang-orangnya sedang membersihkan rumah yang sudah berantakan itu.
Mengangkat mayat-mayat, dan membersihkan darah-darah yang ada di mana-mana saja. Saat melangkah masuk kedalam rumah.
Rebecca berpapasan dengan 2 orang yang mengangkat kantung mayat dan Rebecca melihat kerah bawah siapa mayat yang ada di sana yang tak lain ternyata adalah Leon yang mati mengerikan membuat Rebecca tersentak kaget sampai menutup mulutnya dengan ke-2 tangannya dan matanya melotot.
" Kurang ajar, jadi benar dia sudah mati," batin Rebecca dengan wajah paniknya. Yang tidak percaya bahwa Leon sekutunya sudah mati. Rebecca pun melanjutkan langkahnya memasuki rumah tersebut.
Rumah itu jelas-jelas berantakan dan tidak hentinya-hentinya dia melihat mayat. Yang pasti juga orang-orangnya. Karena Aditya datang sendiri ketempat itu tanpa anak buah.
Luka dari pada korban, luka tembakan, pukulan dan ada juga yang terkena bom. Kaki Rebecca berhenti ketika melihat Wiliam yang sedang di obati yang juga hampir mati.
" Kenapa mereka bisa lolos?" tanya Rebecca tanpa basa-basi ketika sudah berada di depan William.
" Apa gunanya aku mengirim anak buahku kalau pada akhirnya mereka semua lolos," sahut Rebecca lagi yang kembali mengoceh. Dia malah marah-marah di saat William menahan sakit.
Rebecca memang mendengar Aditya datang menyerang dan dengan cepat Rebecca mengirim anak buahnya yang datang saat Elia ingin menembak.
" Semuanya sia-sia, kenapa kalian begitu bodoh," sahut Rebecca lagi yang terus marah dengan wajah kesalnya.
" Apa kau tidak bisa diam. Aku mana tau kalau mereka lebih pintar," sahut William yang juga tambah kesal. Tambah pusing dengan Rebeca yabg marah-marah yang membuat semakin kesakitan.
" Apa katamu. Kau menyuruh ku diam. Lihat semuanya. Semuanya berantakan. Dan Aditya dia pasti selamat. Itu semua karena kebodohanmu. Kau tidak bisa mengatasi anak itu," ucap Rebecca terus menyalahkan Wiliam.
" Hanya 1 orang saja. Kau tidak bisa mengatasinya," desis Rebecca.
" Cukup Rebecca. Kau jangan menyalahkan ku terus. Aditya sudah hampir mati. Jika istrinya tidak datang," sahut William dengan menguatkan volume suaranya yang menahan sakit.
" Apa katamu istrinya. Jadi Felly ada," sahut Rebecca dengan wajah kagetnya.
__ADS_1
" Iya, aku juga ingin membunuh istrinya saat itu. Tetapi Aditya melindunginya dan kau pikir Leon mati karena apa. Leon tidak mati di tangan Aditya. Tetapi di tangan kakaknya," gertak Wiliam membuat Rebecca semakin kaget dengan matanya melotot.
" Kakaknya. Apa itu Elia?" tanya Rebecca dengan suara beratnya.
" Iya, wanita yang dulu kau berikan sebagai hadiah tambahan kepada kami," sahut Wiliam menegaskan.
" Jadi, Elia benar-benar masih hidup dan ada di Jakarta," lirih Rebecca yang tidak percaya.
" Elia yang sudah membunuh Leon. Dia mati di tangan wanita itu. Wanita itu bahkan juga ingin menembakmu untuk balas dendam. Tetapi anak buahmu datang. Lalu tiba-tiba ada yang menyemprotkan gas sehingga ruangan itu penuh asap dan mereka berhasil melarikan diri," jelas Wiliam membuat Rebecca benar-benar kaget.
" Sial, Elia yang sudah membunuh Leon," sahut Rebeca dengan geram.
" Lalu siapa yang menyelamatkan mereka?" tanya Rebecca panik.
" Aku tidak tau, begitu asap hilang mereka sudah tidak ada," jawab Wiliam.
" Kurang ajar," teriak Rebecca.
