
Damar dan Laura berada di suatu lorong yang sangat sepi dan tidak ada siapa-siapa. Damar membawa Laura kesana agar terhindar dari kejaran Polisi
" Lepaskan!" ucap Laura melepaskan tangannya dari Damar dan Damar pun melepaskan. Terihat pergelangan tangan Laura yang memerah.
" Apa kamu gila hah! kenapa kamu menarik-narik ku!" teriak Laura.
" Maaf Laura, aku tidak bermaksud," sahut Damar merasa bersalah. Damar tidak fokus dan terus melihat di sekitarnya yang mengawasi apa ada yang melihatnya atau tidak.
" Damar kamu belum menjawab pertanyaan ku. Kenapa kamu pergi begitu saja?" tanya Laura kembali yang butuh penjelasan Damar.
" Aku tidak bisa terus berada di tempat itu," jawab Damar dengan santai.
" Apa maksud kamu. Damar kamu sedang masa dalam tahanan. Jadi wajar, jika kamu berada di sana dan seharusnya kamu bersyukur tempat kamu. Masih lebih baik di antara yang lain. Kamu berada di sana. Karena perbuatan kamu dan kamu harus bertanggung jawab. Bukan lari seperti ini," tegas Laura.
" Aku tau Laura. Aku bertanggung jawab dan akan menerima hukuman apapun itu. Tapi kondisikannya sudah berbeda. Aku tidak bisa diam saat masalah semakin banyak. Apa lagi mama. Laura aku tidak bisa diam di atas tempat tidur. Sementara nyawa mama dalam bahaya," ucap Damar yang mencoba menjelaskan.
" Apa maksud kamu Damar. Jangan bilang kamu masih ingin membantu Rebecca," sahut Laura yang menatap serius Damar dan Damar diam tanpa bisa dengan cepat menjawab.
" Damar, atau jangan-jangan memang benar kamu yang membantu Rebecca keluar dari tahanan," tebak Laura yang Damar tetap diam dan terlihat membuang napas perlahan.
" Damar lihat aku. Lihat aku Damar. Katakan jika apa yang aku bilang memang benar," ucap Laura yang menarik-narik jaket Damar.
" Aku tidak punya pilihan lain," sahut Damar. Laura kaget mendengarnya dengan matanya terbuka lebar.
" Brengsek kamu Damar. Orang bersusah payah untuk membuat wanita itu mendapatkan hukumannya. Tapi kamu dengan mudahnya membebaskannya dan kamu melarikan dengan seenak kamu. Aku bersusah payah melakukan segala hal untuk kenyamanan kamu. Agar kamu sembuh. Tapi apa kamu kabur bersama wanita. Dan kamu tau apa yang terjadi. Aku yang di curigai Polisi untuk membebaskanmu!" teriak Laura memukul-mukul dada Damar.
Damar diam seolah tidak punya jawaban bahkan sedikit menundukkan kepalanya yang memang tidak berani melihat Laura.
" Damar kenapa kamu diam. Bicaralah Damar!" teriak Laura.
" Oh, sekarang memang benar dugaan ku selama ini. Kalau kamu membalas dendam kepadaku. Kamu sengaja melakukan semua ini. Kamu mendekatiku membuatku luluh dan aku mempercayaimu yang nyatanya apa. Kamu mempermainkanku. Kamu membalas apa yang aku lakukan kepadamu," ucap Laura meneteskan air matanya. Sementara Damar masih tetap diam yang tidak menanggapi apa yang di katakan Laura.
Laura menarik kerah baju Damar mencengkeramnya dengan ke-2 tangannya.
" Lihat aku brengsek!" teriak Laura yang benar-benar geram.
" Apa yang terjadi hah! kamu masih tetap bekerja sama dengan wanita jahat itu. Kalian ingin membunuh Aditya. Apa tembakan tadi berasal dari tanganmu. Kau ingin membunuh Aditya!" teriak Laura yang bicara panjang lebar dengan segala makiannya kepada Damar. Damar seakan pasrah tidak bisa berkata apa-apa.
