
Semua mata masih tertuju pada Aditya dan Felly yang berada di tengah-tengah. Felly yang berada di samping Aditya terlihat sangat gelisah.
Mereka menjadi pusat perhatian membuatnya tidak nyaman dia tidak terlalu percaya diri untuk menjadi terkenal. Memang pasti dia akan sering di kenal sebagai istri Aditya. Karena Aditya sering memperkenalkan nya ke publik jadi otomatis wajahnya akan mudah untuk di ingat
Setelah Aditya berbicara terus menerus tibalah pada acara intinya. Pelayan pria yang berpakaian putih dengan celana hitam. Ala ingin wawancara kerja. Datang memberikan pisau dengan ganggang yang di beri pita. Mungkin untuk alat pemotong kue
Pelayan tersebut menundukkan kepala dan memberikan apa yang di bawanya. Aditya mengambilnya langsung. Aditya menoleh kearah Felly yang tampak gugup.
Aditya melepas genggaman tangan itu dan meraih tangan Felly menumpukkan bersama tangannya dan sama-sama memegang pisau. Membuat Felly menoleh ke arah Aditya.
" Lihat kue yang akan kau potong. Jangan lihat aku," ucap Aditya membuyarkan lamunan Felly sampai Felly mengerjapkan matanya dan bahkan membuang napasnya perlahan ke depan. Karena memang matanya tidak lepas pada Aditya.
" Kita hitung sama-sama. 1 2 3," sahut MC memberikan arahan.
" Tersenyumlah. Jangan seperti orang tertekan," ucap Aditya dengan pelan. Felly pun mengukir senyum tipis di wajahnya dan sama-sama ikut memotong kue ulang tahun tersebut.
Merekapun mendapatkan tepukan tangan yang meriah dari tamu undangan. Aditya mengambil sepotong keu tersebut dan menghadap Felly lalu menyuapkan pada Felly. Felly malah bengong dan matanya masih melihat Aditya.
" Buka mulutmu," ucap Aditya pelan. Felly mengangguk dan membuka mulutnya. Dan mengigit ujung kue tersebut.
Felly dan Aditya kembali mendapatkan tepuk tangan dengan wajah orang-orang yang tersenyum seakan iri dengan kebahagian kecil itu.
" Apa sebenarnya ini. Kenapa perasaanku tidak menentu seperti ini. Kenapa jantungku berdetak kencang. Kenapa seakan-akan aku tampak bahagia. Felly sadarlah dia melakukan ini karena banyak orang," batin Felly dengan hatinya yang bergejolak.
Aditya meletakkan potongan kue itu di atas piring yang sedari tadi di pegang pelayan. Mata Aditya menangkap Damar dan Rebecca yang melihat tidak senang dengan apa yang di lakukannya. Aditya tersenyum miring seakan menang dari semuanya.
Ternyata tidak sampai di situ Aditya memegang pipi Felly dan mengantarkan kening Felly padanya. Di kecupnya dengan lembut dengan matanya terpejam.
Begitupun dengan Felly yang memejamkan matanya seakan membiarkan Aditya melakukannya. Walau dia tau itu hanya sandiwara. Tetapi semua yang di rasakannya terkesan sangat manis.
Aditya melepas ciuman di kening itu dan menatap 2 bola mata Felly yang terlihat sayu yang terlihat pasrah dengan penuh kebingungan.
Aditya memiringkan kepalanya. Refleks Felly memundurkan wajahnya. Seakan tau Aditya ingin menciumnya membuat Aditya menaikkan 1 alisnya.
" Aku rasa itu berlebihan," ucap Felly yang tampak menolak ciuman itu.
Aditya tersenyum miring dan mencium lembut pipi Felly. Felly kembali kaget yang memang pasti akan terus kecolongan dengan berbagi kesempatan yang ada.
__ADS_1
Aditya tersenyum pada Felly yang wajah Felly memerah. Marah tidak bisa di keluarkan jadi hanya di tahan saja. Aditya berdiri di samping Felly dengan meletakkan 1 tangannya di pundak Felly membawa Felly lebih rapat lagi dengannya. Felly diam saja seakan menurut.
" Terima kasih untuk semuanya. Saya sangat bahagia dengan kehadiran kalian atas ulang tahun Restaurant saya. Ulang tahun ke-6 kali ini di rayakan bersama istri saya. Dan istri saya kedepannya akan membantu perkembangan Restaurant ini," ucap Aditya dengan tersenyum.
Para tamu mengangguk-angguk saling melihat. Begitu juga kakek Harison yang melihat hanya tersenyum-tersenyum saja.
Dia belum sepenuhnya yakin dengan apa yang dilakukan cucunya dia hanya berharap cucunya itu benar-benar tulus kepada Felly. Sementara Felly kembali melihat Aditya dengan kebingungan.
" Apa maksudnya," batin Felly heran.
" Jadi silahkan kalian nikmati hidangan yang sudah di siapkan," ucap Aditya menutup acara pidato panjangnya atas perayaan ulang tahun Restaurannya.
***********
Acara pesta masih di mulai. Tetapi Felly dan Aditya sudah berpisah. Aditya sibuk menyapa tamu-tamunya ternyata Felly berdiri di pinggir kolam renang dan berbicara pada Sofia teman dekatnya saat bekerja di Restaurant itu.