" Apa maksud mu memerintahku. Kau tidak perlu mengajariku. Aku bisa menghadapi anak itu," sahut Rebeca menyombongkan dirinya. Membuat Wiliam tersenyum.
" Terserah dirimu saja. Jika kau tidak mendengarkan ku. Itu urusanmu. Aku hanya mengingatkan mu siapa Aditya dan juga Elia yang pasti mereka sama-sama ingin membunuhmu," sahut William menegasakan yang membuat Rebecca tidak bisa menutupi jika dia ketakutan mendengarnya.
" Kau bisa melihat apa yang terjadi dan semua itu karena Aditya. Jadi terserah dirimu mau berbuat apa. Aku sudah tidak ingin mencampurinya lagi," sahut William yang tampaknya menyerah.
" Apa maksudmu?" tanya Rebecca dengan wajahnya yang penasaran, " Apa kau mengatakan jika kau akan meninggalkan tempat ini?" tebak Rebecca.
" Jika aku ingin hidup. Bukankah aku memang harus melakukan hal itu. Aku juga mempunya keluarga di Jepang dan aku juga tidak ingin mereka kenapa-kenapa," sahut Wiliam yang tampaknya ketakutan dan malah ingin kabur. Setelah melihat apa yang terjadi.
" Apa yang kau bicarakan. Kau bekerja sama dengan ku. Itu berarti kau menerima resikonya. Karena aku sudah memberikanmu semua yang kau mau, kau mendapatkan kehidupan yang enak," sahut Rebeca tampak emosi mendengar keputusan Wiliam yabg tiba-tiba.
__ADS_1
" Tapi aku juga ingin hidup. Jika kau bisa menjamin kehidupanku. Aku akan tetap di sini. Tetapi jika kau terus spele. Aku lebih pergi," sahut Wiliam menegaskan. Membuat Rebecca melototkan matanya.
" Kurang ajar kau Wiliam berani sekali kau mengancamku. Kau pikir kau siapa yang memberikan pilihan kepadaku," batin Rebecca mengepal tangannya dengan kuat, melihat penuh kebencian kepada Wiliam.
" Jadi pergilah dari sini. Aku mau istirahat," sahut Wiliam yang mengusir Rebeca tanpa peduli siapa Rebecca..
Hal itu membuat Rebecca semakin kesetanan dan rasanya ingin membunuh Wiliam. Dengan mengertakkan ke-2 kakinya kelantai. Rebecca pun akhirnya meninggalkan tempat itu dengan penuh kemarahan.
Biasanya dia selalu menjadi bos. Di hormati dan yang lainnya bersifat tunduk. Tetapi sekarang Wiliam dengan berani telah mengusirnya.
*********
Sekarang Felly sedang duduk di samping Aditya dan menyuapi Aditya makan. Tangannya begitu lembut menyuapi suaminya. Raihan yang menyandarkan punggungnya di kepala ranjang terus melihati Felly. Mata indah itu menatap dengan penuh arti yang membuat Nayra malu-malu dengan penuh kegugupan.
" Makanlah yang benar, jangan melihat ku seperti itu," ucap Felly yang merasa gugup karena mendapat tatapan seperti itu dari Aditya.
" Apa aku salah melihatmu," sahut Aditya dengan lembut bicara.
" Ya, kau hanya membuatku gugup," sahut Felly jujur dengan apa yang di rasakannya. Aditya tersenyum mendengarnya.
" Aku baru menatapmu. Kamu sudah gugup. Bagaimana jika yang lain yang akan aku lakukan," sahut Aditya dengan seriangi nakal di wajahnya dan Felly langsung melotot mendengarnya.
" Kamu jangan macam-macam kepadaku. Lihat kamu masih terluka. Jangan sampai luka mu semakin parah karena perbuatan mu kepadaku," sahut Felly yang langsung galak ketika Aditya menggodanya.
" Aku memang terluka. Tetapi untuk urusan itu. Aku masih bisa melakukannya," sahut Aditya dengan suaranya yang menggoda Felly yang membuat Felly semakin kesal.
" Awas saja. Jika kau melakukannya tanpa persetujuan ku," sahut Felly yang langsung panik membuat Aditya tertawa kecil dengan Cherry yang kepanikan.
Bersambung.
__ADS_1
.