" Damar! kenapa kamu terus Diam, katakan sesuatu!" teriak Laura.
" Maaf Laura!" lirih Damar yang akhirnya berani melihat Laura, " kamu tidak mengerti bagaimana posisi ku. Seburuk apapun mama. Dia adalah ibuku. Aku adalah anaknya dan sudah kewajibanku untuk melindunginya. Apapun yang terjadi," ucap Damar.
__ADS_1
" Dan kamu akan kembali seperti dulu bahkan lebih parah. Kamu akan mengikuti kata-katanya dan kamu akan menjadi penjahat sepertinya. Iya!" teriak Laura.
" Terserah kamu mau berpikir apa. Tapi itu memang pilihan ku," sahut Damar. Laura begitu terkejut mendengarnya.
" Kalau begitu katakan kepadaku. Apa yang kita lakukan malam itu juga hanya rencana kamu untuk mengelabuiku untuk menghancurkan untuk membalasku," ucap Laura dengan napasnya yang terasa sesak.
" Iya," jawab Damar dengan entengnya. Air mata Laura menetes mendengar 3 hurup itu.
" Kau tidak mencintaiku?" tanya Laura memastikan perasaan Damar kepadanya. Yang pasti Laura masih ingin ada harapan.
Diamnya Damar membuat Laura seakan mendapat jawaban. Perlahan tangan Laura yang mencengkram kerah baju itu turun dengan lemas.
Plakkk.
Namun Laura langsung menampar pipi Damar.
" Bajingan kamu, biadap kamu, kamu laki-laki paling hina yang aku temui. Kamu brengsek!" maki Laura yang mengeluarkan semua kata-kata yang sudah tertahan di dalam hatinya.
" Aku sungguh jijik dengan diriku sendiri yang di sentuh pria bajingan sepertimu. Kamu sudah menghancurkan hidupku. Apa kau puas melakukannya. Kau memang sama seperti ibumu. Sangat kejam. Kalian benar-benar penjahat yang sebenarnya. Aku menyesal sudah memberimu kesempatan bajingan!" maki Laura yang menunjuk-nunjuk Damar dan Damar hanya melihat nanar Laura yang penuh kemarahan dan air mata yang menetes.
" Maafkan aku Laura. Aku tidak punya pilihan Laura," batin Damar tampak menyesal yang sudah membuat Laura sakit di depannya.
Laura hanya diam mematung yang benar-benar di campakkan. Hidupnya benar- hancur dan sekarang telah di buang.
" Damar kamu tidak akan bisa pergi!" panggil Laura membuat langkah Damar terhenti. Dan Damar membalikkan tubuhnya dan Laura terlihat memegang ponsel.
" Aku sudah bersusah payah untuk membuat penjahat seperti kalian membusuk di penjara. Aku akan merima perbuatanmu kepadaku. Anggap aku bodoh dan meleset sedikit. Tetapi tetap saja orang seperti kalian tidak akan bisa terbebas dari hukuman," ucap Laura yang menekan tombol panggilan dan memperlihatkan pada Damar yang ternyata Laura menelpon polisi.
" Laura!" lirih Damar yang tidak percaya, Laura menghubungi Laura.
" Kamu pikir kamu bisa lolos. Kamu akan kembali pada tempatmu!" geram Laura. Dan Damar tampak panik ketika melihat panggilan itu sudah terhubung.
Prakk.
" Auhhhhh!" lirih Laura memegang punggungnya.
Tiba-tiba pukulan kayu melayang ke punggung Laura dan membuat Laura terjatuh dan pingsan tidak sadarkan diri.
" Mama!" lirih Damar yang melihat Rebecca yang memegang kayu yang ternyata memukul Laura sampai Laura pingsan.