" Aku pikir. Setelah kamu menikah dengan Tuan Aditya. Kamu tidak akan mau berbicara lagi denganku," ucap Sofia yang sekarang minder jika berbicara pada Felly.
" Kamu ini bicara apa. Mana mungkin aku melakukan itu. Aku hanya menikah dan bukan berarti hidupku akan berubah," sahut Felly.
" Semua tidak yang seperti kamu pikirkan Sofia. Aku dan Aditya tidak pernah menjalin hubungan. Hal buruk itu terjadi sampai akhirnya aku harus menikah dengannya dan menjalani kehidupan seperti ini," batin Felly.
" Kamu pasti sangat bahagia. Benarkan Felly?" tanya Sofia membuat Felly belum menjawab pertanyaan temannya.
" Felly!" tegur Sofia. Felly mengangguk dengan tersenyum terpaksa.
" Aku berdoa, semoga pernikahan kamu akan langgeng selamanya," ucap Sofia berdoa yang baik untuk temannya.
" Tetapi itu tidak mungkin," batin Felly.
" Ehmmm," suara deheman yang sedikit besar terdengar. Membuat Felly menoleh kearah suara itu. Ternyata Rebecca yang berdiri di belakang Sofia.
" Tante Rebecca," batin Felly yang panik dengan kehadiran Rebecca.
Sofia berbalik badan dan melihat Rebecca langsung membungkukkan tubuhnya.
" Bisa kamu pergi dari sini. Aku rasa reuniannya sudah selesai," ucap Rebecca mengusir Sofia dengan nada menyindir Felly.
__ADS_1
" Baik nyonya," jawab Sofia gugup, " Felly aku pergi dulu," ucap Sofia pamit langsung pergi. Sementara Felly semakin panik karena hanya di tinggal berdua dengan Rebecca dan tempat itu lumayan jauh dari keramaian pesta.
" Mantan calon menantuku," ucap Rebecca mengambil 1 gelas minuman yang di letakkan di atas meja yang di dekat mereka yang sepertinya minuman itu beralkohol.
" Apa yang di inginkan Tante Rebecca. Kenapa dia sampai menghampiriku. Dan apa yang harus aku lakukan," batin Felly yang terus ketakutan.
" Kau bahagia hari ini?" tanya Rebecca terlihat sinis. Felly yang begitu gugup mengangguk. Sementara tangannya di bawah sana memegang erat dressnya. Dia memang sangat takut dengan Rebecca.
" Jelas kau bahagia. Kau menikmati kebahagian mu. Menjadi menantu kolong merat. Aku baru menyadari. Jika cerita Cinderella itu ternyata nyata. Di mana Upik abu. Gadis miskin seperti mu yang bisa menikah dengan anak kolong merat dan hidupnya yang tadinya seperti sampah yang di kerumuni lalat menjadi terangkat di atas karpet halus yang sama sekali tidak bisa di dekati lalat," ucap Rebecca berbicara dengan pedas kepada Felly.
Felly mendengarnya hanya bisa menenangkan dirinya. Matanya sudah bergenang. Pasti sangat sakit mendapat penghinaan dari Rebecca.
" Kau bahagia. Sampai lupa pada apa yang kau lakukan. Kau menghancurkan anakku dan dengan berani menikah dengan Aditya. Kau sengaja melakukannya?" tanya Rebecca dengan penuh kebencian pada Felly.
" Kau tidak punya mulut untuk menjawab?" tanya Rebecca.
" Aku tidak pernah berniat untuk menyakiti mas Damar," ucap Felly dengan terbata-bata.
" Kau ingin aku percaya kata-kata mu," sahut Rebecca. Rebecca tersenyum kepada Felly. Membuat Felly semakin takut dengan senyum yang mengandung arti itu.
" Santailah Felly. Kau tidak perlu segugup itu," ucap Rebecca yang menikmati ketakutan Felly.
" Minumlah!" Rebecca memberikan Felly minuman yang di pegangnya. Felly bisa mencium aroma menyekat. Saat minuman itu tepat di wajahnya.
" Maaf Tante. Tetapi saya tidak minum," sahut Felly menolak dengan lembut. Dia tau Rebecca pasti marah. Tetapi mana mungkin dia menerima Alkohol itu.
" Kenapa? Apa itu akan berpengaruh pada kandungan mu," ucap Rebecca dengan menatap sinis perut Felly. Mendengarnya membuat Felly kaget sampai matanya terbuka lebar.
" Kenapa Tante Rebecca tau. Jika aku hamil," batin Felly yang kebingungan dengan Rebecca yang mengetahui kehamilannya.
Bahkan tatapan Rebecca pada perutnya seakan seperti wanita iblis yang dari matanya keluar cahaya tajam yang seakan ingin menarik janinnya keluar dari rahimnya.
" Kau sedang hamil?" tanya Rebecca memastikan. Pandanganya kembali melihat Felly dengan tatapan tajam. Felly langsung menggeleng dengan cepat.
Bukan tidak mengakui kehamilannya. Tetapi tidak mungkin dia mengatakan iya kepada Rebecca. Usia pernikahannya yang baru saja terjalin dalam hitungan minggu sangat tidak memungkinkan dia mengandung.
Bersambung.....
__ADS_1