Rebecca langsung mengambil handphone Laura yang sudah tersambung dengan polisi dan Rebecca langsung mematikannya.
__ADS_1
" Dasar bodoh apa yang kamu lakukan di sini. Kamu hanya membuang waktu untuk wanita ini. Kamu tidak melihat banyaknya polisi mengejar kita. Tapi kamu hanya mencari masalah," ucap Rebecca yang langsung memarahi Damar.
" Mama bertanya kenapa aku bisa ada di sini. Ma aku yang bertanya apa yang mama lakukan. Mama ingin membunuh Felly. Mama pikir aku tidak tau mama ingin menembak Felly. Mah, mama sudah berjanji pada Damar untuk mengakhiri semuanya. Aku membebaskan mama untuk kita bisa pergi jauh dan memulai hidup baru. Bukan mama malah ingin membunuh mereka semua," ucap Damar dengan rasa kecewa.
" Cukup Damar! bentak Rebecca, " kamu jangan mengajari mama. Mama akan pergi jauh denganmu. Tapi setelah mereka semua mati!" ucap Rebecca dendam yang besar.
" Tidak mah, mama tidak akan melakukan itu. Kita harus pergi dan hentikan semua itu," sahut Damar yang mencegah mamanya.
" Kamu jangan sok pintar Damar mama yang tau apa yang mama lakukan. Kamu hanya perlu mengikut saja. Jika kamu ingin selamat," tegas Rebecca.
" Sekarang kamu jangan diam saja di sana. Cepat bawa wanita itu!" perintah Rebecca.
" Apa maksud mama?" tanya Damar panik.
" Jangan banyak bertanya. Bawa Wanita ini. Kita tidak punya waktu," sahut Rebecca.
" Nggak mah. Aku tidak akan membawanya," sahut Damar membantah.
" Apa yang kamu pikirkan Damar. Kamu jangan bodoh untuk ke-2 kalinya masuk dalam perangkapnya. Kamu sadar wanita yang sudah menghancurkan semuanya. Jadi bawa dia. Persetan dengan cinta-cintaan kalian ber-2. Kamu sadar cinta itu hanya akan membuat kamu lemah!" tegas Rebecca.
" Tapi masalahku dan Laura sudah selesai dan aku tidak akan membawanya. Mama juga tidak bisa melakukan apapun kepadanya," sahut Damar yang tetap membantah.
" Anak bodoh. Kamu jangan membuang waktu. Cepat bawa dia. Sebelum kita tertangkap. Cepat!" perintah Rebecca yang memaksa Damar.
" Namun Damar tetap diam dan tampak tidak ingin melibatkan Laura. Sampai akhirnya Rebecca yang geram dan mengeluarkan pistol dari sakunya dan mengarahkan pada kepala Laura. Hal itu membuat Damar kaget.
" Apa yang mama lakukan!" sahut Damar yang tidak percaya dengan tindakan mamanya.
" Bawa dia. Jika tidak peluru ini akan menembus jantungnya," ancam Rebecca yang membuat Damar semakin panik.
" Kamu masih diam. Bawa cepat!" desak Rebecca lagi.
Damar yang tampak tidak punya pilihan selain menuruti apa kata mamanya. Akhirnya menyerah dan menghampiri Laura. Damar pun menggendong Laura ala bridal style. Dia tidak ingin Laura mati di tangan mamanya dan lebih baik menuruti mamanya.
" Ayo pergi!" ucap Rebecca yang terlebih dahulu pergi.
" Maafkan aku Laura. Aku tidak tau harus melakukan apa," batin Damar yang tidak bisa melakukan apa-apa.
Mungkin Damar memang mencintai Laura. Tetapi pilihannya begitu sulit. Niat ingin menyelamatkan mamanya. Namun sang mama memang bukan wanita yang akan pergi tanpa menyelesaikan apapun dan bahkan berniat untuk membunuh Aditya dan yang lainnya.
Bersambung
__ADS_1